APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kedua, Luka Pertama

Istri Kedua, Luka Pertama

Rafindra Mahardika, sang pewaris ningrat tunggal, dipaksa ayahnya mencari keturunan baru usai putri pertamanya wafat. Demi membiayai pengobatan sang ibu, Nadira yang berumur 19 tahun rela menjadi istri kedua walau sangat mencintai kekasihnya, Farel. Di rumah Rafindra, Nadira harus menderita akibat kekejaman istri pertama tanpa pembelaan dari suaminya. Sanggupkah ia bertahan di tengah intrik kejam keluarga ini, ataukah hatinya akan hancur selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana pagi di rumah keluarga Mahardika terasa lebih tegang dari sebelumnya. Nadira menatap jendela kamar barunya, mencoba menyerap sinar matahari yang hangat, tapi hatinya tetap resah. Ia tahu hari ini bukan hari biasa. Ada perasaan tidak nyaman yang mengendap di dadanya, seolah badai akan segera datang.

Dari jauh, suara heels Clarissa terdengar berderap di lorong, tanda bahwa hari ini gadis itu akan menghadapi ujian baru. Nadira menelan ludah, menyiapkan diri dengan rapi, meski jantungnya berdebar tak menentu.

"Selamat pagi, Nadira," suara Clarissa terdengar manis tapi menusuk. "Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Kau harus siap."

Nadira mengangguk pelan. "Baik, Bu Clarissa."

Clarissa tersenyum tipis, matanya menatap tajam, seolah membaca ketakutan dan kecemasan Nadira. "Kau harus ingat, Nadira. Setiap gerakanmu di rumah ini diperhatikan, setiap kata yang kau ucapkan dicatat. Jangan sampai aku menemukan kesalahanmu."

Nadira menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Namun sebelum ia bisa menanggapinya, Rafindra muncul di ruang makan. Wajahnya masih tegas, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda-tatapannya lebih waspada, seakan menilai keadaan di sekitar Nadira.

"Pagi," Rafindra menyapa, duduk di kursi kepala. Suaranya rendah tapi jelas, menandakan bahwa hari ini ia serius.

Nadira duduk, mencoba menenangkan diri. "Selamat pagi, Tuan Mahardika."

Setelah sarapan, Rafindra memanggil Nadira ke ruang kerjanya. "Hari ini aku akan mengujimu," katanya tanpa basa-basi. Nadira merasakan jantungnya berdegup kencang. Ujian? Apakah ini berkaitan dengan tugas rumah tangga, atau hal lain?

Rafindra menatapnya tajam. "Clarissa sudah memberitahuku beberapa hal tentang sikapmu. Kau tidak salah, tapi aku ingin melihat bagaimana kau menghadapi tekanan."

Nadira menelan ludah, mencoba mengerti maksudnya. "Aku akan berusaha, Tuan Mahardika."

Rafindra menghela napas. "Aku tahu Clarissa tidak mudah. Ia selalu mencari cara untuk menjatuhkanmu. Kau harus belajar menahan diri, mengatur emosi, dan tetap fokus pada tujuanmu. Ingat, keteguhan hati bukan hanya tentang menahan tekanan, tapi juga tentang mengetahui kapan harus bertindak dan kapan harus diam."

Nadira mengangguk, hatinya campur aduk. Kata-kata Rafindra memberinya kekuatan, tapi juga menambah tekanan baru. Ia tahu bahwa Clarissa akan semakin licik, dan ia harus menemukan cara untuk bertahan.

Tidak lama kemudian, Nadira mendapat pesan dari Farel. "Aku datang hari ini. Aku akan mencari cara untuk menemui mu, tapi kau harus berhati-hati. Jangan sampai ketahuan mereka."

Nadira tersenyum tipis, merasa sedikit lega. Farel selalu tahu bagaimana menenangkan hatinya, meski dunia di sekelilingnya terasa seperti perang. Namun, ia segera menahan senyumnya ketika Clarissa menatapnya dengan tajam.

Hari itu, Clarissa mulai merancang rencana licik untuk menjatuhkan Nadira. Ia mulai menyebarkan gosip kecil di antara staf rumah, menekankan bahwa Nadira terlalu dekat dengan Farel, dan mencoba menanamkan rasa takut di kepala Rafindra. Setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa penuh perhitungan, licik, dan menyakitkan.

