APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan yang Terlalu Memikat

Godaan yang Terlalu Memikat

Demi merebut kembali sang putra, seorang janda beranak dua rela melakukan apa saja, termasuk memanfaatkan ketulusan pria baik hati demi tujuannya. Meski sadar tindakan manipulatif ini sangat egois, baginya naluri seorang ibu jauh lebih utama dibanding moralitas diri. Ia pun mendesak pria itu untuk membenci dan melupakan dirinya. Baginya, mengakhiri hubungan rumit ini adalah satu-satunya jalan terbaik agar mereka berdua bisa bertahan hidup.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kepanikan menyergap ke dalam diri Deshara, dia berusaha untuk menjernihkan pikirannya dan tidak memperlihatkan apa yang dia rasakan di depan pria itu. Dia tidak ingin terlihat terganggu atau lemah. Karena bila sedikit saja dia memperlihatkannya, Josep akan menjadikan itu sebagai sebuah kesempatan untuk menghancurkannya. “Berapa yang kau minta?” kata terakhir itu dia paksa keluar dari bibirnya yang kaku.

Josep tersenyum seram. “Oh, akhirnya kau bisa berpikir logis. Bagus sekali. Aku tahu kau akan cukup bijaksana dengan memilih opsi terbaik. Tenang saja selama hutangku kau bayar, Aletha tidak akan tahu yang sebenarnya.”

“Kirim jumlah yang kau minta. Akan kupenuhi segera.” Deshara berkata tegas meski dia sungguh jijik. Kebencian makin tak tertahankan kepada paman dari mendiang suaminya itu.

Bibir tebal Josep langsung membentuk sebuah senyuman licik. “Semakin lama kau memberiku uang maka jumlahnya akan semakin banyak. Kau tahu kalau hutang akan selalu berbunga jika dibiarkan begitu saja. Aku juga butuh uang untuk kebutuhan pribadiku, karena membayar hutang saja tidak cukup untuk bertahan hidup apalagi di masa masa seperti ini. Sebelum Bastien menjadi menantuku, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang. Nah sayangku, mari kita lanjutkan petualangan kita yang tertunda,” katanya lagi sambil bercumbu dengan perempuan beliannya.

Deshara keluar dari kamar hotel tersebut, putus asa dan sangat emosional. Dia tidak memperhatikan langkahnya dan mencoba untuk menerobos begitu saja. Tapi begitu hendak keluar dari lift, soerang pemuda tiba-tiba muncul dan menyabotase jalannya. Deshara menatapnya curiga. Dia yakin belum pernah melihat pemuda itu, tapi namanya hotel tentu saja selalu di penuhi oleh orang asing dan selalu ramai. Tapi yang mencolok adalah warna kulitnya yang terlalu coklat, pakaiannya juga terlihat biasa saja dan sepertinya bukan salah satu dari orang kaya. Mungkin pekerja hotel?

“Permisi kau menghalangi jalanku. Aku akan keluar di lantai dasar,” ungkap Deshara sebal, dia baru saja mendapati hal menyebalkan jadi dia tidak ingin terlibat dengan pemuda dungu yang nyaris menghilangkan kesabarannya.

Mendengar suara Deshara pemuda itu menoleh. Dia tersipu, masih menatap Deshara. Mulutnya tidak menganga tapi nyaris begitu. Deshara menebak usianya kurang dari dua puluh tahun. Saat itulah dia men-capnya sebagai si pemuda dungu.

“Maafkan aku, aku tidak melihatmu,” ujarnya bersuara tergagap dan seolah memberi hormat. “Aku tidak menyadari kehadiranmu.”

“Tapi sekarang sudah sadar ‘kan?” tanya Deshara masam.

“Iya,” jawabnya malu-malu sekaligus antusias. Sikap seperti ini membuat Deshara mengernyitkan dahi. Dia bisa membayangkan kalau pemuda itu belum pernah tidur dengan seorang wanita. Bahkan bisa jadi dia memang tidak pernah melihat wanita. “Anu, aku tersesat dan ingin makan malam. Dimana ruang makannya ya?”

