APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati Biru Affa

Hati Biru Affa

Kepercayaan gadis 17 tahun itu hancur setelah dikhianati oleh sosok yang dianggapnya sebagai kakak sendiri. Rahasia terdalamnya dibalas luka perih saat ia menyaksikan sang kakak pergi bersama lelaki idamannya. Meski ada bantahan, amarah sang remaja memuncak hingga hampir berujung kekerasan fisik. Di tengah konflik tersebut, seorang teman pria hanya bisa terdiam melihat kehancuran persahabatan tulus mereka akibat asmara.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kedisiplinan adalah sebuah standar yang susah dimiliki.

“Jadi, tidak ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya Yusuf kepada semua asisten yang hadir saat itu. Sebenarnya ada topik wisuda, namun mengingat dua wisudawan sedang hadir di lab, akan merusak kejutan jika dibocorkan sekarang.

“Aku rasa itu cukup, Yusuf,” komentarku. Asisten lainnya tidak ada yang membantahku, dan sebagai moderator, Yusuf mengakhiri rapat malam itu.

“Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita akhiri dengan do’a,” ucap Yusuf. Do’a kafaratul majelis menutup rapat malam itu. Para asisten pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Aku sendiri masih berkutat dengan skripsi milikku yang berhubungan dengan perekaman data besar untuk permainan dan melakukan adjustment dari data tersebut.

“Skripsimu masih lanjut?” tanya Yusuf tidak percaya melihatku yang sibuk dengan angka-angka itu. Oke. Kalau aku mengetahui bahwasanya mengembangkan sistem perekapan seperti ini hingga selesai adalah satu semester, aku sudah mencicil ini dari semester 6.

“Iya. Prof Hari bilang minggu depan kalau bisa sudah mulai pengambilan datanya. Ini sudah semester kedua soalnya. Kalau telat, bakal hangus,” jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. Yusuf memang cukup menyebalkan karena suka bertanya terus-menerus. Tapi, itu masih tidak seberapa dengan Mas Arrow, seorang senior sekitar 7 tahun di atasku, kala aku masih numpang di lab ini sebagai freeloader.

“Semangat ya. Aku juga mulai kerjakan milikku. Baru tahu kalo data bisa ngeselin seperti ini,” komentarnya. Aku berdecih, siapa suruh mengambil pengumpulan data hasil wabah untuk analisis dan simulasi prediksi penyebaran wabah serupa usulan Prof Murfid. Topik Prof Murfid notabene menyusahkan semua siswanya, dan aku pastikan bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu semester dengan mudah. Lagipula, topikku ini usulan beliau juga.

“Kamu kan ahlinya sekarang di bidang analisis data. Jadi ya kalau struggle kamu bakal kesulitan. Mulai dikerjakan aja. Fauzan di 206 mungkin bisa bantu dikit-dikit,” balasku.

“Makasih,” komentarnya, “aku ngurus skripsiku dulu,” lanjutnya. Akhirnya, dia berhenti menggangguku. Aku memegang kembali laptopku dan mengerjakan sisa komponen skripsiku yang belum tuntas.

“Kakak yakin ambil penelitian itu?” tanya Rahima.

“Dilihat dari kebermanfaatannya kelak, aku yakin,” jawabku.

Kalau tahu bakal sesusah ini- lupakan. Sudah terjadi. Aku hanya melanjutkan pekerjaanku. Salah satu calon wisuda, Mas Yahya, mendekati tempat aku duduk.

“Pak Ketua, saya pulang dulu,” pesannya. Aku menganggukkan kepalaku, tanpa memberikan pesan maupun balasan. Jam menunjukkan angka 10 malam. Rapat yang mulai semenjak jam 8 itu sudah memakan total 2 jam penuh.

“Mas Faux gak pulang?” tanyaku melihat ke senior calon wisudawan yang lain. Dia menggelengkan kepala.

“Lagi mau nyolong wifi. Kosan gak wifi ya gini. Gak kek Shad yang udah nikah,” komentar sang calong wisudawan. Aku terkekeh kecil sebelum kembali mengerjakan tugas akhirku.

“Rahima gak datang?” tanya Mas Faux lagi. Aku menggelengkan kepala. Perempuan itu pasti menghindari senior bernama Mas Yahya tadi, apalagi setelah pernikahan Mas Yahya dengan maba tahun ini, Zihan Azizah.

“Kenapa emangnya Mas?” tanyaku. Mas Faux tidak memberikan penjelasan. Dia mengalihkan pembicaraan. Sayang, aku menangkap jernih apa alasannya.

“Kurang apa lagi penelitianmu?” tanya Mas Faux. Aku menghela nafas.