Namun Rafindra, yang mulai menyadari keberanian dan keteguhan hati Nadira, tidak mudah terprovokasi. Ia mulai menunjukkan sisi perlindungan yang lebih jelas. Saat Clarissa mencoba menyindir Nadira di hadapannya, Rafindra menatap tajam, memberi peringatan halus tapi tegas. Nadira merasakan dorongan lega yang aneh-ia mulai menyadari bahwa meski dunia menekan, ada seseorang di sisinya yang mulai memperhatikannya.

Sore harinya, Nadira menyelinap ke taman untuk bertemu Farel. Hati mereka berdebar saat melihat satu sama lain. Farel menggenggam tangannya dengan lembut.

"Kau baik-baik saja, Nadira?" Farel bertanya dengan suara lembut, matanya menatap penuh kekhawatiran.

"Aku... aku baik, Farel. Tapi Clarissa semakin licik, dan... Tuan Mahardika..." Nadira menelan ludah, mencoba menahan rasa takut yang menguasai dirinya.

Farel mengangguk, menatapnya dengan serius. "Aku tahu, Nadira. Tapi kau harus kuat. Aku akan selalu ada untukmu. Kita akan melewati ini bersama."

Di sisi lain, Clarissa yang mencurigai pertemuan itu, mulai mengawasi taman dari kejauhan. Ia menyiapkan strategi baru untuk membuat Rafindra melihat Nadira dengan cara negatif, berharap bisa menjatuhkannya di mata suami.

Namun, Rafindra semakin penasaran dengan Nadira. Ia mulai memperhatikan setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap ekspresi gadis itu. Ada rasa kagum yang perlahan muncul, walau ia menolak mengakuinya. Rafindra sadar bahwa Nadira bukan sekadar pengantin yang dipaksakan, tapi seorang wanita yang berani, cerdas, dan mampu bertahan di dunia yang keras.

Malam itu, Nadira kembali ke kamar dengan hati campur aduk. Ia menulis surat untuk Farel, mencurahkan semua kegelisahan dan rasa rindu yang tak tertahankan. "Farel, aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di sini, tapi aku akan mencoba. Aku harus kuat, demi ibu, demi kita. Tolong tunggu aku."

Hari-hari berikutnya menjadi pertarungan nyata bagi Nadira. Clarissa semakin licik, menyebarkan gosip di antara staf, menimbulkan rasa cemas, dan menekankan kesalahan kecil Nadira. Namun Nadira belajar untuk menghadapinya dengan sabar dan cerdas. Setiap langkahnya adalah strategi, setiap keputusan membawa risiko, tetapi ia semakin lihai menahan tekanan.

Suatu malam, Rafindra memanggil Nadira ke ruang kerja. Hatinya berdebar saat memasuki ruangan yang remang itu. Rafindra menatapnya tajam, lalu berkata, "Kau sudah menunjukkan keteguhan hati yang baik, Nadira. Tapi ini baru permulaan. Dunia ini tidak mudah, dan aku tidak akan selalu menolongmu. Kau harus belajar melindungi dirimu sendiri."

Nadira mengangguk pelan. "Aku akan belajar, Tuan Mahardika. Aku ingin menjadi lebih kuat."

Rafindra tersenyum tipis, ekspresi yang jarang terlihat. "Aku tahu kau bisa. Aku hanya ingin kau sadar bahwa kau tidak sendirian. Aku mulai menghargai keteguhan hati dan keberanianmu. Jangan kira aku tidak memperhatikanmu."

Hari itu, Farel membuat rencana baru untuk mendekati Nadira lebih berani. Ia menyelinap ke rumah Mahardika dengan bantuan salah satu staf yang dapat dipercaya, membawa makanan dan surat rahasia. Nadira merasakan getaran senang bercampur takut. Ia tahu risiko yang mereka ambil sangat tinggi, tapi cintanya pada Farel membuatnya nekat.

Dalam beberapa minggu berikutnya, hubungan Nadira dan Farel semakin terjalin dalam rahasia. Mereka saling bertukar pesan, bertemu secara diam-diam, dan merencanakan masa depan yang mereka impikan bersama. Namun tekanan Clarissa dan aturan ketat Rafindra tetap menjadi ancaman yang selalu membayangi.

Di sisi lain, Rafindra mulai memperlihatkan sisi perhatian yang lebih jelas. Ia tidak lagi hanya menuntut kesempurnaan, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan Nadira. Setiap kali Clarissa mencoba menjatuhkannya, Rafindra memberi peringatan halus, menjaga gadis itu tanpa harus mengumumkan perlindungannya. Nadira mulai menyadari bahwa sikap Rafindra tidak sepenuhnya dingin; ada perasaan yang tersembunyi, meski ia belum bisa memahami sepenuhnya.

