APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire

Istri Kedua Sang Billionaire

Kehidupan sederhana Hana mendadak berubah drastis setelah ia terbangun di sebelah pria asing. Saat kesadarannya kembali utuh, kebingungan besar langsung melandanya karena ia sangat yakin belum pernah menikah dengan siapa pun. Hana pun terus mempertanyakan bagaimana sosok tak dikenal itu bisa tidur di ranjangnya. Kini, sebuah misteri besar mulai membayangi dan mengusik hari-hari tenang yang biasa ia jalani.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mata Hana melotot, mendapati siapa yang menghampirinya kini. Sontak, dengan cepat ia mendorong Justin yang masih berada di atas badannya, hingga menyingkir. Setelah itu ia segera beranjak dari tempat tidur dengan tampang cemas.

"Papa," ujarnya menghampiri seorang laki-laki paruh baya.

"Apa yang kamu lakukan?!" tanya laki-laki paruh baya itu dengan wajah penuh emosi. Bagaimana ia tak emosi, mendapati anak gadisnya malah beradegan seperti itu di depan matanya sendiri. Mending kalau hanya dapat info dari orang lain, lah ini justru melihat langsung.

"Aku nggak lakuin apa-apa, Pa," jawab Hana. "Dia yang bikin masalah buatku," tambahnya menunjuk kearah Justin yang masih duduk di pinggiran tempat tidur dengan ekspressi santai, seolah tak sedang terjadi masalah apa-apa.

Emil, papanya Hana menatap tajam kearah Justin. Perlahan melangkah untuk semakin mendekat. Tapi tiba-tiba dahinya berkerut saat memikirkan sesuatu ketika mendapati siapa yang sedang berhadapan dengannya kini.

"Kamu Justin, kan?"

"Benar," jawab Justin singkat.

Rasanya ia ingin meluapkan rasa emosinya pada Justin saat mengingat kejadian barusan. Tapi semua rasa itu seolah terhenti ketika mengingat siapa sosok Justin sebenarnya.

"Ada masalah?" tanya Justin balik pada Emil.

"Apa yang kamu lakukan pada putri saya?!"

Justin beranjak dari duduknya, kemudian berdiri dihadapan Emil. "Saya nggak melakukan apa-apa dan ini juga bukan salah saya. Tanya pada putri Anda, kenapa ini semua bisa terjadi?"

"Yang benar saja kalian menyalahkan Justin untuk masalah ini. Sudah jelas sekali kalau gadis ini yang menggodanya. Kalian benar-benar membuat masalah dalam keluarga saya!"

Alice muncul lagi, karena masih tak terima kalau Justin berurusan dengan Hana. Apalagi cowok itu malah memilih dia. Lalu, bagaimana nasibnya selanjutnya?

"Diam! Ini bukan urusanmu!" bentak Justin pada Alice.

Alice memang takut pada Justin, tapi untuk urusan kali ini ia tak mau ambil resiko terburuk. "Justin, aku berhak ikut campur untuk masalah ini, karena aku ..."

Perkataan Alice terhenti seketika saat tatapan tajam itu mengarah padanya. Seperti sebuah badai yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Justin, jangan membentak Alice seperti itu lagi. Ingat, dia itu ..."

"Semuanya bisa diam, tidak! Atau silahkan keluar dari kamarku!!"

Oke ... semuanya diam saat Justin sudah mengeluarkan suaranya. Bahkan, orang tuanya dibuat terdiam. Bukan apa-apa, hanya saja mereka tahu seperti apa watak Justin yang kalau semakin dilawan dan dibantah, justru akan semakin menjadi-jadi. Dia tak akan melihat status sekalipun saat emosi.

"Han, jelasin sama Papa apa yang sebenarnya terjadi?! Dan jangan katakan kalau kamu sudah melakukan kesalahan terbesar itu!"

Ia pastikan dirinya akan habis kena marah sama papanya. Ini bukan hanya larangan pacaran yang dilanggarnya, tapi lebih parah lagi. Jangan sampai dirinya didepak dari silsilah keluarga hanya karena kesalahan yang nggak jelas ini.

