APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah

Godaan Liar Sang Ustazah

Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dengan hati-hati, Rizal membimbing Susan berdiri. Tangannya menyangga punggung perempuan itu, sementara sebelah tangan Susan bertumpu di lengan kekar Rizal. Dan sebelahnya lagi menahan handuknya agar jangan sampai melorot. Dia sama sekali tidak mengenakan dalaman, karena memang seperti itu jika akan mandi.

Langkah mereka pelan dan pendek-pendek—Susan meringis tiap kali menapakkan kaki kanannya yang terasa ngilu.

“Pelan-pelan aja, Bu, nggak usah dipaksa,” bisik Rizal, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman tertahan.

Susan hanya mengangguk kecil, napasnya sesekali tercekat menahan rasa sakit, juga rasa malu. Handuk yang ia pegang kini makin terasa ringkih, seolah bisa terlepas kapan saja bila lengah. Tapi Rizal tampak menjaga matanya, tak berani menatap lebih dari yang diperlukan.

Begitu sampai di dapur, Rizal membantu Susan duduk di bangku kayu panjang dekat dinding. Ia lalu jongkok di depannya, memastikan kaki Susan dalam posisi nyaman.

“Sini saya lihat, Bu... bagian mana yang sakit?”

“Enggak usah, Zal... nanti juga sembuh sendiri...” Susan menggeleng pelan, pipinya memerah, matanya menunduk.

Namun Rizal tetap diam di situ, sejenak tertegun. Matanya menatap tangan Susan yang erat memegangi handuk, wajahnya yang berkeringat, dan helaian anak rambut yang menempel di pelipisnya. Seketika suasana terasa sunyi, hanya suara angin sore yang menyusup lewat celah dinding dapur yang menemani.

“Maaf ya, Bu… saya nggak sengaja,” ucap Rizal lirih.

Susan mengangguk lagi, pelan. Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa hangat, walau nyeri masih terasa di kakinya. Di balik ketidaknyamanan siang itu, ada sesuatu yang lembut dan asing menyelinap. Entah perhatian, atau mungkin... hasrat birahi yang sejak tadi belum terlampiaskan.

“Pak Ustaz belum pulang, Bu?” tanya Rizal hati-hati

“Belum, mungkin sebentar lagi. Anak-anak juga lagi main di rumah Ustazah Aida.”

“Beneran ibu gak sakit?” Rizal kembali memastikan.

“Sakiit banget, Zal,” jawab Susan sambil meringis.

Mata Rizal kembali menatap ke bawah, ia mendapati sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rambut lebat terselip begitu indah. Berulang kali, remaja berusia setahun lebih tua dari Hafiz itu menelan ludah dan menahan gejolak birahi di dada dan di balik kain sarung yang dikenakannya.

“Biar saya bantu. Ibu istriahat di kamar aja, ya,” ujar Rizal.

Susan mengangguk dan Randan kembali membantu Susan berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya Susan merasa sangat risih, namun bagaimana lagi, karena dia merasakan kaki kanannya sangat sakit. Kebetulan tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong.

Setibanya di kamar Susan duduk di pinggir ranjang dengan masih berkemben handuknya.

“Sepertinya kaki ibu keseleo, biar saya periksa dulu,” ucap Rizal datar sambil berusaha mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.

“Aduh!” ringis Susan, ketika Rizal menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Dan!” pinta Susan sembari terus meringis menahan sakit di kakinya.

Tangan Randan mulai mengusap-usap kaki kanan Susan beberapa lama sampai Susan merasa sedikit lebih baik. Lantas Rizal menarik sedikit kaki Susan, memperbaiki posisi uratnya dengan gerakan yang agak cepat dan menyakitkan.

“Auuww… Sakiiiit, Zal!” jerit Susan.

Telapak tangan Rizal naik ke atas, ke bagian belakang lutut Susan. Rasa geli yang dirasakan Susan sedikit mengurangi rasa sakitnya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan gairah dalam dirinya, apa lagi ketika telapak tangan Rizal naik menuju pahanya dan sekilas dia melihat gunudkan besar di balik kain sarung Rizal. Susan bahkan menduga jika Rizal tidak memakai celana dalam.

