APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Sang Mantan

Godaan Sang Mantan

Tujuh tahun setelah ditinggalkan Willem Roberto, Marina masih dirundung luka mendalam. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali hingga ia kembali terjerat pesona sang mantan. Meski dibayangi trauma masa lalu, kenangan indah menyeret keduanya dalam momen intim yang tak terhindarkan di hotel. Kini Marina didera kebimbangan besar: haruskah ia menyerah pada kerinduan hatinya, atau bangkit demi kebahagiaan mandiri di tengah ketidakpastian hubungan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

***

Saat meeting bersama kliennya tadi, Marina sulit untuk fokus karena pikirannya terus bergelut tentang Luke dan Vamela. Ketidaksengajaannya bertemu dengan mereka di restoran yang sama membuat Marina curiga mengenai kedekatan mereka.

Apalagi ketika Marina melihat keduanya saling bertatapan dan melemparkan senyum, hati Marina semakin gelisah. 'Rasanya tidak mungkin mereka membahas pekerjaan dengan tawa lepas seperti itu,' bisik Marina dalam hatinya ketika mengingat kejadian tadi.

Pikiran Marina menjadi kacau karena prasangka buruknya terhadap Luke dan Vamela. Namun, untungnya Marina dapat bersikap profesional saat meeting dengan klien sehingga pertemuan berjalan lancar seperti yang diharapkan oleh kedua belah pihak.

Setelah selesai meeting, Marina langsung meninggalkan restoran. Dia tidak menemukan keberadaan Luke dan Vamela di sana, yakin bahwa mereka pasti sudah pergi.

Kembali ke kantor karena jarum jam baru menunjukkan pukul 2 siang saat Marina meninggalkan restoran. Meskipun sebenarnya Marina sudah tidak bersemangat lagi, dia memutuskan untuk melanjutkan sisa pekerjaannya dengan profesionalisme. Meski pikirannya melayang ke kecurigaan tentang Luke dan Vamela, Marina tetap fokus pada tugasnya serta tanggung jawabnya sebagai Manajer keuangan (Chief Financial Officer/CFO) di perusahaan keluarganya.

***

Beberapa saat kemudian, di Addison Corporation...

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuat Marina terlonjak kaget di kursi kerjanya. Sebelum mengizinkan masuk, Marina mengangkat pandangannya ke arah pintu.

"Masuk," ucapnya memberi perintah kepada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.

Pintu dengan segera terbuka lebar. Marina melihat sosok kakak keduanya, Axel, memasuki ruang kerjanya.

"Bagaimana hasil meeting tadi?" tanya Axel setelah duduk di salah satu kursi di depan meja kerja Marina.

Marina menatap sejenak kakaknya sebelum meraih map pertama di atas tumpukan map lain di samping laptop. Ia menyodorkan map tersebut pada Axel.

"Pertemuan berjalan lancar, hasilnya sesuai harapan kita. Semuanya sudah terdokumentasi di sini, kamu tinggal memeriksanya saja," jawab Marina dengan tegas.

Axel melirik Marina sebentar sebelum membuka map tersebut. Setelah membaca dengan seksama, ia melipat berkas tersebut dengan rapi. "Baiklah, akan aku periksa nanti," gumam Axel.

Marina diam, tidak memberikan respon apapun. Axel kemudian menatap fokus pada adiknya. "Aku dan Clarissa berangkat nanti malam. Kamu bagaimana? Tetap pada keputusanmu?" tanya Axel.

Marina menghela napas pendek, "Ya," jawabnya singkat.

"Nicolas dan Nicola pasti sangat kecewa," gumam Axel sambil bersiap untuk berdiri dari kursinya.

"Aku akan menghubungi mereka nanti. Aku akan kirim hadiah terbaik untuk mereka berdua," ujar Marina, membuat gerakan Axel terhenti dan menatap serius padanya.

"Mereka tidak pernah bahagia menerima itu semua. Mereka hanya ingin bibinya ikut merayakan ulang tahunnya, Marina," ungkap Axel.

"Maafkan aku... aku tidak bisa ikut, Xel" Marina bergumam pelan, membuat Axel mendesah kasar.

Pria beranak tiga itu langsung berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruang kerja Marina sambil membawa berkas yang diserahkan sebelumnya oleh wanita itu.

Marina menatap nanar pintu ruangan yang ditutup agak kasar oleh Axel tadi. Dia paham bahwa pria itu pasti kesal dan kecewa padanya karena, lagi-lagi, dia menolak untuk ikut merayakan pesta ulang tahun keponakannya yang dilangsungkan di Wellington.

Selama tiga tahun berturut-turut, keponakan kembar Marina merayakan ulang tahun mereka di Wellington, kota asal kakak iparnya, Clarissa. Namun, Marina tidak pernah ikut merayakan pesta tersebut karena alasan tertentu.

