APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel IPRIT

IPRIT

Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Bab
Bagikan

Bab 2

Mulut mereka menganga tak percaya. Kejadian ini tak pernah ada di desa ini. Lalu, sebenarnya apa yang tengah terjadi?

Wisaka berdiri mematung, sementara semua kejadian berputar terus di otaknya seperti sebuah film. Wisaka masih berharap, hari kemarin bukanlah kali terakhir perjumpaannya dengan sahabatnya.

Terkenang kembali saat delman yang dia tumpangi bergerak di jalan berbatu. Kala seekor kuda jantan coklat dengan gagahnya berlari menembus kabut pagi. Wisaka pemuda berperawakan tinggi dengan rambut gondrong, badannya ikut terguncang - guncang di dalamnya.

Desa Keris nampak tenang dan damai. Kabut pagi menyelimuti kampung tersebut, meninggalkan hawa yang sangat dingin. Desa yang nyaman karena tergolong aman dari para perampok yang masih suka mengganggu di daerah lain.

Rumah-rumah panggung beratap daun rumbia berjauhan satu dengan yang lainnya, terhalang oleh kebun ataupun sawah. Satu dua orang penduduk nampak berjalan melintasi pematang sawah menuju jalan utama, memikul hasil kebun untuk dibawa ke pasar.

Bau mistik dan klenik masih suka menguar di malam-malam tertentu, dari pembakaran hio dan kemenyan. Penduduk percaya itu bisa mengusir siluman yang menyamar dan mengganggu mereka.

Kemenyan menjadi begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Benda itu masih digunakan untuk media pengobatan tradisional juga untuk ritual- ritual sebelum menanam dan memanen.

"Mang, Firman menikah dengan siapa?" tanya Wisaka kepada Mang Arman, kusir delman. Sambil matanya tak berpaling dari pemandangan sekitarnya.

Mang Arman menoleh sejenak ke arah Wisaka.

"Dengan Sulastri, Den, masih tetangga kan? Temen masa kecil kalian juga," jawab Mang Arman.

"Oh iya, Mang, aku ingat, yang badannya bongsor itu ya?"

"Iya, bener yang badannya semok itu," jawab Mang Arman sambil tertawa kecil.

Wisaka tersenyum. Pemuda itu teringat kenangan masa kecilnya bersama Firman, Umar, Dayat, Sulastri, Ningrum, Enok serta yang lainnya.

Masih jelas di benaknya, saat dulu mereka mencari ikan di sungai sambil telanjang.

"Lempar kesini tombaknya, Firman" seru Wisaka.

Firman melempar tombak bambu runcingnya. Wisaka menyambutnya, kemudian menancapkannya saat ikan lewat di sela-sela batu.

"Horeeee, dapat ... dapat," Wisaka berjingkrak-jingkrak. Begitupun Firman berjoget-joget kegirangan.

"Pendekar mabuk menangkap ikan!" seru Wisaka lagi, sambil berjalan sempoyongan.

"Ahaha ... hahaha." Firman tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Wisaka yang bertingkah konyol.

"Wisaka jadi pendekar, hidup ... hidup!" seru Umar sambil meninju udara ke atas.

"Pendekar mabuk cinta, haha ...." Wisaka tergelak.

'Ahh, indahnya,' batin Wisaka. Senang dan sedih sekaligus di waktu bersamaan, membuat Wisaka tersenyum getir.

Senang kala dia dapat bertemu kawan lama dan berencana mengantarkannya ke kursi kebahagiaan. Namun, sedih kala momen bahagia itu berbingkai duka. Kini Wisaka harus mengantar Firman ke pembaringannya yang abadi.

Berputar lagi episode terakhir di benaknya, saat baru tiba di desa. Secepatnya dia menemui Firman, tidak memperdulikan ibunya yang berteriak-teriak karena masih kangen. Bertemu dengan Firman adalah prioritasnya saat itu.

"Wisaka, apa kabar?!" Firman berteriak begitu melihat kemunculan Wisaka.

