APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hijrah Cinta Sang Casanova

Hijrah Cinta Sang Casanova

Pertemuan pertama membuat Bobby langsung terpikat pada Claudia. Sayangnya, reputasi Bobby sebagai playboy membuat Claudia enggan membuka hati, meski ia tetap bersikap ramah karena Bobby pernah menolong menantunya. Di sisi lain, Sultan selaku mertua Claudia justru merestui Bobby agar menantunya tidak lagi menjanda. Begitu Claudia akhirnya luluh dan bersedia menikah, bayang-bayang masa lalu dan kehadiran sosok misterius datang menguji kesetiaan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Mamamu mau pergi jalan-jalan dengan Pak Bobby,” jawab Sultan.

“Hah?” Rendi dan Rahma terkejut mendengarnya.

“Sudah sana pergi! Nanti keburu malam,” ujar Sultan kepada Bobby dan Claudia.

Bobby beranjak dari sofa lalu menghampiri Sultan. “Kami pergi dulu, Pak.” Bobby menyalami tangan Sultan.

“Hem. Pulangnya jangan terlalu malam!” ujar Sultan.

“Baik, Pak,” jawab Bobby.

Claudia menghampiri Sultan.

“Yah. Claudia pergi dulu.” Claudia mencium tangan Sultan.

“Senyum, dong! Jangan cemberut saja!” ujar Sultan sambil memperhatikan wajah Claudia yang dari tadi cemberut terus. Claudia menarik bibirnya dengan dipaksa. Claudia menghampiri Dafa.

“Oma pergi dulu, ya.” Claudia mencium pipi Dafa yang menggemaskan. Bayi itu tertawa ketika dicium oleh omanya.

“Mama pergi dulu.” Claudia berpamitan kepada Rendi dan Rahma. Rendi dan Rahma mencium tangan Claudia.

“Kami pergi dulu.” Bobby pamit kepada Rendi dan Rahma.

“Dadah Dafa.” Bobby melambaikan tangannya ke Dafa.

“Dadah, Kakek.” Rahma mengangkat tangan Dafa lalu dilambaikan ke arah Bobby.

“Titip Mama, Pak!” kata Rendi.

“Iya, Ren. Saya akan jaga mamamu sebaik mungkin,” ujar Bobby.

Ibu Claudia mencibirkan bibirnya ketika mendengar perkataan Bobby.

“Assalamualaikum,” ucap Claudia dan Bobby.

“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.

“Dadah Dafa.” Claudia melambaikan tangannya ke Dafa. Bobby lebih dahulu berjalan menuju ke mobil. Claudia menyusul berjalan menuju mobil Bobby. Bobby membuka kunci pintu mobil dengan menggunakan remote.

Kemudian Bobby membukakan pintu untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil lalu Bobby menutupkan pintu mobil. Kemudian Bobby berjalan menuju ke pintu kemudi lalu masuk ke dalam mobil.

Bobby menyalakan mesin mobil lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah Sultan. Bobby mengendarai mobilnya menembus kepadatan lalu lintas kota Bandung di hari Sabtu.

“Mau jalan-jalan kemana?” Bobby menoleh sebentar ke ClaudIa.

“Terserah,” jawab Claudia tanpa menoleh ke arah Bobby. Wajahnya terus saja memandang ke arah jendela tanpa memperdulikan Bobby yang sedang menyetir mobil.

“Bagaimana kalau kita ke Dago? Kita menikmati keindahan alam sambil ditemani secangkir kopi dan bala-bala?” tanya Bobby.

Ibu Claudia menoleh ke Bobby. “Bukannya tadi sudah minum kopi?” tanya Claudia.

“Iya, deh. Ganti sama teh saja,” ujar Bobby. Claudia tidak melanjutkan lagi percakapannya. Ia menoleh kembali ke jendela samping.

Bobby mengarahkan mobilnya menuju ke Dago. Jalan Dago sangat padat. Mobil Bobby jalan merayap menuju ke Dago atas. Setelah sampai di Dago, Bobby mengarahkan mobilnya menuju Warbu.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di Warbu sebuah tempat kedai kopi yang berada di pinggiran hutan lindung Ir Haji Djuanda. Bobby menghentikan mobilnya di tempat parkir.

