APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti

Hati yang Kau Sakiti

Kabar kehamilan yang harusnya membawa kebahagiaan bagi Kiran justru berubah menjadi mimpi buruk. Ia mendapati kenyataan bahwa Arka, suaminya, telah berselingkuh hingga memiliki anak dari perempuan lain. Di tengah hancurnya pernikahan yang ia pertahankan, Kiran harus menanggung kepedihan mendalam akibat dikhianati. Kini, ia dihadapkan pada perjuangan sulit untuk memulihkan diri. Akankah Kiran sanggup bangkit, ataukah rasa cintanya pada Arka sudah sirna tanpa sisa?
Bab
Bagikan

Bab 1

Diajeng Kirana Ardani, wanita yang kerap disapa Kiran itu segera berdiri dari lantai yang dingin ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka. Wanita yang berusia 27 tahun itu mengangkat pandangannya dari lantai, melihat ke arah suaminya, Arka, yang telah pulang kerja. 

 "Mas, kamu sudah pulang?" 

 "Malam ini banyak pekerjaan yang harus diurus. Jadi, aku baru sempat pulang sekarang," jawab Arka sambil menaruh tas dan ponselnya di meja.

 Arkana Wirasena, anak tunggal dari almarhum Wirasena itu bekerja sebagai seorang manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi besar. Tanggung jawabnya besar, mulai dari mengawasi pembangunan hingga memastikan segala sesuatu berjalan sesuai jadwal. Hari-harinya sering kali dihabiskan di lokasi proyek, yang membuatnya selalu pulang larut malam, bahkan kadang tak pulang ke rumah.

 "Mas, aku ingin bicara," ujar Kiran, sambil mengangkat pandangannya, menatap ke arah Arka begitu gelisah.

 Arka yang sedang melepas kancing kemejanya, sejenak menghentikan aktivitasnya, dan menatap Kiran yang sedang berjalan ke arahnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"

 Tepat di hadapan suaminya, Kiran menyodorkan sebuah alat tes kehamilan ke arah Arka. 

 Arka yang melihat itu, segera meraih alat berbentuk panjang tersebut dari tangan Kiran dengan wajah bingung. "Apa ini?"

 "Aku hamil, Mas."

 Wajah Arka seketika berubah menjadi marah mendengar itu. "Kenapa bisa kamu hamil? Bukannya kita sudah berjanji untuk menunda kehamilanmu?"

 Selama ini, Arka selalu meminta agar mereka menunda memiliki momongan terlebih dahulu, meskipun mereka sudah menikah selama lima tahun. 

 Sorot mata Arka yang berwarna coklat tajam menembus dinding hati Kiran. Tak ayal, Kiran selalu takut dengan sorot mata tersebut. Dia terdiam, bibirnya terkatup rapat, tubuhnya bergetar ketika mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.

 "Ayo jawab, kenapa kamu diam saja? Bukannya aku juga selalu menyuruhmu untuk minum pil KB?" Lagi, suara Arka semakin menggema di malam yang sudah larut.

 Kiran menundukkan kepalanya, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan suaminya itu. "Maaf, Mas. Aku sudah tidak minum obat itu lagi. Perutku kram bila minum obat itu."

 Arka terkejut mendengar penjelasan Kiran. "Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu diam saja?"

 "Aku takut, Mas," jawab Kiran, suaranya nyaris hampir tak terdengar. "Aku takut kamu marah, aku tidak tahu harus bagaimana."

 "Tapi seharusnya kamu bilang bila tidak minum obat itu lagi, setidaknya aku bisa mencegahnya!"

 Dengan perasaan kesal, Arka menjatuhkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Ia membuang test pack ke sembarang arah, tangannya segera menyanggah kepalanya yang terasa berat. Bagaimana tidak, beban di pundaknya semakin bertambah, belum lagi pekerjaan yang menguras tenaga, dan juga tagihan yang semakin membengkak.

 Baru sekitar tiga bulan lalu, ia membeli mobil impiannya dengan kredit, belum juga hutang bank, dan tagihan lainnya yang membuatnya pusing. Sekarang ditambah lagi dengan kehamilan dari istrinya.

Kiran memandang suaminya yang terlihat frustrasi. "Mas, kenapa kamu seperti ini? Seharusnya kamu bahagia, bukan? Kita akan memiliki anak." 

