
Gapai Mimpi di Usia Senja
Bab 3
Mendengar putraku mengeluh, aku menjadi emosi.
"Juan, aku nggak berutang apa-apa padamu! Sudah kukatakan, kamu sudah bukan anakku lagi!"
"Bu, apa perlu berbuat sejauh itu? Kita hanya berdebat …."
"Sudah kubilang, mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi!"
Aku langsung menutup telepon. Juan meluapkan emosinya melalui pesan singkat. "Bu, kamu keras kepala sekali! Pantas Ayah menceraikanmu!"
"Ibu keras kepala, kelak jangan bertemu denganku lagi. Jangan menyesal, ya!"
Aku tertawa dan langsung memblokir nomornya.
Yang membuatku paling menyesal adalah melahirkan dia dan membesarkan dia dengan susah payah. Pada akhirnya, anak kandungku tega membantu ayahnya untuk menceraikanku.
Anak seperti dia tidak pantas mendapatkan cintaku!
Setelah menutup telepon, suasana langsung hening.
Aku mulai memikirkan apa yang bisa kulakukan agar hari-hariku jauh lebih bermakna.
Saat akan menikah dengan Ryan, orang tuaku sudah memperingatkan bahwa Ryan bukanlah pria yang baik.
Mereka khawatir aku akan hidup menderita dan tahu bahwa aku tidak akan berubah pikiran, jadi mereka diam-diam memberiku bantuan.
Aku menilai kekhawatiran orang tuaku berlebihan. Namun, sekarang aku baru mengakui bahwa mereka sangat visioner.
Setelah kubuka koper dari mereka, aku mengeluarkan dokumen berisi sertifikat pembelian emas batangan dan saham yang mereka belikan untukku.
Semuanya kujual, total hasil penjualan hampir 60 miliar.
Aku meminta orang untuk mengurusnya. Saldo di rekeningku sudah membuatku tenang kembali.
Setelah itu, pandanganku tertuju pada sejumlah nenek berambut putih di depan gedung seni dan budaya.
Mereka mengenakan pakaian cerah sambil membawa kipas. Senyuman di wajah mereka menggetarkan hatiku.
Ketika masih muda, aku termasuk bunga desa. Aku pernah bergabung dengan grup seni, tetapi mengundurkan diri setelah menikah dan punya anak.
Boleh dibilang, aku memiliki keterampilan dasar tarian.
Setelah memperhatikan agak lama, tanpa sadar aku mengikuti beberapa gerakan mereka. Hal itu menarik perhatian mereka, bahkan ada yang mengajakku bergabung.
"Nyonya, kelihatannya kamu dulu penari, ya?"
"Puluhan tahun lalu, sudah lama kutinggalkan."
"Nggak masalah. Ayo bergabung dengan kami. Kebetulan ada kompetisi beberapa hari lagi, tapi kami kekurangan anggota. Apa kamu mau bergabung?"
Mendengar itu, aku agak ragu. Tanpa basa-basi, wanita itu memberiku kipas dan menarikku untuk bergabung dengan mereka.
Ketika musik dimainkan, tanpa sadar aku ikut menari. Setelah lagu ketiga dimainkan, aku bisa mengikuti gerakan mereka.
Hal ini membuat Yessie Atmadja, ketua grup tari sangat senang.
Yessie menarik tanganku. "Oke, sudah diputuskan, kamu gabung dengan tim kami. Dua minggu lagi, kami akan mengikuti kompetisi."
Aku berpikir tidak ada salahnya mencoba.
Minggu ini, setiap hari aku berlatih gerakan tarian mereka sampai malam. Dalam waktu singkat, aku menjadi ketua grup tari mereka.
Pada hari kompetisi, Yessie mengantar kami ke tempat kompetisi. Ada 50 tim lebih yang usianya kurang lebih sama dengan kami.
Aku terkejut. 'Lawan sebanyak ini, apa kami bisa menang?' pikirku.
Tepat setelah aku ganti pakaian, aku berpapasan dengan Ryan dan Linda.
Ryan melihatku dengan tatapan sinis.
"Elita, lihatlah penampilanmu! Pakai riasan dan pakaian yang mencolok, jelek sekali!"
"Bukan urusanmu!"
Ryan tertegun sejenak. Dia tidak menyangka bahwa aku berani mengatakan seperti itu padanya. Dulu setiap kali dia memakiku, aku tidak melawan.
Kata-kataku barusan membuatnya terkejut. Linda yang berada di sampingnya berkata, "Elita, jangan marah. Kak Ryan hanya mengkhawatirkan kamu ditertawakan. Menurut dia, kamu nggak seharusnya berada di sini."
Aku mengejeknya. "Justru menurutku, dia yang nggak seharusnya berada di sini! Kami sudah bercerai, nggak perlu ikut campur dengan urusanku!"
Ryan marah. "Kurang ajar!"
"Ayo pergi, aku mau lihat pertunjukannya hari ini, aku akan beri dia skor nol!"
Aku tertegun. 'Jurinya adalah Ryan?'
"Berhenti! Sambil berteriak, aku maju menghalangi Ryan. "Kalau kamu balas dendam dengan cara ini, aku nggak akan mengampunimu!"
Sambil menatapku, Ryan berkata dengan sinis, "Coba saja! Elita, Juan memberitahuku bahwa kamu nggak memedulikan cucumu sendiri. Kalau kamu mau membantu putramu, hari ini aku nggak akan balas dendam. Kalau nggak, rasakan akibatnya nanti!"
Anda Mungkin Juga Suka





