APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Terlarang dengan Atasan

Hasrat Terlarang dengan Atasan

Satu malam intim dengan bosnya, Erlangga Krisdiantoro, menjungkirbalikkan hidup Venina Anastasya. Meski tahu Erlangga sudah berkomitmen dengan perempuan lain, Venina terlanjur terpikat dan sulit melepaskan diri dari hubungan penuh hasrat yang berisiko memicu skandal ini. Sementara itu, Erlangga didera kebimbangan antara Venina dan kekasih masa lalunya yang hadir kembali. Akankah Venina selamanya menjadi pelampiasan sesaat tanpa pernah mendapatkan cinta tulus dari Erlangga?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Apa kamu wanita itu?” Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Venina menegang. Dia memegang erat berkas di tangannya seolah benda itu adalah perisai yang akan menyelamatkannya. 

“Saya… saya tidak mengerti maksud, Bapak,” sahutnya dengan gemetar. 

“Apa kamu ada di ruangan saya semalam?” desak Erlangga dengan tak sabar.

Ayrin menghela napas sambil berusaha menenangkan diri agar keresahannya tak terlihat. “Saya langsung pulang, Pak.”

Namun, Erlangga tidak puas dengan jawaban itu. “Lalu kenapa kacamatamu ada di ruangan saya?” tanya Erlangga dengan suaranya yang berat, menekan Venina untuk memberikan penjelasan yang jelas.

Venina merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dia merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya yang menyebabkan kacamatanya tertinggal di ruangan Erlangga. "Saya… saya tidak tahu, Pak," ucapnya yang terdengar bodoh, hampir terdengar seperti bisikan yang terhenti di tenggorokannya.

Jari-jemari Erlangga menyentuh wajahnya, membuat Venina terkejut. "Kamu tahu betul apa yang terjadi malam itu, Nina. Jangan berpura-pura seolah-olah kamu bisa melupakannya begitu saja," bisiknya dengan suara lembut, tetapi berisi ancaman yang tak terelakkan.  “Kamulah wanita itu!”

Venina merasa dunianya berputar. Dia terperangah oleh kata-kata Erlangga. Seketika tubuhnya terasa lemas hingga dia terpaksa berlutut di hadapan pria itu. "Saya… saya janji akan melupakan semuanya dan tidak akan pernah membahasnya, Pak. Tapi tolong jangan pecat saya," pintanya dengan suara yang hampir tercekik oleh kecemasan.

Erlangga juga berlutut, menyamai posisi Venina. Dia mencengkeram kedua pipi wanita itu dengan keras. "Jadi, benar kamu memanfaatkan kondisi saya semalam?" tanyanya, suaranya terdengar dingin dan penuh dengan ketidakpercayaan.

Venina tertegun mendengar tuduhan itu. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Erlangga mengira dirinya telah memanfaatkan kondisinya.

“Kenapa kamu diam, huh?” ejek Erlangga dengan sengit. Kemarahan dan kecurigaan terlihat jelas di matanya. “Apa benar yang saya katakan itu? Apa benar kamu kembali ke ruangan saya dan menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersama dengan saya?”

Mendengar ejekan itu, amarah mulai membara di dalam diri Venina. Dia merasa terhina oleh perlakuan Erlangga yang meragukan integritasnya. "Apa yang sebenarnya Bapak ingin dengar dari saya?" tantangnya dengan berani, tatapannya menusuk tajam ke dalam mata pria itu.

“Jangan main-main dengan saya, Nina! Jangan paksa saya untuk berbuat lebih dari ini!” Erlangga menghempaskan tangannya, membuat Venina terduduk di lantai. 

Venina menghela napas panjang sebelum menjawab atasannya itu, "Ya, kita memang bercinta semalam kalau memang itu yang ingin Bapak dengar," ucapnya dengan suara yang penuh dengan keberanian, meskipun tubuhnya gemetar oleh ketakutan.

Geraman kekesalan Erlangga menggema di ruangan itu.  Dia merasa amarahnya meluap-luap, tetapi Venina tetap berdiri tegak, menahan pandangan tajam sang atasan. "Lebih baik Bapak memeriksa kamera pengawas untuk mengetahui semua yang terjadi. Mungkin semuanya akan lebih jelas," ujarnya dengan suara yang bergetar namun penuh dengan keberanian.

Dengan langkah mantap, Venina meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Erlangga dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.

