APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Heartache

Heartache

Sembilan tahun tanpa kepastian membuat Renjana lelah, terutama di usia 27 tahun saat tekanan sosial untuk menikah kian mendesak. Di tengah keputusasaan terhadap kekasihnya, pihak keluarga berinisiatif menjodohkannya dengan pria pilihan mereka. Kini, Renjana dihadapkan pada pilihan sulit: akankah ia membuka hati pada cinta baru yang hadir perlahan karena desakan keluarga, atau tetap bertahan menanti kepastian dari kekasih lamanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Seperti sebuah penjara bagi Renjana, menemani sang mama ke acara pernikahan anak dari temannya yang menggelar pesta cukup besar. “Renjana kapan nyusul, nih? Teman-temannya sudah menikah semua, dia sendiri yang belum. Lihat tuh Anita aja mau punya dua anak.” Teman mamanya menyindir tentang dirinya yang belum menikah di usia dua puluh tujuh tahun. Benar usia itu akan menjadi bencana baginya tiga tahun lagi.

“Kalau itu sih terserah Renjana. Kalau kami sebagai orangtua hanya menginginkan yang terbaik.” Mamanya membela di depan orang-orang yang sekarang ini sangat banyak. Teman mamanya memang dari kalangan ibu-ibu yang selalu bertanya hal seperti ini ternyata.

Andai sedari awal dia tahu kalau dia akan ditanya seperti ini. Sudah pasti Renjana tidak akan pernah datang, tapi paksaan kakaknya yang mengatakan bahwa dia harus bisa menemukan minimal satu saja seorang laki-laki di sini untuk berkenalan dengannya.

Di ruang keluarga sewaktu Renjana sedang menggendong keponakannya yang baru berusia satu tahun itu. Di sana juga ada Cindy, keponakannya yang nomor satu yang kini berusia tujuh belas tahun dan sudah duduk di bangku SMA.

“Jadi... apa tadi sudah ketemu sama calon yang bisa datang ke sini?”

Kakak satu-satunya yang ia miliki duduk di dekatnya dengan membawa cokelat panas dan biskuit. Suasana seperti ini sangat nikmat sekali, ditambah dengan dinginnya malam dan hujan. Dia pun ke tempat itu karena paksaan Teguh—kakaknya.

Renjana memutar bola matanya. “Kakak kenapa maksa aku banget untuk nyari yang lain?”

Kakaknya meletakkan cangkir dan piring yang ada di tangannya kemudian menghadap samping pada Renjana yang memangku Tama. “Jadi begini, Jana. Seorang wanita itu akan memiliki kemampuan yang berkurang menghasilkan bayi ketika dia berusia tiga puluh tahun, nah kan sebentar lagi kamu berusia tiga puluh tahun, nih?”

“Sebentar. Aku masih dua puluh tujuh, oke!”

“Ah ya, jadi kan aku ingat kalau pacarmu si Yoga itu masih menunggu rumah lunas. Sedangkan rumahnya lunas delapan tahun lagi. Kamu masih mau menunggu?”

Renjana selalu disinggung dengan pernikahan oleh kakaknya. Apalagi tentang Yoga yang masih belum mau menikah. Yoga telah dipacarinya ketika dia baru saja lulus SMA. Dan itu sudah sembilan tahun lalu. “Sayang banget, Jana. Sayang kalau kamu akan dijuluki wanita yang digantung terus sama Yoga. Kamu temenin dia udah lama, terus kalau kamu temani dia lagi sekarang pasti kamu bakalan bosan juga. Sembilan tahun itu nggak sebentar,”

Siapapun tahu bahwa waktu selama itu tidak akan pernah singkat. Tapi sudah telanjur, bahkan Yoga juga mencintainya. Tapi jika membahas

tentang pernikahan sudah pasti Yoga akan menghindar dan tidak mau membahasnya dengan Renjana. Seringkali ia takut menyakiti hati Yoga jika menanyakannya lagi. “Udahlah, kenalan sama anak teman mama. Ngapain juga kamu nungguin Yoga?”

Tapi bagaimanapun juga Renjana masih ada rasa yang begitu kuat pada Yoga. Bagaimana mungkin bisa pindah begitu saja pada pria lain.

Renjana menyerahkan Tama pada kakaknya.

