APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gerry's Love Story

Gerry's Love Story

Pertemuan Gerry dengan seorang janda kaya mengubah total takdir hidupnya. Namun, pernikahan mewah mereka justru membuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam masa lalu Gerry yang lama terpendam. Lambat laun, tabir misteri tentang identitas aslinya mulai terkuak satu demi satu. Hal ini memicu konflik hebat yang tak terduga, menguji hubungan rumah tangga mereka yang bergelimang harta namun penuh dengan teka-teki rumit.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Jangan ngelamun aje, Gerry. Udah dua hari libur, tapi kerjaan elu malah duduk sambil ngelamun. Kaga ada kegiatan ape gitu?"

Mak Odah mengelus-elus punggung putranya, pria berusia dua puluh tahun yang nampak duduk di depan meja belajarnya sambil melamun.

Wanita yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu nampak begitu menyayangi putranya, putra semata wayang yang dia besarkan sendirian.

"Kaga pengen pergi, Mak. Kaga ada temennye, si Gilang lagi pergi ama ceweknya."

Sebenarnya Gerry ingin sekali pergi, pergi bersama dengan teman dekatnya, Gilang. Namun, dia tidak bisa pergi bersama dengan temannya itu karena Gilang sudah ada janji temu dengan kekasihnya.

Berbeda dengan Gerry yang tidak punya pacar, karena dia merasa jika yang namanya pacaran itu pasti butuh modal besar. Tidak ada wanita saat ini yang hanya mau diajak pacaran tanpa dikasih jajan.

Setidaknya kalau diajak malam mingguan, pasti harus jajan semangkok bakso dan segelas jus jeruk. Hem, mana sanggup Gerry. Belum beliin pulsanya, bisa nangis tujuh hari tujuh malam tuh Gerry.

"Emak bosen ngeliat elu ngelamun mulu, jalan sana ke taman kek. Ke mana kek, biar ngga ngelamun terus."

Gerry merupakan seorang mahasiswa yang kuliah di universitas negri, dia mengambil jurusan manajemen bisnis karena dia bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha.

Setidaknya kalau dia tidak bisa mewujudkan keinginannya, dia ingin bekerja di sebuah perusahaan besar. Perusahaan yang mampu membuat dirinya digaji dengan uang yang besar.

Walaupun ibunya hanya memiliki warung kopi sebagai penghasilan utamanya, tetapi dia bersyukur bisa menjalani kehidupannya dengan sangat baik.

Dia bisa makan dengan layak, dia bisa berpakaian dengan layak dan bisa bergaul dengan banyak orang di sekitarnya. Walaupun memang dia lebih menjaga batasan, karena dia sadar jika kondisi keuangannya tidak seperti teman satu kampusnya.

"Abis isya Gerry bakalan pergi, Mak. Tenang aja, tapi minta uang jajan." Gerry nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.

"Iye, gocap aja tapi. Soalnya duitnya Emak kumpulin buat biaya semester elu," ujar Mak Odah yang langsung memberikan uang kepada putranya.

"Makasih, Mak. Emak emang yang terbaik," ujar Gerry.

Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gerry, selepas shalat isya dia pergi menggunakan motor Vespa kesayangannya. Motor tua yang katanya peninggalan dari ayahnya.

Entah seperti apa rupa ayahnya, tetapi Gerry tidak tahu. Karena ibunya tidak pernah memperlihatkan foto ayahnya tersebut, yang Gerry tahu wajahnya sangat tampan sekali.

Terkadang Gerry berpikir, apakah dia anak mak Odah apa bukan. Karena wajahnya yang sangat berbeda dengan wajah Ibunya.

"Daripada nongkrong di tempat rame, mending gue nongkrong di sini aja."

Gerry menghentikan motornya di tepi danau yang ada di pinggiran kota, rasanya dia lebih baik menghabiskan waktu di sana. Menyendiri tanpa adanya keramaian.

"Ya ampun! Kenapa gelap sekali? Semoga nggak ada setan," ujar Gerry seraya mengedarkan pandangannya.

