APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!

I Love You, Om Bodyguard!

Mayzura terjebak rencana pernikahan dengan pria tua akibat utang ayahnya. Ketika mencoba kabur bersama sang kekasih, ia diserang penjahat sebelum akhirnya diselamatkan oleh Sadewa. Sadewa kemudian didelegasikan sebagai pengawal pribadi Mayzura menjelang hari pernikahan. Siapa sangka, interaksi intens justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Sanggupkah Sadewa melindungi Mayzura di tengah rintangan yang menghadang? Apa rahasia besar yang disembunyikan sang bodyguard?
Bab
Bagikan

Bab 2

Secara refleks, pria itu pun membalikkan badannya. Dalam keremangan cahaya, Mayzura melihat sosok lelaki dewasa yang tengah menatapnya dengan tajam. Iris mata abu-abu gelap yang dibingkai dengan sepasang alis tebal, hidung mancung, dan bibir tebal. Tampan, itulah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan pria di hadapannya ini.

"Pria mesum? Bukankah sebutan itu terbalik? Seingatku kamu yang baru saja memelukku tanpa bertanya dulu," sanggah pria itu memicingkan mata.

Semburat merah tercetak jelas di pipi Mayzura. Untung saja suasana di sekitarnya tidak terlalu terang. Bila tidak, ia pasti akan malu setengah mati dan memilih untuk menenggelamkan diri di dasar bumi. Meski begitu, Mayzura tetap berusaha menutupi rasa malunya dengan mengalihkan pembicaaan.

"Itu karena aku salah orang! Di mana Enzio, apa kamu menculik atau mencelakai dia?" sentak Mayzura memasang wajah galak.

Pria dewasa itu mengerutkan dahi dalam-dalam, seolah tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Mayzura.

"Maaf, Nona, aku tidak mengenal siapa itu Enzio. Lebih baik Nona pergi dari sini. Tidak baik jika seorang wanita muda berkeliaran sendirian di malam hari," ujar pria itu hendak beranjak pergi.

Merasa sudah kepalang tanggung, Mayzura mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menggertak pria tersebut.

"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku! Kamu apakan Enzio? Aku akan melaporkanmu ke polisi sekarang jika kamu menyakitinya," ancam Mayzura.

"Dengar, aku tidak mengenal kekasihmu itu. Berhenti menuduhku, karena aku sedang punya urusan penting!"

Tanpa menghiraukan ocehan dari Mayzura, pria itu berjalan cepat menyurusi tepian danau. Karena takut ditinggal sendirian di tengah kegelapan, Mayzura terpaksa membuntuti pria tersebut.

"Hey, jangan kabur, Pria Mesum! Katakan di mana Enzio!"

"Namaku Sadewa, dan aku bukan pria mesum. Aku tidak punya waktu untuk meladeni gadis manja sepertimu! Lebih baik tinggalkan danau ini!" balas pria itu dengan nada sinis.

Dalam suasana yang senyap itu, mendadak terdengar suara desingan peluru di udara.

Dorrr!

Dorrr!

Sontak, kedua mata Mayzura terbelalak lebar. Dia hampir saja menjerit histeris, jika saja Sadewa tidak segera membekap mulutnya. Tak hanya itu, Sadewa juga merengkuh pinggang ramping Mayzura agar tubuh gadis itu tidak gemetaran.

"Lepas, jangan sentuh aku!" ucap Mayzura berusaha memberontak.

"Ssshhh, diamlah! Ikut aku sekarang jika kamu masih sayang kepada nyawamu."

Sambil merangkul Mayzura, Sadewa membawa lari gadis itu menuju sekumpulan pohon besar untuk bersembunyi. Namun, gerakan Sadewa terbaca oleh dua orang pria berjaket hitam yang sedang mengejar mereka.

"Berhenti, jangan kabur!" teriak salah satu pria yang memegang pinsol di tangannya.

Tanpa aba-aba, pria itu mengarahkan pistolnya kepada Mayzura. Melihat Mayzura dalam bahaya, dengan gerakan secepat kilat Sadewa membalikkan tubuhnya untuk melindungi gadis itu. Dan dalam hitungan detik, lengan kiri Sadewa pun tertembus oleh peluru.

