APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya

Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya

Ella terjepit perasaan rumit pada William, sahabat kecilnya yang kini jadi pewaris tunggal nan kaya raya. Walau menganggap Ella sangat berharga, hati William justru tertambat pada Camelia. Situasi Ella kian menyiksa saat dituding merusak hubungan mereka, sementara William abai pada kepedihan batinnya. Akankah William tetap menjaga Ella, ataukah kehadiran Camelia akan menghancurkan persahabatan masa kecil mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ella, nanti pulang bareng aku lagi, ya?" teriak William dari koridor kantor sambil melambaikan tangan pada sahabatnya, Ella. Sontak pandangan orang-orang di sekitar koridor itu langsung tertuju ke arah Ella, sambil berbisik-bisik ria.

"Ih, itu si FWB nya Pak William ya?"

"Gatel banget tuh cewek, sayang banget Pak Williamnya."

"Kasihan dong calon pacar Pak William?"

Begitulah kira-kira gunjingan demi gunjingan yang sayup-sayup tertangkap telinga Ella. Perempuan itu menghela nafas kasar, lantas berbalik menuju ruangannya dengan menunduk lesu.

Padahal baru dua bulan ia pindah ke kantor baru milik ayah William, sahabatnya sejak kecil. Tapi rumor-rumor menyedihkan itu sudah berkali-kali mencercanya.

Sejak kecil mereka memang selalu bersama, tumbuh bersama berdua, hingga pada akhirnya mereka kesulitan mendeskripsikan status masing-masing untuk satu sama lain.

Mereka memang hanya sahabat, tapi sepertinya juga lebih dari itu. Tapi bukan pacar juga, karena baik William maupun Ella sering berganti pacar sejak remaja.

Bahkan sekarang pun William juga sedang PDKT dengan salah satu rekan kantor. Sedangkan nasib percintaan Ella sedang menggantung karena pacar brengseknya tak bisa ia hubungi berhari-hari.

"Eh kamu mau pulang bareng aku nggak, Ella?" tawar Kinan, salah satu rekan kerja satu divisi yang nampaknya menaruh perhatian lebih untuk Ella.

"Eh sorry Kin, hari ini aku bareng William."

"Lagi?" Tak sengaja Kinan berkomentar, kalimatnya langsung menarik atensi Ella yang sebelumnya merapikan berkas-berkas di meja.

"Apa maksud kamu 'lagi'? Kamu teman baruku yang paling baik disini sejauh ini, Kinan. Aku harap kamu nggak kaya mereka-meraka itu," ucap Ella agak sensitif. Entahlah, moodnya sedang hancur usai bertemu dengan pegawai-pegawai sialan yang menggunjingnya barusan.

"I'm sorry, aku kelepasan bilang gitu. Maaf, Ella," sesal Kinan. Perempuan yang diajak bicara hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya, sedikit merasa bersalah juga pada Kinan. Padahal laki-laki itu adalah satu-satunya rekan kantor yang mau mengajaknya bicara tanpa peduli dengan gosip tentangnya.

"Ya sudah, aku duluan ya? Kamu pasti masih nunggu Pak William. Dia ada rapat, kayanya pulang sejam lagi, kan?" tanya Kinan ragu.

"Iya, hati-hati," senyum pun mengembang di wajah cantik Ella, membuat Kinan sedikit lega.

'William rapat lagi? Hmm kenapa nggak bilang?'

---

"Hei, marah?" William mengencangkan sabuk pengaman milik Ella yang diam saja begitu masuk mobil dengan raut muka cemberut. Perempuan itu hanya menggeleng kemudian melihat keluar jendela sambil menyangga dagunya dengan tangan kiri.

"Kamu kenapa? ada yang salah? aku salah?" Lelaki itu bolak balik melihat ke jalanan dan ke arah Ella.

"Enggak, Will. Fokus nyetir aja deh."

"Lagi datang bulan ya? Eh enggak mungkin, jadwal kamu kan tanggal lima belas bulan ini."

Kalimat itu berhasil membuat Ella menoleh kearah William sambil mengerutkan dahinya.

"Kamu bahkan hafal tanggal datang bulanku?"

"Iya dong, kamu kan selalu pengen cuddle tiap tamunya lagi dateng. Kenapa emangnya?"