Deshara memilih abai, dia tidak punya urusan dan sedang tidak ingin beramah tamah. Untungnya pintu lift terbuka dan dia berhasil keluar dari sana dan lolos dari pemuda itu. Dia melihat seorang bellboy tergsa mendekati si pemuda yang mencoba memanggil Deshara. “Sir Bastien, seharusnya Anda ada di ruang makan. Mari saya antarkan,” kata orang itu kepada si pemuda.

Saat itulah Deshara menaikan alis sambil menggumam untuk dirinya sendiri. “Bastien kah? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu.”

***

“Maaf, tapi keberadaanmu sangat mengganggu permainanku,” keluh Dena terang-terangan dan hal itu cukup menarik perhatian Bastien. Sebenarnya dia lebih sebal dan kesal karena Deshara memanggilnya secara impulsif. Pesan yang bernada penting, membuat pria itu langsung berangkat tanpa mempedulikan teriakan istrinya. Sialnya, si adik perempuan malah tidak ada ditempat. Entah kemana dia pergi. Dan sekarang kebetulan sekali ada seorang pemuda lugu yang datang entah darimana, sehingga Dena melimpahkan kekesalan yang dia miliki kepada pria yang tidak berdosa tersebut.

“Ah, maafkan saya,” sahut Bastien agak tergagap, dan terhenti di depan pintu.

“Siapa pun yang ingin kau temui, mereka sudah aku usir,” jelas Dena dengan nada yang tajam, “Aku tidak butuh penonton saat aku sedang bermain,” sambungnya lagi. Entah mengapa Bastien merasakan perasaan yang familiar. Mengingatkan dia pada sosok wanita yang dia temui di lift belum lama ini. Nuansa diantara dia dan wanita itu benar-benar nyaris mirip.

“Anda pasti pimpinan hotel ini,” kata Bastien sambil menyodorkan tangan. “Saya Bastien, Bastian Austell. Hotel ini sangat menakjubkan dan luar biasa. Terima kasih sudah memberikan kami tempat untuk tinggal sampai tahun baru.”

Dena hanya melirik pada tangan yang terulur kepadanya. “Aku bukan pimpinan hotel ini,” katanya dingin. “Usia pimpinan hotel ini baru sebelas tahun, ini bukan hotelku, jadi sudah jelas bila aku tidak mengundangmu kemari.”

Dena langsung menarik tangannya. “Maafkan saya.”

“Seperti kataku tadi, aku tidak butuh penonton.”

“Baiklah.”

Bastien yang memang pada dasarnya masih lugu dalam lingkup dunia bisnis kelas atas tidak terlalu memikirkannya, hasilnya dia malah terus mengajak bicara pada Dena. “Saya pernah pergi ke Markas Besar Angkatan Laut, sekali seumur hidup ketika saya ikut ujian untuk menjadi tentara. Tapi dibandingkan hotel ini, tempat itu rasanya bukan apa-apa. Saya sungguh terkesan dengan seberapa bagusnya presdir hotel ini mengatur segalanya. Saya berani bertaruh, tempat ini bisa dimasuk oleh kapal perang lewat pintu depan.”

“Ya, ya, ya. Tapi memang buat apa?” kata Dena datar, kini matanya justru lebih tertarik untuk mengamati pakaian yang dikenakan oleh Bastien. “Itu sepertinya bukan pakaian khusus yang dijahit oleh designer ternama,” komentarnya.

“Ya memang bukan, saya lebih suka memakai pakaian yang sederhana. Paman saya yang biasanya menyiapkan pakaian untuk saya gunakan disaat saya menghadiri acara formal dan bisnis.”

“Aku mengerti,” sahut Dena lagi dia kehilangan selera untuk menyindir pria itu karena baginya tidaklah berguna lantaran dia terlalu lugu. "Kau bukan gigolo adikku kan?”

“Maaf? Bukan. Saya tidak tahu siapa adik Anda.”