Ibu Claudia memperhatikan di sekeliling Warbu yang ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati kopi sambil melihat pemandangan yang indah. Ketika Claudia masih memperhatikan suasana Warbu, Bobby lebih dulu turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk Claudia.

“Ayo kita turun,” ujar Bobby. Claudia turun dari mobil lalu Bobby menutup pintu mobil. Mereka berjalan menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di sana. Kedai kopi itu penuh dengan anak muda yang sedang minum kopi dengan pasangannya.

Ada juga pasangan muda yang membawa anak mereka. Ada juga segerombolan anak remaja laki-laki yang sedang menikmati kopi sambil bersenda gurau dengan teman-teman mereka.

“Bu Claudia mau pesan apa?” tanya Bobby.

Claudia memperhatikan daftar menu yang ada di kedai tersebut. Kedai itu menyediakan bebagai macam makanan ringan. Bahkan mereka juga menyediakan mie instant dan kwetiau goreng.

“Saya mau pisang bakar dan teh manis panas,” Claudia.

Karyawan kedai mencatat pesanan Ibu Claudia.

“Saya juga mau pisang bakar dan teh manis panas,” ujar Bobby.

Bobby membayar pesanannya lalu mereka mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan ada tempat duduk yang kosong yang langsung menghadap ke pemandangan pepohonan pinus yang indah. Claudia asyik memandangi pemandangan yang indah tanpa mengindahkan Bobby yang duduk di depannya.

Bobby memperhatikan Claudia yang dari tadi terus saja mengacuhkannya. Mereka mirip seperti suami istri yang sedang marah. Tidak terucap satu patah katapun dari mulut mereka. Tidak lama kemudian karyawan kedai datang membawa pesanan mereka. Karyawan itu meletakkan pesanan mereka di atas meja.

“Terima kasih,” ucap Claudia kepada karyawan kedai.

Karyawan kedai pun pergi meninggalkan meja mereka. Claudia mencicipi pisang bakar. Rasanya biasa saja dibandingkan dengan pisang bakar buatannya. Namun, ia tetap melahap pisang bakar tersebut.

Bobby memperhatikan Claudia yang sedang memakan pisang bakar. Tidak ada nada protes dari mulut Claudia. Hingga Claudia menghabiskan pisang bakar.

“Mau pesan lagi?” tanya Bobby.

“Tidak usah! Sudah kenyang,” jawab Claudia. Claudia meminum teh manis panas. Teh itu sudah berubah menjadi dingin karena udara di sekitar mereka memang dingin.

“Saya dengar Pak Bobby datang ke kantor Rendi. Untuk apa Pak Bobby ke kantor Rendi?” tanya Claudia.

Namun, Bobby tidak menjawab pertanyaan Ibu Claudia. Mata Bobby tertuju ke atas pohon yang berada di belakang Claudia. Claudia kesal karena dia merasa didiamkan saja oleh Bobby.

“Pak Bobby!” seru Claudia. Suara Claudia tidak terlalu kencang, namun wajah Claudia terlihat marah.

Bobby menoleh ke Claudia, wajahnya terlihat tegang. Tiba-tiba Bobby mengambil telepon seluler dan tas Claudia yang tergeletak di atas meja. Ia memasukkan telepon seluler Claudia ke dalam tas.

“Ihhh! Kok diambil, sih?!” tanya Claudia dengan kesal. Ia berusaha untuk mengambil tas yang dipegang oleh Bobby. Namun, Bobby memegang tas Claudia dengan erat.

“Ayo, kita pergi dari sini!” Bobby memegang pergelangan tangan Claudia lalu menarik tangan Claudia tidak terlalu kencang. Ia tidak ingin menyakiti Claudia.

“Pak Bobby apa-apa, sih?” Claudia memberontak berusaha untuk melepaskan tangan yang dipegang oleh Bobby.