***

Erlangga memijat pelipisnya dengan kuat. Perasaan jijik menyeruak dalam dirinya setelah melihat bagaimana caranya meluluhkan Venina. Dia telah merusak kehormatan wanita itu dengan cara yang paling kasar menurutnya.

Diingatnya kembali bagaimana ekspresi wanita mungil berkacamata itu ketika memandangnya dengan tajam meski seluruh tubuhnya gemetar.  

"Ya, kita memang bercinta semalam kalau memang itu yang ingin Bapak dengar," suara Venina terus bergema di telinganya, menyebabkan kepalanya berdenyut-denyut.

Perhatian Erlangga teralihkan ketika ponselnya berdering. Dia menyambar ponselnya dengan gerakan cepat, tangannya gemetar saat dia menjawab panggilan. "Batalkan semua pertemuan saya hari ini!" perintahnya pada Riko, asistennya, dengan suara yang tegas. 

"Oh ya, tolong panggilkan Venina. Suruh dia ke ruangan saya sekarang!" tambah Erlangga sebelum mengakhiri panggilan.

Tak lama, ponsel Erlangga kembali berdering. Riko mengabarkan bahwa Venina tidak ada di ruangannya dan dia tidak bisa menghubunginya.   

Erlangga langsung bangkit dari kursinya, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya dipenuhi oleh segala kemungkinan mengerikan yang bisa saja terjadi pada wanita itu. Venina pergi dalam kondisi emosi, sementara wajahnya tampak begitu pucat. Mungkinkah dia…

Dengan langkah cepat, Erlangga keluar dari ruangannya. Tatapannya menyapu meja Venina, mencari-cari tanda-tanda keberadaannya. Namun, tidak ada apa-apa kecuali tas dan ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Entah karena naluri atau pemikiran lainnya, Erlangga langsung menuju ke lift dan menekan tombol untuk naik ke lantai atas. Dia menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya pintu lift terbuka, lalu dengan langkah cepat, dia melangkah keluar dan menaiki tangga menuju rooftop.

Ketika dia sampai di atas, napasnya tersengal-sengal. Dia melihat Venina berdiri di tepi gedung, tubuhnya terayun di ambang bahaya. "Kamu gila, huh?!" jerit Erlangga, langkahnya terburu-buru mendekati Venina. Dengan cepat, dia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Kamu pikir dengan mati semua masalah akan selesai?" desis Erlangga, suaranya penuh dengan kecemasan dan kekesalan. Dia merasakan detak jantungnya berdebar liar di dada Venina, memadukan dengan irama yang sama di dalam dadanya sendiri.

"Apa yang kamu pikirkan, Nina?" Erlangga mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lebih lanjut. Dia melepaskan pelukannya lalu menatap wanita di hadapannya lekat-lekat. “Apa kamu benar-benar ingin membunuh diri dan membuat saya merasa bersalah selamanya?” 

Namun, tanggapan Venina tak kunjung datang. Dia hanya menundukkan kepalanya, bibirnya bergetar tanpa suara. Dan dalam keheningan itu, Erlangga merasa sesak. Apa yang sudah dia lakukan? Bagaimana dia bisa sampai melakukan hal itu pada sekretarisnya yang polos dan tampak naif ini? 

“Maafkan saya, Nina. Maafkan semua kesalahan saya semalam,” ujarnya dengan tulus. Diremasnya  bahu Venina dengan lembut. Diletakkannya satu jarinya di bawah dagu wanita itu agar menatapnya. 

“Lihat saya, Nina!” Erlangga menjaga suaranya agar terdengar netral.

Wanita itu mengangkat wajahnya, dan dalam tatapannya Erlangga bisa melihat campuran antara kegetiran dan keputusasaan. Wajahnya pucat, dan matanya terlihat begitu lelah. "Apa yang Bapak inginkan?" tanyanya dengan suara yang datar, membuat Erlangga terkejut. Tidak pernah sebelumnya dia mendengar nada seperti itu dari Venina.

“Kita harus berbicara tentang semalam, Nina,” kata Erlangga dengan tegas. Membuat tubuh Venina menegang dan semburat merah mewarnai pipinya yang pucat itu. 

Tanpa disangka, reaksi Venina memicu sesuatu dalam diri Erlangga. Gambaran tubuh wanita itu, lembut dan menggoda, tiba-tiba saja muncul di benaknya. Dia merasakan denyutan getaran di seluruh tubuhnya.

Kini, dia tidak perlu bertanya-tanya seperti apa tubuh Venina di balik pakaian kerjanya yang monoton dan tampak longgar di tubuhnya itu. Dia sudah tahu. Dan dia harus menghapus semua ingatan itu dari benaknya.