"Aaaarghh! Lenganmu berdarah. Kamu tertembak oleh mereka," pekik Mayzura ketakutan. Lututnya terasa lemas saat melihat cairan berwarna merah pekat yang membasahi kemeja Sadewa.

"Tidak usah pedulikan, aku! Kita harus lari sekarang. Apa kamu membawa mobil?" tanya Sadewa meringis menahan sakit.

"I-iya, mobilku ada di sebelah sana!"

Sadewa dan Mayzura berlari menuju ke mobil, sementara suara desingan peluru masih terdengar di belakang mereka.

"Masuk dan kemudikan mobilmu sekarang!" perintah Sadewa sembari memegangi lengannya.

"Kita akan ke mana?" tanya Mayzura kalut. Pikirannya saat ini benar-benar sangat kacau, hingga dia bingung harus berbuat apa.

"Ke mana saja, yang penting para penjahat itu tidak akan menemukan kita," jawab Sadewa.

Mayzura bergegas masuk ke kursi kemudi, sedangkan Sadewa duduk di sebelahnya. Sambil menggigit bibir bawahnya, Mayzura menyalakan mesin mobil. Masih ada sedikit keraguan di hatinya untuk pergi berdua bersama Sadewa. Pasalnya, mereka baru bertemu dalam hitungan menit.

"Tetapi, aku belum mengenal siapa kamu. Aku tidak biasa pergi dengan orang asing," ucap Mayzura secara jujur.

"Jangan banyak bicara, cepat injak pedal gasnya! Percayalah, aku tidak akan melukaimu."

Dari kaca spion, Mayzura melihat dua penjahat tadi berlari ke mobilnya sambil menembakkan peluru. Merasa tak punya pilihan, Mayzura akhirnya mengikuti perintah Sadewa. Gadis itu menginjak pedal gas sekuat mungkin, lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sambil menyetir mobil, Mayzura mendengar desisan kecil dari bibir Sadewa. Dia pun melirik ke bagian lengan kemeja pria itu yang ternyata bersimbah darah.

"Ambil tissue di dashboard untuk mengelap darahmu, aku tidak mau mobilku dikotori oleh noda darah. Apa kamu ini seorang pencuri, perampok, atau psikopat? Kenapa mereka mengejarmu?" cecar Mayzura.

"Bisa-bisanya kamu bicara begitu, setelah aku menyelamatkanmu! Mungkin di sini kamulah yang sedang dikejar oleh mereka, Nona," dengus Sadewa merasa kesal.

"Enak saja, aku ini seorang penulis novel, mana mungkin aku dikejar penjahat," kata Mayzura membela diri.

Merasa Mayzura sudah memojokkan dirinya, Sadewa pun menunjuk ke arah belakang.

"Alibimu itu sama sekali tidak kuat. Siapapun yang masuk ke mobil ini bisa melihat kalau kamu membawa koper besar. Jangan-jangan kamu sedang berusaha kabur dari seseorang, sehingga mereka mengejarmu," tuduh Sadewa.

Mendengar kata-kata Sadewa yang menohok, Mayzura pun bungkam. Bisa jadi para penjahat tadi memang orang suruhan Tuan Bramantya, karena pria tua itu terkenal dengan kekejamannya.

"Kenapa diam? Apa yang aku katakan benar? Kamu sedang berusaha kabur dengan pacarmu yang bernama Enzio?" tanya Sadewa.

"Ck, jangan cerewet, itu bukan urusanmu. Aku yakin kamu yang bermasalah di sini," balas Mayzura sinis.

"Aku harus cerewet karena terlanjur terlibat dengan masalahmu. Katakan siapa namamu dan di mana rumahmu?"

Mayzura mengerutkan alisnya, karena curiga dengan pertanyaan yang diajukan Sadewa.

"Untuk apa kamu meminta nama dan alamat rumahku? Pasti kamu ingin menculikku lalu minta tebusan, kan?

"Hufff, bicara denganmu memang selalu menguji tingkat kesabaranku. Jika kamu tidak mau menyebutkan nama tidak masalah bagiku. Aku akan memanggilmu Gadis Bucin," tukas Sadewa merasa geram. Entah apa dosanya di masa lalu, hingga ia harus berurusan dengan gadis yang masih labil.