Saat itu dia tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya.

"Baik ... baik, apa kabar juga nih calon pengantin?" tanya Wisaka sambil memeluk Firman dengan erat.

"Baik ... hahaha." Firman tergelak digoda Wisaka.

Wisaka menghela napas panjang. Seharusnya masih banyak cerita yang ingin didengar dari Firman. Seharusnya besok dia melihat kawan karibnya itu bersanding di pelaminan.

Begitu banyak kata 'seharusnya' yang lain kalau maut ini tidak begitu kejam memisahkan mereka. Badan Wisaka luruh ke tanah melihat pemandangan di depan matanya. Dia menggeleng kuat-kuat.

Wisaka memandang hampa mayat sahabatnya itu. Shock luar biasa dengan kejadian tersebut. Kematian yang tidak pernah terduga. Pemuda itu mengerti kalau semua makhluk akan mati, tetapi dengan cara seperti ini, hati siapa pun tidak akan bisa terima.

Semalam Firman masih tertawa bersama saat warga menggoda, sekarang sudah terbujur kaku menjadi mayat. Gosong menghitam dan kering tanpa tersisa darah dalam tubuhnya.

Wisaka bergidik ngeri membayangkan makhluk yang menyedot darah Firman. Kalau manusia tentu mempunyai taring yang begitu tajam. Seandainya binatang, mengapa harus menelanjanginya? Banyak pertanyaan muncul di benak Wisaka.

"Ayo ... ayo, kita bawa ke rumah jasad ini, kita jangan terbengong di sini!" seru Kang Saep, membuyarkan lamunan Wisaka.

"Ayo, siapa tahu mahluk jahanamnya masih di sini dan bisa menyerang kita juga," kata yang lain menimpali.

"Wisaka, jangan bengong aja, ayo!" ajak Kang Saep.

"Iy -- iyy-- iya, Kang," kata Wisaka gugup. Tersadar dari lamunannya tentang almarhum Firman.

Sebagian warga menebang pohon bambu untuk menggotong jasad Firman. Sarung salah satu penduduk direlakan untuk itu. Mereka memasukkan mayat ke dalamnya, kemudian menggotongnya menuju kampung.

Teriakan histeris menggema saat mayat dibaringkan di ruangan. Ibunya Firman memeluk anaknya yang terbujur kaku dengan badan mengkerut hitam.

"Anakku ... Gusti ... ada apa ini?" tanyanya kepada orang-orang yang mengantarkan mayat anaknya.

"Seseorang telah menyerangnya di hutan, Ceu," jawab Kang Saep.

"Terus pernikahannya bagaimana ini?!" Ibunya Firman menangis sesenggukan, diguncang-guncangkan tubuh anaknya.

"Sudah, Ceu, kasihan almarhum," cegah Kang Saep.

"Bagaimana dengan Sulastri? Pasti sedih dengan kejadian ini," imbuh wanita setengah baya itu.

Semua terdiam. Membayangkan keluarga Sulastri yang pastinya akan histeris pula begitu mendengar berita ini. Namun, lebih cepat memberi kabar akan lebih baik. Kejadian ini harus secepatnya sampai ke telinga calon besan.

Akhirnya diputuskan seseorang harus pergi ke rumah Sulastri. Kang Saep ditemani Wisaka, walau bingung cara menyampaikannya, Kang Saep tak urung sampai juga. Hari sudah dini hari kala itu.

"Ceu ... Ceu, buka pintunya," kata Kang Saep sambil mengetuk pintu.

Lama tak ada jawaban, maklum orang-orang baru saja terlelap. Kang Saep mengetuk lagi pintu, kali ini cukup keras.

Seseorang membuka pintu, merasa heran, ada apa, saudaranya Firman datang dini hari?

"Ada apa, Kang."

"Sulastri mana?"

"Ada di kamarnya, ada apa sih? Bikin kaget aja, sebentar aku panggil."