"Hana!" Bentak Emil saat Hana masih diam membatu.

"Aku nggak lakuin apa-apa, Pa. Beneran," ungkapnya memastikan. Tapi entahlah, ia juga tak tahu apa yang sudah terjadi.

"Apa yang kamu katakan!? Kamu mau membuat nama orang tuamu dan keluargamu buruk di mata semua orang. Begitukah?"

"Papa ... semalam aku mabuk dan salah masuk kamar. Tapi aku pastikan antara aku dan dia," tunjuknya kearah Justin yang masih diam tanpa rasa cemas. "Nggak terjadi apa-apa. Aku yakin itu."

Mendengar penjelasan Hana, langsung saja ia layangkan tamparan kearah wajah gadis itu. Tapi terhenti saat Justin justru menahannya tangannya.

"Jangan lakukan itu pada Hana," komentar Justin.

Kalau Hana salah, mungkin ia akan biarkan tamparan mendarat di pipi gadis itu, tapi di sini dia hanya melakukan kesalahan kecil. Hanya salah masuk kamar. Dan ia juga tak melakukan apa-apa pada Hana, pun sebaliknya. Hanya saja di saat semua orang muncul, keduanya sedang beradegan mesra. Itulah yang jadi pemicu.

Kebayang, kan, gimana tampang juteknya Alice saat mendapati sikap baik Justin pada Hana? Bahkan sebagai wanita terdekat dalam kehidupan Justin, ia tak pernah diperlakukan sebaik itu.

"Saya tahu kalau ini salah, tapi jangan melakukan kekerasan itu padanya. Lagian, saya juga nggak melakukan apa-apa pada Hana. Dan itu saya pastikan." Justin meyakinkan Emil.

Emil memandang ketus kearah Justin. "Mendapati putrinya berada di dalam satu kamar dengan seorang laki-laki, bahkan sedang beradegan ..." Ia tak bisa mengucapkan perkataan itu. "Apa menurutmu sebagai orang tua, saya tak merasa cemas? Dia itu seorang gadis, masih SMA ... meskipun tak melakukan hal yang lebih, tetap saja namanya sudah dipandang buruk!" jelas Emil.

Hana mulai menangis. "Tapi beneran, Pa ... aku nggak lakuin apa-apa." Ia tak menyangka jika masalah ini dampaknya begitu buruk. Kalau tahu begini, mending tadi tak menelepon papanya.

"Diam! Pernyataanmu bahkan tak mempengaruhi penilaian Papa padamu, Hana!"

"Sudah saya katakan, jangan membentaknya lagi!" Kali ini Justin merasa tak rela saja kalau Hana dimarahi, meski oleh orang tuanya sekalipun.

Emil menarik lengan Hana dengan kasar dari pegangan Justin, kemudian memandang dingin pada cowok itu. "Saya tahu kalau kamu punya pengaruh besar dalam bisnis, tapi untuk urusan pribadi, tetap saja itu beda arah!"

Setelah menyatakan rasa sakit hatinya itu, Emil membawa paksa Hana dari sana dengan paksa. Bahkan ia mencengkeram tangan putrinya itu, bentuk rasa marahnya.

"Sakit, Pa," isaknya saat cengkeraman papanya terasa menyakitkan di lengannya.

Seperginya Emil dan Hana dari sana, Alice mendekati Justin yang masih berdiri diam di posisinya.

"Kamu lihat, kan, sekarang? Bahkan papanya saja memandangnya buruk. Sementara kamu seolah terus membelanya tanpa memikirkan perasaanku." Menyentuh wajah Justin dengan lembut, tapi sikapnya malah dibalas kasar oleh Justin yang menyentakkaan tangannya.

Justin masih diam. Pikirannya seolah fokus pada Hana.

"Apa yang terjadi padamu? Apa yang telah dia lakukan padamu hingga membuatmu lupa diri? Ini baru beberapa jam dan kamu sudah berhasil dipengaruhi oleh gadis SMA itu!"

Tadinya tak menghiraukan ocehan Alice, tapi makin dibiarkan justru mulut wanita ini seakan-akan tak berniat diam.

