APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA

GAIRAH PEREMPUAN NAGA

Koh Ho Ming memercayai Diandra, putri piatu dari asisten rumah tangganya, sebagai reinkarnasi Perempuan Naga. Sejak kecil, ia memperlihatkan tanda spiritual kuat selaku titisan Dewi Kesayangan Langit. Diandra pun harus menghadapi rintangan berat serta tragedi hidup demi menggapai keberhasilan. Perjalanan takdirnya yang penuh liku diwarnai oleh kisah cinta yang mendalam serta sisi erotis yang membara.
Bab
Bagikan

Bab 2

MAKHLUK MENGERIKAN DALAM GUDANG.

Jelang maghrib, Halimah berpamitan pada Koh Ho Ming untuk sholat maghrib di gudang toko. Sementara Diandra masih menyibukkan diri dengan buku gambar dan pensil warna yang berserakan dilantai toko pas di depan meja kasir. Biasanya jam-jam menjelang maghrib toko masih sepi pengunjung, jadi pada saat itulah Koh Ho Ming akan merekap pembukuannya.

"Pergilah ke gudang, Din! Sebentar lagi akan banyak pembeli, kalau kamu duduk disitu, akan menyulitkan mereka." perintahnya halus.

"Pekerjaanku belum selesai, Koh! Ini harus dikumpulkan besok pagi." ujarnya seraya membentangkan buku gambar yang baru selesai diwarnai sebagian.

"Selesaikan di gudang, di sana lebih tenang kamu tak akan terganggu orang-orang yang akan membeli barang-barang disitu." Telunjuknya mengarah pada stockist tinggi tempat beberapa perlengkapan mandi tertata rapi dibelakang Diandra duduk.

"Tapi aku takut berada di gudang sendirian ... Hiiii!" Diandra bergidik saat melirik pintu tertutup yang mengarah ke gudang, dimana beberapa saat lalu ibunya menghilang.

"Tapi di sana kan terang, nanti kuberi permen kalau kamu mau pindah ke sana!" bujuk Koh Ho Ming menunjuk pintu gudang yang tertutup. "Kamu juga bisa membuka pintunya sedikit, jadi kamu bisa melihatku dari sana."

Diandra segera membereskan peralatan menggambarnya. Tapi bukannya menuju gudang, ia malah mendekati lelaki tua bermata sipit lawan bicaranya.

"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku disitu!" Pandangan mata bulatnya mengarah pada sudut sempit dekat meja kasir tepat disebelah kursi yang Koh Ho Ming duduki.

"Jangan! Kamu akan membuatku repot."

"Tak akan! Aku akan berada jauh dari kakimu Koh." jawab Diandra ngeyel seraya memindahkan barang-barangnya ke sudut ruangan yang dia tunjuk.

"Memangnya kenapa kamu gak mau ke gudang? Tempatnya lebih luas dan terang. Kamu bisa mengerjakan tugasmu dengan tenang karena gak terganggu orang yang lalu lalang." Koh Ho Ming masih berusaha membujuk, meskipun ia tahu betapa keras kepalanya bocah perempuan yang sekarang sudah berada di sampingnya itu.

" Aku takut di gudang sendirian ... Hiiii" Diandra mengedik-ngedikkan bahu kurusnya. "Sini kuberitahu, tapi jangan bilang-bilang pak Dikin yaaa."

Koh Ho Ming memiringkan badannya merendahkan telinganya setelah melihat isyarat dari Diandra untuk membisikkan sesuatu padanya. Ada rasa penasaran setelah Diandra menyebut-nyebut nama Dikin, pegawai laki-laki satu-satunya yang bertugas mengangkut dan mengatur barang yang datang dari suplayer di dalam gudang.

"Ada makhluk mengerikan dalam gudang ..." bisik Diandra ditelinga Koh Ho Ming yang langsung melotot terkejut mendengar laporan Diandra.

"Benarkah?" tanyanya tak percaya.

"Bagaimana kamu tahu?" lanjutnya.

"Aku pernah melihatnya!" jawab Diandra cepat dengan mimik serius, "dia selalu mengawasi dari kegelapan, mengawasi segala yang kita lakukan dari persembunyiannya. Dia menempati sudut gelap dan suka sekali pada tempat yang kotor."

"Benarkah?" Koh Ho Ming mulai serius mendengarkan Diandra. "Dikin tak pernah mengatakannya."

"Dia sengaja tak mengatakannya!" sergah Diandra meyakinkan. "Dia takut Ko Ho Ming marah."

"Tapi dia tau itu?"

"Tentu saja dia tahu. Dia yang menyebabkan makhluk itu masuk ke gudang!"

"Benarkah?" Koh Ho Ming kian penasaran.

Sekilas suatu pikiran buruk melintasi benaknya.

"Apa yang dilakukan makhluk itu di gudangku?" tanyanya lirih tanpa sadar.

