APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Hate Birthday Party

I Hate Birthday Party

“Aku ingin mencoba seperti apa layanan dari pelacur yang sudah kubayar 3 kali lipat,” ujar pemuda tampan itu dengan ekspresi datar tanpa emosi. Gadis yang menjadi sasaran pembicara hanya berjalan mendekatinya mengelus kejantanan pemuda itu dari luar celana dan menciumi bagian bawah perutnya. Dia berusaha untuk membuat kejantanan pemuda itu mengeras dengan mempermainkan bagian kepalanya. Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Tidak ada tanda-tanda benda itu akan bangkit. “Hah! Seperti inikah sentuhan pelacur mahal itu? Aku bahkan tidak bergairah sama sekali!” maki pemuda itu. Tatapannya tajam menatap gadis di hadapannya. Umur mereka hampir sama hanya berbeda beberapa bulan saja. Mereka bahkan berada di sekolah yang sama. “Hentikan permainanmu! Aku muak berada disini!” Dia mendorong tubuh kecil gadis itu dan keluar dari kamar hotel yang sudah di bayar mahal. “Kalau kamu tidak mau tidur denganku, kenapa kamu harus membayarku sebanyak itu?” gumam gadis itu dengan suara pelan. Ekspresinya menampakkan kesedihan yang mendalam. Rasa hancur dari kehidupannya jelas terlihat dari sana. Dia bahkan seperti boneka yang tidak layak hidup lagi. *** “Aku akan mengeluarkanmu dari sana! Tunggu dan lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Tiara!”
Bab
Bagikan

Bab 2

Gadis itu sedang duduk di bawah pohon di dekat halaman belakang sekolahnya. Dia menyukai keheningan, karena itu membuat hatinya tenang dan saat itu pula dia tidak memikirkan apapun. Lalu tidak lama ponselnya bergetar.

Diraih benda persegi panjang itu dan menatap nomor baru yang tertera di layarnya. Segera dia menjawab telepon dan menyapa orang yang berada di seberang telepon dengan ramah.

“Hallo,”

[Apa benar ini dengan Tiara wali dari Siswi Gina?] Suara wanita terdengar lebih formal di seberang telepon. Apa ini telepon penipuan?

“Iya, betul. Ini siapa ya?” tanya Tiara.

[Maaf mengganggu waktunya, Bu Tiara. Kami dari keuangan ingin mengingatkan bahwa biaya sekolah Gina sudah menunggak di bulan ketiga. Kami berharap untuk segera membayarnya untuk persyaratan mengikuti ujian semester ini.]

Tiara baru mengingatnya. Dia memang sudah menunggak biaya sekolah Gina untuk tiga bulan sebelumnya. Uang yang ia dapat semalam, hanya cukup untuk membayar satu bulan setengah saja. Belum lagi ujian yang perlu biaya tambahan juga.

“Baik, Bu. Saya akan segera membayarnya besok siang.”

Tiara memberikan salam ramah untuk mengakhiri telepon. Lalu gadis itu menghela nafas panjang sebelum mencari kontak seseorang dan menelponnya tanpa berpikir panjang.

[Hallo, Baby?] tanya suara pria di seberang telepon sana.

“Dad, aku butuh uang,” ucap Tiara melupakan harga dirinya lagi. Ohh, apa dia masih punya harga diri? Sepertinya dua kata itu sudah tidak berlaku padanya.

[Baiklah, aku akan menjemputmu pulang sekolah nanti. Tunggu aku di depan,] ucap pria itu lagi. Dari suaranya, sepertinya pria itu senang bisa bertemu Tiara lagi.

“Thanks, Dad.”

[Urwell, Baby.]

Tiara menurunkan ponsel dari telinganya dan memutuskan panggilan. Bibirnya terangkat membentuk senyum miris. Dia sedang menertawakan kehidupannya sendiri yang tidak pernah berubah. Gadis itu terpaksa menelpon pria paling kaya yang pernah tidur dengannya. Padahal dia baru tidur dengannya kemarin malam. Dan sekarang dia harus menelponnya lagi.

Pulang sekolah, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir di depan gerbang sekolah Tiara. Kaca film mobil itu sangat gelap sampai mereka tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Lagi pula, si pemilik mobil juga tidak mau ambil risiko kalau ada yang mengetahui identitasnya.