Rizal memijit kaki Susan dengan pelan, menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan cara itu memang sangat berhasil membangkitkan birahi Susan yang memang selalu menggebu-gebu.

“Kalau pake minyak gimana, Bu,” usal Rizal.

“Pake handbody aja, Zal.”

Rizal membalikan wajahnya lalu mengambil botol handbody yang berada tepat di belakangnya, di meja rias. Lalu kembali menghadap Saanti dan matanya nanar menatap sepasang payudara Susan di balik handuk yang naik turun mengikuti irama nafasnya. Rizal berhayal bisa meremas dan menghisap putingnya.

Menyadari tatapan Rizal tak biasa, Susan jadi salah tingkah. Putingnya terasa makin keras dan area kewanitaannya pun mulai berdenyut-denyut.

Rizal menaburkan lotion pada kedua telapak tangannya.

“Maaf ya, Bu,” ucapnya sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah pergelangan dan betis Susan dengan sedikit mengangkat kaki itu.

“Ough,” desah lembut Susan tak terelakan lagi.

Rizal tersenyum tipis, ia tahu kalau ibu tiri temannya ini tengah dilanda sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, sambil terus memijit lembut paha belakang Susan.

“Eng-eng-enggak terlalu,” jawab Susan terbata, wajahnya mulai bersemu merah karena menahan malu juga birahi.

Rizal kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Susan. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Selama itu juga Susan sangat tersiksa karena gairahnya kian menggebu-gebu menuntut penuntasannya.

“Masih mau dilanjut pijatnya, Bu?” tanya Rizal memastikan lagi.

Karena sudah kepalang tanggung, Susan mengangguk memberi izin. Masih ada sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Susan memejamkan matanya. Rizal yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan, namun juga ngos-ngosan karena jembut di selangkangan Susan makin terlihat jelas.

“Tahan ya, Bu. Ini hanya sebentar,” bisik Rizal.

Setelah merasa cukup memijat di bagian belakang lutut, jemari Rizal naik sedikit ke atas menyingkap ujung handuk yang dikenakan Susan.

“Tahan sedikit ya, Bu!” Rizal kembali berucap.

Susan menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Rizal memijit bagian belakang pahanya, Rasa nikmat dan geli semakin menjadi-jadi membuat birahinya nendang hingga ke ubun-ubun.

Bayangan Hafiz yang sedang ngocok di kamar mandi, kembali memenuhi isi kepalanya. Tubuh Rizal memang lebih kecil, tapi bisa saja senjata andalannya sama besarnya, pikir dia.

Napas Susan mulai tersengal, pikirannya makin berkecamuk tidak fokus. Telapak tangan Rizal makin naik ke atas, memijit bagian belakang pahanya.

“Aduh, aah…” Susan kembali mendesah tanpa sadar.

“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, pura-pura khawatir.

Susan mengangguk lemah. Ia merasa sangat malu kalau sampai Rizal tahu dirinya sedang diamuk gelombang birahi. Sentuhan Rizal semakin naik ke atas, menyingkap lebih banyak handuk yang ia kenakan hingga sebatas pahanya. Susan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia.

Hatinya mulai merasa bimbang. Sentuhan Rizal terasa sangat nikmat, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi masih tersisa rasa malu jika harus memulai.

Sebagai seorang santri dan juga teman dekat Hafiz, selama ini Rizal senantiasa bersikap hormat pada Susan juga Ustaz Ustaz Hasbi. Dia tidak pernah berani kurang ajar kepada siapapun, atau bahkan hanya dengan tatapan nakal. Susan sangat berpengalaman dalam membedakan tatapan lelaki yang ikhlas atau penuh nafsu.

“Maaf Bu, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih ke atas.” Rizal meminta izin, dan Susan menganguk tak mampu menolaknya. Geli dan nikmat itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tak dapat si Hafiz, Rizal pun jadi, begitu pikirnya.

Tangan Rizal menyibak handuk yang dikenakan Susan hingga berada di atas paha. Sementara tangannya berada di balik handuk. Jemari kasar Rizal memijit dan membelai paha bagian dalamnya, hingga tubuh Susan mulia sedikit gemetar.