 Bukannya ucapan Kiran membuat Arka bahagia, tapi malah membuat lelaki itu murka. Arka mengangkat pandangannya ke arah Kiran dan menatapnya tajam. "Kamu tahu, aku ini sedang pusing! Aku sedang memikirkan bagaimana caranya membayar tagihan yang sudah membengkak, dan sekarang ditambah lagi dengan beban kamu yang sedang hamil," sergah Arka, tanpa ia sadari, ucapannya itu begitu menyakitkan di telinga Kiran.

 Kiran tertegun, ia tidak habis pikir dengan perkataan suaminya itu. Beban? Apakah suaminya menganggap anak yang dikandungnya itu adalah beban?

 "Mas, kenapa kamu bilang begitu? Anak itu adalah anugerah yang Tuhan kasih untuk kita. Seharusnya kamu bahagia, bukan kesal seperti ini. Kamu tahu, Mas, semua suami temanku merasa bahagia ketika tahu istrinya sedang hamil. Tapi kenapa dengan kamu?" Suara Kiran mulai terdengar putus asa. Wanita itu melanjutkan perkataannya lagi dengan kesal. "Di luar sana banyak orang yang mendambakan keturunan bahkan harus mengeluarkan uang banyak agar bisa memiliki anak. Harusnya kamu bersyukur!"

 Arka menghela napas panjang, mencoba untuk tenang, tetapi rasa frustrasi dan beban yang menghimpitnya masih terlalu besar. "Kiran, kamu tidak mengerti. Aku tidak bilang aku tidak bersyukur, tapi situasi kita sekarang ini ... semuanya sangat berat. Aku hanya tidak tahu bagaimana kita akan menghadapinya."

 Kiran meraih tangan suaminya, ia berjongkok di hadapan Arka, berharap suaminya mau menerima anak yang ada dalam kandungannya itu.

 "Aku tahu, Mas, kita sedang menghadapi banyak masalah. Tapi kita bisa melaluinya bersama. Aku butuh kamu dan anak kita juga akan membutuhkan kamu." 

 Arka menarik napas dalam-dalam, ia begitu frustrasi, bagaimana caranya agar Kiran bisa mengerti posisinya. Arka menggenggam tangan Kiran, lelaki itu menundukkan kepala, sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar. "Kiran, mungkin lebih baik kalau kita menggugurkan saja anak itu."

 Deg!

 Kiran tercengang, wajahnya memucat mendengar perkataan suaminya. Murka menguasai hatinya, jelas. Dia menarik tangannya dari genggaman Arka dan berdiri dengan cepat. "Apa?! Bagaimana bisa kamu mengusulkan hal seperti itu, Mas? Anak ini adalah darah daging kita! Darah daging kamu!"

 "Kiran, dengarkan aku dulu." Arka mendongak menatap Kiran yang sudah marah. "Aku hanya berpikir tentang bagaimana kita akan menghadapi semua ini. Kita tidak siap secara finansial, dan aku tidak ingin melihat kita semakin terpuruk."

 Kiran menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu tidak berpikir tentang aku, tentang anak kita. Kamu hanya berpikir tentang dirimu sendiri dan masalahmu. Bagaimana bisa kamu meminta aku untuk menggugurkan anak yang baru hadir di rahimku?"

 "Bukan begitu, Kiran." Suara Arka mulai melemah. "Aku hanya ingin memastikan kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak kita di masa depan. Jika kita tidak siap sekarang, aku takut kita akan gagal sebagai orang tua."

 Kiran menggelengkan kepala, satu tetes air matanya akhirnya jatuh menggelinding menyatu dengan bibir tipisnya. Ia tak pernah menyangka bila suaminya akan berkata demikian. "Mas, tidak ada waktu yang sempurna untuk memiliki anak. Setiap orang tua pasti menghadapi tantangan. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah sebelum kita mencoba. Anak ini adalah berkah, dan aku akan berjuang untuknya, dengan atau tanpa dukunganmu."

 Arka merasa terpukul oleh kata-kata Kiran. "Kiran, aku ...."

 "Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi, Mas. Jika kamu tidak bisa mendukungku dalam hal ini, maka aku akan melakukannya sendiri. Tapi aku harap kamu bisa melihat bahwa anak ini adalah bagian dari kita berdua, dan dia berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup."

 "Terserah kamu mau bilang apa, aku capek!" Arka berdiri dan langsung pergi dari hadapan Kiran. 

 "Mas, kenapa kamu seperti ini?"

 Kiran menatap kepergian suaminya dari hadapannya. Lelaki yang berusia 30 tahun itu memasuki kamar mandi, meninggalkannya dalam diam yang menyesakkan. 