Ella menggeleng lagi, pikirannya kembali berkecamuk. Benar-benar tak ada hal yang tak diketahui lelaki disampingnya itu tentangnya. William memang sesayang itu pada Ella. Ia akan selalu memprioritaskan Ella diatas segalanya, bahkan dibanding dirinya sendiri sekalipun.

"William, semakin hari semakin ribet aja status kita ini. Kamu mau apa sih, Will?" batin Ella.

Lagi-lagi kalimat itu tertahan di tenggorokannya saja, tak pernah terlontar. Pernah sekali Ella jujur pada William tentang hal-hal yang mengusiknya itu, saat itu mereka masih duduk di bangku SMA dan Ella menjadi bahan bully teman-teman pacar William.

Tapi diskusi itu berakhir sedikit menggantung dengan perjanjian yang mereka simpulkan, bahwa tidak boleh ada diantara keduanya yang saling meninggalkan satu sama lain.

William pun hanya menghujani Ella dengan kata-kata manis penyejuk ragunya saat itu. Mereka berjanji, tidak akan terbawa perasaan dihubungan persahabatan mereka. Tapi kesimpulan itu agaknya tidak membantu sama sekali. Karena Ella sekarang dibuat pusing lagi karena hubungan mereka

"Hei? Ella??"

"Hah? Iya? Kenapa, Will?" Ella gelagapan, terkejut dengan teriakan William.

"Aku dari tadi ngoceh nggak kamu dengerin? Ngelamunin apa sih?" gerutu lelaki berlesung pipi cantik itu.

"Hehe lagi butuh istirahat aja kok. Tadi bilang apa?" Sejujurnya Ella memang butuh istirahat, bukan hanya tubuhnya tapi juga otak dan hatinya tentu saja. Dua bulan sudah ia kerja rodi dibawah perintah atasannya.

"Ini, aku mau mampir ke tempat Camelia dulu. Dia tadi pesen suruh beliin smoked beef di resto dekat kantor, dia bolos kerja hari ini karna sakit katanya."

"Kamu beneran PDKT sama dia?"

"Iyalah, katanya sih dia suka sama aku sejak lama hahaha."

"Hmm" Ella hanya mengangguk, matanya melirik kearah rear vision mirror yang merefleksikan bayangan dari kursi tengah mobil. Dilihatnya satu kotak besar yang ia tebak adalah smoked beef pesanan Camelia, lengkap dengan satu bucket bunga cantik disampingnya.

"Kenapa? cemburu?"

"Nggak," jawab Ella singkat, menimbulkan kerutan di dahi William.

"Kamu beneran nggak marah kan? Aku cium nih kalo marah" enteng William.

"William!! jangan bercanda. Udah, fokus sana!" Tanpa Ella sadari, pipinya merah tersipu. Perempuan itu mengutuki dirinya sendiri dalam hati.

"Orang udah sampai kok." Lelaki itu menjulurkan lidahnya meledek.

Memang bukan sekali dua kali William tiba-tiba mencium Ella. Bukan di bibir, hanya kecupan singkat di pipi. Sejak kecil, William dan Ella memang sangat touchy satu sama lain, terlebih William.

Tapi tetap saja, naluri Ella berkata itu tidak benar. Setidaknya jika status mereka masih sebatas sahabat semata.

Begitu sampai di rumah gebetan William, lelaki itu turun dan mengambil hadiah untuk sang gebetan.

"Hmm, mau bunga juga," batin Ella.

Lelaki itu menghambur memeluk Camelia yang ternyata sudah menunggunya di depan rumah.

"Harus banget ya nunggu dipinggir jalan kaya gitu? Alay," batin Ella lagi.

Dua sejoli itu mengobrol selama beberapa saat, sesekali menengok kearah Ella. Mata Ella melebar saat melihat keduanya tiba-tiba... berciuman. Ya, Camelia mencium bibir William tiba-tiba. Tapi lelaki itu tak menolak, justru semakin memperdalam ciuman itu.

Hati Ella entah kenapa perih rasanya, ludahnya bahkan tak tertelan, serasa tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa memalingkan wajah sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.

"Maaf, lama," ucap William yang langsung kembali kedalam mobil.

