APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Nakal Remaja

Gairah Nakal Remaja

Kedewasaan tak melulu soal usia, melainkan dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan. Kisah romansa modern ini membawa kita menyusuri memori masa SMA hingga kuliah yang sarat gejolak cinta remaja. Dirancang untuk menghidupkan kembali kenangan indah masa lalu, alurnya menyajikan konflik emosional yang mendalam. Karena terdapat konten eksplisit dan adegan khusus dewasa di beberapa bagian, pembaca diharapkan bersikap bijak dan menyikapinya secara dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dendam Kebencian (2)

“Si Donny masih bisa ke rumah lu, Gin?” tanya Ivanka dari belakang kemudi.

“Bisa sih, tapi semua udah gue bilangin supaya bilang, gue gak ada kalau dia ke rumah, eh tadi malah nyari gue ke sekolah. Entar gue ngomong sama Nicko kakak gue, biar diurus sekalian supaya gak ganggu gue lagi.”

“Kan dari awal gue udah bilang, kalau si Donny itu cowok gak bener. Playboy gak jelas penggemar emak-emak! Sangan membagongkan banget kan? Ganteng tapi sukanya sama emak-emak!” geram Ivanka.

“Iya sih, tapi kan gue kira dia bisa berubah setelah gue pacarin,” sangkal Regina.

“Halah, pada dasarnya semua cowok itu sama aja kale!” Bella yang duduk di belakang bersama Jeslyn, dan selama hidupnya tak pernah punya pacar itu langsung berkomentar.

“Kalau gini terus gue jadi males pacaran sama siapapun!.”

“Gak bisa gitu juga dong, Gin, masih banyak kok cowok-cowok baik di dunia ini. Tuh si Inggar kurang apa coba?” Kini giliran Jeslyn yang berkomentar.

“Idih si Inggar teman sekelas lu itu ya, mit amit gue!” Regina langsung menolak.

“Emangnya di sekolah kita cuma ada satu cowok yang namanya Inggar ya?” Jelsyn balik tanya.

“Mana gue tahu, hehehe!” Regina terkekeh.

“Ada dua keles. Yang satu lagi anak kelas dua IPA, seangkatan lu pada, hehehe. Intinya gak semua cowok itu brengsek kaya si Mario atau lebih parah lagi kaya si Donny!” Jeslyn tetap membela.

“Iya kayak cowok lu tu, udah lama pacaran tapi lu gak diapa-apain juga kan? Hehehe,” Bella langsung menyambar komentar Jeslyn.

“Apaan sih…,” Jeslyn pun langsung menunduk malu dibuatnya.

“Jangan dengerin Bella, Jes. Lu beruntung dapetin Deni, paling gak, dia bener-bener mencintai lu bukan cuma mencintai karena ingin ngedapetin tubuh lu secara gratisan,” Regina memutar tubuhnya dan menatap Jeslyn dengan pandangan sayu.

Ucapan Regina tadi langsung membuat ketiga gadis lainnya tersentak. Mereka pun akhirnya hanya bisa membisu. Ketiganya bingung harus memberikan komentar apa terhadap perkataan sahabatnya tersebut.

Cukup lama suasana menjadi sunyi sebelum akhirnya Regina memecahkan kesunyian tersebut dengan melontarkan sebuah ide. “Gue males langsung pulang nih girls, jalan-jalan ke mall dulu yu!”

“Iya nih, gue juga bete tadi abis meres otak ulangan matematika,” Bella pun langsung mendukung ide Regina tersebut.

“Boleh juga tuh, gue setuju!” dukungan juga terdengar dari Bella dan Jeslyn hampir bersamaan.

Regina lalu menepuk pundak Ivanka. “Ya udah, ayo tancap gas Van, hehehe.”

Mobil Ivanka pun lalu melaju kencang menuju lokasi yang hendak mereka tuju. Sepanjang penjalanan terus menerus terdengar suara tawa dari dalam mobil. Mereka semua tampaknya sudah tidak ingin lagi membahas masalah-masalah yang bisa merusak suasana kebersamaan hari itu.

Paling tidak dengan tertawa mereka bisa sedikit melupakan segala kepenatan yang sempat melanda. Dan tak perlu waktu lama ketika mobil tersebut terlihat telah terparkir rapi di parkiran salah satu mall besar di kota tersebut.

Kini empat orang gadis cantik berseragam putih abu-abu itu pun dengan lincah memasuki pintu masuk mall.

“Ini bagus nih!” seru Bella .

“Nggak ah bagusan ini lebih fresh warna-warnanya,” sangkal Jeslyn.

“Yang itu kayaknya oke, tuh!”

“Mendingan yang di sana deh, lagi pada diskon tuh semuanya.”

Keempat gadis cantik itu kini tampak sedang asyik mengacak-acak beberapa counter pakaian yang ada di dalam mall tersebut. Mereka saling memilih pakaian-pakaian yang menurut penilaian mereka masing-masing bagus, untuk kemudian dapat dikomentari oleh yang lainnya.

