APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Kakakku

Gairah Tersembunyi Kakakku

Emily yang ceria dan lugu selalu mengagumi sosok kakak lakilakinya, Evan, yang berkarisma serta maskulin. Hubungan persaudaraan mereka yang awalnya begitu dekat dan harmonis seketika hancur akibat sebuah peristiwa tak terduga. Emily sangat terkejut saat terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya tanpa busana di sebelah Evan. Misteri besar apakah yang sebenarnya selama ini tersimpan rapat dalam hubungan antara kakak dan adik ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

***

Pintu kamar dibuka perlahan. Cahaya dari koridor membuat bayangan sosok pria tampak di lantai kamar yang gelap. Perawakannya tegap, dia berdiri diambang pintu sebelum kemudian kakinya melangkah masuk. Langkah kakinya berhenti di dekat single bed. Lalu dia duduk di tepi ranjang. Tatapannya terpaku pada wajah tidur seorang gadis di sana.

Pria itu hanya diam memperhatikannya lamat-lamat. Dia memperhatikan kelopak mata gadis itu yang nampak tertutup dengan damai. Bulu matanya yang lentik, menyembunyikan permata indah di dalamnya. Lalu bagian bibir gadis itu terlihat sedikit terbuka, membuat wajah tidurnya agak lucu sekaligus menggoda. Menggoda pria ini. Sampai-sampai sebelah tangannya sudah berada di bibir sang gadis.

Ibu jari pria itu mengelus permukaan lembut bibir sang gadis. Bibirnya kecil namun sedikit tebal, memberikan kesan sexy di wajah bak malaikat itu. Bibir kecil ini juga yang seringkali mendesak sisi lain dari seorang pria untuk merasakannya. Namun naluri lain berteriak-teriak, berusaha menahan dirinya agar tetap waras. Karena fakta bahwa gadis ini adalah saudarinya, membuat dia terus berkelahi di dalam dirinya sendiri.

Ketika gadis muda itu mengerutkan dahi, pergerakan kecilnya membuat sang pria tersentak sadar dan seketika menarik tangannya dari bibir ranum itu. Pria itu menarik napas, lalu sontak berdiri. Karena canggung, dia berjalan ke arah tirai untuk membukanya. Cahaya matahari pun menyeruak ke dalam kamar berukuran empat kali empat.

Tampaklah isi kamar gadis itu dengan jelas. Jelas sekali terlihat berantakan. Kondisi kamar yang berbanding terbalik dengan kamar milik dirinya. Kamar gadis ini dipenuhi dengan tumpukan kaset game di lantai, buku-buku dan komik-komik yang tidak disusun dengan rapi ke dalam raknya. Bahkan sampah camilan masih tergeletak di atas meja komputer.

Pria itu menghela napas. Entah tidur jam berapa gadis ini semalam. Tidak mungkin tidur dibawah jam sepuluh. Pasti semalam sempat bermain game online dulu di komputer, kemudian langsung tidur. Begitulah yang dia pikirkan tentang kebiasaan adik perempuannya.

"Emily, bangun. Kau bisa terlambat hari ini!" panggil pria itu dengan tegas membangunkan puteri tidur.

Sang gadis bernama Emily hanya melenguh, lalu berbalik badan sambil menarik selimutnya sampai menutupi kepala untuk menghindari silau terang mentari.

Pria itu mengecek jam tangannya. Mereka bisa terlambat. Akhirnya dia berpindah ke ujung ranjang untuk menggelitik telapak kaki Emily. Sontak saja gadis itu menggeliat terbangun. Sensasi gelinya membuat kaki mulus Emily menendang-nendang udara. "Okey, okey, kak! Aku bangun!" teriak Emily menyerah. Maka, upaya kecil pria itu pun berhasil untuk membuatnya bangun.

"Sekarang, mandi dengan cepat!" perintah Evan, disambut bibir cemberut Emily. "Aku masih mengantuk, kak~" rengeknya dengan manja.

Lalu Evan kembali ke sisi ranjang dan menarik lengan Emily, sampai gadis itu terduduk. "Semalam kau tidur jam berapa, huh?" tanyanya duduk di tepi kasur. Emily jadi bungkam. "Aku tidak ingat," jawab gadis itu kemudian cengengesan.

Seketika raut muka pria itu menjadi datar. "Kakak tahu kau semalam baru tidur dini hari. Apa perlu kakak laporkan pada ibu?" ancamnya.

"Jangan dong kak. Nanti uang jajanku dikurangi," ucap Emily.