Kelopak mata Mayzura langsung membola saat mendengar julukan yang disematkan Sadewa kepadanya.

"Bucin? Jangan bicara sembarangan kalau kamu tidak tahu masalahku. Mayzura Nugraha tidak pernah bucin dengan lelaki mana pun. Camkan itu!"

"Buktinya kamu rela melakukan apa saja demi cinta, bahkan berniat kawin lari," timpal Sadewa dengan ekspresi datar.

Perdebatan mereka terhenti karena Mayzura melihat sebuah mobil jeep yang berusaha menyalipnya dari belakang. Dia yakin seratus persen bahwa itu adalah mobil milik para penjahat tadi.

"Oh, God, mereka masih terus mengejar kita," seru Mayzura panik.

"Belok ke kanan sekarang, lalu tancap gas! Lewati truk barang itu!" titah Sadewa memberikan petunjuk.

Mendapat perintah yang tidak masuk akal, Mayzura pun melotot tajam kepada Sadewa.

"Hah, apa kamu sudah tidak waras? Kamu ingin kita mati bersama? Sadarlah, ini adegan nyata bukan di dalam film," tolak Mayzura.

Bukannya memahami ketakutan Mayzura, Sadewa malah memberikan jawaban yang mengejutkan.

"Jika kita memang ditakdirkan untuk mati hari ini, mau bagaimana lagi? Setidaknya aku tidak akan mati sendirian, karena ada kamu yang menemani aku," jawab Sadewa dengan santai.

"Dasar, pria gila!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Senja
7.9
Demi melunasi utang orang tuanya, Nada terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi cucu Ndoro Brata. Ia harus menikahi Abian, seorang pemuda playboy yang mendadak buta akibat kecelakaan, setelah calon istri aslinya melarikan diri. Kemalangan itu mengubah Abian menjadi pria dingin dan pemarah. Di tengah sikap kasar suaminya serta tekanan berat dari keluarga konglomerat tersebut, Nada kini harus berjuang sekuat tenaga bertahan dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata.
Sampul Novel GAIRAH LIAR ISTRI BOSKU
9.7
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, Charles Bosley, Theresa nekat berselingkuh dengan sang pengawal pribadi, Aaron Parker. Di sisi lain, daya tarik Theresa juga memikat Sean Dalbert, seorang politikus Italia yang penuh ambisi. Begitu Charles berhasil disingkirkan, persaingan sengit pun meletus antara Aaron yang bernaung di bawah Organisasi EXO dan Sean yang mengincar kursi walikota New York. Di tengah intrik politik dan perebutan kuasa, Theresa kini terjebak di antara keduanya.
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf kaya, aku membiayai suami kaptenku dan keluarganya yang parasit, bahkan melunasi utang 75 miliar mereka. Namun saat liburan mewah ke Monako, suamiku malah memberikan kursi jet pribadiku pada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan berbahaya. Setelah menyaksikan pengkhianatan mereka di ranjangku sendiri di tengah persekongkolan jahat itu, kini saatnya aku membalas dendam dan menghancurkan segalanya.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, sang bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa di Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Kini, Isamu memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah. Mengerikannya, monster-monster tersebut merupakan mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel Pembuktian Cinta
7.9
Bram bertekad membuktikan rasa cintanya pada teman masa kecil yang menyelamatkannya saat tragedi pembantaian keluarganya terjadi. Bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali. Demi melindungi sang kekasih dari tuduhan keji, Bram bahkan rela dipenjara. Sayang, pengorbanan itu berbalas kepedihan karena sang wanita tak pernah datang menjenguknya. Usai bebas, akankah Bram menemukan kebahagiaan atau justru melihatnya bersama pria lain?
Sampul Novel Pesona Nona Khana
8.4
Pesona Khana yang memikat justru membawanya ke dalam petaka. Ia jatuh cinta pada pria berkuasa yang telah beristri. Hubungan gelap ini menyulut murka sang istri sah, Areta. Demi melampiaskan dendam dan menghancurkan Khana, Areta menjelma menjadi sosok yang sangat mengerikan. Kini, keselamatan Khana benar-benar terancam. Ia harus mempertaruhkan nyawanya akibat konsekuensi fatal dari keputusan mencintai lelaki yang salah.