APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harem milik Suamiku

Harem milik Suamiku

Demi menghindari tekanan orang tua, Marigold sepakat menikah dengan Maximilian. Namun, sang miliarder rupanya terikat ramalan untuk memperistri tujuh wanita bernama bunga demi kesuksesan bisnis. Di dalam mansion megah, ketujuh istri ini saling bersaing berebut gengsi, kekayaan, dan status sosial sebagai pendamping utama. Maximilian pun harus menghadapi pesona serta intrik mereka setiap hari. Siapakah di antara para istri yang kelak berhasil memikat hati sang miliarder?
Bab
Bagikan

Bab 1

Drrrtt-drrrtt-drrrtt-drrrtt.

"Ha-lo."

"Marigold Flora," teriak lawan bicaranya di ponsel, yang menggema di telinga wanita cantik yang berusaha mengumpulkan kesadarannya karena baru bangun tidur.

"Selamat pagi, my mommy yang paling cantik sedunia flora," sapa Marigold sambil meregangkan tubuhnya dengan malas. "Kenapa pagi-pagi sudah berisik?"

"Dasar anak kurang ajar," sembur mama Marigold kesal. "Mana janjimu untuk datang ke rumah saat akhir pekan? Ini sudah berlalu dua akhir pekan, dan hidungmu yang cantik itu tidak terlihat di rumah mama. Kamu sudah membuat mama malu, tahu!"

"Malu kenapa, ma?" balas Marigold sambil memandang langit-langit kamarnya dan tersenyum. Disana, tertempel poster berukuran besar, seorang laki-laki super ganteng dan milyader. Jika orang lain mengidolakan artis dan aktor negeri ginseng, maka Marigold sangat mengidolakan seorang CEO dengan wajah dinginnya. Pertama kali melihat wajah super tampan itu di layar televisi, Marigold langsung terpesona.

Ocehan mamanya yang panjang kali lebar plus tinggi, tidak didengarkan Marigold. Masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Karena keluhan mamanya hanya berkutat pada geng arisan yang selalu membanggakan anak, menantu, dan cucu.

Srek-srek.

Marigold bangun dari posisi berbaringnya, sambil melihat jam di nakas di sebelah ranjangnya. Alisnya terangkat kesal. Masih jam setengah enam pagi, dan mamanya sudah berisik menelponnya? Marigold kembali meregangkan otot-ototnya sebelum turun dari ranjang. Hari ini ada latihan pagi, jam sembilan di Dojo pamannya.

Dojo adalah tempat untuk latihan karate. Marigold yang berusia dua puluh tiga tahun, merupakan salah satu sensei atau yang disebut pelatih karate di Dojo. Kemampuannya cukup mumpuni di dunia karate. Beberapa kejuaraan daerah dan nasional pun telah dikantonginya semenjak remaja. Dojo milik pamannya yang baru dibuka dua tahun yang lalu ini, khusus melatih karate untuk usia anak-anak hingga remaja.

"Ma, apa mama sudah minum teh kesukaan mama pagi ini?" tanya Marigold sambil menguap dan menyiapkan ritual paginya.

Ritual pagi Marigold adalah membaca novel percintaan sambil menikmati secangkir teh bunga dandelion yang ringan, sedikit manis, serta beraroma segar bunga. Khasiat dari teh ini sangat dibutuhkan Marigold untuk memperkuat imunitas dan meningkatkan kesehatan tulang. Sangat cocok bagi Marigold yang menyukai olahraga karate.

"Persediaan green tea mama habis. Papamu yang pikun itu lupa membelikannya sewaktu pergi ke kota," omel jengkel mama Marigold.

Orang tua Marigold tinggal di sebuah desa yang permai, jauh dari keramaian kota. Selain itu, pekerjaan keduanya mendukung untuk tinggal di desa. Papa dan mama Marigold bekerja yang berhubungan dengan tanaman, yang sering dikenal sebagai ahli botani. Marigold pindah ke kota, mengikuti pamannya yang membuka Dojo baru, untuk mengisi posisi sebagai sensei.

Marigold yang mendengar keluhan mamanya yang tergila-gila dengan green tea, memutar bola matanya. Pantas. Mamanya akan uring-uringan, jika paginya belum menikmati secangkir green tea kesukaannya.

"Akan aku kirimkan green tea untuk mama hari ini juga," kata Marigold sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi teh kering dari akar dandelion. Marigold segera menghirup aroma teh dandelion yang menenangkan.

"Mama tidak butuh green tea darimu. Mama butuh menantu. ME-NAN-TU," teriak mama Marigold keras. "Kamu dengar itu, Marigold Flora?!"