"Kalau tidak segera diusir, lama-lama dia akan membuatmu rugi." bisik Diandra meyakinkan.

Ko Ho Ming melotot ketakutan sudut hatinya mulai mempercayai kata-kata Diandra. Dari awal ia yakin, bocah perempuan yang ada didekatnya ini bukan bocah biasa. Kadangkala, gaya bicaranya seperti orang dewasa, tapi menit berikutnya tingkah konyol kanak-kanaknya muncul seolah menutupi keistimewaannya.

"Seperti apa rupanya?"

"Wajahnya hitam, giginya runcing ... sangat tajam .... matanya melotot ... hhhiiiiiyy ..." jelas Diandra dengan gaya kanak-kanaknya.

"Lalu bagaimana cara mengusirnya?" Koh Ho Ming kebingungan sehingga tanpa sadar loloslah pertanyaan itu dari bibirnya. Detik berikutnya, ia merasa jengah sendiri dengan pertanyaannya barusan.

"Ya gudangnya harus dibersihkan." jawab Diandra. "Suruh pak Dikin melakukannya, dia yang mengundang, dia juga yang harus mengusirnya!" tegas Diandra.

Koh Ho Ming mengangguk-angguk masih mencoba memahami tentang perilaku Dikin yang selama ini tidak menunjukkan kejanggalan apapun. Sikapnya biasa saja. Dia juga seperti biasa, melakukan tugasnya setiap hari.

Sepintas diliriknya jam dinding yang ada tepat diatas pintu gudang, masih ada sedikit waktu, toko masih belum terlalu ramai, dua karyawannya, Halimah dan Yanti sudah mulai melakukan tugasnya. Akhirnya, karena rasa penasaran yang begitu mengusik pikirannya, ia pun bangkit diraihnya tangan mungil Diandra dan berjalan menuju gudang.

"Limah, kamu jaga meja kasir sebentar, aku mau Diandra menunjukkan sesuatu di gudang!" serunya sambil menuntun Diandra memasuki gudang. Sengaja pintu gudang dibukanya lebar-lebar sehingga Halimah bisa melihat apa yang dilakukannya bersama Diandra di gudang toko.

"Tunjukkan padaku, dimana dia sekarang!" bisik Koh Ho Ming di telinga Diandra.

Diandra menempelkan telunjuknya di bibir menyuruh Koh Ho Ming diam. Lalu setelah melepaskan genggaman tangannya Diandra mulai memusatkan perhatiannya. Pandangan matanya meluruh hampir terpejam sikapnya terlihat sangat serius. Dalam diam Koh Ho Ming memandangnya terpesona. Gadis cilik didepannya terlihat begitu luar biasa.

Tiba-tiba ... SREEEEKKK!!

GLOOODAAAK! GLOODAAK!!

"Disana Koh!" bisik Diandra keras sambil menunjuk satu sudut yang dipenuhi kardus mie instan dan rempah kering.

Koh Ho Ming terbelalak kaget ".. IIII ..TU .. TTTI lI ... TIIKUUUSS??"

Mematung Ko Ho Ming melotot ke sudut yang ditunjuk Diandra. Jadi makhluk menyeramkan itu TIKUS?!

Detik berikutnya Diandra berlari sambil menyeret tangan Koh Ho Ming mengikutinya menuju sudut tempat tikus bersembunyi.

Masih dengan linglung Koh Ho Ming mengarahkan pandangannya pada seonggok sampah dipojokan bekas bungkus nasi, teh dan gorengan yang mulai menebarkan aroma busuk makanan basi. Bekas makan siang Dikin yang lupa dia bersihkan dan langsung ditinggal pulang begitu saja sore tadi.

Dari ketiga karyawannya, cuma Dikin yang jam kerjanya pagi sampai sore. Karena dia harus membantu istri Koh Ho Ming membuka rolling door tiap pagi, serta menerima dan mengangkut barang-barang yang di kirim suplayer ke gudang. Karena barang dari suplayer selalu dikirim pada jam kerja.

"Lihat ini Koh!" Diandra menunjuk beberapa bungkus mie instan, sabun serta makanan ringan yang berlubang bungkusnya dimakan tikus.

"Banyak sekali!! Kalau begini terus, Koh Ho Ming bakal merugi!" seru Diandra.

Beberapa saat Koh Ho Ming terdiam, paras wajahnya berubah-ubah pucat pasi lalu memerah padam, detik berikutnya terdengar tawanya menggelegar. Sambil geleng-geleng kepala dielusnya gemas rambut panjang Diandra yang sore tadi terkepang rapi, kini sudah kucel awut-awutan karena seringnya dia menggaruk-garuk kepala.

Halimah terlihat melongokkan kepala di pintu gudang dengan sorot penasaran. Tapi ia tak menanyakan apapun saat Koh Ho Ming kembali menempati meja kasir dengan tangan masih menggandeng putrinya.