Dengan satu dorongan, tangan Rizal mulai masuk lebih dalam mendekati selangkangan Susan, hingga handuk yang dikenakannya tertarik makin ke atas bahkan mulai dengan bebas memperlihatkan belahan kemaluan yang dihiasi bulu-bulu indah. Perlahan-lahan Susan membuka pahanya seolah memberi jalan pada tangan Rizal untuk lebih dekat lagi.

“Sakit gak, Bu?” tanya Rizal sok polos.

Susan mengangguk seraya menahan gejolaknya.

Susan mengangkat wajahnya menatap Rizal yang sedang menatapnya nanar penuh gairah. Zakunnya begerak-gerak menelan air liurnya. Dengan sedikit kesadaran Susan berpura-pura menarik ke bawah ujung handuknya, tapi tidak menyingkirkan tangan Rizal yang nakal bermain di balik handuk itu.

‘Ternyata nakal juga kamu, Rizal,’ gumam Susan dalam hati.

Aksi Rizal semakin berani, dua jemarinya bersamaan menyelinap masuk ke celah kewanitaan Susan yang sudah makin basah. Mata Susan membeliak menatap Rizal tak percaya, tapi dengan tenang Rizal malah tersenyum tipis.

Sekuat tenaga Susan menahan gejolak itu, dia masih belum mau mengakui jika dirinya sangat berharap Rizal membuka kain sarungnya dan memperlihatkan apa yang ada di selangkangannya.

Namun tiba-tiba Rizal menarik tangannya.

“Sudah selesai ya, Bu Ustazah!” ujarnya tenang.

“Iya, terima kasih, Dan.” Jawab Susan lirih.

“Sama-sama. Saya permisi dulu, Bu. Sebentar lagi saya juga mau berangkat lagi ke pesantren, lagian takut Pak Ustaz nanti jadi fitnah.” Rizal berpamitan.

Susan hanya mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Rizal berpamitan. Padahal sedikit lagi dia akan mencampai orgasmenya…. Kini hanya menggantung.

Hasrat Susan untuk menikmati daun muda pun harus tertunda kembali.

“Sialan!” makinya dalam hati.

Siapa sebenarnya Ustazah Susan?

Susan Nuraeni, 31 tahun, kini dikenal sebagai ‘Ustazah Susan’ di lingkungannya. Sebutan yang lahir karena status pernikahannya, bukan karena kedalaman ilmu agamanya. Ia bukan lulusan pesantren, tak hafal banyak ayat atau hadits. Hanya memang pakaiannya selalu tertutup rapi. Terlebih lagi setelah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ustaz Hasbi. Seorang guru agama dan penceramah yang sederhana.

Sejak dulu Susan belajar cepat, bukan dari kitab, tapi dari pergaulan dan kebiasaan di lingkarannya. Kapan harus menundukkan pandangan, menyelipkan “Masya Allah”, atau diam untuk terlihat shalihah. Peran itu ia lakoni laksana panggung sandiwara yang menutupi siapa dirinya yang sejati. Dalam beberapa tahun ini Susan sukses bertranformasi.

Susan tak jahat, hanya belum kuat. Ilmu agamanya masih dangkal, keteguhan imannya masih setipis ari dan hatinya masih mudah tergoda oleh bayang-bayang masa lalunya yang terasa kelam. Tapi status barunya sebagai istri Ustaz, memaksanya tetap berdiri sebagai wanita shalihah, seolah benar-benar telah hijrah. Bersama Ustaz Hasbi dia telah dikaruniai seorang anak berusia 6 tahun.

Namun, di balik pakaian syar’I, sikap lemah lembut dan ucapan ramah nan santun pada semua tetangganya, ada sisi lain yang tak diduga oleh semua orang yang dengan mudahnya memanggilnya ‘Ibu Ustazah’ hanya karena pakaian dan menyandang status sebagai istri seorang guru agama alias Ustaz.