Tiara yang melihat mobil itu segera menghampirinya tanpa peduli bisik-bisik di belakangnya yang sudah mengejek dan mencaci makinya. Setelah masuk ke dalam mobil, bibirnya melengkung membentuk senyum lebarnya yang tampak seperti terpaksa daripada sebuah senyum tulus.

“Baby,” panggil pria itu membalas senyumnya.

“Hai, Dad. Maaf aku merepotkanmu,” ucap Tiara.

“Tidak apa-apa, Baby. Aku senang kamu menelponku saat kau membutuhkan uang.” Pria itu menarik lengan Tiara dan meraih leher belakangnya, mencium bibirnya dan menghisapnya dengan ganas.

“Umhh … Dadh … Jangan di sini,” ujar Tiara untuk mencegah orang-orang curiga dengan apa yang terjadi di dalam mobil ini. Kalau mereka sampai mengetuk kaca mobil, nanti malah tambah repot.

“Baiklah,” ucap Pria itu sambil memasukkan gigi mobil dan segera meluncur ke tempat tujuan mereka untuk bercinta yaitu hotel. “Jadi berapa yang kamu butuhkan?” tanya pria itu.

“Kali ini lumayan banyak, aku butuh 15 juta.” Tiara menjawab.

“Hanya 15 juta? Aku akan memberimu 20 juta tapi malam ini harus lebih memuaskan dari kemarin.” Pria itu menyeringai penuh nafsu sambil melirik Tiara dan jalan secara bergantian.

“As you wish, Daddy.” Hanya itulah yang bisa Tiara ucapkan. Dan dia bisa memastikan kalau besok dia mungkin tidak bisa berjalan.

Sesampainya mobil mewah itu di hotel bintang 5 yang sering mereka kunjungi, Tiara langsung diseret untuk memasuki kamar. Untungnya Tiara sempat mengirim pesan pada adiknya, dia tidak bisa pulang malam ini karena pekerjaan mendesak.

“Umh … Ahh …”

Pria itu langsung menyerang Tiara dengan menciumnya dengan sangat ganas dan kasar. Tangan pria itu membuka kasar kancing seragam Tiara bahkan beberapa kancingnya ada yang terlepas. Lalu dia meremas dua benda di dada Tiara dengan kasar.

Air mata mulai mengalir di pipi Tiara tanpa ada yang mengetahuinya sekalipun orang yang sedang mencumbunya saat ini. Tangan kecil itu meremas kemeja lawan mainnya dengan gemetaran. Sakit, rasanya sakit. Di dalam hati, dia bahkan sudah berteriak berkali-kali. Tapi dia tidak bisa berteriak untuk menghentikannya, dia hanya bisa mengubah teriakannya itu dengan desahan merdu yang perlu lawan mainnya dengar.

Tubuh kecil itu dilempar kasar ke atas ranjang besar dan dibukanya rok dan celana dalamnya secara brutal sampai Tiara benar-benar tidak menggunakan sehelai benang satu pun di tubuhnya.

Tiara ditarik untuk duduk. Kepalanya di cengkeram oleh tangan yang lebih besar dan mengarahkannya ke bagian tengah tubuh lawan mainnya yang sudah berdiri tegak. Tiara sudah bisa menebak kejadian seperti ini. Jadi dengan lihai, dia menggenggam benda itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Menjilat dan menghisapnya layaknya permen loli. Tangannya juga tidak bisa diam, dia meraih sisa benda itu yang tidak bisa dimasukkan semuanya ke dalam mulut.

Tangan yang lebih besar semakin mencengkeram kepala Tiara dan mendorong benda itu masuk ke kerongkongannya dengan paksa. Memaju mundurkan kepalanya dengan brutal sampai gadis itu menangis sambil tersedak-sedak.

“Uhuk … Uhukk …” Tiara batuk saat lawan mainnya sudah mengeluarkan satu muatannya di dalam mulut Tiara.

“Ohh, kau begitu cantik, Baby. Aku tidak akan pernah bosan padamu!” Pria itu meraih kondom yang sudah dia persiapkan sebelumnya dan memasang karet itu pada kejantanannya.

“Mendesahlah yang kencang malam ini, baby!”