Cukup lama Gerry berada di danau itu, walaupun suasananya terlihat begitu gelap, tetapi dia merasa nyaman dalam bersendirian.

Awalnya dia terlihat anteng dengan segala pikirannya, hingga tidak lama kemudian dia merasa takut karena ada suara krasak krusuk yang tidak jauh dari tempat dia duduk.

"Suara apaan tuh? Jangan-jangan suara penunggu danau ini lagi?"

Gerry nampak bangun dari duduknya, walaupun tubuhnya terasa begitu bergetar, tetapi dia mencoba untuk mencari asal suara.

Tidak lama kemudian, dia melihat ada rumput yang bergoyang-goyang. Padahal, tidak ada angin sama sekali. Gerry memberanikan diri untuk mendekat ke arah rumput yang bergoyang itu.

Dengan hati yang berdebar, dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, Gerry memberanikan diri untuk mengintip apa yang sedang terjadi.

Mata pria itu langsung membulat dengan sempurna, karena tidak jauh dari sana ternyata ada sejoli yang sedang bergumul dengan begitu panas.

"Gila! Kenapa mereka melakukan itu di sini? Emangnya kaga ada tempat lain apa? Apa emang tidak punya duit buat nyewa hotel?" tanya Gerry yang hanya mampu dia katakan di dalam hati saja.

Sebenarnya dia ingin segera pergi dari sana, tetapi rasanya sayang jika harus melewatkan akan hal itu. Cukup lama pria muda itu berdiri di sana, hingga tidak lama kemudian dia memutuskan untuk segera pergi.

Gerry takut jika dirinya ketahuan sudah mengintip, lebih baik dia pergi karena Gerry melihat kalau sepasang sejoli itu sudah selesai melakukan percintaan panasnya.

"Gila! Badan gue merinding semua," ujar Gerry yang dengan cepat pergi dari sana.

Jika saja pergi ke danau akan membuat matanya ternoda, Gerry pasti akan mencari tempat lain untuk dia tinggali.

"Haish! Tau begitu gue mending pergi ke taman kota aja, ketahuan kalau libur begini suka ada ondel-ondel sama badut."

Gerry pergi dengan jantungnya yang masih berdebar dengan begitu kencang, sungguh dia tidak menyangka akan melihat adegan dewasa secara live.

"Abis nonton live, gue jadi laper. Mending gue makan soto dulu di alun-alun," ujar Gerry.

Akhirnya pria muda itu melajukan motor tuanya menuju alun-alun, lalu dia memesan semangkok soto untuk dia santap.

Soto ayam dengan rasa yang asin, pedas dan juga gurih. Sungguh makanan itu begitu memanjakan lidahnya.

"Ah! Sedep banget nih soto, apalagi dimakannya pake nasi sepiring. Begah perut gue," ujar Gerry.

Selesai makan soto, pria itu berniat untuk pulang. Namun, saat tiba di parkiran langkahnya langsung terhenti ketika dia melihat ada sepasang wanita dan juga pria muda yang sedang berciuman.

"Ya ampun! Begini amat ya, nasib gue? Kenapa sih harus melihat yang beginian terus? Jiwa jomblo gue kan' jadi meronta-ronta," keluh Gerry.

Gerry mengelus dadanya berkali-kali, karena sepasang sejoli itu terlihat begitu bergairah saat bertukar kenikmatan.

Lalu, Gerry memutuskan untuk segera pergi dari sana. Karena dia merasa banyak tempat yang tidak aman untuk dirinya, banyak hal yang membuat dia menginginkan sesuatu.

"Tinggal di dalam kamar emang paling aman, lagian emak ada-ada aja malah nyuruh gue main segala."

Gerry menggerutu dalam perjalanan pulang, hingga saat dia tiba di depan rumahnya, ternyata ibunya sedang kerepotan. Banyak pembeli yang datang, banyak bapak-bapak yang nongkrong untuk membeli kopi matang ataupun membeli mie instan.

"Kebetulan banget dah elu pulang, tolong bantuin Emak ya, Gerry."

