APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Sang Guru

Hasrat Sang Guru

Dosen Sansekerta sekaligus praktisi yoga, Vidwan Surya, sangat dikagumi para mahasiswanya. Namun, pertemuannya dengan mahasiswi pendiam pencinta bahasa kuno, Grisse Anggara, memicu sebuah obsesi rahasia. Grisse yang lugu merasa tenang dengan kepedulian Vidwan, tanpa tahu ada hasrat besar sang guru untuk memilikinya. Begitu asmara mulai hadir, keraguan menyelimuti Grisse. Ia pun bimbang, apakah ini cinta sejati atau hanya nafsu belaka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pertama kali melihatnya, aku langsung tertarik. Sepasang manik matanya yang membulat sempurna tatkala mengagumi bangunan kampus, benar-benar mencuri perhatianku. Aku yang saat itu seharusnya segera mengikuti rapat fakultas, terpaksa menghentikan langkah tergesaku.

Cantik dan sederhana.

Dua kata yang teramat umum, tapi gabungan dua kata itu berubah menjadi menarik, indah, dan mempesona karena berasal dari dirinya. Dia tetap terlihat cantik, meskipun penampilannya sangat biasa dan sederhana: kemeja polos warna krim dipadu rok sepanjang lutut dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru. Kesederhanaan yang ia tampilkan benar-benar membuat kecantikannya terekspos dengan sempurna. Dan aku pun menyadari bahwa aku tertarik pada pandangan pertama, dengan gadis yang baru kali ini kulihat berada di kampusku.

Polos.

Melihat penampilan dan sikapnya yang malu-malu, aku sangat yakin bahwa ia adalah gadis yang polos. Polos dalam artian, hati dan tubuhnya belum pernah disentuh pria. Menyebut kata tubuh ketika melihatnya membuat kelelakianku bergolak.

Pintar.

Dua puluh tahun menjadi dosen telah mengajariku banyak hal, salah satunya bagaimana menilai kemampuan mahasiswa dari cerminan penampilan. Meskipun harus kuakui, penilaian berdasarkan penampilan tidaklah sepenuhnya tepat, tapi mahasiswa yang memang serius belajar tidak pernah berperilaku yang aneh-aneh. Mereka yang cenderung pendiam lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Dari segi penampilan, mereka cenderung tidak menarik dan tidak mencuri perhatian. Sama persis seperti gadis yang mencuri perhatianku saat ini.

Ah…

Tanpa sadar aku mendesah. Tetiba aku merasakan diriku dilingkupi gairah yang terasa menyenangkan. Apalagi kalau bukan gairah untuk menyentuhnya. Jika ada kesempatan lebih, aku ingin sekali menjamahnya. Dan di puncak dari gairahmu terhadap dirinya, aku ingin menjadikannya milikku. Ya, hanya milikku seorang. Detik berikutnya, kurasakan pusat diriku mengeras. Aku berdecak. Kesal dengan diriku sendiri yang berubah menjadi liar dan… cabul. Aku sempat keheranan bahwa diriku kini berubah menjadi amoral hanya dengan melihatnya. Sosoknya benar-benar telah mengusik fantasiku yang paling liar. Aku menunduk sebentar, memperhatikan milikku yang seolah berontak ingin keluar dari celana. Lagi-lagi aku mendesah sambil merasa beruntung karena hari ini aku memakai baju atasan yang agak panjang, seperti pakaian khas laki-laki Asia Selatan.

*

Aku melihatnya keluar dari ruangan akademik sambil membawa map plastik transparan. Sekilas kulihat kartu anggota klub yoga berada di bagian terluar dari lembaran-lembaran kertas berwarna putih. Bibirku bergerak membentuk senyuman tipis. Apakah aku senang? Apakah aku senang karena melihatnya membawa kartu anggota klub yoga? Tentu saja. Mendapati dia membawa kartu anggota klub yang kuasuh membuatku bergegas memikirkan banyak rencana. Diam-diam, aku berterima kasih pada konselor yang baru saja ditemuinya. Entah apa yang dikatakan konselor itu sehingga dia memilih untuk bergabung dengan klub asuhanku. Aku cukup lama larut dalam kegembiraan, kusanjung semesta yang membuat gadis itu datang padaku lebih mudah dari yang kuduga.

Aku masih sibuk dengan pikiran-pikiranku mengenai gadis itu. Juga mengenai mata kuliah yang akan diambilnya. Aku menduga bahwa gadis itu akan masuk ke kelasku hari ini dan seratus persen dugaanku benar. Rasanya aku ingin melompat dan bersorak tatkala melihatnya berdiri di depan pintu. Memandangku dengan tatapan takut serta sungkan.

"Sorry, Sir. I am late." Ia terlihat mencuri pandang ke arahku. Sorot matanya menunjukkan rasa bersalah. Kupalingkan pandanganku darinya untuk menatap jam dinding yang bertengger di atas papan tulis.