“Akhh … Daddy … hhhh …”

Benda itu berhasil memasuki tubuh Tiara. Dan dimulai detik itulah Tiara hanya bisa memasrahkan diri. Tidak tahu kapan kegiatan ini akan berakhir dan terus berteriak dan berteriak sampai tenggorokannya sakit.

Entah berapa putaran yang mereka lakukan, yang pasti seluruh badan Tiara benar-benar terasa sakit setiap dia bergerak, terutama bagian tengah tubuhnya. Apa itu bisa robek? Rasanya benar-benar linu dan nyeri!

“Permainan yang hebat, Tiara. Ini bayaranmu! Telepon aku lagi kalau kau butuh sesuatu.” Pria itu sedang memakai bajunya lagi sambil melemparkan 20 gepok uang seratusan di samping tubuh Tiara yang masih telanjang. Setelah pria itu selesai berpakaian, dia pergi meninggalkan Tiara tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat Tiara mendengar pria itu keluar dari kamar, dia menekuk tubuhnya menjadi meringkuk bagaikan landak yang sedang ketakutan. Bahunya bergetar pelan, tangan kecil itu meremas seprei di bawahnya erat-erat. Lama sekali Tiara meringkuk seperti itu, hingga dia mulai bergerak dan bangun sambil mengambil 20 juta yang sudah diberikan pria itu. Matanya melirik jam di nakas masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Selama itukah mereka melakukannya?

Helaan nafas lelah terus terdengar dari mulut Tiara. Kemudian dia memutuskan untuk segera meninggalkan kamar menjijikkan itu setelah membersihkan diri di kamar mandi dan memakai bajunya lagi. Dia terpaksa tidak menggunakan kemeja sekolahnya lagi karena kancingnya ternyata sudah lepas semua dan memilih menggunakan jaket yang dia pakai tadi.

Kaki kecil itu memasuki kawasan rumah kontrakan sederhana dan membuka pintu kontrakannya.

“Ohh, kakak pulang?” Tiara agak terkejut ketika suara adiknya terdengar. Dia melihat tubuh kecil adiknya sedang terbaring di lantai depan pintu dengan badan ditutupi selimut.

“Kenapa kamu tidur disini?” tanya Tiara.

“Aku menunggu kakak, siapa tau kakak tidak sempat makan malam,” balas gadis kecil itu sambil menggosok matanya yang masih terkantuk-kantuk.

“Kakak bisa membuat makanan kakak sendiri. Kamu tidur saja. Besok masih harus ke sekolah pagi-pagi.”

“Kakak,” panggil Gina sambil menahan tangan Tiara.

“Ada apa?”

“Aku keluar dari asrama.”

“Loh? Kenapa?” Tiara menatap adiknya tidak percaya.

“Bayar asrama itu mahal. Jadi lebih baik aku mengurangi beban kerja kakak dengan keluar asrama. Lagipula, aku bisa berangkat lebih pagi dari rumah,” jelas Gina mencoba untuk meyakinkan kakaknya.

“Tapi nanti kamu kelelahan. Kakak tahu kalau tugasmu banyak, Gina.”

“Aku bisa mengurus itu, Kak. Tenang saja!”

Gina adalah anak yang keras kepala sama seperti dirinya. Kalau dia sudah mengambil keputusan itu, dia akan sulit untuk dihentikan. Dan kini Tiara tidak bisa menghentikan adiknya.

“Baiklah, tapi kalau kau butuh sesuatu, bilang saja sama Kakak. Oke?”

Gina mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Ohh, dan ini,” Tiara memberikan amplop coklat pada Gina, “bayar uang sekolahmu yang nunggak.”

Gina melotot menatap amplop itu. “Dari mana kakak mendapat uang sebanyak ini?”

“Kakak habis kerja sampai tengah malam seperti ini untuk itu, Gina. Tadi bos kakak minta untuk membantunya mengurus tamu VIP, terus kakak dikasih uang itu,” dusta Tiara.

“Sampai digigit nyamuk lagi?” Gina melirik leher Tiara yang berbercak-bercak merah.

Secara refleks Tiara menyentuh lehernya dan pura-pura menggaruknya. “Hmm, Kakak harus menunggu di depan pintu lagi.”

