
Hubungan Terlarang Berkedok Belajar Berkemudi
Bab 2
Saat ini, MRT akhirnya berhenti. Penumpang yang naik turun di stasiun ini lebih banyak.
Ketika melihat banyak orang keluar, aku khawatir Om Maxim akan mengenaliku. Apalagi sahabatku ada di dalam MRT. Ini memang memalukan.
Meskipun aku sangat menikmatinya, bahkan merasa enggan untuk berpisah, aku tetap mengikuti arus dan menuju ke tempat pacarku. Entah kenapa, Om Maxim tidak mengikutiku.
Setelah sampai di sisi pacarku dan sahabatku, pacarku mendapati wajahku memerah. Dia langsung merangkulku, membuatku bersandar di dinding MRT bersamanya. Kemudian, dia berbisik, "Sayang, akhirnya kamu kembali. Maaf ya. Malam ini aku bakal makan dua butir obat, biar kamu puas!"
Aku sangat sedih memikirkan pacarku harus makan obat-obatan agar bisa bermain lama dan kuat. Seketika, tubuh kuat milik sahabat ayahku muncul di benakku.
Rasanya ditekan oleh kemaluannya itu .... Jika kami benar-benar melakukannya .... Sambil memikirkan itu, aku mengiakan ucapan pacarku secara asal.
Sahabatku melirikku sekilas, berdecak dengan emosional. "Primadona kita ini bukan cuma cantik, tapi juga seksi. Harry, kamu benar-benar beruntung."
Pacarku, Harry, terkekeh-kekeh. "Tentu saja."
Mendengar godaan sahabatku, aku hanya bisa menghela napas dalam hati. Apa gunanya punya tubuh seksi? Pacarku tidak bisa memuaskanku. Lebih baik aku bertubuh pendek dan mungil seperti sahabatku.
Di tengah hatiku yang kacau, kami bertiga turun dari MRT. Aku tidak melihat Om Maxim lagi.
Sesampainya di kursus mengemudi, aku melihat Om Maxim duduk di samping mobil, menceritakan pengalamannya di MRT dengan para instruktur bertubuh kekar.
"Kalian nggak tahu, gadis di MRT itu benar-benar nakal. Tsk, tsk, celana dalamnya sampai basah. Kalau bukan lagi di MRT, aku pasti sudah menekannya habis-habisan, biar dia tahu sehebat apa pria sejati."
Salah satu instruktur menimpali, "Maxim, kamu lagi membual ya? Benaran ada gadis senakal itu? Aku juga ingin coba."
"Memang ada. Aku juga pernah ketemu wanita muda yang segenit itu. Tsk, tsk, hari itu aku juga naik MRT ...."
Aku tahu yang dimaksud Om Maxim adalah diriku. Pada saat yang sama, pikiranku kembali menjadi liar saat melihat para instruktur bertubuh kekar itu.
Kalau pacarku sekuat mereka, tubuhku tidak akan terasa hampa seperti ini. Semua ini karena pacarku yang tidak mampu memuaskanku.
Pacarku tidak menyadari perubahanku. Matanya berbinar-binar saat mendekati Om Maxim dan lainnya.
Kakiku masih lemas sejak tadi. Aku sampai hampir terjatuh karena pacarku yang tiba-tiba berjalan pergi.
Sahabatku berdeham beberapa kali, lalu berkata dengan wajah tersipu, "Ayah, kalian lagi bahas apa sih? Cepat ajari kami nyetir."
Mendengar ucapan itu, Om Maxim segera menoleh. Matanya tertuju padaku. Tubuhnya tiba-tiba menjadi tegak, sementara matanya dipenuhi keterkejutan.
Aku khawatir Om Maxim mengenaliku, jadi segera berkata kepadanya, "Om, ce ... cepat ajari kami nyetir."
Om Maxim pun tersadar dari lamunannya, lalu menyahut, "Oke, oke, aku ajari kalian."
Selesai mengatakan itu, dia menunjuk seorang pria muda dan berkata kepada sahabatku, "Teknik mengemudimu sudah lumayan. Aku kasih kamu dan Harry instruktur muda ini biar kalian lebih gampang berkomunikasi. Aku ajari Yessy saja."
Om Maxim sepertinya sengaja. Pacarku termangu sejenak, lalu melirik sahabatku dan mengangguk.
Anda Mungkin Juga Suka