"Kamu lihat? sorry ya" Tangan William mengacak rambut Ella tanpa permisi.

"Apa sih, biasa aja kali. Aku juga sering ciuman sama pacarku. Tapi nggak di pinggir jalan siang-siang juga kali, Will."

"Hehe, maaf. Dia kangen aku katanya." Mendengar itu, Ella hanya merotasikan bola matanya.

"Katanya belum pacaran? Kok udah cium-cium? Apalagi nanti kalo udah pacaran? Bakal ngapain aja kamu?"

"Heh, enggak akan. Kita kan udah janji nggak akan pernah skinship lebih dari ciuman sama pacar kita. Aku akan jaga diri, kamu juga akan aku jaga. Banyak cowok brengsek diluar sana."

"Kamu juga brengsek, Will,"

"Ya tapi kamu kan cowok juga, Will. Sama aja," sinis Ella, tangannya kemudian diraih William yang segera ditepisnya.

"Ih, Ella..."

CUP

Kecupan singkat mendarat di pipi kanan wanita itu. Matanya terbelalak, siap-siap memukul William tapi ditahannya.

"Ih, William... Kan aku udah bilang jangan cium-cium aku lagi"

"Kenapa sih? Sumpah kamu berubah sejak pindah kerja deket sama aku malah nggak mau disayang-sayang" William memanyunkan bibirnya, Ella luluh juga.

"Binggo, that's it."

"Apa? "

"Hah? enggak, lupakan," pungkas Ella.

"Aku capek, Will. Capek jadi bayang-bayang kamu terus," lirihnya dalam hati.

----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicintai Iblis Betina
8.2
Sebelum lenyap diiringi bau busuk menyengat, sebuah sumpah reinkarnasi terucap. Dalam keputusasaan, Jacob menemui dukun sakti demi menghidupkan arwah kekasihnya. Malangnya, ia justru terjebak tipu muslihat ratu iblis yang licik. Hubungan mereka berkembang sangat jauh hingga terjerumus dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menanggung konsekuensi mengerikan akibat cinta gelap yang menjeratnya.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Jebakan Ibu Susu Bayiku
8.6
Elara terdesak menjadi ibu susu anak Viktor Laxmere, miliarder misterius, demi membiayai pengobatan sang ibu. Namun, pekerjaan ini justru membawanya masuk ke dalam lingkaran manipulasi dan intrik gelap. Di bawah kendali kekuasaan Viktor yang mutlak, Elara menghadapi dilema antara rasa benci dan benih cinta yang mulai tumbuh. Ia kini harus membongkar rahasia di balik tawaran tersebut sebelum sepenuhnya hancur sebagai pion dalam permainan berbahaya sang miliarder.
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Karier Aitana sebagai manikuris andalan di Spa Luna hancur seketika akibat tuduhan palsu merebut kekasih kliennya. Fitnah ini ternyata menyeret Iker, pemilik Glow Agency yang licik. Saat berjuang membersihkan namanya, Aitana justru mengungkap skandal besar: banyak kliennya yang berselingkuh dengan Iker. Di tengah ancaman kerja dan persaingan agensi, ia terjebak dilema cinta segitiga yang rumit. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku
8.9
Kehilangan kesucian dalam satu malam menghancurkan hidup Kara. Diasingkan dan menderita, ia berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi dalang kehancurannya. Kini, pria tersebut kembali hadir untuk menjerat kehidupan Kara lebih dalam. Kara didera ketakutan hebat. Sanggupkah ia bertahan ketika buah hatinya terancam direbut oleh pria yang dahulu merusak dunianya?
Sampul Novel Pengantin Pelarian, Menemukan Cinta
9.8
Di hari pernikahan, aku diperlakukan layaknya boneka rapuh oleh keluarga dan tunanganku, Marco. Namun, pengkhianatan terungkap saat aku mendengar rencana jahat mereka yang ingin membiusku agar pesta pernikahan ini bisa diubah menjadi acara ulang tahun keponakan. Merasa tak berharga, aku memilih kabur tanpa alas kaki. Berbekal kartu nama Julian Suryo dari nenek, aku mencari cara tidak biasa untuk meloloskan diri dari konspirasi busuk mereka selamanya.