"It's ok. Belum ada sepuluh menit. Take your seat." Aku mempersilakan gadis itu duduk. Gadis itu mengedarkan pandnag ke seluruh penjuru kelas. Tampak mencari-cari, adakah kursi yang masih kosong sehingga bisa ia tempati.

“Hey, duduklah di sini karena hanya ini satu-satunya kursi yang belum ditempati.” Aku memanggilnya sambil mengarahkan telunjukku ke kursi yang berada tepat di depanku. Gadis itu melihat ke arah yang kutunjuk.

“Thank you, Sir.” Ucapnya lirih sambil melepas tas ranselnya. Aku tidak menjawab. Hanya anggukan kecil yang kuberikan. Itu pun aku tidak melihatnya.

*

Aku tidak pernah merasa begitu bersemangat dalam mengajar sebelumnya. Materi yang telah kupersiapkan untuk tiga puluh menit pemaparan, nyatanya sudah berakhir sepuluh menit lebih awal. Tidak ada satu pun pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa membuatku bisa mengakhiri kelas lebih cepat.

“Sir, bolehkah saya bertanya beberapa hal?” Gadis itu beranjak dari duduknya.

“Tentu. Setelah ini saya akan menjawab semua pertanyaanmu.” Aku berusaha menyembunyikan luapan rasa senang yang membanjiri hatiku.

“Saya ingin bertanya mengenai penyebaran bahasa Sansekerta di Asia Tenggara.” Gadis itu kembali duduk kemudian mengambil pulpennya. Ia terlihat siap mencatat apa saja yang akan kukatakan. Aku sengaja tidak langsung menjawab pertanyaannya. Sengaja aku menunggu mahasiswa lainnya meninggalkan kelas.

“Kau baru di kampus ini?”

“Benar, Sir.”

“Artinya kau melewatkan sesi perkenalan dirimu.”

“Oh, maaf Sir. Anda tidak memintaku tadi.” Ia gugup ketika mengatakan kalimat keduanya. Aku tahu bahwa ia takut kalimatnya terdengar menyalahkan diriku.

“Ya. Sekarang, silakan perkenalkan dirimu.” Aku memintanya sambil beranjak dari kursiku. Kini aku duduk dengan menopang pada salah satu sudut meja.

“Nama saya Grisse Anggara, Sir. Saya peserta Program Pertukaran Mahasiswa yang diadakan universitas ini.”

“Itu artinya kamu tamuku.” Aku berkata antusias. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

“Kenapa Bahasa Sansekerta?” Tanyaku. Gadis itu tampak berpikir. Ia terlihat tidak gegabah dalam menjawab pertanyaanku. Pertanyaan klise yang bisa kugunakan untuk mengukur keseriusan mahasiswa pada kuliahku.

“Karena saya mempelajari teks-teks yang ditulis menggunakan aksara Devanagari.”

Aku mengangguk mendengar apa yang dikatakan gadis itu.

“Bukankah aksara Devanagari pertama kali digunakan untuk menulis teks dalam bahasa Sansekerta?” Tambahnya lagi. Aku menatap dalam-dalam wajah cantik di hadapanku. Jujur, aku kagum dengan pengetahuan Grisse.

“Ya, kamu benar. Aku sungguh kagum padamu, Grisse. Kamu masih muda, tapi menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang tidak semua orang mau mempelajarinya.” Aku memujinya tulus.

“Terima kasih, Sir tapi Anda terlalu berlebihan.” Grisse menunduk karena tersipu.

“Terima kasih, Sir.” Gadis itu mengulangi ucapan terima kasihnya. Sungguh gadis yang sopan dan tahu tata krama. Rasa hangat menjalari tubuhku beberapa saat, sebelum akhirnya berganti dengan rasa panas yang sangat kusuka. Aku bernafsu dan bergairah padanya.

“Apakah ada bahan bacaan yang bisa Anda rekomendasikan untukku, Sir? Terkait pertanyaanku tadi, mengenai penyebaran bahasa Sansekerta di Asia Tenggara.”

Aku seperti mendapat durian runtuh setelah mendengar pertanyaan Grisse. Tetiba, sebuah rencana besar membentang di hadapanku. Rencana yang bisa membuat Grisse semakin dekat padaku.

“Ada beberapa buku yang bisa kamu baca. Saya akan meminjamkannya padamu. Kau bisa mengambilnya di apartemenku sore nanti selepas latihan di klub yoga.”

“Klub yoga?” Grisse menatapku penuh tanya.

“Ya, aku adalah pengasuh klub Yoga. Dan, kulihat kau juga memiliki kartu anggota di klub yoga.” Aku menunjuk kartu yang tersimpan di dalam map plastik transparan miliknya.

“Iya, Sir. Konselor menyarankan saya untuk bergabung dengan klub yoga sebagai ganti mata kuliah Bahasa Tamil yang tidak ditawarkan semester ini.”