Kang Saep menunggu dengan gelisah, masih bingung harus bagaimana menyampaikan kabar duka ini kepada Sulastri. Sulastri pasti kaget dan tidak menerima kenyataan, kalau calon suaminya sudah menjadi mayat.

Salah satu keluarga Sulastri yang penasaran mendekati Wisaka. Ia bertanya ada apa sesungguhnya? Wisaka bingung harus menjawab bagaimana. Dia tidak menemukan kata yang tepat di pikirannya.

"Anu ... an--"

"Anu apa?" Keluarga Sulastri memotong jawaban Wisaka.

"Emmh ...." Wisaka masih mencari istilah yang tepat untuk menyampaikan kabar duka ini. Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar jeritan. Sontak semua berlari ke dalam rumah.

"Ada apa ini, ada apa ini?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bercinta Denganku Lagi, Dokter Jacob?!
8.1
Jacob Carson Indrajaya, dokter forensik blasteran Australia-Indonesia, menghadapi kejadian aneh di RS Dr. Sarjito saat sesosok jasad korban pembunuhan tiba-tiba bangkit tanpa memori. Jacob pun menamainya Jane dan merawatnya di rumah hingga mereka berdua saling jatuh cinta. Siapa sebenarnya Jane? Mengapa dia diincar untuk dibunuh? Ikuti perjuangan Jacob mengungkap misteri kelam dan memecahkan teka-teki besar di balik identitas asli wanita yang dicintainya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Sampul Novel Lenyap Bersama Kenangan
9.1
Setelah kematian tragis Ridho yang menyelamatkan nyawanya, rahasia besar terungkap melalui buku harian peninggalannya. Ridho ternyata mencintai wanita lain bernama Yolanda saat hilang ingatan, namun dipaksa menikahinya. Di tengah kemarahan mertua yang menyalahkannya atas kematian Ridho, sang istri memilih mengakhiri hidup. Namun, ia justru terbangun kembali di masa lalu saat Ridho baru pulang dari desa nelayan. Kali ini, ia memutuskan untuk merelakan suaminya bersatu dengan cinta sejatinya.
Sampul Novel Luka Abadi, Cinta Tak Berarti
9.3
Dunia sang protagonis hancur saat mengetahui anak angkatnya adalah hasil perselingkuhan suaminya, Yobel, dengan adiknya sendiri, bahkan didukung orang tuanya. Di tengah pengkhianatan ini, Yobel justru menolak cerai dan memohon ampun. Berpura-pura percaya, ia memberi Yobel waktu tujuh hari untuk membuktikan cinta. Namun, semua orang tidak menyadari bahwa sang istri sebenarnya telah meninggal tujuh hari lalu. Malaikat kematian hanya memberinya waktu singkat untuk kembali sebelum polisi meminta mereka mengidentifikasi jasadnya.
Sampul Novel Occidens
9.7
Akibat ketamakan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran hidup dalam kebencian dan kutukan. Perlahan, hatinya yang dingin mencair berkat Selena, gadis pencari kayu yang selalu ceria. Namun, takdir kejam menguji cinta mereka saat Edgar dinobatkan sebagai pemimpin kaum immortal sekaligus penguasa klan demon. Aturan mutlak melarang sang raja memiliki ratu. Bisakah hubungan mereka bertahan menghadapi hukum dunia immortal yang sangat mengikat?
Sampul Novel Tidak Ada Ampun untuk Masa Lalu
8.3
Kembali ke masa lalu, Amelia dihadapkan pada penculikan putrinya, Anne, bersama Katrina, mantan pacar Jed Bennett. Saat bahaya mengintai, Jed justru memaksanya mendahulukan Katrina demi alasan remeh. Mengingat kematian tragis Anne di kehidupan terdahulu, Amelia menolak tunduk kali ini. Di tengah kemarahan dan tekanan dari Jed, Amelia mengambil tindakan dingin tak terduga untuk membalas dendam atas segala penderitaan masa lalunya yang kelam.