"Ya sudah, sekarang cepat mandi. Kakak tunggu di meja makan," kata pria itu beranjak.

Sedangkan Emily yang masih terduduk di dalam bathtub, tampak cemberut dengan wajah basah menatap pintu kamar mandi dengan tajam. "Dasar kakak menyebalkan! Padahal aku baru tidur jam tiga pagi...." keluhnya. "Pasti mataku jadi seperti panda!"

Tiga puluh menit kemudian Emily sudah menuruni anak tangga sambil membawa tas punggung di pundak. Dia menghampiri kakaknya yang terlihat duduk menunggu di kursi makan. Sarapan tersaji mewah di meja porselen.

Emily duduk di hadapan Evan dengan meletakan tasnya di kursi samping. Mereka makan tanpa obrolan. Sesekali manik Evan mengerling ke depan hanya untuk memperhatikan adik perempuan.

"Emily," panggil Evan.

Emily mendongak dari makanannya.

"Rambutmu tidak cocok kalau diikat begitu. Lepas ikat rambutmu," titah Evan sambil menunjuk-nunjuk rambut Emily. Rambut gadis itu diikat ekor kuda. Bagi Emily itu hal yang biasa. Tapi jarang dia lakukan selain hanya dibiarkan tergerai.

"Kenapa?" protes Emily.

"Wajahmu jadi jelek," ejek Evan.

Emily memelotot kaget. "Tidak mau. Sekarang musim panas, aku mudah gerah," elak Emily membantah perintahnya.

Lalu, Evan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Pria itu menyodorkan beberapa lembar dollar pada sang adik.

Uang itu berjumlah lima ratus dolar. Diberikan oleh tangan Evan dari hadapan. Karenanya, Emily menatap Evan dengan ekspresi bersemringah.

"Uang itu untuk jatah jajanmu dalam sehari kecuali hari libur," ucap Evan. Jumlah uang jajan Emily bertambah dua lembar dari normalnya.

"Sungguh, kak? Asik!" Emily langsung mengambil uang itu. Dia menghitungnya lagi dengan senyum lebar. Lima ratus dolar, lumayan cukup untuk membeli kebutuhan hobinya nanti. Itulah yang Emily rencanakan ketika menerima uang jajan lebih dari kakak.

"Terima kasih, kakak!" riang Emily begitu senang.

Tapi tunggu, kenapa tiba-tiba kakaknya menambahkan jatah uang jajan? Emily mendadak curiga pada Evan. Apakah ada maksud terselubung?

"Ngomong-ngomong, nih. Kakak sedang tumben apa?" kata Emily bertanya.

"Itu tambahan dari uang pribadi kakak. Jadi, gunakan dengan bijak. Ingat, aku maupun ayah dan ibu tidak mengajarimu untuk menghamburkan uang dengan sia-sia," ucap Evan mengingatkan nasihat orang tua mereka.

"Baik, kakak!"

Senyum tulus terukir di bibir datar Evan.

Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Bugatti hitam. Ketika lajunya berhenti di depan gerbang sekolah yang ramai akan murid-murid, sebelum melangkah turun ke luar, Emily mencium pipi Evan dengan sangat cepat. Sampai-sampai Evan terdiam beku hingga mobil melanjutkan lajunya lagi. Diam-diam dia memegang pipi sebelah kiri yang barusan disinggahi bibir lembut Emily.

Sedangkan Emily segera bertemu teman akrabnya bernama Sherin, dan mereka berjalan bersama menuju gedung sekolah. "Apa tadi diantar kakakmu lagi?" tanya Sherin, setelah melihat sekilas sosok kakak Emily di dalam mobil tadi.

Emily mengangguk mantap. "Ya. Kenapa?" balasnya bertanya.

"Bisa tidak sih ketampanan kakakmu dibagi rata? Bisa-bisanya kau punya kakak setampan aktor begitu. Tahu tidak, bisa bahaya kalau anak sesekolahan tahu." Sherin namanya. Dia adalah sahabat dekat Emily sejak tahun pertama high school. Rambutnya yang pendek, dan jaket yang tak ketinggalan di pinggangnya menjadi ciri khas Sherin sebagai gadis tomboy.

Emily mengeryitkan dahi. "Bukankah ada banyak pria tampan yang pasti sering mereka lihat di internet sebagai aktor ataupun idol, bukan? Harusnya melihat pria taman adalah hal biasa bagi mereka."