 Sudah lima tahun mereka menikah, tapi suaminya itu terus saja meminta agar mereka menunda memiliki anak. Alasannya tetap sama, karena banyak tagihan yang harus dibayar. Namun, itu tidak membuat Kiran kehilangan harapan dan keinginan untuk menjadi seorang ibu.

 Setelah suaminya tak terlihat lagi dan menghilang dibalik pintu, tiba-tiba terdengar satu notifikasi dari ponsel Arka yang tergeletak di atas meja. 

 Pandangan Kiran tertuju pada layar ponsel yang sudah menyala, ia meraih ponsel tersebut. Mata coklatnya melebar ketika melihat sekilas pesan yang masuk. Tanpa sengaja, matanya menangkap beberapa kata yang membuat hatinya berdegup kencang.

 "Mas, kamu di mana? Kamu jadi ke mari, 'kan? Cleo demam, kita harus membawanya ke rumah sakit."

 Deg!

 Jantung Kiran terasa berdenyut nyeri ketika membaca pesan tersebut. "Siapa ini? Kenapa dia mengirim pesan seperti ini?" gumam Kiran, suaranya bergetar saat membaca pesan tersebut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Bertahun-tahun Maya bertahan dalam kesunyian, mendampingi Reza yang selalu bersikap dingin dan enggan mengakuinya. Namun, batas kesabarannya runtuh seketika saat ia harus berjuang melahirkan tanpa didampingi siapa pun hingga sang buah hati tiada. Kehilangan besar ini menghapus seluruh cinta Maya dan memantapkan niatnya untuk pergi. Di saat itulah Reza baru tersadar akan arti kehadiran istrinya. Sayang, saat ia mencoba mendekat, Maya telah berubah menjadi sosok asing yang tak lagi peduli.
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming memercayai Diandra, putri piatu dari asisten rumah tangganya, sebagai reinkarnasi Perempuan Naga. Sejak kecil, ia memperlihatkan tanda spiritual kuat selaku titisan Dewi Kesayangan Langit. Diandra pun harus menghadapi rintangan berat serta tragedi hidup demi menggapai keberhasilan. Perjalanan takdirnya yang penuh liku diwarnai oleh kisah cinta yang mendalam serta sisi erotis yang membara.
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar
9.0
Zeya Scopuso merasa ada yang tidak beres saat bimbingan skripsinya dipindahkan ke kamar pribadi. Ketika dia menanyakan alasan pemilihan tempat yang tidak biasa itu, sang dosen pembimbing, Delson Weather, justru memberi jawaban mengejutkan. Sambil mengusap paha mahasiswinya dengan lembut namun penuh arti, Delson menyatakan siap memberikan bimbingan khusus yang tak pernah terbayangkan oleh Zeya sebelumnya.
Sampul Novel Merindu Suamimu
9.1
Pertemuan kembali Fino dan Melisa setelah lama terpisah membangkitkan lagi perasaan cinta yang pernah ada. Namun, situasi kini tak lagi sama dan jauh lebih rumit. Status Nadia sebagai istri sah Fino menjadi tembok besar yang menghalangi bersatunya cinta lama mereka. Melisa kini dihadapkan pada pilihan untuk kembali terluka, sementara Fino dituntut berani mengambil risiko besar demi membayar penyesalan masa lalunya.
Sampul Novel Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor
8.6
Hubungan yang dibangun selama delapan tahun hancur seketika. Dalam novel modern Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor, Nindy harus menghadapi kenyataan pahit saat Peter, pria yang bersamanya hampir sedekade, justru memilih menikahi wanita lain. Dipicu oleh rasa sakit hati dan pengkhianatan yang mendalam, Nindy mengambil tindakan nekat di malam pernikahan Peter. Ia memutuskan untuk menghancurkan seluruh isi rumah yang selama ini menjadi saksi bisu kebersamaan mereka selama delapan tahun terakhir tanpa sisa.
Sampul Novel TAWANAN CEO DINGIN
8.7
Demi bertahan hidup, aku melakoni peran ganda sebagai pelajar dan pacar sewaan. Takdir mempertemukanku dengan Claude, klien pertama yang seketika mengubah segalanya. Pengusaha kaya raya itu mendadak terobsesi padaku, bahkan melarangku menerima pelanggan lain. Kini, aku terperangkap dalam cengkeraman sang CEO dingin yang enggan melepaskan tawanannya. Mampukah aku meloloskan diri dari jerat obsesi menyesakkan ini? Ikuti kisah perjuanganku bebas dari sang tuan muda.