“Kau bisa berkunjung ke apartemenku setelah latihan yoga.” ulangku. Grisse terdiam sejenak. Ia terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi ragu.

“Kenapa?”

“Apa aku tidak mengganggu Anda, Sir? Kulihat, latihan yoga berlangsung selama dua jam. Itu artinya latihan baru selesai pukul dua puluh. Mungkin saya akan berkunjung di lain hari ketika tidak ada jadwal latihan, Sir.”

“Aku tidak terganggu, Grisse. Kita bisa pergi ke apartemenku bersama-sama. Tenang saja, apartemenku masih berada di lingkungan kampus.” Aku berusaha meyakinkan Grisse bahwa aku tidak keberatan dengan kunjungannya. Kulihat Grisse masih ragu sehingga aku kembali meyakinkan dirinya untuk tetap pergi.

“Tidak apa-apa. Percayalah. Kamu tidak akan menggangguku.” Aku menepuk bahu Grisse pelan. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

“Terima kasih, Sir.”

“Sama-sama. By the way, kamu tinggal di mana?”

“Asrama mahasiswa, Sir.”

“Syukurlah.” Aku menunjukkan kelegaan.

“Kenapa, Sir?”

Aku diam sejenak. Grisse menatapku tanpa berkedip.

“Kau bisa menginap atau aku akan mengantarmu pulang.”

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam sang pewaris yang tak bertopeng
8.1
Pemilik bar terkejut saat tahu kekasihnya, Lucas, yang mengaku bangkrut justru menyewa ruang VIP mewah. Melalui CCTV, ia melihat Lucas menjadikannya bahan taruhan dan hanya memanfaatkannya demi uang. Tak hanya itu, Lucas juga menghinanya miskin di depan wanita lain. Merasa dikhianati, sang pewaris asli ini pun membongkar identitas aslinya. Ia mempermalukan Lucas yang akhirnya berlutut di hadapan tumpukan uang sebagai pembalasan setimpal.
Sampul Novel Bayangan Pengantin yang Terlupakan
9.3
Selama lima tahun menjalin kasih, aku percaya pada cinta Ronan Leach, CEO miliarder Grup Leach. Namun, tiga tahun hidup bersama justru diwarnai pengkhianatan. Ronan menikahi janda sahabatnya, mengumumkannya sebagai istri di depan media, hingga menghamilinya. Meski terus memohon maaf atas nama cinta, luka yang ditorehkan terlalu dalam. Kini, aku memilih pergi selamanya sambil membawa rahasia kehamilan yang dinantikannya, meninggalkan sang CEO dalam penyesalan terdalam.
Sampul Novel CINTA DARI MASA LALU
9.5
Pasca-skandal korupsi sang ayah, hidup Luwina hancur di negeri asing. Beruntung, Reyhan hadir menyelamatkannya sebagai kakak tiri. Namun, kepulangan Luwina ke Indonesia justru membuka luka lama. Ia harus berhadapan lagi dengan Hardin Putra Surawijaya, pria masa lalu yang sempat menghancurkan hidupnya hingga hamil. Situasi kian pelik karena Hardin kini berstatus sebagai sahabat karib Reyhan, sekaligus suami dari Katrina, mantan kekasih kakak tirinya tersebut.
Sampul Novel Dicerai suami karena mandul
9.1
Safina berniat memberikan kejutan istimewa untuk Reza pada hari pernikahan mereka. Namun, momen spesial itu berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki sang suami berselingkuh di rumah sendiri. Alih-alih menyesal, Reza justru memutuskan untuk menceraikan Safina. Dengan kejam, ia menjadikan kondisi Safina yang mandul sebagai alasan perpisahan. Kini, Safina harus berjuang menghadapi kenyataan pahit akibat pengkhianatan suaminya.
Sampul Novel Membunuh Masa Lalu
7.9
Kehilangan dan kerinduan mendalam adalah risiko nyata dalam percintaan. Saat kasih sayang pergi secara misterius, luka yang tertinggal sanggup meremukkan jiwa seseorang. Penderitaan inilah yang kini menjerat Jaya, setelah sosok yang sangat ia cintai lenyap begitu saja tanpa kejelasan. Kisah pilu yang dihadapi Jaya menjadi sebuah peringatan nyata tentang betapa hancurnya perasaan ketika ditinggalkan tanpa ada jawaban pasti.
Sampul Novel Mr. Right
8.8
Kehadiran Dean Carter dalam hidup Angelina Bale memicu dilema besar yang mengancam kedekatannya dengan Raquel Scott. Walau tahu persahabatan mereka dipertaruhkan, Angie tak kuasa membendung perasaan cintanya. Kini, ia berada di persimpangan jalan yang rumit, harus memilih antara loyalitas pada sang sahabat atau memperjuangkan belahan jiwanya. Langkah apa pun yang ia ambil kelak dipastikan akan menggoreskan luka mendalam bagi mereka bertiga.