APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri pengganti Tuan Bramasta

Istri pengganti Tuan Bramasta

Pelita Abadisyara terpaksa menikahi Bramasta Prayoga, pria yang semula akan menjadi kakak iparnya. Kecelakaan tragis yang dialami sang kakak tiri, Anggun, seketika mengubah jalan hidup Pelita. Demi menuruti kehendak keluarga, ia terpaksa menggantikan posisi Anggun di altar pernikahan. Kini, Pelita harus menjalani kehidupan rumah tangga yang tak pernah ia duga sebelumnya bersama sosok suami yang terasa asing baginya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bram tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukan pada istrinya sendiri tapi selalu ia tunjukan pada wanita lain yang notabenenya Kakak iparnya sendiri.

Bram dengan sigap membantu  Anggun untuk duduk dan bersandar di dashboard ranjangnya.

“Kenapa gak mau makan hm?” tanya Bram lembut.

“Malas, aku mau makan tapi kamu yang suapin Mas.”Manja Anggun seperti biasa.

“Tapi aku harus ke kantor sebentar lagi, kamu makannya di suap sama Mbok aja ya?” bujuk Bram, memang benar jika sebentar lagi dia harus menghadiri sebuah  rapat  penting yang tidak bisa ia tinggal atau di wakilkan. Andai saja tidak ada urusan pekerjaan , maka dengan senang hati dia akan melakukannya. Bahkan tanpa Anggun harus meminta sekalipun.

“Jadi kamu gak mau suapin aku Mas?” tanya Anggun dengan wajah merajukanya.

“ Bukan gak mau, tapi aku harus ke kantor.” Jawab Bram selembut mungkin dengan tangan membelai sayang surai hitam Anggun.

“Kamu udah gak sayang sama kau Mas? Kamu udah sayang sama istri kamu itu? Iya?!”

Selalu seperti itu, Bram memutar bola matanya jengah. “Sayang bukan seperti itu, tapi aku harus ke kantor karena ada pertemuan penting yang harus aku temuin.”

Anggun diam dengan tangan berlipat di dada. Sedetik  kemudain ia  melirik ke arah Bram. “Tapi janji nanti pulang dari kantor harus ke sini, temenin aku, Ayah sama Mama lagi ke Bandung, aku gak mau sendirian. Terus kalau bisa makan siangnya sama aku ya?” Rengeknya manja.

Bram diam, namun setelahnya dia langsung mengangguk megiyakan permintaan dari Anggun. “Yaudah aku pergi dulu,ini bunganya buat kamu, sarapannya jangan lupa.”

Cup!

Bram mengecup sayang kening Anggun, lalu setelahnya pergi.

***

Sementara Pelita saat ini tengah mengigil di atas kasur, badannya benar-benar panas bak bara api. Setelah beberes rumah, tubuhnya tiba-tiba saja lesu tak bertenaga. Gigi atas dan bawahnya saat ini sampai bergemerutuk akibat getaran mulutnya.

‘Bunda Pelita dingin.’ Racaunya dalam hati.

Andai saja Bundanya masih ada, sudah pasti saat ini dia di perhatikan, saat dia sakit seperti ini pasti Bundanya yang paling khawatir dan berusaha melakukan apapun  untuk mengobatinya.Namun sekarang apa? Tidak ada yang peduli akan dirinya sakit atau tidak.

Air bening mulai menetes menuruni pipinya yang mulus,  jika sedang sakit seperti ini Pelita memang akan lebih sensitive, dia akan menjadi wanita lemah yang selalu berteman denga air mata.

“Pelita kangen sama Bunda, Bunda kenapa perginya cepat sekali, padahal Pelita masih ingin sama Bunda. Bunda tau tidak, sekarang Pelita sakit dan tidak ada yang peduli sama Pelita, suami Pelita pergi menemui Kak Anggun, Pelita cape Bunda.Bunda bisa tidak jemput saja Pelita di sini, rasaya Pelita sudah tidak kuat.” Lirihnya dengan mata yang sayu yang perlahan mulai menutup.

***

Drrrt! Drrrt!

Tepat jam dua  belas siang, Pelita terbangun lantaran suara getaran ponselnya yang berada di meja nakas. Dengan sedikit susah payah ia mebangunkan dirinya, berusaha untuk duduk meski di rasa kepalanya seakan ingin pecah saat itu juga.

Di raihnya benda pipih yang masih setia bergetar.

“Halo,” sahut Pelita dengan suara lemah.

“Sedang apa kamu! Antarkan berkas saya yang tertnggal di kamar saya.” Ucap seseorang di seberang sana, yang sudah pasti adalah suamianya sendiri.