“Papa juga nggak mau kamu sama Yoga, Jana. Meskipun dia seorang PNS ya kita tahu hidupnya itu terjamin. Tapi temen papa anaknya juga PNS sudah menikah. Yoga beda, Jana. Dia nggak punya tujuan untuk itu, mobil, rumah dia bilang nunggu mobil lunas baru lamar kamu. Terus sekarang mobil udah lunas, dia bilang mau nunggu rumah lunas. Kalau kamu nunggu delapan tahun lagi, itu artinya kamu bakalan berusia tiga puluh lima tahun lebih. Kalau kamu jodoh sama dia waktu itu, kalau nggak?”

Renjana juga tidak mau dijuluki dengan perawan tua nanti di belakang namanya. 'Renjana perawan tua' itu sangat menggelikan ketika orang lain menyebutkannya. Andai dia membeli barang lalu menanyakan alamatnya ketika tidak ditemukan kurir, maka tidak sengaja bertemu dengan seseorang lalu bertanya pada orang itu. Kemudian orangnya akan menjawab 'Oh Renjana si perawan tua' sudah pasti itu akan sangat mengerikan.

“Jana serahin aja sama Mama dan Papa.” Apalagi sekarang yang menjadi tujuannya jika bukan menikah. Ia memang bekerja, tapi tidak bisa terus seperti ini. Dia juga punya tabungan untuk persiapan jika Yoga

menginginkan, tapi sayangnya pria itu masih belum mau mengajaknya menikah.

“Mau?” tawar mamanya untuk kedua kali.

Renjana untuk kedua kalinya menganggukkan kepalanya. “Ya, Ma. Bagaimana baiknya untuk Mama sama Papa aja. Kalau memang itu yang terbaik juga buat kalian. Aku nurut,”

“Ini nggak terpaksa, kan?” Mamanya memastikan tentang perjodohan.

****

“Aku nggak ngerti sama jalan pikiran orangtuaku.” Renjana mendesah lalu meletakkan tasnya dengan sembarang di atas meja ketika berkunjung ke coffee shop milik temannya yang sudah menikah dengan seorang pria yang memiliki pekerjaan cukup baik. Biasanya dia di sini bersama dengan Yoga ketika pria itu sedang jam istirahat.

Fika tertawa mendengar keluhan temannya lalu menaruh secangkir macchiato yang sudah menjadi minuman favoritnya di sini. Sebelum datang dia sudah memesan minuman itu terlebih dahulu lewat WhatsApp. Fika duduk di kursi yang berlawanan arah dengannya. “Mama kamu memangnya kenapa, Jana?”

“Mama jodohin aku sama orang lain.”

“Hahahaha... aku kalau jadi orangtua kamu juga bakalan lakukan hal yang sama kali, Renjana. Ya kita tahu sendiri pacar kamu nggak ada tujuan.” Fika malah membela orangtuanya Renjana tentang perjodohan itu. “Gini ya, Jan. Kita itu seorang wanita, yang seharusnya lebih tegas. Nah sekarang kalau kamu serius sama Yoga, kamu tantang dia deh,” saran Fika yang tidak tahan melihat ekspresi Renjana yang kusut siang ini.

Renjana bekerja di tempat kakaknya, jadi bisa bersantai kapan saja. Apalagi bisa nongkrong di tempatnya Fika seperti ini. “Tantangan seperti apa?” Renjana juga tidak tahu bagaimana cara mengajak Yoga untuk jenjang lebih serius. Sedangkan kakaknya juga sudah tidak bisa percaya lebih lama lagi pada pria itu.

“Ya kalau dia serius sama kamu tinggal bilang kalau kamu bakalan dilamar sama orang lain. Kalau Yoga serius, pasti dia bakalan usaha juga untuk nikahi kamu. Nggak pakai alasan.” Dengan santainya Fika memberikan saran. Sedangkan dia sudah punya anak. Teman baiknya masih melajang dengan ucapan bahwa akan menunggu Yoga yang entah kapan pria itu bisa melamarnya.

****

Malam-malam dia bangun dengan kepala sedikit pusing. Seharusnya pulang bekerja tadi dia bisa pergi dengan Yoga atau mengajak pria itu ke manapun seperti biasanya. Akan tetapi dia memilih pulang lalu tidur dan sampai lupa bahwa dia belum makan malam sampai saat ini.

Langkahnya gontai keluar dari kamar, melewati ruang tengah yang masih ramai. “Seorang wanita berusia tiga puluh tahun akan memiliki peluang hamil sekitar dua puluh persen setiap bulannya,” Cindy membaca dengan suara lantang.

Semua keluarganya menatap ke arah Cindy yang membaca. “Cindy, kamu jangan cari gara-gara sama Tante kamu!” tegur Lisa—kakak iparnya Renjana.