Marina menolak pergi ke sana karena dia tidak ingin bertemu dengan seseorang yang telah mematahkan hatinya dan menghancurkan harga dirinya. Pria itu adalah Willem Roberto, yang masih merupakan keluarga dekat dengan kakak iparnya.

Enam tahun yang lalu, Marina menjalin hubungan asmara pertamanya dengan Willem. Mereka saling mencintai hingga Marina memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Willem. 

Namun, Willem tiba-tiba meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh Axel, kakaknya.

Keputusan Marina untuk tidak bertemu dengan Willem di acara ulang tahun keponakannya merupakan langkah untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang mungkin kembali muncul. 

Kenangan buruk dari hubungan masa lalunya masih membekas dalam hati Marina, membuatnya enggan untuk menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman.

***

Flashback 6 tahun yang lalu...

"Akhhh! Sakit, Will..." rintih seorang wanita muda berusia 20 tahun. Tubuh polosnya diliputi oleh keringat, sementara di atasnya seorang lelaki berusia 23 tahun menatapnya dengan tatapan sayu penuh gairah.

"Tahan sebentar... sedikit lagi masuk," bisik sang lelaki. Dia adalah Willem Roberto, dan sang kekasih Marina. 

Keduanya baru satu bulan ini resmi berpacaran setelah sekian lama saling memendam perasaan.

"Sakit... rasanya perih, Will. Aku tidak kuat," rintih Marina sambil mencengkram dengan kuat bahu kekar lelaki gagah itu.

Dengan napas terengah-engah, Willem menggeleng pelan sebelum membenamkan wajah di leher Marina. "Kau merintih seperti itu membuat aku tidak tahan, kau tahu?" bisiknya dengan suara serak.

"Batalkan saja ya, sakit sekali rasanya, Will. Sungguh, aku tidak berbohong," lirih Marina dengan suara bergetar. Selaput darah keperawanannya belum berhasil ditembus oleh Willem sejak tadi. Ditambah lagi, ukuran keperkasaan Willem yang sangat besar membuat Marina merasa tertekan.

Willem mengangkat wajah Marina dan menopang bobot tubuhnya menggunakan satu tangan. Tangan yang bebas diarahkan ke dada Marina, meraih payudara ranum sang gadis kemudian meremasnya dengan lembut.

"Uhhh..." desah Marina tidak tahan. Di tengah rasa perih pada area Miss V-nya, tubuhnya juga merinding oleh remasan lembut Willem di salah satu payudaranya.

Willem mengamati wajah sayu Marina dan menggoda gadis itu, memanfaatkan kesempatan ketika Marina terlena oleh sentuhan lembutnya. Willem mendorong pinggulnya lalu menghentak kuat hingga seluruh bagian keperkasaannya tertelan oleh inti tubuh Marina yang sempit dan hangat.

"Aahhhh..!" Desah Marina bergetar sambil refleks mencakar punggung mulus Willem dengan kuku panjangnya. Tidak peduli jika lelaki itu terluka oleh aksinya. 

Wajah Marina mendongak ke langit-langit, kedua matanya tertutup rapat, ekspresinya jelas menunjukkan rasa sakit yang teramat sangat.

"Arggh, fvck!" Desah Willem sambil mengumpat merasakan tekanan yang kuat dari otot-otot intim Marina.

Willem merendahkan punggungnya dan kembali membenamkan wajah di leher Marina. Ia berbisik di sisi telinga gadis itu, "Terima kasih," kemudian mengecup lembut telinga Marina sebelum turun ke leher dan menghisap kulit putih mulus dengan kuat.

Sementara tangan lebarnya menangkup penuh payudara Marina, Willem meremas dengan lembut namun sedikit kasar, lalu memelintir putingnya.

"Ughh..." Marina melenguh sambil mencengkram pergelangan tangan Willem. "Sakit, Will."

"Kamu mendesah barusan," bisik Willem.

Marina menggigit bibirnya menahan senyum yang hendak terbit. Willem segera menegakkan punggungnya, menatap Marina dengan penuh cinta di bawah kendalinya.

"Tapi sakit, jangan terlalu keras... ahhh," ucap Marina. Belum selesai ia berucap, tiba-tiba ia mendesah saat Willem menghentakkan pinggul dengan lembut.

"Ahhh..."

"Sakit?" Tanya Willem sambil memperhatikan raut wajah Marina. Pinggulnya tetap bergoyang, sementara tangannya meremas lembut payudara Marina.

Marina mengangguk lemah. "Perih sedikit," jawabnya.

Willem menurunkan wajahnya lebih dekat, sementara tangan yang meninggalkan payudara Marina menyusup ke balik punggung mulus sang gadis. "Nanti sakitnya akan hilang, bersabarlah sebentar," bisik Willem di depan wajah Marina.

