
Ibu Susu dari Desa
Bab 3
Dia membawa alat-alat berburu dan keluar untuk berburu, sementara aku ditinggalkan di rumah.
Selain pintu tempat anak, semua tempat di rumah ini tidak terkunci. Barang-barang berharga dan berbagai daging yang belum diproses dibiarkan begitu saja di lantai, tampak seolah-olah mudah untuk aku ambil.
Jika aku ingin melarikan diri, ini adalah kesempatan yang baik.
Tapi aku ragu, aku ini seorang janda muda yang lemah, seberapa jauh bisa aku lari?
Belum lagi, jika orang-orang di desa punya niat jahat, aku tidak akan punya jalan hidup.
Sedangkan pemburu itu meskipun sering melakukan hal-hal yang kasar, tetap memperlakukanku seperti manusia.
Aku menghela napas, lalu mulai merapikan barang-barang yang berserakan di seluruh rumah.
Setelah sibuk sepanjang hari, hingga matahari hampir terbenam, pemburu itu baru kembali membawa dua ayam hutan.
Begitu masuk, dia terkejut, "Ini... ini semua kamu yang lakukan? Rasanya bukan rumahku lagi."
Aku memijat pinggang, memang, tempat tinggal pria lajang memang berantakan.
Aku memberinya beberapa uang yang aku kumpulkan dari berbagai tempat, dan harus diakui, aku belum pernah melihat orang yang begitu tidak peduli dengan uang.
Dia menolak, "Ambil saja, belanjakan untuk dirimu."
Keranjang di punggungnya diletakkan, dan aku melihat ada beberapa kelinci liar di dalamnya.
Dia kira aku suka, “Ini buat kamu supaya ada ASI. Kalau kamu mau pelihara untuk bermain juga boleh.”
Aku dengan takut menggelengkan kepala.
Hari cepat gelap, dan aku memberi makan anak sekali lagi.
Saat waktunya tidur, aku baru sadar, hanya ada dua tempat tidur yang bisa dipakai. Anak menggunakan satu, jadi aku hanya bisa tidur dengannya.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Alisnya terangkat, "Janda muda, kenapa kamu tidak datang tidur?"
Aku terkejut dengan tatapan matanya yang garang, dan akhirnya dengan takut-takut masuk ke dalam selimut.
Tidak berapa lama kemudian, tangannya mulai tidak diam, dengan paksa menegakkan tubuhku. Tangan besarnya mulai masuk dari depan payudara, dengan gampang menyobek bajunya.
"Jangan!"
Perlawananku sama sekali tidak berguna, dia menindihku seperti batu yang besar dan berat.
Kepala yang berbulu mulai menunduk, mulut yang penuh dengan jenggot menusukku hingga kesakitan. ASI sudah habis masih belum selesai, jarinya yang kasar memulai lagi.
"Jangan menangis janda muda." Dia dengan tidak sabar melepaskan sedikit, "Aku ini bantu kamu lancarkan ASI, sekarang ASImu terlalu sedikit, tidak cukup untuk menyusui, kalau tidak besarkan sedikit, apa gunanya beli kamu?"
Apakah dengan ini bisa jadi lebih besar dan ASI jadi lebih banyak?
Aku ragu dan mulai tidak melawannya lagi, biarkan dia melakukannya.
Kerjasamaku membuatnya tersenyum, wajahnya yang kasar itu terlihat jadi cukup tampan, gerakannya juga jadi lebih berusaha.
Awalnya masih sakit, lalu seperti dipijat, perlahan-lahan menjadi nyaman, bahkan tidak mau henti.
Kedua kaki menjadi tidak nyaman dan mulai berdempetan, aku mengiggit bibir baru menahan suara desahan yang hampir keluar.
Dia tidak ada maksudnya, bagaimana aku bisa secabul gitu?
Perlahan-lahan, aku merasakan ada barang yang keras menindih perutku.
Aku menyadarinya, awalnya mengira adalah kelaminnya, tetapi teringat kelemahan suami, aku mulai meragukan diri.
Mungkin adalah barang yang lain.
Wajah pemburu mulai keringatan karena capek, jarinya yang kasar sama sekali tidak berhenti. Dia melihatku, aku baru menyadari kalau wajah aku yang ada di dalam matanya sangatlah merah, baju terbuka setengah, membiarkannya bertindak sesuka hati.
"Janda muda, apa baiknya suamimu itu?" Dia tersenyum sinis, "Lebih baik ikut aku saja, setiap hari seperti hari ini."
Aku buruan menggelengkan kepala, "Mau seburuk apapun dia, tetap suamiku."
Tatapan pemburu menjadi dalam, tangannya entah sejak kapan sudah ada di tali pinggangku.
Aku belum menyadari bahaya, tapi duluan mendengar suara tangisan.
Anda Mungkin Juga Suka