Dena menaikan sebelah alisnya, jika bukan lalu siapa dia? Pria itu kemudian menatap lekat-lekat si pemuda. “Kalau begitu, kau bilang pamanmu biasanya menyiapkan pakaian untuk kau kenakan. Lalu siapa nama pamanmu?”

“Sir Josep. Apa Anda mengenal dia?”

Dena tersenyum licik. “Oh, ya? Siapa namamu tadi?”

“Bastien. Bastien Austell.”

Dena kini menatapnya dengan serius. “Aku membaca berita tentangmu, seorang presdir yang telah lama dicari-cari,” katanya lagi dengan suara yang tampak tidak terlalu antusias.

“Benarkah?”

“Ya, kau benar-benar orang yang sangat beruntung.”

“Beruntung?” tanya Bastien bingung.

“Mewarisi seluruh kekayaan, tanpa perlu berusaha dari nol. Tentu saja,” jawab Dena sabar.

“Sebenarnya awalnya saya juga tidak percaya. Saya hanya mendapatkan surat dari seorang pengacara, yang saya pikir adalah sebuah lelucon. Tapi Kapten-ku bilang kalau itu adalah surat resmi. Ketika kami memasok barang di dermaga, saat itulah Paman Josep dan Bibi Anne sudah menantiku.”

“Oh ya tentu saja,” gumam Dena. Separuh perhatiannya kini sudah teralihkan kembali kepada meja biliar, dia sigap mengatur satu persatu bola-bola biliar tersebut. “Semua orang pasti menyayangi keponakannya yang kaya raya. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa kau tinggal di hotel alih-alih tinggal di kediamanmu sendiri?” kata Dena sambil melapisi bagian stik bliar agar sodokannya tidak meleset.

“Paman Josep bilang lebih baik bila—”

“Menunggu hingga awal tahun,” sambung Dena sambil tersenyum.

“Benar,” kata Bastien. “Jadi dia merekomendasikan untuk tingga hotel untuk sementara waktu. Bukankah dia sangat baik, mengingat kami baru bertemu sekali tapi dia mau merepotkan diri membereskan banyak hal yang tidak aku mengerti?”

Dena merasa kini cara bicara bocah itu menjadi sedikit lebih santai, ditandai dengan diubahnya kata ‘saya’ menjadi ‘aku’ apakah sedikit keramahan membuatnya langsung menurunkan kewaspadaan? Dena rasa celah ini bisa dia manfaatkan, mengingat adiknya sempat bertanya pada dia dan mengajaknya bertemu malam-malam begini di hotelnya.

“Ya, Sir Josep memang sangat baik hati,” sahut Dena dengan nada yang agak mencemooh tapi sepertinya itu tidak cukup disadari oleh Bastien.

“Hidupku jauh lebih sederhana saat aku berada diatas kapal laut, hanya perlu memenuhi tanggung jawab saja sesuai dengan yang diperintahkan. Sedangkan disini aku tidak tahu apa tugasku, dan kapan saatnya aku mulai bekerja. Tapi Paman bilang aku perlu menghadiri konferensi pers dan mengikuti beberapa rapat perusahaan.”

Dena menunduk untuk memprediksi sodokannya di posisi yang setara dengan mata. “Cukup bayangkan orang-orang itu tidak berpakaian. Kau akan baik-baik saja.”

“Jangan goda aku, sebenarnya tempat ini sangat baru dan aku cukup kesulitan menghadapinya.”

“Oh ya? Kalau begitu kau akan menjadi pemuda yang paling kesepian. Kau pasti sudah bertemu banyak gadis yang cantik selama disini. Itu cukup untuk menggoyahkan imanmu kan? di laut kau tidak akan bisa menemukan perempuan segar seperti di darat.”

Bastien tersipu. “Pamanku memperingati agar aku tidak boleh mudah tergoda dengan para wanita,” katanya, “tapi sampai sekarang, aku baru bertemu dua sepupuku dan seorang wanita yang menawan.”