"Tentu saja aku dengar, my mommy," jawab Marigold sambil menjauhkan ponsel dari telinga nya. "Suara sekeras itu, tetangga sebelah apartemen pun juga pasti mendengarnya," lanjutnya sambil menghirup teh dandelion dengan nikmat. Kemudian Marigold membawa cangkir itu dan novel yang belum selesai dibacanya ke balkon yang menghadap ke kolam bebek di taman apartemen.

"Kamu dengar apa, Marigold? Mama sudah bosan bertanya padamu, kapan kamu akan membawakan calon menantu untuk mama dan papa?"

Marigold menghela nafas lelah. "Jangan khawatir, aku pasti akan membawanya ke rumah mama."

"Kamu sudah mengatakan hal yang sama, dua minggu yang lalu. Mana.. mana buktinya? Mama menginginkan menantu sekarang, Marigold!"

"Ma, aku masih dua puluh tiga tahun. Aku masih muda, untuk apa setiap detik mama terus merecokiku dengan pernikahan?"

"Mama hanya tidak mau kamu menjadi perawan tua, Marigold. Mama tidak ingin kamu terlambat menikah, seperti mama yang baru menikah diusia empat puluh tahun. Pokoknya mama tidak mau tahu. Mama minta menantu sekarang. Titik!"

"Ma...," keluh Marigold dengan mengusap wajahnya, jengkel.

Dua minggu yang lalu, Marigold masih berstatus kekasih seorang pria bernama Nolan. Marigold sangat memuja Nolan, kekasihnya yang tampan dan keren. Bahkan semua temannya mengatakan bahwa dirinya sangat beruntung memiliki Nolan.

Namun dua minggu yang lalu, tiba-tiba Nolan hilang tanpa kabar. Marigold sudah mencarinya ke manapun, dan sosok tampan itu tetap tidak terlihat. Marigold tidak bisa bertanya kepada teman-teman Nolan, karena selama berkencan, kekasihnya itu tidak pernah sekalipun mengenalkan nya pada mereka.

"Aku belum punya pacar, ma," jawab Marigold lesu. Jawaban yang aman.

"Belum punya?! Bukannya kemarin kamu bilang sudah punya pacar dan akan mengenalkannya pada mama? Kenapa sekarang bilang tidak punya? Jangan-jangan kamu putus lagi ya," cecar mamanya tanpa jeda.

"Bisa dibilang begitu."

"Maksudmu apa, Marigold? Atau begini saja, di kelompok arisan mama ada anaknya Tante Sari. Dia.."

"No way mommy. No way. Aku bisa cari sendiri," tolak Marigold cepat. "Sial," umpatnya pelan saat teh dandelion nya tumpah ke celana piyamanya karena tersenggol tangannya. "Ma, aku.."

"Tidak ada bantahan! Jika sampai akhir tahun ini kamu belum memberikan menantu, mama akan nikahkan kamu dengan anaknya Tante Sari itu. Titik."

"Tidak mau," sergah Marigold. "Ma, akhir tahun itu tinggal satu bulan lagi, darimana aku bisa mendapatkan menantu untuk mama? Semisal aku mendapat pacar, memangnya dia mau langsung menikah denganku?"

"Mama tidak peduli. Pokoknya mama mau menantu dan cucu."

Ini lagi! Urusan menantu belum kelar, sekarang nambah urusan cucu. Pada siapa lagi, orang tuanya meminta cucu selain pada dirinya yang merupakan anak semata wayang. Marigold menghela nafas panjang. Dipandangnya dengan nanar awan hitam yang sedang menggantung di kota. Hati Marigold pun juga tidak kalah suram bila dibandingkan dengan cuaca kota yang sedang mendung itu.

"Marigold, kamu dengar tidak?"

Marigold menarik pikiran kalutnya pada suara mamanya yang menggelegar di telinga. "Aku dengar ma. Jangan khawatir, aku akan bawa menantu untukmu, ma," jawab Marigold lesu.

"Pastikan itu, Marigold," tegas mamanya. "Pokoknya mama tidak mau jadi yang orang terakhir menjadi besan dan nenek, di grup arisan."

"Siap jenderal."

Klik. Sambungan terputus.

Dengan cemberut, Marigold menegak habis teh dandelion nya yang sudah dingin. Kemudian dirinya bersandar pada pagar besi di balkon sambil menikmati angin sejuk yang menerpa wajahnya.

Tiba-tiba...

Plak.

"Astaga, apa ini?" serunya kesal sambil merenggut sebuah pamflet yang menempel tepat di wajahnya. Rupanya selebaran itu tertiup angin dan mampir ke balkon Marigold. "Pamflet apa ini?"

"Sebuah pemilihan gadis cantik yang memiliki identitas nama bunga. Pemenangnya akan menjadi kekasih dan pendamping Maximilian Alexander, seorang milyader terkenal."