“Tinggal sedikit sih. Kalau sudah selesai, bisa sidang semester ini,” jawabku seraya melihat ke laptopku. Sebuah notifikasi dari klien proyekan muncul di laptop.

Aristy: Mohon maaf Kak, untuk aplikasinya kira-kira bagaimana ya kak? Kami perlu buat demonstrasi kepada dosen minggu depan.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Belum tugas akhir, mana proyekan juga dikejar. Seharusnya aku lempar saja ke si Dekker ini proyek. Ah sudahlah, terlanjur basah.

Affa: Bisa selesai senin depan.

Ya. Artinya hanya tiga hari untuk menyelesaikan sisa tetek bengek kemarin. Mungkin aku harus benar-benar menawarkan Dekker.

Aristy: Terima kasih Kak. Bayaran dari kelompok kami akan seperti kesepakatan kemarin.

Affa: Oke. 400 ribu.

Aristy: Benar Kak.

400 ribu untuk pekerjaan seperti ini? Kepala perusahaan dimana Rahima bekerja akan tertawa mendengarnya. Kalau pekerjaannya untuk sistem data seperti sistem wabah atau analisis, mungkin lebih mudah bagiku.

“Ah sudahlah,” keluhku kesal. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. Ini semua menyebalkan.

“Kalau Kak Hamid bakal gimana ya?” gumamku seraya terus mengetik. Malam ini akan panjang, sangat panjang. Sebuah notifikasi masuk ke laptopku.

Aini: Kak Affa!

Aku menghembuskan nafas berat.

“Bocah ini lagi,” celetukku kesal. Aku menutup notifikasi itu.

“Legend, kamu kapan bimbingan?” tanya salah satu asisten dengan nama laboratorium Life_Bond. Aku menoleh ke arah laki-laki itu.

“Dengan Prof Hari atau Prof Murfid, Zul?” tanyaku balik.

“Prof Hari. Kan gue ogah sama Prof Murfid. Susahnya kek cari bola sakti,” jawabnya seraya menggibahkan professor legendaris di kampus kami. Sudah rahasia umum mahasiswa bimbingan Prof Murfid bahwa harus ada ‘anak ajaib’ supaya beliau mudah ditemui.

“Kalau Prof Hari rencananya selasa ini,” balasku. Dia melanjutkan pertanyaannya.

“Sudah janjian?” tanyanya.

“Sudah. Bukannya Prof Hari gak susah toh diajak janjian?” tanyaku balik. Zul menggelengkan kepala. Eh?

“Kalau kamu atau Rahima, gampang. Kalau yang lain, centang biru gan. CENTANG BIRU!” teriak Zul tidak terima. Itu mengejutkanku. Mungkin karena selama ini selalu aku yang menjadi komting kelas Prof Hari, aku tidak terpikir itu yang sebenarnya terjadi. Rumor soal Prof Hari saja tidak pernah masuk telingaku.

“Kok aku baru tahu?” tanyaku heran.

“Anak-anak biasanya pasti nunggu depan ruangan beliau. Cuma lama-lama ogah juga sekarang, apalagi Prof Hari makin sering keluar kota dadakan. Itu medsos update bilang lagi di luar negeri pas hari rencana bimbingan tiba-tiba njir,” jawab Zul kesal. Oke, ini sepenuhnya baru. Mungkin aku harus lebih aware dengan sekitarku. Aku kira, hanya Prof Murfid yang susah, karena rumornya sudah mendarah daging dari tujuh tahun lalu. Aku meletakkan tanganku di atas dagu.

“Begitu ya... anyway, sudah aku pinta ke beliau. Jadi, bilang ke yang lain,” komentarku. Zul menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai berbalik namun berhenti.

“Oh ya,” ucapnya seraya kebali menghadap ke arahku, “kamu harusnya di grup anak bimbingan Prof Hari,” lanjutnya. Aku menganggukkan kepala.

“Undang saja. Aku tidak terlalu peduli dengan grup-grup. Kamu tahu sendiri semenjak maba aku dan Rahima sangat terisolir?” tanyaku balik. Zul hanya menganggukkan kepala. Dua orang yang dikecualikan dari sistem regenerasi kampus. Itu pun atas permintaan dosen laboratorium, karena waktu itu aku dan Rahima memegang beberapa proyek krusial di kampus. Bahkan, angkatanku sendiri banyak yang memusuhiku, seperti contohnya-

“Oh ya, Legend!” teriak Yusuf. Baru akan disebut namanya, dasar. Yusuf termasuk yang paling vokal tidak suka dengan special privilege yang aku dan Rahima miliki, terutama kepadaku. Oh ayolah, itu privilege lebih seperti penderitaan. Situ mending diteriakin ama senior, aku gagal bisa kena puluhan juta pertanggungjawaban.