Pada awalnya Susan merasa risih dengan julukan tersebut namun entah mengapa, lama-lama dia justru merasa senang. Merasa lebih seksi dan bisa berkamuplase dengan sempurna, setidaknya dia bisa mengubur dalam-dalam sisi liar dalam dirinya.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, sisi gelap itu muncul kembali seperti jamur di musim hujan. Sebenarnya Susan senantiasa menekan gairah liar itu, agar tidak sampai khilaf apalagi ketahuan suami dan keluarganya. Namun Hafiz, anak tirinya yang gagah dan tampan terlalu sukar untuk diabaikan.

Siapa sebenarnya Susan sebelum menjadi istri Ustad Hasbi?

Ternyata panjang sekali lika-liku perjalanan hidup Susan yang sangat seru, tersembunyi dan mencengangkan. Kita pun mungkin tidak akan menduga bisa segila itu.

^*^

Mohon bijak, banyak adegan dewasa yang ekspilist tanpa sensor. Jika tidak kuat segera tinggalkan novel itu, jangan memaksakan diri untuk membacanya.

Terima kasih.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta di Kota Tua
9.7
Mencari inspirasi di kota tua bersejarah, fotografer Sofia yang patah hati bertemu Adrian, penulis misteri yang duka akibat kematian istrinya. Meski dibayangi masa lalu masing-masing, ikatan emosional mulai tumbuh di antara mereka. Namun, kehadiran mantan kekasih Sofia serta rasa bersalah Adrian mengancam hubungan tersebut. Melalui keintiman dan pengorbanan, keduanya belajar menyembuhkan luka lama demi membangun masa depan baru bersama.
Sampul Novel Berpaling Darimu
8.2
Aris lelah menghadapi sikap dingin Bella dalam hubungan rahasia mereka yang terhalang restu akibat perseteruan keluarga. Di tengah keputusasaan karena terus diabaikan, Aris justru menemukan kenyamanan dari Ana. Kehadiran Ana yang tulus dan penuh perhatian perlahan memudarkan rasa cintanya pada Bella. Kini, hati Aris telah berpaling sepenuhnya kepada sosok baru yang jauh lebih bisa menghargai ketulusannya.
Sampul Novel Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
9.1
Saat menyiapkan makan malam, Amara dikejutkan oleh permintaan cerai suaminya, Damien Crowhurst. Meski mencintai Damien sejak awal perjodohan akibat kebangkrutan keluarganya, Amara sepakat berpisah dan menerima kompensasi besar. Sikap tenangnya membuat Damien dan Selene Marquette, wanita baru yang menghinanya, terkejut. Usai empat tahun terjebak dalam pernikahan dingin, Amara memilih pergi ke apartemen kecil demi merasakan kebebasan yang nyata.
Sampul Novel Diary Naya
9.1
Bagi sebagian orang, cinta memiliki arti yang beragam, layaknya kutipan Marianne Williamson tentang esensi kehidupan. Namun bagiku, makna sejati dari perasaan ini sama sekali bukan tentang kepemilikan. Kisah ini mengupas tuntas sebuah pengorbanan terbesar. Di mana mencintai seseorang menuntut ketulusan luar biasa untuk merelakan sosok paling berharga pergi, demi membiarkannya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Kata Cinta Membuat Sakit Hati
7.9
Hamil empat bulan tidak membuat suami dokterku memprioritaskanku. Enam belas kali dia membatalkan pengurusan surat nikah kami demi menolong perawatnya, mulai dari membelikan pembalut hingga menjaganya di rumah sakit saat berbohong padaku. Muak dengan pengkhianatan ini, aku memutuskan untuk menggugurkan kandungan dan pergi meninggalkannya ke luar negeri. Namun, setelah kehilangan segalanya, pria itu justru menyusulku ke luar negeri demi memohon maaf atas segala kesalahannya.
Sampul Novel Kim Nana
9.7
Demi sang adik, Kim Nana rela membuang masa mudanya setelah ditinggalkan begitu saja oleh orang tua mereka. Kini, meski sukses secara finansial, kepedihan masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang dingin dan kaku. Beratnya beban kehidupan membuat Nana mati rasa dan enggan membuka hati untuk cinta. Akankah ada pria yang mampu mencairkan hatinya yang beku? Bisakah Nana memaafkan masa lalu serta orang tuanya? Simak kelanjutan kisah perjuangannya.