Raut wajah Marigold saat membaca pamflet itu, semakin lama semakin ceria. Marigold segera berlari menuju kamarnya dan naik ke ranjangnya lalu mendongak.

"Sama, ini wajah yang sama," teriaknya girang sambil menunjuk ke arah poster miliknya yang berukuran jumbo di langit-langit kamarnya. "Milyader ku akan mengadakan pemilihan gadis," lanjutnya sambil mendekap selebaran itu dan meloncat-loncat di ranjang. "Coba kubaca sekali lagi syaratnya."

"Gadis perawan, dengan disertai surat keterangan dari laboratorium. Identitas nama bunga. Cantik," baca Marigold keras-keras sambil ber-yes ria. "Aku cantik kan? Tidak ada yang bilang aku jelek kan? Tentu saja, siapa yang berani bilang aku jelek, siap-siap berakhir di rumah sakit."

Marigold berlari lagi ke luar balkon, dimana dirinya mendapatkan tamparan kertas selebaran yang akan mengubah hidupnya. Kedua tangannya dicorongkan di depan mulutnya sambil berteriak...

"Mak, tunggu ya.. aku akan bawa menantu milyader untukmu. YES!"

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu 2
8.5
Kekaisaran Maxwell kini terancam runtuh akibat kekacauan yang diperbuat oleh anak-anak Alfons. Dendam asmara masa lalu memicu pertempuran hebat di kalangan kelompok mafia. Situasi kian menegangkan setelah Fredrick Hansen bebas, mengancam hubungan keluarga Maxwell dan Hansen berujung pada pertumpahan darah. Di tengah badai amarah dan konflik yang memanas ini, hanya kekuatan cinta sejati antara Alfons dan Ayu yang diharapkan mampu meredakan permusuhan serta menyatukan faksi-faksi tersebut.
Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, gadis yatim piatu, berhasil menjadi istri pria terkuat di kota walau tanpa rasa cinta. Tiga tahun berlalu, kabar kehamilannya justru dibalas dengan surat cerai akibat salah paham tentang kesetiaan mereka. Ketika Diana hendak melangkah pergi, suaminya malah berbalik arah dan mengakui cinta tulusnya. Kini Diana bimbang di antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia menetap demi sang calon bayi, atau memilih pergi selamanya?
Sampul Novel Kakak Ipar
9.2
Hanifah yang tidak bisa memiliki anak mendesak adik perempuannya, Nur Naila Habibah, untuk menjadi istri kedua suaminya, Raihan. Naila merasa sangat tidak pantas bersanding dengan sang dosen agama, mengingat reputasinya sebagai mahasiswi nakal yang belum berhijab. Di balik konflik ini, terungkap rahasia bahwa Naila sebenarnya adalah anak kandung Azizah, bukan adik kandung Hanifah. Akankah Naila bersedia menikahi kakak iparnya demi sang kakak?
Sampul Novel LOVE AFFAIR
8.8
Bhaga kembali ke rumah orang tua dan terpikat oleh Atma, gadis yatim piatu sederhana yang tulus merawat ayahnya. Meski terhalang status sosial, perasaan cinta tak terbendung tumbuh di antara mereka. Konflik rumit pun muncul karena Bhaga telah bertunangan, sedangkan Atma dijodohkan oleh ibu Bhaga. Terjebak hubungan terlarang, keduanya didera rasa bersalah dan tekanan norma sosial. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan melewati segala rintangan dan stigma?
Sampul Novel Takdir Yang Salah 2
9.3
Hubungan asmara Alif dan Amel terancam retak akibat bayang-bayang masa lalu. Ilham, sang mantan pacar Amel yang tidak rela diputuskan sepihak, dikuasai rasa sakit hati. Ia pun merancang niat buruk demi menghancurkan kebersamaan mereka. Kini, di tengah gempuran sabotase dan tekanan bertubi-tubi dari Ilham, kesetiaan Alif dan Amel benar-benar diuji. Sanggupkah pasangan ini mempertahankan komitmen cinta mereka agar tidak hancur begitu saja?
Sampul Novel Terjerat Pesona Sang Pembantu
8.7
Alya memutuskan merantau ke Jakarta demi mencari biaya pengobatan ibunya. Ia bekerja menggantikan posisi sang ibu sebagai asisten rumah tangga di rumah mewah milik pasangan Aris dan Lina. Namun, niat tulus Alya untuk bekerja justru menyeretnya ke dalam konflik yang sangat rumit. Di tengah kemewahan tempatnya bekerja, kehidupan sederhana gadis ini seketika berubah drastis akibat terjebak dalam pusaran masalah yang tak pernah ia duga sebelumnya.