Pelita memijat keningnya yang terasa pusing. “Bang maaf, tapi Pelita lagi sakit sekarang, bergerak saja rasanya Pelita ga-“

“Alasan! Bilang saja kamu memng tidak mau!” potong Bram dengan nada tinggi di seberang telpon sana.

“Bukan gitu Bang, tapi Pelita benaran lagi sakit, ini aja Pelita pusing banget.”

“Jangan banyak alasan Pelita! Cepat antarkan sekarang juga!”

Tut!

Pelita menghela nafas pasarah. Dengan menarik nafas dalam Pelita bangkit perlahan untuk bersiap, ia harus menuruti semua perkataan suaminya itu jika iangin permasalahan tidak panjang.

Pelita memoles ajahnya dengan make-up agar wajahnya tidak terlihat pucat, beruntung rasa peningnya sedikit menghilang meski tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya berkurang.

Setelah selesai bersiap, Pelita keluar dari kamarnya beralih menuju kamar sang suami yang berada tepat di samping kamarnya. Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamar Bram, saat masuk ke dalam kamar lelaki itu bau wangi maskulin menyeruak masuk ke indra penciuman Pelita. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar itu tetap saja rasanya sangat asing bagi Pelita, dia memang sering masuk ke dalam kamar itu, namun hanya sekedar untuk membersihkan saja.

Lagi-lagi pandangan Pelita tertuju pada seuah figura foto yang tertempel di dinding, foto itu adalah foto Anggun. Foto yang tidak pernah di lepas oleh Bram dari dinding kamarnya. Setiap kali Pelita masuk ke dalam kamar sang suami, pandangannya pasti langsung tertuju pada figura foto tersebut, pasalnya figura foto tersebut berukuran besar.

‘Bunda, emangnya boleh seperti ini? Bunda coba tanyain samaTuhan, emangnya boleh ya, seperti ini, nikahnya sama siapa tapi foto siapa yang di pajang.’ Lirih Pelita di dalam hati.

Jujur saja, hatimya selalu perih jika mengingat dirinya  hanya lah istri pengganti saja. Ingin berontak, tapi rasanya sudah sangat telat sekali, toh semuanya sudah berjalan selama setahun.

Pelita selalu berandai. Andai saja dulu dia mempunyai keberanian untuk membantah semua perkataan sang Ayah dan Mama tirinya. Andai saja dulu dia punya keberanian untuk berkata tidak, andai saja dulu dia tidak penah merasa kasihan pada sang Ayah yang terdesak, harus memilih antara dirinya atau perusahaan akan bangkkrut yang artinya kehidupan mereka semua akan hancur. Andai saja dulu dia memiliki keberanian untuk kabur dari pernikahn konyol yang  menjadikan hidupnya seperti sekarag ini. Tapi lagi-lagi semuanya hanya lah perandaian yang tidak pernah akan terjadi. Nyatanya sudah satu tahun lamanya dia menjadi seorang istri dari lelaki tampan bernama Bramasta Prayoga. Padahal umurnya masih sangat belia, bahkan dia sendiri masih duduk di bangku universitas. Pelita merasa kehidupannya di renggut paksa, tapi dia bisa apa? Dia tidak bisa apa-apa selain menerima. Entah sampai kapan ia bisa bertahan seperti itu.

Setelah mengambil sebuah berkas dari meja kerja Bram, dengan cepat Pelita melangkahkan kakinya keluar, rasanya sangat tidak nyaman sekali berada di dalam kamar tersebut.

Baru Pelita hendak mengambil ponsel dari dalam tas untuk memesan taxi online, sebuah mobil tiba-tiba masuk ke halaman rumah.

Tin! Tin!

Mobil itu membunyikan klaksonnya. Lalu stop tepat di hadapan teras rumah di mana Pelita tengah berdiri.

“Bang Rafli,” sapa Pelita tersnyum melihat Rafli keluar dari mobilnya. Rafli adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Bram.

“Kamu mau kemana Ta?” tanya Rafli melihat Pelita dengan penampilan rapinya.

Kening Pelita berkerut, tadinya dia berfikir jika Rafli datang karena di suruh Bram untuk mengambil berkas, ternyata dugaannya salah.  “Pelita di suruh anterin berkas ini ke Bang Bram. “Sahut Pelita apa adaya.

“Oh gitu yaudah ayo bareng aja  kita kantor. “

“Bang gak bisa Pelita titip ke Bang Rafli saja ini berkasanya?” tanya Pelita.

“Aku sih gak masalah Ta, tapi yang jadi masalah itu suami kamu, kamu mau di terkam harimau gila itu?”

Pelita berfikir sejenak, benar juga apa kata Rafli barusan. “Ya udah Pelita bareng Bang Rafli saja ya ke kantornya Bang Bram.”