"Iye, Mak. Lagian Emak pakai nyuruh-nyuruh Gerry buat jalan segala sih, kalau dari tadi diam di rumah pan Gerry bisa bantuin Emak."

"Iye, pan Emak cuma kasihan ame elu. Emak takut kalau elu pengen jalan juga kaya anak muda yang lainnya," ujar Mak Odah.

"Gerry lebih senang bantu Emak di warung, cius!" ujar Gerry.

Mak Odah langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. "Udeh jangan ngomong terus, bikinin mie rebus pake telor dua noh. Buat bapak yang ada di sono," ujar Mak Odah seraya menunjuk seorang pria yang ada di dekat teras rumah.

"Iye, Mak," jawab Gerry.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy
8.6
Demi mengatasi masalah keuangan, Anggita yang berumur 20 tahun nekat menggunakan aplikasi Sugar Baby. Walau awalnya diremehkan karena penampilan fisiknya, ia justru menarik perhatian Devano Abimanyu, seorang pengacara sukses. Devano bersedia menyokong hidup Anggita, namun dengan aturan yang sangat mengikat: dia memegang kendali atas segalanya, menawarkan kepuasan, dan melarang keras adanya cinta. Mampukah Anggita menjaga hatinya agar tidak melanggar batasan tersebut?
Sampul Novel Koleksi Kisah Nakal (21+)
9.2
Menyajikan dinamika hubungan modern, antologi romansa dewasa ini mengungkap berbagai rahasia tak terduga dalam setiap pertemuan. Pembaca akan diajak menelusuri liku gairah serta emosi mendalam lewat momen-momen intim yang penuh kejutan di tiap babak. Di sini, situasi biasa dapat berubah menjadi peristiwa menggoda yang sangat berkesan bagi para tokohnya. Kisah-kisah ini mengeksplorasi hasrat yang tak terbayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Mas duda
9.5
Wika Adelia tidak menyangka tetangga barunya adalah dosen di kampusnya. Di kampus, beredar gosip miring bahwa pria itu merupakan duda yang diceraikan istrinya karena impotensi. Rumor ini membuat Wika heran, apalagi sang dosen nyata-nyata mempunyai seorang anak. Rasa penasaran yang membuncah mendorong Wika melakukan berbagai tindakan nekat demi membongkar kebenaran di balik misteri kehidupan pribadi dosen tersebut.
Sampul Novel Perawatan
8.2
Saat memulihkan diri di rumah perawatan pasca melahirkan, seorang istri mengalami ketegangan tak terduga. Di ranjang pemulihan, perawat pria yang bertugas memberikan pijatan mendalam yang terasa terlalu intens hingga menyentuh area sensitifnya. Meski sang istri mencoba menolak dan mengingatkan bahwa suaminya sedang berada di kamar sebelah, sang perawat justru terus menekan lebih dalam dengan dalih medis untuk meredakan gejalanya. Konflik batin pun memuncak dalam keheningan yang mencekam.
Sampul Novel Perjalanan Menuju Cinta Sejati
9.7
Tujuh tahun mendampingi Handi Wenas tanpa kejelasan status, harapan pernikahan sirna saat miliarder itu memilih menikahi putri konglomerat Barata. Demi pernikahan ini, Handi membuang gelang manik-manik cendananya ke loteng sebelah yang kemudian terbakar. Sang wanita nekat menerobos api demi menyelamatkan gelang tersebut. Publik pun terenyuh saat netizen mengungkap bahwa gelang itu didapatkannya dengan penuh perjuangan, berlutut di bawah guyuran hujan deras di Candi Dharma.
Sampul Novel Salah Pilih Pengantin
8.7
Fauzan sangat mencintai Rani, tetapi kesalahpahaman fatal memaksanya menikahi Zahra, kakak kandung wanita yang ia puja tersebut. Pernikahan tak terduga ini menempatkan hubungan Fauzan dan Rani di tengah dilema yang rumit. Kini, masa depan mereka berada di persimpangan jalan. Akankah ada celah bagi mereka untuk bersatu kembali, ataukah takdir justru akan memisahkan jalan hidup mereka selamanya?