“Apalagi yang harus dibicarakan?” Tangan Venina saling bertautan. Terlihat buku-buku jarinya memutih ketika dia meremasnya dengan kuat.

"Kita harus membicarakan tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi kedepannya," ujar Erlangga dengan tegas, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan ketakutannya. 

"Kemungkinan apa?" Venina menatapnya dengan dahi berkerut, mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Erlangga.

"Kemungkinan kalau saja kamu akan hamil," ujar Erlangga dengan hati-hati, menelan ludah saat dia mengungkapkan kata-kata itu. "Karena sepertinya kita melakukannya tanpa pengaman."

Venina terdiam, matanya membesar mendengar kata-kata itu. “Hamil?” gumamnya sambil mengusap perutnya tanpa sadar. Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan kemungkinan itu setelah apa yang terjadi di antara mereka?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA TUAN CEO
8.6
Pertemuan kembali Linggar, seorang beauty vlogger dan selebgram ternama, dengan sang mantan kekasih bernama Darka terjadi di Bali. Hubungan mereka sempat terjalin lagi, tetapi atensi Linggar terpecah sejak kehadiran Radit, sahabat kakaknya yang berprofesi sebagai pengusaha restoran. Ketegangan memuncak saat Linggar mendapati Darka mendekati Sena, dan Darka pun memergoki kedekatannya dengan lelaki lain. Rekaman perpisahan mereka yang viral di televisi akhirnya memaksa keduanya berpisah selamanya.
Sampul Novel Hati yang Remuk dan Mati
9.4
Pernikahan lima tahun Sheila dan Dave hancur saat sang mantan kekasih kembali memikat Dave. Melalui pesan provokatif dan bukti kemesraan mereka, termasuk kembang api biru di malam anniversary yang sepi, Sheila menyadari akhir dari hubungan mereka. Tanpa air mata, ia menandatangani surat perceraian. Lebih dari itu, Sheila meminta sekretarisnya menyiapkan pernikahan baru untuk Dave dan selingkuhannya, sebelum akhirnya terbang ke Veridia demi memberikan restu langsung bagi keduanya.
Sampul Novel Istri kedua tuan Salman
8.5
Demi melunasi utang orang tuanya, Aisyah Sholehatun Nisa, gadis berparas jelita, terpaksa menikahi Salman Alfarizki. Pernikahan ini menempatkannya sebagai istri kedua dari putra selir keluarga konglomerat tersebut. Di tengah badai rumah tangga poligami yang penuh tekanan, mampukah cinta tulus tumbuh di hati mereka? Simak perjuangan emosional Aisyah dalam menghadapi takdir rumit dan konflik perasaan yang menguji keteguhan jiwanya.
Sampul Novel KALIAN SIAPA?
8.2
Amelia, pewaris kaya raya, mengalami guncangan mental hebat setelah dikhianati oleh keluarga palsunya dalam sebuah kebohongan besar. Sementara itu, Bima juga terpuruk akibat pengkhianatan sang istri. Di tengah krisis identitas yang dialami Amelia dalam mencari jati diri dan ketulusan, mampukah takdir mempertemukan kedua jiwa yang terluka ini? Bersama-sama, mereka harus mengungkap kebenaran, menyembuhkan luka masa lalu, dan membangun ikatan cinta sejati.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Akibat tekanan ibu mertua yang merendahkan status sosialnya, Lara terpaksa berpisah dari Elara. Suaminya yang dulu hangat kini berubah dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam keliru yang dikira Elara bersama Elena, ia bertunangan dengan wanita itu. Lara yang terluka memilih pergi ke desa untuk merintis usaha sabun organik. Di sana, ia memulai hidup baru tanpa menyadari bahwa dirinya sedang mengandung anak yang akan menjadi pewaris takhta Elara.
Sampul Novel My Bastard Boss
8.3
Lima tahun lalu, hidup Nayra hancur setelah mantan kekasihnya menyerahkannya pada pria asing. Kini, ia justru terjebak bekerja di bawah pimpinan Xabiru, sosok masa lalu yang telah merusaknya. Konflik kian rumit saat Xabiru menuntut hak atas putri mereka, sementara sang mantan, Chrisyan, datang memohon ampun. Terjepit di antara luka lama dan dendam, sanggupkah Nayra memaafkan mereka atau memilih membalasnya? Kebenaran kelam masa lalu pun mulai terungkap.