Menatap ke arah orang tuanya. "Ma, Pa ... tolong bawa dia pergi dari sini sebelum sesuatu yang buruk ku lakukan padanya!"

"Justin!" Bentakan itu berasal dari papanya Alice.

"Sekarang!" Matanya memerah menatap tajam kearah laki laki paruh baya yang sepertinya tak rela saat Alice ia perlakuan buruk.

Iya, bentakannya itu membuat orang tuanya dan orang tua Alice segera berlalu dari sana. Termasuk Alice yang masih tak terima dengan perlakuan Justin padanya.

****

Emil menyeret Hana hingga ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Beberapa kali gadis itu terjerembab atas tarikan Emil, tapi dengan tanpa rasa kasihan dia menarik kembali gadis itu hingga berdiri.

Arini yang saat itu berada di kamar langsung bergegas mengikuti langkah anak dan suaminya menuju lantai atas. Apalagi tangisan Hana begitu jelas terdengar, membuat rasa penasarannya semakin menjadi.

"Ada apa ini? Kenapa memperlakukan Hana seperti itu?" tanya Arini tampak kesal pada suaminya.

"Tanya pada putrimu, apa yang sudah dia lakukan," ungkap Emil menunjuk kearah gadis yang kini terduduk di lantai kamar sambil menangis.

Arini menghampiri Hana. "Ada apa, sih, Han? Bilang sama Mama."

"Ma, aku ..."

"Putri satu-satunya di rumah ini, melakukan kebodohan yang membuat hidupnya hancur. Bahkan keluarga kita akan ikut hancur gara gara kelakuannya!"

"Apa?" Arini semakin dibuat bingung.

"Dia berada dalam satu kamar dengan seorang laki-laki. Dan kamu tau apa yang ku dapati saat masuk? Mereka malah sedang beradegan ..." Ia memijit pelipisnya. Kepalanya seakan mau meledak mengingat kejadian itu. Berharap penampakan itu hilang dari ingatannya.

Arini kini memandang kearah Hana. "Apa benar itu, Han?" tanyanya seolah tak percaya. Bahkan berharap ini semua nggak benar.

Tangis Hana semakin menjadi-jadi. "Enggak, Ma ... aku nggak lakuin apapun. Aku hanya salah masuk kamar dan ..."

"Jadi, apa menurutmu yang Papa dapati saat masuk tadi adalah sebuah kebohongan. Begitukah?"

Arini benar-benar merasa shock dengan kejadian ini. Berharap Hana akan menjadi gadis yang benar, justru malah membuat masalah besar. Ia memang tak menyaksikan langsung, tapi mendengar kalau suaminya bicara begitu tentu saja ia percaya.

"Dan asal kamu tahu, laki-laki yang bersamanya adalah Justin," tambah Emil mengungkapkan.

"Apa?!" Arini kaget.

Bukan apa-apa, hanya saja Justin bukan orang sembarangan dalam bidang bisnis. Untuk itulah, semua bisnismen pasti mengenalnya ... yang kalau bermasalah dengan dia, pasti akan dibuat kalah telak. Tapi sekarang justru Hana malah menciptakan masalah itu dengan Justin.

"Apa semua orang mengetahui kejadian ini?" tanya Arini pada Emil.

"Keluarga dia ada di sana saat kejadian."

"Astaga, Hana! Jujur saja, Mama kecewa sama kamu! Karena masalah ini, kamu sudah membuat keluarga kita bermasalah dengan orang yang tak tepat. Semuanya hancur!"

Saking kesalnya, Arini sampai mengumpat pada Hana habis habisan. Ia seolah melupakan kalau gadis yang masih menangis itu adalah putrinya.

"Tapi aku nggak lakuin hal apapun sama dia, Ma. Bahkan sampai saat inipun ku pastikan kalau aku masih gadis," jelas Hana memastikan.

"Meskipun begitu kenyataannya, tapi tetap saja tak semua orang bisa berpikiran positive! Mana ada gadis baik-baik berada dalam satu kamar dengan seorang laki-laki! Pikir dong, Hana ... pikir!"

Emil menarik napasnya panjang, berusaha menahan emosinya agar tak makin menjadi.