Gelengan kepala Sherin menjawab pendapat Emily. "Mereka menyukai pria tampan. Terlebih kakakmu benar-benar terlihat seperti figur animasi yang sempurna yang mustahil hidup di dunia ini." Sherin sudah pernah melihat rupa kakak Emily sewaktu pertama kali ke rumahnya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama. Sudah dapat ditebak bagaimana reaksi Sherin saat itu. Emily hanya mendengus menyadarkan lamunannya.

Emily merotasikan mata dengan jengah. Pujian terhadap kakaknya membuat dia merasa kian sebal. "Jangan tertipu pada ketampanan kakakku. Sebenarnya dia sangat menyebalkan," cibir Emily.

"Meskipun menyebalkan, kau sangat membutuhkannya, bukan?" goda Sherin dengan senyum menyeringai. Emily melirik dengan kaget seolah perkataannya itu terdengar menggelikan.

"Yaa! Aku membutuhkannya untuk kumanfaatkan dengan baik~" rengek Emily menyerah. Tidak salah juga, akan tetapi sebagai adik, Emily sering dibuat kesal oleh Evan selaku kakak yang terkadang bersikap semaunya sendiri seperti halnya memerintah dia untuk hal-hal yang tidak penting sama sekali.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Yang Di hina Miskin Jadi Kaya
8.0
Sering direndahkan keluarga suaminya, Andi, karena hidup sederhana, Nur bertekad mengubah nasib. Rasa sakit hati itu ia jadikan cambuk untuk merintis usaha sendiri dari bawah. Berkat perjuangan kerasnya, Nur berhasil menjelma menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Namun, saat berada di puncak keberhasilan finansial tersebut, ia justru harus menghadapi ujian berat berupa pengkhianatan dari sosok yang sangat ia percayai.
Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Ditinggal sang kekasih membuat Feyleria terpuruk hingga ia terbangun di sebelah pria asing lalu kabur. Namun, Alexander, pria misterius malam itu, justru terobsesi padanya. Melalui tekanan orang tua, Alex menjebak Fey dalam perjodohan rumit. Di kala perasaan cinta Fey untuk Alex mulai bersemi, Sani sang mantan kembali untuk merebut hatinya. Fey pun bimbang memilih bayang masa lalu atau masa depan bersama pria yang tulus memujanya.
Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
7.9
Brama Wijaya memenjarakanku lima tahun akibat fitnah membunuh Kania. Pasca bebas, siksaan kejam di kandang anjing dan paksaan obat mandul harus kutanggung. Saat Kania terbukti hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangannya. Aku memilih mati demi balas dendam. Kini, aku terbangun di hari kebebasanku dahulu. Lewat kesempatan kedua ini, aku bersumpah menyeret Brama dan Kania ke neraka atas semua penderitaan yang mereka perbuat.
Sampul Novel Nodamu Bukan Masalah Bagiku
8.0
Nabila, yang dipaksa suaminya menjadi wanita malam demi uang, berhasil diselamatkan oleh seorang CEO kaya bernama Riko. Tak hanya menolong, Riko juga membantu Nabila mengurus proses perceraiannya. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa cinta di antara mereka. Namun, hubungan ini ditentang keras oleh ibu Riko yang mempermasalahkan masa lalu Nabila. Kini, mereka harus berjuang bersama demi meraih restu dan membuktikan bahwa cinta mereka sanggup mengalahkan prasangka serta ego keluarga.
Sampul Novel PANGERAN MALAYSIA MENIKAHI JANDA BIG SIZE ANAK 14
8.4
Zunara berjuang keras membesarkan 14 buah hatinya sendirian. Takdirnya berubah setelah Tengku Salman, seorang pangeran dari Malaysia, menyelamatkan putranya yang bernama Zafran dari bahaya maut. Walau fokus utama Zunara hanyalah kebahagiaan anak-anaknya, ia mulai terpikat oleh pesona sang pangeran. Salman yang kaku pun luluh oleh ketangguhan janda tersebut. Kini, sang bangsawan dihadapkan pada kebimbangan untuk mengejar cintanya melampaui perbedaan status sosial mereka.
Sampul Novel Terjebak Pesona Nathan
9.7
Davina memendam cinta pada Nathan Evano sejak lama, namun terpaksa bungkam karena merasa tak sepadan. Setelah satu dekade berpisah, takdir mempertemukan mereka lagi dalam misteri besar. Nathan telah berubah dan kini berkecimpung di dunia intelijen yang penuh rahasia. Perubahan ini membuat Davina bimbang dan curiga. Apakah pria asing ini adalah sahabat masa kecilnya, ataukah orang lain yang menyamar? Kisah cinta penuh teka-teki dan ketegangan pun dimulai.