“Iya Ayo!” Rafli membukakan pintu mobil untuk Pelita. Sesautu yang tidak  perah di lakukan suaminya sendiri, tapi malah di lakukan oleh lelaki lain.

**

“Giaman dengan hbungan kamu sama Bram  Ta?” tanya Rafli tiba-tiba.

Pelita tersnyum kecil. “Tidak gimana-gimana Bang, masih sama. Jalan di tempat.” Jawabnya.

Rafli menengok sekilas kearah Plita yang duduk di sampingnya. Ada rasa iba pada wanita muda dan cantik itu. Rafli tahu benar bagaimana  kehidupan rumah tangga Pelita dan Bram.

‘Kasihan sekali kamu Ta.’ Batinnya mengiba.

“Bang Rafli tadi mau kemana dan dari mana?” tanya Pelita mengalihkan pembicaraan.

“Aku tadi dari nemui  client di luar, niatnya mau singgah numpang makan siang dulu rumah kalian ehehe.” Jawab Rafli dengan cengiran manisnya.

Pelita ikut tertawa. “Tapi maaf banget loh Bang hari ini sebenarnya Pelita gak masak.”

Kening Rafli berkerut, pasalnya tumben sekali Pelita tidak masak. Setahu dia, Pelita tidak perah absen memasak. “Kok tumben Ta?”

Pelita tersnyum malu. “Soalnya Pelita lagi gak enak badan Bang.”

Sontak leher Rafli menoleh ke arah Pelita. “Kamu sakit?!”  tanyanya dengan wajah panik.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Catatan Harian Jo
9.6
Sebagai makhluk tak kasatmata, Jo menyimpan impian besar untuk merasakan ketulusan cinta sejati. Sayangnya, mewujudkan harapan tersebut bukanlah perkara mudah bagi sosok sepertinya. Pencarian Jo akan belahan jiwa yang tulus menerima eksistensinya kerap berujung pada rintangan berat dan kegagalan yang menguras emosi. Inilah perjalanan emosional Jo, sebuah perjuangan gigih demi menemukan kasih sayang sejati di tengah takdir yang penuh ketidakpastian.
Sampul Novel HASRAT, CINTA, DAN PENGORBANAN
9.1
Inara, seorang office girl di perusahaan migas Dhananjaya, terpaksa menjadi asisten pribadi Raka yang angkuh akibat kesalahannya. Di tengah hancurnya persahabatan Inara karena cinta segitiga antara Bara dan Alexa, Raka hadir mendekatinya. Namun, asmara mereka terhalang oleh kembalinya mantan istri Raka serta tekanan dari sang ibu tiri. Situasi kian rumit saat Daniel, kakak Raka yang difabel, mulai memanfaatkan Inara untuk agenda pribadinya.
Sampul Novel Hasrat Liar Istri Salihah
8.1
Lima tahun menikah, seorang istri salihah rupanya menyimpan rahasia besar. Di balik status pernikahan yang sudah berjalan lama, ia ternyata masih mempertahankan kesucian dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan intim mereka? Kisah romansa dewasa ini mengupas tuntas gejolak hasrat yang terpendam, serta alasan mengejutkan di balik dinginnya hubungan suami istri yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Dita dan Bagas dijodohkan sejak kecil oleh Fahri dan Damar. Akibat kondisi Fahri yang memburuk dan krisis keuangan di bisnis Damar, mereka terpaksa menikah muda saat Dita berumur 16 tahun. Setelah akad, keduanya langsung berpisah tanpa komunikasi. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir menjadi dokter spesialis dan Bagas telah sukses sebagai CEO. Akankah pernikahan dingin masa lalu mereka kini berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi membatalkan pernikahan ketiga sang ibu, Arkania Lintang Jagat berpura-pura mencintai calon saudara tirinya, Bintang. Ibunya yang sangsi akibat haphephobia yang diidap Lintang menuntut pembuktian. Di depan mantan kekasihnya, Ishan, Lintang nekat mencium Bintang. Tindakan nekat tersebut memicu obsesi Ishan untuk mendapatkan Lintang kembali, sementara hubungan Lintang dengan sepupu angkat Ishan itu justru menjadi kian rumit.
Sampul Novel TAKDIR
9.6
Trauma masa lalu membuat Amel tumbuh menjadi gadis introvert. Harapan cinta yang sempat dihadirkan oleh Alex saat dia berusia 17 tahun sirna begitu saja ketika pemuda itu mendadak pergi tanpa penjelasan. Luka itu membekas hingga Amel enggan membuka hati lagi. Setelah bertahun-tahun mencari, Amel kembali bertemu dengan sosok Alex yang kini sangat berbeda. Di tengah rencana pernikahannya dengan pria asing, kebenaran pahit di balik perpisahan mereka pun terungkap. Mampukah Amel bertahan?