Sekilas didengarnya Koh Ho Ming mengatakan tentang memerintahkan Dikin membersihkan gudang besok pagi pada putrinya itu, sebelum ia beranjak mendekati pelanggan yang mulai berdatangan untuk berbelanja.

***

Semenjak itu atas persetujuan Koh Ho Ming dan Cik Melly istri Koh Ho Ming, Diandra sering diajak Halimah ke toko sepulang sekolah.

Karena seringnya mereka berinteraksi sehingga membuat Diandra dan Koh Ho Ming semakin akrab. Disela-sela kesibukan melayani pelanggan mereka sering ngobrol atau bercanda. Sesekali Koh Ho Ming memberi nasehat tentang cara berdagang, melayani pelanggan, atau bercerita tentang mitos dari leluhur Koh Ho Ming yang bagi Diandra adalah merupakan dongeng penuh fantasi.

Karena Diandra tergolong anak superaktif yang selalu ingin tahu dan cerdas. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir mungilnya yang sering kali membuat Koh Ho Ming kewalahan memberi jawaban. Meskipun demikian, Koh Ho Ming selalu berusaha memberi jawaban sederhana yang bisa dimengerti oleh bocah seusia Diandra.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan Abu
7.8
Menyamar sebagai gadis bisu di kuil Ezen, Asha menyembunyikan kemampuan terlarang membaca memori dari sisa abu. Di kekaisaran pemuja api ini, ia mengungkap sejarah perang masa lalu bersama Kael, seorang pejuang misterius. Saat konspirasi besar dan pemberontakan mulai pecah, benih cinta tumbuh di antara mereka. Melalui ritual kuno serta pelarian yang mengancam nyawa, kekuatan unik Asha kini menjadi penentu mutlak apakah dunia mereka akan bangkit atau lenyap selamanya.
Sampul Novel SILUMAN HARIMAU
8.1
Zola terkejut saat mengetahui dirinya mewarisi darah siluman harimau yang mengerikan. Rahasia kelam ini berasal dari perjanjian mistis sang kakek di Kalimantan Barat pada masa lalu. Kutukan itu bangkit karena Zola melanggar pantangan dengan berhubungan intim bersama orang luar, padahal keturunannya wajib berpasangan dengan sesama sedarah. Kini, Zola dan kekasihnya, Arman, harus berjuang keras memutus ikatan gaib tersebut agar bisa kembali menjalani kehidupan yang normal.
Sampul Novel Sup Kecantikan
9.2
Gadis berkulit gelap dan kurus ini menjalani hidup penuh penderitaan, sangat kontras dengan ibunya yang cantik jelita dan dimanjakan oleh seluruh pria di desa. Di tengah siksaan kerja keras dan perundungan anak-anak sekitar yang menyebutnya pembawa sial, sebuah ramalan mengerikan membayangi masa depannya: ia akan dinikahkan dengan dewa gunung dan mati di kuilnya. Menolak pasrah pada takdir tragis tersebut, ia merancang rencana nekat untuk menukar identitasnya dengan sang ibu sebelum upacara pernikahan dimulai.
Sampul Novel TERPERANGKAP GAIRAH ALAM GAIB
9.5
Khusus pembaca dewasa, kisah ini menyoroti nasib malang seorang wanita yang terjerat dalam mitos kuno. Tak disangka, ia malah terhanyut dalam hubungan intim terlarang bersama sesosok makhluk halus. Bukannya ketakutan, ia justru makin tenggelam dalam gairah yang membuatnya ketagihan melanggar pantangan para leluhur. Bayangkan jika kengerian sekaligus kenikmatan dari dunia gaib ini terjadi langsung pada dirimu.
Sampul Novel The Cruel Prince
8.4
Nathasya terjebak dalam penderitaan akibat cinta pertama yang kini berubah menjadi obsesi kelam. Kehidupannya kini dikuasai oleh seorang pria kejam yang gila kendali dan pemenuhan hasrat seksual. Demi memilikinya seutuhnya, sosok maniak itu tidak ragu menggunakan kekerasan fisik maupun batin. Di tengah siksaan keji yang terus menderanya, seluruh impian masa depan Nathasya perlahan hancur dan lenyap. Akankah ia sanggup bertahan melewati segala penderitaan tanpa akhir ini?
Sampul Novel Gema Serigala: Janji yang Diingkari dan Anak Serigala yang Hilang
8.4
Diselamatkan dari ayah tirinya yang kejam oleh Alpha Eduardo, gadis ini mengira penderitaannya berakhir. Namun, kepulangan cinta pertama Eduardo menghancurkan segalanya. Sang Alpha tega mengabaikan kematian anak mereka demi perempuan itu. Di tengah kepedihan dikhianati, ia harus menerima kenyataan tragis bahwa racun logam mematikan dalam tubuhnya hanya menyisakan waktu hidup enam puluh enam hari, tepat di saat pria yang dicintainya itu memilih untuk berpaling.