Malam-malam Nadira kini dipenuhi ketegangan dan rindu. Ia harus menyeimbangkan antara menjaga rahasia pertemuannya dengan Farel, menahan tekanan Clarissa, dan tetap patuh kepada Rafindra. Setiap langkah adalah pertarungan antara cinta dan kewajiban, antara keberanian dan ketakutan, antara tekad dan kerentanan.

Pada satu malam yang tenang, Nadira menatap bintang-bintang dari jendela kamarnya. Ia berbisik pelan, "Aku tidak akan menyerah. Aku harus bertahan, untuk ibu, untuk Farel, dan untuk diriku sendiri."

Dan di balkon rumah Mahardika, Rafindra berdiri, menatap kota yang gelap tapi tenang. Pikiran dan hatinya berkecamuk. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh risiko. Nadira bukan gadis yang mudah ditaklukkan, dan ia mulai merasakan sesuatu yang asing: rasa ingin melindungi, rasa ingin memahami, bahkan rasa kagum pada keteguhan hati gadis itu.

Dunia mereka kini saling terkait dalam pernikahan yang dipaksakan, namun penuh intrik, tekanan, dan kemungkinan tak terduga. Konflik, rindu, dan ketegangan membentuk babak baru dalam hidup Nadira, Rafindra, dan Farel. Setiap langkah, setiap kata, dan setiap keputusan bisa mengubah masa depan mereka selamanya.

Nadira tahu satu hal pasti: ia tidak akan menyerah. Ia akan menghadapi Clarissa, menahan tekanan Rafindra, menjaga rahasia cintanya dengan Farel, dan menemukan kekuatannya sendiri. Dan Rafindra, dalam diam, mulai menyadari bahwa gadis ini mungkin satu-satunya yang bisa menembus dinding hatinya yang dingin.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Hasrat Dunia Lain
8.8
Masuki sebuah dimensi fantasi memikat yang menawarkan kepuasan mendalam bagi mereka yang berani melangkah ke dalamnya. Kisah ini mengajak Anda menembus batas realitas demi merasakan sensasi luar biasa yang tak terbayangkan. Menyajikan narasi romansa yang sangat intens dan menggugah, karya khusus dewasa ini menjadi pelarian penuh gairah di tengah dunia baru yang misterius sekaligus menawan hati.
Sampul Novel Hot Daddy
8.4
Miliarder berstatus duda, Dominic Immanuel Horrison, sangat disegani karena sikapnya yang kaku dan tanpa ampun. Di balik pesona ketampanannya yang memikat banyak wanita, ia sangat berhati-hati memilih calon ibu untuk sang anak. Dominic akhirnya menjatuhkan pilihan pada sekretaris setianya, Arabelle, yang dinilai punya kepribadian paling pas. Akankah ikatan kerja mereka berdua mampu bertransformasi menjadi cinta sejati yang menyatukan mereka dalam pernikahan?
Sampul Novel MINE
8.9
MINE
Pertikaian Ana dengan pengusaha dingin yang menjadi pembicara tamu di kampusnya mengubah segalanya. Meski muak, takdir terus mengikat mereka bersama. Siapa sangka, pria menyebalkan itu adalah sosok yang selama ini dinanti Ana. Sikap sang miliarder yang perlahan berubah membuat Ana terjebak di antara benci dan cinta. Namun, saat perasaan mulai tumbuh, teror berbahaya datang mengancam mereka. Mampukah hubungan penuh rintangan ini bertahan?
Sampul Novel Pembalasan Anak Laki-lakiku
9.6
Dulu, seorang suami tega mengingkari janji pernikahan demi wanita lain, lalu membuang istri dan putranya tanpa iba. Kini, waktu telah berganti dan menyeretnya ke titik nadir. Di masa tua yang semestinya tenang, pria itu bersama kekasih barunya justru terjebak dalam penderitaan yang mendalam. Mereka harus menjalani hidup yang kelam, membayar lunas semua luka masa lalu akibat karma yang kini datang menuntut balas secara perlahan.
Sampul Novel Terjebak Jodoh Orang Lain
9.2
Jiwa Elena dan Sarah tertukar akibat sebuah insiden, memaksa mereka berjanji untuk menjaga pasangan masing-masing, Danang dan Riko. Namun, setelah Elena berhasil kembali ke raga aslinya, ia justru merasa hampa. Selama hidup sebagai Sarah, hatinya telah terpikat oleh sosok Danang. Kini Elena terjebak dalam dilema besar: haruskah ia mengejar cinta sejatinya pada Danang, atau menyerah demi menjaga komitmen pernikahan dengan tunangan mereka masing-masing?