APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HITAM

HITAM

Dalam jalinan romansa misterius yang kelam, kisah ini mempertanyakan hakikat perasaan manusia yang sesungguhnya. Apakah luka batin mendalam dan kebencian membara benar-benar bersumber dari rasa benci? Cerita ini mengungkap sisi gelap emosi di balik rahasia, menantang logika tentang bagaimana dendam dan kasih sayang saling terikat dalam hubungan penuh teka-teki serta ketidakpastian yang menghantui.
Bab
Bagikan

Bab 2

Yusuf meneteskan air matanya. Dia tidak kuasa melihat abinya yang nyaris tak bereaksi apa-apa ketika dokter Nalendra memeriksanya. Dokter yang lembut dan tampan itu tersenyum kepada Dahlia.

"Ustadz dibawa ke rumah sakit saja, ya, Bu?" tanya Nalendra.

Dahlia mengusap air matanya. Antika, anak perempuannya memeluk erat ibunya. Dahlia menggeleng.

"Sejak kemarin ustadz ngendiko (bilang) kalau beliau tidak mau dibawa ke rumah sakit, Pak Dokter. Ustadz ngendiko badhe tilar wonten ndalem mawon, (Ustadz bilang akan meninggal di rumah saja,)" jawab Dahlia. Dia mengelus wajah Setiyadi yang teraba hangat. Setiyadi diam tak bergerak, hanya napasnya saja yang terasa berat, yang menunjukkan bahwa Setiyadi berusaha sekuat tenaga untuk mengambil oksigen ke dalam paru-parunya. Pasti rasanya sakit sekali.

"Ustaz pasti merasakan sakit sekali, Bu, di rumah sakit ustadz bisa diberi obat penghilang rasa sakit, Bu," bujuk Nalendra. Dahlia diam tak menjawab. Dia berulang kali memeluk suaminya.

Demi melihat penderitaan itu Hafidz hampir memaksa ibu mertuanya untuk membawa Setiyadi ke rumah sakit saja. Rasanya Hafidz tidak tega mendengar desah napas bapak mwrtuanya yang begitu berat dan jarang, kadang disertai dengan suara dengusan dan dengkuran. Sepertinya proses mengambil napas itu terasa berat dan sakit sekali.

Arini dan Arina hanya bisa menangis. Mereka berdua sama-sama punya anak kecil. Mereka tidak bisa bergerak bebas ke mana-mana begitu saja. Ilyas sedang ke luar kota, dan sedang dalam perjalanan ke Tintrim dengan orang-orang dari Karang Pandan. Ah, sebentar lagi Hafidz akan bertemu dengan keluarga umminya.

Hafidz mengembuskan napas panjang. Dia mendekati Dahlia.

"Bapak kita bawa ke rumah sakit saja, ya, Bu? Paling tidak kita jadi tahu bapak sakit apa," bujuk Hafidz pelan.

Dahlia menggeleng.

"Bapak tidak mau, Ustadz. Bapak tidak mau disuntik dan diberi obat macam-macam," Dahlia luruh dalam air mata. Arini dan Arina pun memeluk ibu mereka.

Hafidz merasa agak jengkel dan merasa tidak sabar menanti lagi. Dia menelpon abinya, siapa tahu abinya bisa membujuk Dahlia. Tetapi belum lagi Hafidz membuka HPnya, napas Setiyadi semakin pendek, mata Setiyadi mulai membalik perlahan. Mereka semua paham.

Nalendra terlihat agak panik, tetapi segera menguasai diri dan untunglah dia membawa seorang perawat. Nalendra segera meminta semua untuk keluar dan mulai menangani Setiyadi secara serius. Hafidz ikut membantu, dia sedikit banyak tahu bagaimana caranya melakukan CPR dan Nalendra cukup terbantu dengan tindakan Hafidz yang cepat dan tidak banyak basa basi.

Dahlia diperbolehkan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Hafidz sedang menelpon abinya dan Nalendra sedang melakukan CPR pada Setiyadi. Dahlia sangat ingin mendekati suaminya, tetapi dari keseriusan wajah Nalendra, Dahlia tahu dia harus bersabar dulu.

Tiba-tiba Setiyadi terbatuk, dia membuka matanya lebar dan agak kebingungan, nyaris seperti orang yang terbangun dari tidur karena terkejut. Dia terduduk dan melihat berkeliling dengan kebingungan.

Dahlia menjerit, sehingga anak-anak perempuannya masuk ke dalam kamar, dan semua terkejut melihat Setiyadi terduduk dengan wajah memerah. Setiyadi seperti mencari seseorang atau sesuatu.

Dahlia memeluk Setiyadi dengan penuh rasa di dadanya. Dia menangis terisak. Setiyadi paham. Dia juga memeluk istrinya dengan segenap rasa.

"Mana Ustadz Bambang?" tanya Setiyadi pendek. Dahlia menyimpan rasa jengkelnya karena yang ditanyakan suaminya malah sahabatnya dan bukan keluarganya. Dahlia sangat bersyukur dan bahagia Setiyadi sudah seperti semula.

"Sedang dalam perjalanan ke sini, Ustadz," jawab Dahlia. Setiyadi mengangguk.

Dia memeluk Dahlia erat.

"Jangan nangis, ya, Ndhuk," bisik Setiyadi. Dahlia mengangguk tanpa paham benar apa maksud Setiyadi.

Perlahan kondisi Setiyadi kembali seperti tadi. Dia hanya bisa berbaring dengan napas berat, tetapi mata masih terbuka dan dia masih sadar. Dia sama sekali tidak menolak ketika Nalendra memasang infus pada tangannya dan Setiyadi hanya tersenyum ketika Nalendra memberinya obat melalui suntikan di lengannya. Bahkan Setiyadi masih bisa mengelus kepala Dahlia yang kembali menangis di sisi Setiyadi. Mengharukan sekali.