“Kamu ada rencana konsul sama Prof Murfid?” tanya Yusuf. Zul tampak terganggu Yusuf tiba-tiba nyemplung masuk.

“Rabu,” jawabku datar. Aku kembali melihat ke laptop. Sebuah notifikasi masuk, bahwa aku diundang ke grup bimbingan Prof Hari. Undangan itu diterima otomatis.

“Oh ya, kamu sudah masuk grup anak Prof Murfid?” tanya Yusuf. Aku menggelengkan kepala.

“Pantesan selama ini kek neraka. Gak kepikir selama ini loe belum ada,” jawab Yusuf seakan menyadari kebodohannya. Ya. Pada akhirnya, aku juga diundang.

Mungkin bukan hanya Mas Yahya yang merasa dimanfaatkan dulu. Mungkin, itu yang juga Rahima rasakan. Dan tentunya, itu adalah yang aku rasakan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya di Antara Bayang-Bayang
8.7
Ibadah rutin di bulan Ramadan belum mampu mengikis kehampaan di hati Amir. Hidupnya baru berubah arah setelah ia bertemu Sheikh Ibrahim, sosok guru spiritual misterius yang menuntunnya keluar dari kegelapan batin. Di tengah perjalanan religius ini, iman Amir diuji secara hebat. Melalui interaksinya dengan seorang anak jalanan dan wanita misterius, ia mulai memahami arti sejati dari cinta serta pengorbanan. Inilah kisah perjuangan menemukan cahaya hidup.
Sampul Novel Cincin Kawin Berukir Nama Lain
8.6
Tujuh tahun lamanya aku dipaksa menjadi penulis bayangan untuk Zara, adik angkatku, demi menuruti keinginan suamiku, Permadi. Puncak pengkhianatan terjadi saat Permadi merebut penghargaan milikku demi Zara yang sedang mengandung. Kenyataan pahit terungkap ketika aku menemukan nama Zara terukir di cincin kawinku. Sadar hanya dimanfaatkan, aku memalsukan kematian dalam kecelakaan pesawat untuk membalas dendam. Kini, aku siap menghancurkan mereka lewat bukti plagiarisme Zara.
Sampul Novel Cinta Gadis Tanpa Nasab
9.8
Cinta Anna Lee, gadis blasteran di Korea, terhalang restu keluarga Emran akibat asal-usulnya. Di tengah badai itu, Shaka yang merupakan adik tiri Emran datang mendekatinya. Kebenaran terungkap saat orang tua Emran menyadari Anna adalah anak dari donatur terbesar pesantren mereka. Mereka pun berbalik arah dan mencoba menyatukan Anna dengan Emran lagi. Namun, setelah semua kepedihan dan perubahan hati yang terjadi, bersediakah Anna menerima cinta itu kembali?
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Duda bernama Barra Farzan ingin bahagia dengan menikahi Astra, anak konglomerat yang menawan. Sialnya, pesta pernikahan mereka yang meriah mendadak kacau saat seorang wanita datang menampar Astra. Perempuan itu mengaku istri sah Barra yang dicampakkan bersama anak mereka. Astra pun dituduh sebagai perebut suami orang. Apa misteri kelam yang ditutupi Barra? Akankah pernikahan mereka bertahan, atau Barra cuma berstatus suami bayaran?
Sampul Novel FOTO SUAMI FAN KEPONAKANKU
8.9
Rumah tangga Arini hancur seketika setelah perselingkuhan suaminya terbongkar. Kepedihan kian mendalam karena wanita lain tersebut merupakan keponakannya sendiri. Di tengah badai pengkhianatan ini, Arini perlahan menemukan rangkaian kenyataan aneh yang tidak masuk akal tentang suaminya. Sanggupkah ia bertahan melewati konflik rumit ini saat satu demi satu misteri kelam mulai terkuak? Ikuti kisah penuh luka, intrik, dan rahasia yang mengejutkan.
Sampul Novel ISTRI GEMOY SUAMI LETOY
9.1
Lima tahun berumah tangga tanpa buah hati membuat Arman tega merundung fisik Monika yang gemuk. Tak tinggal diam, Monika membalas hinaan itu dengan mempertanyakan keperkasaan suaminya. Situasi kian rumit akibat tekanan mertua dan lingkungan. Puncaknya, Arman berselingkuh dan menikahi wanita langsing secara siri. Terluka oleh pengkhianatan ini, Monika merancang pembalasan dendam dengan mendekati sahabat suaminya, memicu drama perselingkuhan yang sengit.