"Mulai sekarang, kamu nggak boleh keluar dari kamar! Nggak akan ada lagi shooping, jalan-jalan, apalagi sekolah! Diam di kamar adalah hukuman yang harus kamu jalani, Hana!"

Arini melangkah keluar dari sana diikuti oleh Emil. Tak hanya itu, dari luar keduanya bahkan mengunci pintu kamar.

Apalagi yang ia lakukan kini kalau bukan menangis. Ya, menangisi kebodohan yang telah dilakukannya. Menyesal karena menghubungi papanya. Berharap membantu, justru masalahnya bertambah besar.

Sekarang apalagi kalau bukan hanya diam di kamar layaknya seorang penjahat yang di penjara karena sudah melakukan tindakan kejahatan. Menghabiskan hari-hari penuh kebosanan sampai mati. Ia akan mati konyol di kamar ini.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKSARA HUJAN
7.9
Julie rela bekerja keras menjadi penari pole dance di sebuah klub malam demi menjamin masa depan Gemma, adik yang sangat ia sayangi. Sayangnya, ketulusan Julie justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan oleh sang adik sendiri. Saat berjuang menggapai kebahagiaan hidup, Julie malah harus menerima kenyataan pahit dari tindakan Gemma. Akankah sang adik menyadari kesalahannya, atau justru membiarkan Julie kian terpuruk dalam kepedihan yang mendalam?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni perdanaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, melindungi wanita lain di media. Demi aliansi baru, dia mengabaikan ikatan kami, meremehkan karyaku, dan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongan sang Alpha akan menjadi senjata yang menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Rahasia Gelap Kekasihku
8.5
Dibuang sang ayah akibat tuduhan kejam membuat hati Arsen membeku. Namun, takdir mempertemukannya dengan Rose, perempuan misterius yang tiba-tiba lenyap. Dalam pencariannya, Arsen menemukan Claire, gadis polos berwajah sama persis. Demi mengobati rindu, Arsen pun mendekatinya. Sayang, ia justru menemukan berbagai kejanggalan mengerikan. Kekasih barunya itu ternyata menyimpan rahasia kelam. Kini, Arsen terjebak dalam dilema besar antara cinta dan bahaya maut.
Sampul Novel SHE'S SPECIAL
8.6
Miliarder Hayden Mallory Lucano dipertemukan dengan seorang gadis yang tengah berjuang menghadapi depresi berat. Tergerak untuk menolong, Hayden berkomitmen merawat serta melindunginya dengan penuh kesabaran. Namun, seiring berjalannya waktu, dedikasi tulus untuk memulihkan kondisi sang gadis perlahan menumbuhkan benih asmara di hatinya. Hayden pun kini terjebak dalam dilema emosional antara tanggung jawab moral dan perasaan cinta mendalam yang kian tak terbendung.
Sampul Novel Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
7.9
Lana, gadis desa yang tumbuh bersama neneknya, mendadak dibawa pulang oleh keluarga Rahayu. Bukannya disambut hangat, ia malah dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi Saras untuk menikahi Jehan, pria lumpuh dari keluarga Sahid yang di ambang kehancuran. Demi sang nenek, Lana menerima pernikahan ini. Di malam pertama, ia dan Jehan sepakat berpisah dalam dua tahun. Namun, mampukah Lana menjaga rahasia identitasnya dari sang suami? Di saat pria lain mengejarnya, siapakah yang akan memenangkan hatinya?
Sampul Novel WANITA SIMPANAN MILIK SUAMIKU
8.4
Anna Karenina memilih tetap menikahi Alex Tjandra, sahabat yang ia tahu mencintai perempuan lain. Berbekal ketulusan, Anna berharap waktu bisa menumbuhkan cinta di hati suaminya. Sayangnya, pernikahan mereka justru berjalan dingin dan dipenuhi kebencian serta pengkhianatan yang mengoyak batin. Tanpa kehangatan dari Alex, Anna harus bertahan dalam penderitaan. Akankah hati Alex melunak demi sang istri, ataukah rumah tangga ini selamanya menjadi siksaan tanpa akhir?