“Aku paham,” kata Dena yang sebenarnya tidak begitu peduli pada kalimat akhir yang diucapkan pemuda itu. “Mungkin ini agak penting penting bagimu, tapi aku dengar rumor bahwa sepupumu sudah bertunangan. Kalau pun benar berarti pilihanmu akan jatuh pada si bungsu. Gadis itu cukup menarik perhatian meskipun memang masih terlalu muda untuk menikah. Bagaimana menurut pendapat pribadimu?”

Bastien memandangnya dengan ekspresi bingung. “Maksudnya apa?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berondong Simpanan Istriku
9.3
Keharmonisan sebuah pernikahan mendadak goyah akibat isu yang sangat sensitif. Kisah ini menyoroti konflik batin seorang suami yang tak mampu memenuhi kebutuhan batin sang istri. Terjebak dalam kehampaan emosi dan hasrat yang terabaikan, sang istri memilih jalan pintas yang mengejutkan demi mencari kepuasan. Drama modern ini menyajikan ketegangan mendalam tentang arti kesetiaan, rahasia gelap, serta pengorbanan demi sebuah kebahagiaan.
Sampul Novel Nafkah Batin Yang Tak Tertunaikan
9.4
Bagi Soraya, sakralnya pernikahan hanya untuk sekali seumur hidup. Sayang, mahligai rumah tangganya kini terancam runtuh akibat rahasia besar yang disembunyikan sang suami. Kejujuran mereka pun diuji saat berbagai keanehan mulai bermunculan satu demi satu. Misteri gelap apa yang sebenarnya ditutupi oleh Kang Yana dari istrinya? Akankah komitmen dan kesetiaan Soraya mampu bertahan menghadapi badai ketidakpastian yang menerpa hubungan mereka?
Sampul Novel Obsesi stalker gilaku
8.8
Dahulu ditolak dan direndahkan, kini pria misterius dari masa lalu kembali demi Arabella Carol. Bertahun-tahun mengintai Arabella secara diam-diam, sang penguntit kini menjeratnya dalam pusaran obsesi serta balas dendam yang pekat. Di tengah ancaman dunia gelap yang penuh misteri, Arabella harus berjuang bertahan hidup. Akankah ia takluk dan jatuh cinta pada pria yang seharusnya paling ia benci? Kisah romansa menegangkan yang penuh ketakutan dan cinta berbahaya.
Sampul Novel Pernikahannya, Makam Rahasianya
8.1
Maya Prameswari menjalani pernikahan toxic dengan miliarder Bima Wijaya, yang menuduhnya sebagai wanita matre tanpa sadar bahwa Maya adalah penyelamat hidupnya. Kebencian Bima kian memuncak akibat hasutan jahat Sarah Hartono. Demi menuntut keadilan bagi sang ibu dan melindungi Bima dari ancaman musuh rahasia, Maya nekat memalsukan kematiannya. Namun, kepergian Maya justru mendatangkan duka mendalam serta bahaya baru bagi Bima yang masih tertipu kebohongan.
Sampul Novel SELAKSA KISAH ANAK MANUSIA
8.7
Temukan kumpulan cerita pendek pilihan dalam antologi ini yang siap mengisi waktu luang Anda. Menyajikan ragam kisah cinta modern yang sarat makna, tiap untaian kisahnya menyuguhkan bacaan ringan namun tetap mampu menyentuh perasaan. Karya ini menjadi rekomendasi bahan bacaan yang pas untuk melepas lelah, sembari menikmati liku-liku hubungan asmara manusia yang disajikan secara indah sekaligus penuh emosi.
Sampul Novel Setelah Ditinggalkan, Aku Menjadi Spesialis Andrologi
8.4
Kehidupan Leanna berubah sejak Paman Nate memberi rumah dan menumbuhkan rasa cinta di hatinya. Namun, Nate membuangnya ke luar negeri demi sebuah pernikahan. Untuk membalas dendam, Leanna pulang sebagai pakar andrologi sukses. Nate yang melajang lalu menantang keahliannya di ranjang. Meski digoda dan diragukan profesionalismenya, Leanna dengan sinis mengejek masalah kejantanan pamannya itu tanpa sudi menjadikannya bahan percobaan.