Wajah mereka sangat dekat, deru napas segar dan wangi Willem menerpa wajah mulus Marina.

"Kamu sudah pernah melakukannya?" Tanya Marina.

Willem menggeleng pelan. "Pertama kali sama kamu," jawabnya dengan jujur.

"Terus dari mana kamu tahu kalau sakitnya hanya sebentar?"

"Hanya mendengar dari orang-orang," jawab Willem.

Marina tersenyum di tengah wajah sayunya. "Aku sulit percaya," ucapnya dengan suara pelan. Tubuh polosnya tersentak lembut oleh gerakan pinggul Willem.

"Aku tidak berbohong. Hanya denganmu aku pernah berbuat sejauh ini," jelaskan Willem.

"Kamu pernah ... uhhh, pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain sebelum sama aku?" Tanya Marina.

"Tidak pernah, karena sejak dulu aku hanya tertarik padamu tapi... aku tidak berani mengungkapkannya," jawab Willem.

"Kenapa? Kenapa kamu tidak berani?" Marina terus melayangkan pertanyaan. Selain dia penasaran dengan jawaban lelaki itu, dia juga suka mendengar suara serak dan berat Willem. Membuatnya berdebar dan ... kian berkedut. Basah dibawah sana.

"Takut kamu menolak. Arghh, fvck!" Desah Willem setelah menjawab, menghentak pinggul agak kasar, membuat Marina refleks mencengkram bahu kekar Willem.

"Uuhhh, Will ... pelan-pelan," pintanya.

"Maafkan aku ... Aahh, Marina! Tubuhmu sangat nikmat. Nikmat sekali. Fvck!" Willem menambah ritme gerakan pinggul.

"Hhmmppttt..." desah Marina saat bibirnya dikulum oleh Willem. Lelaki itu melumat bibirnya atas bawah bergantian.

"Buka paha mu, Baby," bisik Willem di tengah ciuman bibirnya dengan Marina.

Seolah terhipnotis, gadis itu menurut begitu saja dengan melebarkan kedua paha serta kakinya yang ditekuk. Pinggulnya terangkat, membuat Willem semakin mudah menghujam liang kenikmatannya.

"Aahh... aahhh... aahhh, Willem... akhhhh yes!" Tubuhnya bergetar lalu menggelinjang.

Willem mengerang nikmat setelah melepaskan bibir ranum Marina dari kulumannya. Ia merasakan batang keperkasaannya menghangat oleh cairan orgasme sang kekasih.

"Nikmat?" Tanya Willem di sela-sela deru napas memburu.

Marina mengangguk, "Hem... aahhh, aahhh, nikmat, Will."

"Mau lagi?"

Marina mengangguk malu-malu. Detik berikutnya, Willem menambah ritme gerakan pinggul lebih cepat dari sebelumnya, membuat Marina sontak memekik nikmat.

"Sshhh aahhh... Will, I love you..." bisik Marina sambil memandang penuh cinta wajah tampan sang kekasih. 

Menelan ludah dengan kasar, Willem membalas dengan dada berdebar, "I love you more, Baby! Aarghh Marina!"

Desahan dan erangan penuh kenikmatan pasangan muda itu terus menggema di udara, memenuhi kamar utama apartemen pribadi milik Willem. Mereka bercinta dengan perasaan menggebu-gebu, saling memuaskan hingga Marina terkulai lemas.

***

Beberapa hari kemudian, setelah percintaan panas Willem dan Marina di apartemen kemarin, pasangan muda itu tidak pernah melakukannya lagi. Sebab setelah itu, tiba-tiba Willem mendapat kabar kurang mengenakan tentang sepupunya Clarissa.

Willem pergi ke Los Angeles karena Clarissa meminta bantuannya. Di sisi lain, Willem tidak memberitahu Marina mengenai kepergiannya.

Rumah tangga Clarissa bermasalah pada saat itu. Wanita itu dikhianati oleh suaminya, Axel, yang tidak lain adalah kakak kandung Marina. Clarissa meminta bantuan Willem untuk membawanya pergi dari rumah.

Setelah mengetahui pengkhianatan Axel terhadap sepupunya, Willem murka terhadap pria itu. Dengan tindakan gegabah, Willem memutuskan hubungan dengan Marina melalui telepon.

"Maaf, Marina, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," kata Willem pada Marina lewat sambungan telepon.

"Kenapa? Kenapa, Will? Apakah karena Axel menyakiti Clarissa, makanya kamu memutuskan hubungan denganku?"

"Aku yakin kamu akan menemukan pria yang lebih baik. Lupakan aku, lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita," ujar Willem dengan kejamnya.