****

Bambang sangat terkejut melihat sahabatnya nampak sudah membuka matanya. Setiyadi begitu bahagia melihat Bambang. Setiyadi duduk dan memeluk Bambang erat. Dia tersenyum.

"Ustadz sudah baikan?" tanya Bambang dengan suara yang sarat emosi.

Setiyadi mengangguk.

"Saya mau bilang sesuatu pada ustadz," bisik Setiyadi dengan suara yang parau dan terdengar menyakitkan.

Bambang mengangguk.

"Ustadz ... ada sesuatu yang hilang ... ada sesuatu yang hilang," bisik Setiyadi.

Bambang berdebar. Dia sama sekali tidak paham apa maksud Setiyadi, tetapi Bambang berusaha memakai logikanya, dia tersenyum.

"Yang hilang apa, Ustadz?" tanya Bambang pelan. Napas Setiyadi terdengar begitu berat. Setiyadi kembali berbaring tak berdaya. Dia menggenggam tangan Bambang. Tangan Setiyadi terasa lembab dan basah.

"Kabut ... hitam ... hitam, Ustadz. Hitam!" seru Setiyadi, "tolong, ya, Ust. Tolong panggilkan Dahlia!"

Bambang menelan ludah, dia mematuhi Setiyadi karena merasa waktu mereka tidak banyak lagi. Bambang menepi dan berdiri di samping Hafidz. Mereka tidak berkata-kata ketika melihat Dahlia menangis dan anak-anak Dahlia pun menangisi kepergian bapaknya.

Ah, Bambang tidak mengerti. Kenapa Setiyadi memberinya alasan untuk tetap mengingat kepergian Setiyadi dengan kebingungan sebesar ini. Bambang menangis terisak di luar kamar Setiyadi.

Mungkin benar kata Setiyadi tadi. Hilang. Bambang telah kehilangan salah satu sahabat terbaik dalam hidupnya.

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hati Yang Terpilih
8.2
Setelah dua belas tahun menikah, Nazwa Rengganis harus menghadapi kenyataan pahit saat Rafi menceraikannya secara tiba-tiba. Di tengah keterpurukan, ibu dua anak ini mencoba bangkit dan mulai membuka hatinya untuk Kafka, pria yang ia kenal sejak masa konseling. Namun, situasi menjadi rumit ketika alasan perceraian Rafi terungkap dan sang mantan suami memintanya kembali. Enggan terjebak di antara keduanya, Nazwa memilih pergi demi kedamaian hidup bersama anak-anaknya.
Sampul Novel My Perfec Husband
9.6
Avril terjebak dalam situasi buntu ketika seorang pria menyodorkan penawaran mutlak yang tak mungkin ia elak. Hanya ada dua pilihan rumit bagi Avril: menyerahkan dirinya seutuhnya atau bersedia dinikahi oleh pria tersebut. Tekanan dari ucapan yang dingin dan penuh kuasa itu membuat Avril didera keraguan mendalam. Apakah ia akan tunduk pada paksaan ini karena terdesak keadaan, ataukah sebenarnya ada keinginan dari dalam lubuk hatinya untuk menerima tawaran itu?
Sampul Novel Pemilik Hati Tuan Mafia
8.7
Hidup dalam penderitaan sejak kecil membuat Belle harus tegar menghadapi kejamnya dunia. Di tengah keterpurukan, ia menemukan jalan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Bersama Albara, satu-satunya sosok pelindung yang ia percayai, Belle berusaha bangkit kembali. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri dari cinta, keluarga, dan persahabatan, akankah kehadiran Albara mampu menyembuhkan hatinya dari bayang-bayang luka baru?
Sampul Novel Pernikahan Berlandaskan Penipuan
9.2
Lima tahun menikah, kebenaran menyakitkan terbongkar di sebuah acara lelang. Aku melihat suamiku bersama sepupuku yang selama ini dianggap sudah mati, bahkan mereka telah memiliki anak. Ternyata, pernikahan kami hanyalah siasat busuk suamiku dan nenekku untuk melindungi seorang pembunuh. Aku hanya dimanfaatkan sebagai tameng. Sadar mereka hendak membiusku, aku pun merelakan semua harta, mengajukan gugatan cerai, lalu pergi selamanya dari sandiwara itu.
Sampul Novel Proposal Cinta Sang Miliarder
7.9
Farhan, seorang miliarder muda yang taat beragama, jatuh hati pada kesederhanaan Aisyah, aktivis dakwah yang kerap ia temui setiap hari Jumat. Sadar bahwa Aisyah lebih menghargai keimanan daripada kekayaan, Farhan memutuskan menyembunyikan status aslinya demi mendekatinya secara Islami. Namun, jalannya tidak mudah karena ia harus melewati ujian berat dari keluarga Aisyah. Mampukah hubungan mereka bertahan di tengah rahasia besar dan tantangan ini?
Sampul Novel SABDA CINTA
9.0
Kehidupan Cinta berubah drastis setelah keputusan sang ayah untuk menikah lagi. Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, tertutup, dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Khawatir dengan kondisi putrinya, sang ayah mencoba berbagai cara untuk menyadarkannya, tetapi selalu gagal. Akhirnya, Sabda, sahabat masa kecil Cinta, dipanggil pulang untuk menolongnya. Akankah kehadiran Sabda mampu menyembuhkan luka hati Cinta dan membimbingnya kembali ke jalan yang benar?