Cindy menggeleng. “Nih, Ma. Sumpah bukunya ditulis seperti itu, Cindy tuh lagi hafalan.” Cindy menyodorkan buku biologi pada Lisa.

Dia merasa bodo amat dengan Cindy yang menyindirnya dengan materi biologi. “Cindy, minta maaf sana sama Tante Jana!” Kali ini giliran Teguh yang angkat bicara pada putrinya yang sudah menyinggung soal memproduksi bayi. Ya sebenarnya mereka satu keluarga ini sangat menantikan Renjana menikah. Namun, dengan hubungan yang menggantung sudah pasti akan meragukan dan tidak tahu akan ke mana hubungan ini jika mereka tidak segera mencarikan Renjana pasangan.

Yoga memang terbilang pria mapan, bahkan mungkin banyak yang kagum padanya. Tapi jika mengenai pernikahan, pria ini tidak ada tanda- tanda akan melamar Renjana. Kasihan juga kalau ada gelar baru perawan tua menempel pada adiknya jika harus menunggu Yoga lebih lama lagi. Delapan tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk menunggu rumahnya lunas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Salah Jodoh (Si Kembar)
8.0
Claire terpaksa menikah kontrak dengan saudara kembar mantan calon suaminya demi menyelamatkan harga diri setelah ditinggal kawin. Saat ia mulai berusaha mencintai suami barunya, berbagai cobaan berat justru datang menguji. Claire tidak hanya harus menghadapi gangguan dari sang mantan tunangan yang telah berkhianat, tetapi juga harus melawan kehadiran mantan kekasih suaminya yang bertekad kuat merusak pernikahan mereka.
Sampul Novel ISTRI TERCINTA BOS BESAR
9.7
Elitta kehilangan kekasih dan kasih sayang ayah akibat ulah Vivian. Setelah pertunangannya batal, sang ayah memaksanya menikahi pria yang dianggap miskin. Vivian merasa di atas angin, hingga ia menyadari suami Elitta adalah Vito Vincent Ravello, CEO Sunmart sekaligus mantan kekasih yang dulu ia buang. Kini Vivian bertekad merebut Vito kembali. Mampukah Elitta menjaga pernikahan dan pria yang dicintainya dari rencana jahat Vivian?
Sampul Novel Misteri di Balik Senyummu
9.7
Ardi, pemuda pemalu yang gemar dunia detektif, terlibat misteri sungguhan sejak bertemu Nia. Rasa penasaran membawanya membuntuti Nia ke rumah kuno terbengkalai milik sang nenek. Di tempat itulah masalah finansial keluarga Nia terbongkar. Kini, mereka harus segera menemukan barang berharga di sana sebelum direbut pihak jahat. Misi ini tidak hanya menyelamatkan warisan menjadi museum, tapi juga menumbuhkan benih asmara di antara keduanya.
Sampul Novel PEBINOR CEO (PC)
8.4
Terbangun dari koma dalam kondisi amnesia, Camila Young mendapati dirinya berstatus sebagai tunangan Alexander Gold, CEO dari keluarga bangsawan terhormat. Tanpa ingatan masa lalu, ia terpaksa menjalani pernikahan dengan pria asing tersebut. Di sisi lain, Leo, pengawal elit dari Group Miracle yang berduka atas kematian istrinya, Michele Crafson, terkejut saat melihat Camila. Wajah istri sang bos sangat serupa dengan mendiang belahan jiwanya. Benarkah Camila adalah Michele?
Sampul Novel Prahara Orang Ketiga
8.2
Hari pernikahan Erika berubah menjadi mimpi buruk saat kekasih masa lalu Bimo datang merebut posisi mempelai wanita dengan alasan sakit parah. Alih-alih membela Erika yang tengah hamil dan telah mengantongi buku nikah, Bimo justru mendukung pergantian tersebut demi membahagiakan wanita itu. Menghadapi cemoohan para tamu undangan, Erika tidak meluapkan amarah di tempat. Dia memilih mengambil keputusan besar untuk menggugurkan kandungannya dan merelakan hubungan sepuluh tahun mereka berakhir begitu saja.
Sampul Novel Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta
8.0
Pernikahan impian Intan berubah menjadi penderitaan saat menyadari bahwa Wili menikahinya tanpa cinta, melainkan hanya sebagai pelarian. Menghadapi sikap dingin sang suami, batin Intan tersiksa hingga ia harus memilih antara bertahan atau merelakan segalanya. Kisah ini melanjutkan perjuangan Intan dari novel Mutiara Istri Yang Dijual dalam menghadapi getirnya rumah tangga.