"Setelah kamu mendapatkan semuanya? Kamu tega berkata seperti itu padaku setelah kamu mendapatkan semuanya dariku, Willem?"

"Maafkan aku, Marina."

"Kamu... kamu sungguh jahat. Kamu... adalah pria paling jahat yang pernah aku temui, Willem. Aku benci sama kamu!"

Tutt... tutt... tuttt...

"Will...? Willem?! WILLEM..!" seru Marina setelah panggilan berakhir. Willem memutuskan panggilan sepihak.

Gadis itu merunduk ke lantai, meratap dalam tangis pilu. Marina meremas dadanya, menepuk keras berharap dapat mengusir rasa sesak.

"Kamu jahat, Willem... kamu..." gadis itu sesenggukan. "Aku benci sama kamu. Aku benci..."

Hancur sudah semua mimpi indah Marina bersama lelaki itu. Harga dirinya diinjak habis-habisan oleh lelaki yang sangat ia cintai.

Setelah Willem mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya, lelaki itu kini mencampakkan dirinya. Willem meninggalkan Marina hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh kakaknya, Axel.

"Aku tidak tahu apa-apa, Will... kenapa kamu melibatkan aku?" lirih Marina di sela-sela tangis pilu.

Flashback berakhir...

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Model terkenal Claritta Indriana terjebak pernikahan pelik bersama Aslan Teryeka, sang pewaris Andromeda Group. Walau menyatakan cinta, Aslan justru bersikap posesif, bertindak semena-mena, bahkan mengkhianatinya dengan sang sekretaris. Di bawah bayang-bayang kebencian dan pengkhianatan suaminya, Claritta menghadapi pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan sebagai boneka tak berdaya dalam rumah tangga yang hancur, atau melarikan diri selamanya demi kebebasan?
Sampul Novel Gairah Tuan Besar
8.2
Zain, pengusaha sukses yang tampak sempurna, menyimpan trauma mendalam. Sejak kecelakaan tragis akibat pengkhianatan Bella lima tahun lalu, ia mengalami disfungsi seksual. Kondisi ini dimanfaatkan sang istri untuk berselingkuh dan menginjak harga dirinya. Namun, gairah Zain yang padam mendadak bangkit setelah bertemu Yvone di kelab malam. Konflik rumit pun terjadi karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tiri Zain sendiri.
Sampul Novel Istri Lima Belas Ribu
8.6
Nia baru menyadari bahwa suaminya, Agam, telah membohonginya perihal gaji selama bertahun-tahun. Akibat nafkah yang sangat minim, Nia harus membanting tulang demi mencukupi kebutuhan harian keluarga. Ketika kebohongan tersebut terungkap lewat buku rekening yang ditemukannya, Agam justru melarikan diri ke rumah orang tuanya tanpa meminta maaf. Bagi Agam, rida orang tua jauh lebih penting daripada menafkahi anak istri. Kini, Nia mulai mendapati berbagai fakta mengejutkan lain yang selama ini disembunyikan darinya.
Sampul Novel LEBIH BAIK MUNDUR
8.3
Kehidupan Melani hancur setelah mendapati Robin, sang kekasih, ternyata telah menikahi wanita lain secara rahasia. Kendati telah berkhianat, Robin menolak melepasnya. Saat berusaha menjauh dari mantan pacarnya yang obsesif itu, Melani justru bertemu Yudha, dosen tampan yang bersikap sangat dingin. Kini ia berada di persimpangan jalan. Haruskah ia kembali ke pelukan Robin, atau berjuang mendekati Yudha yang kaku demi menyembuhkan lukanya?
Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan
7.9
Cakra menjalani masa kecil yang berat bersama paman dan bibinya. Kehidupannya semakin rumit ketika sang paman terlilit utang besar kepada sebuah keluarga terpandang. Demi melunasi kewajiban tersebut, Cakra terpaksa menjadi menantu di keluarga kaya itu melalui pernikahan kontrak. Alih-alih hidup tenang, perbedaan status sosial yang jurang justru membuat Cakra harus menerima kebencian, sikap dingin, serta penolakan ekstrem dari mertua barunya.
Sampul Novel Meski Lupa Ingatan, Hati Tak Bisa Bohong
7.9
Demi mendampingi Yuki, cinta masa kecilnya yang divonis sisa hidup satu bulan, seorang ilmuwan otak bernama Oscar tega mencekoki tunangannya dengan obat penghapus ingatan eksperimental. Selama sebulan masa amnesia itu, Oscar menikahi Yuki dan merajut kenangan indah bersamanya. Namun, saat waktu kesepakatan usai dan Yuki telah tiada, efek obat tersebut ternyata menjadi permanen. Sang tunangan melupakan Oscar untuk selamanya, meninggalkan sang ilmuwan dalam penyesalan yang mendalam.