Gina hanya tahu kalau kakaknya bekerja di sebuah restoran China yang terkenal di kalangan atas. Dan terkadang Tiara menunggui pintu depan ruangan tertutup untuk berjaga siapa tahu pelanggan memanggilnya. Yah, begitulah cerita yang diketahui adik satu-satunya. Kalau adiknya tahu apa yang sebenarnya, dia mungkin tidak akan mengakui dirinya sebagai kakaknya lagi.

“Istirahatlah, kakak mau mandi sebelum tidur,” perintah Tiara pada adiknya.

“Baiklah, selamat malam.” Gina pergi ke kamarnya dengan lesu sedangkan sang kakak menatap kepergiannya dengan penuh rasa bersalah.

“Maafkan aku,”

~2 Be Con~

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku
9.1
Kinan mengambil langkah nekat dengan menjadi istri kedua Yuan, kakak iparnya, demi membongkar rahasia mendiang suaminya. Keputusan ini akhirnya mengungkap alasan mengapa mendiang suaminya dahulu selalu mengabaikan dirinya dan jarang pulang ke rumah. Di tengah pencarian jawabannya, Kinan justru menemukan cinta sejati pada diri Yuan. Kini, ia bertekad untuk memiliki anak demi menuntaskan rasa penasarannya, mempertaruhkan segalanya demi satu tujuan besar.
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Duka Lita atas wafatnya sang anak kian perih saat tahu pelakunya adalah Jenni, pengasuh yang dahulu ia bantu. Liciknya, Jenni memanfaatkan momen ini untuk memikat Khalid hingga sukses menjadi istri muda. Di balik aksi itu, tersimpan dendam lama yang ingin Jenni tuntaskan. Kini, di tengah kehancuran rumah tangganya setelah sepuluh tahun bersama, Lita harus melawan musuh dalam selimut. Sanggupkah pernikahan Lita dan Khalid bertahan dari badai pengkhianatan ini?
Sampul Novel Diminta Menjadi Madu
9.7
Kecewa pada suaminya, Ningroem kerap mencurahkan isi hati kepada Ratna, tetangganya. Merasa iba dengan perjuangan hidup Ningroem, Ratna justru memintanya menjadi istri kedua Dani, suaminya. Walau awalnya enggan, Ningroem akhirnya menerima tawaran itu. Saat Ningroem mengandung, persaingan batin mulai membara di antara kedua istri demi merebut hati Dani. Namun setelah kematian Ratna, Dani yang enggan beristri satu berniat menikah lagi. Menolak dimadu kembali, Ningroem pun memilih menjanda.
Sampul Novel Hot Game
9.5
Menyasar pembaca usia 21 tahun ke atas, kisah romansa modern ini menyajikan dinamika hubungan yang sangat intens dan penuh gairah. Alur ceritanya berfokus pada eksplorasi mendalam terhadap sisi emosional sekaligus fisik dari para karakter utamanya. Anda akan diajak menyelami konflik percintaan yang matang dan provokatif. Setiap interaksi di dalamnya dirancang khusus untuk audiens dewasa yang mendambakan sebuah kisah cinta berani dan penuh warna.
Sampul Novel Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
8.4
Pernikahan Zevan yang tampak sempurna selama dua tahun hancur seketika saat perselingkuhan istrinya, Clara, terbongkar. Di tengah amarah dan rasa sakit yang mendalam, ia meluapkan emosinya di dalam kamar yang gelap. Namun saat pagi tiba, Zevan terkejut karena sosok di ranjangnya bukanlah Clara, melainkan Amanda, sang pelayan baru. Kini ia terjebak di antara pengkhianatan sang istri dan kesalahan fatalnya sendiri. Haruskah ia menuntut balas, atau menghadapi kerumitan ini?
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur setelah tahu pernikahannya dengan Daza, CEO yang sangat angkuh, cuma kedok demi harta warisan kakeknya. Kepedihan itu kian perih karena sang suami masih mencintai Lora, kekasihnya. Sempat berniat berjuang demi mewujudkan rumah tangga yang bahagia, usaha Lavendra sia-sia. Kehadiran Lora yang terus mengusik ditambah sikap dingin Daza membuat batinnya lelah. Kini, ia terjebak dalam keputusasaan dan meratapi kenaifannya yang mendambakan cinta sejati.