Tiba-tiba ada seorang anak berteriak sambil menunjuk ke pohon yang tidak jauh dari tempat duduk Bobby dan Claudia. “Ma, itu ada monyet di atas pohon.” Semua orang kaget mendengar teriakan anak itu.

Claudia berhenti berontak. Ia hendak menoleh ke belakang, namun Bobby berkata. “Ayo cepat pergi dari sini! Sebelum monyet-monyet itu turun dari pohon.”

Akhirnya Claudia mengikuti Bobby meninggalkan tempat tersebut. Pak Bobby berjalan ambil memegang tangan Claudia. Sedangkan tangan kirinya memegang tas Claudia.

Baru saja mereka berjalan beberapa langkah terdengar teriakan para pengunjung. Bobby dan Claudia menoleh ke belakang. Monyet-monyet loncat dari pohon menuju ke meja yang tadi di tempati oleh Bobby dan Claudia. Semua pengunjung kedai kopi berhamburan takut diganggu oleh kawanan monyet tersebut.

“Ayo!” Bobby menarik tangan Claudia. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkir.

Bobby melepas tangan Claudia. Ia membuka kunci mobil dengan menggunakan remote lalu membukakan pintu mobil untuk Claudia. Claudia masuk ke dalam mobil, Bobby memberikan tas kepada Claudia. Lalu Bobby menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju ke pintu kemudi. Bobby membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil.

“Sebentar lagi adzan magrib. Kita cari masjid untuk sholat magrib,” ujar Bobby. Bobby memakai safety belt.

“Sholat di rumah saja,” kata Claudia.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, terus menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Demi memisahkan Bastian dari bayang-bayang mantan istrinya, Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga. Sementara itu, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta
8.8
Setelah tujuh tahun bersama, aku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi bersama sahabatnya. Begitu bebas dan sukses kembali, Deon memaksaku menikah sebagai bentuk balas dendam. Di balik citra pernikahan yang harmonis, dia menyiksa batin dengan membawa wanita lain—termasuk adik kandungku—ke ranjang kami. Deon tidak pernah tahu bahwa demi membersihkan namanya, aku rela menyusup ke sarang mafia hingga kehilangan ginjal dan setengah hatiku. Kini, waktuku untuk bertahan hidup hampir habis.
Sampul Novel Istri Tuan Jhason
7.9
Pascapenyelamatan dirinya oleh Jhason, kehidupan Kara berubah sepenuhnya hingga kini mereka bertunangan. Sayangnya, hubungan mereka diterpa banyak ujian berat yang mengancam kebersamaan itu. Keadaan kian pelik ketika mantan pacar Kara mendadak hadir kembali. Pertemuan dengan masa lalunya ini memicu gejolak batin yang hebat pada Kara, memancing keraguan mendalam untuk terus berkomitmen dan setia mendampingi Jhason.
Sampul Novel Membalas Penkhianatan Istriku
8.3
Kecemasan melanda Jannah ketika Arief, suaminya, mulai mencium gelagat perselingkuhannya dengan Thalib. Bukannya mundur, Thalib malah menghasut Jannah dan menuduh Arief sudah tidak acuh lagi padanya. Di tengah kebimbangan, Jannah kembali terjerat rayuan dan nafsu terlarang bersama sang ustadz di bawah pancuran air. Thalib, yang sejak lama mendambakan Jannah, terus mendesaknya agar meninggalkan sang suami yang ia anggap tak berguna demi mengejar kepuasan sesaat.
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
8.1
Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Sampul Novel TAK MAU DIMADU
9.7
Pernikahan harmonis yang dibangun selama lima tahun kini berada di ambang kehancuran. Badai datang menerpa saat seorang wanita dari masa lalu Ilham tiba-tiba hadir kembali. Kehadiran orang ketiga ini seketika merusak kebahagiaan dan meruntuhkan komitmen suci mereka untuk menua bersama. Pengkhianatan tersebut menghancurkan gairah hidup yang ada. Akankah rumah tangga mereka mampu bertahan di tengah gempuran masa lalu yang merusak segalanya?