Beberapa SPG penjaga counter-counter pakaian itu hanya bisa melongo tanpa daya melihat tingkah liar keempat gadis tersebut. Beberapa pengunjung di counter-counter pakaian itu pun juga tampak memandangi tingkah Regina dan kawan-kawan sambil sesekali berbisik-bisik.

Namun demikian, mereka berempat memang cukup menghidupkan suasana mall di siang itu. Dan ketika Regina, Ivanka dan Bella sedang asyik memilih-milih pakaian, tiba-tiba Jeslyn menyeletuk.

“Ini bagus gak kalau gue pake?” Jeslyn menempelkan sebuah baju model kemeja dengan model garis-garis kecil.

Tanpa dikomando ketiga gadis lainnya langsung saling berpandangan dan kemudian berteriak kompak, “Kagaaaaak!”

Mendengar teriakan ketiga teman Jeslyn tersebut, praktis pengunjung mall lainnya yang berada di dekat mereka langsung menoleh. Kini semua pandangan mata pun seakan-akan tertuju kepada Regina dan kawan-kawan.

Mungkin karena sudah tidak tahan lagi melihat tingkah polah keempat gadis cantik itu, SPG penjaga di counter pun terlihat mengerutkan kening dan mengacakan pinggang. Bukannya merasa malu, mereka justru tampak tertawa cekikikan dan langsung ngacir dari tempat itu untuk kemudian bermigrasi menuju ke counter lainnya.

“Nah ini baru pas banget buat Bella!” Regina mengacungkan sebuah rok mini berbahan jeans.

“Wah lu ngehina gue Gin, lu kan tahu sendiri kalau rok di lemari pakaian gue cuma yang sedeng gue pake sekarang ini aja.”

“Iya sekali-sekali pake rok lah Bel, kalau lu terus-terusan pake celana entar lama-lama lu berubah jadi cowok, baru kapok lu! hehehe.”

“Waduh kayaknya ni anak minta dihajar deh!” Bella yang pada dasarnya emang tomboy lalu menyingsingkan lengan bajunya.

“Week…!” Regina menjulurkan lidahnya dengan mantap kemudian berlari menghindari kejaran Bella. Sementara Jeslyn dan Ivanka hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala melihat dua temannya berlarian di dalam counter pakaian tersebut.

Seperti SPG-SPG di counter-counter lain yang mereka kunjungi, SPG penjaga di counter ini pun juga seakan tidak bisa melakukan apa-apa, selain membiarkan keempat gadis-gadis cantik itu beraksi di tempat mereka.

“Wao… ni celana dalam renda-renda gini, apa nggak gatel ya makenya?” Bella mengambil sebuah celana dalam mini bermodel renda berwarna merah dan memperlihatkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain.

“Awalnya sih gatel Bel, tapi lama-lama biasa aja kok,” sahut Ivanka.

“Ah sok you know banget sih lu, Van!” sergah Bella.

“Ih dibilangin nggak percaya, hihihi…” Ivanka cekikikan.

“Emang lu pernah make yang ginian?” tanya Bella lagi sambil nunjuk benda berenda itu.

“Ya pernah lah, sekarang kan gue juga make yang model gituan,” timpal Ivanka serius. Regina, Jeslyn dan Bella sontak langsung saling pandang dan melongo mendengar pengakuan Ivanka itu.

“Serius Van, lu make celdam model renda-renda gitu ke sekolah?” Kini Regina yang mengajukan pertanyaan penuh nada ketidak percayaan.

“Iya, gak percaya amah sih dibilangan. Nih gue liatin!” kesal Ivanka, dan dengan santainya dia mengangkat rok abu-abu pendeknya di depan ketiga sahabatnya.

Mungkin karena suasana di counter pakaian dalaman itu memang terlihat sepi sehingga Ivanka berani untuk melakukannya. Kembali Regina, Jeslyn dan Bella dibuat melongo olehnya. Ternyata pengakuan Ivanka benar adanya.

Di balik rok abu-abu pendek yang telah terangkat itu kini terlihat mengintip sebuah kain mungil tipis berenda warna putih. Kain tipis tersebut full dengan renda sehingga apa yang ada di baliknya terlihat menerawang dengan jelas. Beberapa detik saja rok tersebut terangkat sebelum Ivanka akhirnya kembali menurunkannya.

“Wah lu emang udah gila ya, Van! Ke sekolah berano pake gituan, padahal rok lu pendek banget!” ujar Bella sambil geleng-geleng kepala.

Ivanka tampak tersipu malu. “Iya kan itung-itung ngebiasain diri, abisnya cowok gue suka banget sih sama model ginian. Dia tambah hot kalau liat gue pake celana ini, hehehe.” Dengan tanpa Ivanka berucap yang kian membuat tiga sahabatnya kehabisan kata-kata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ace Tribes
9.5
Akibat kutukan dari perundungan kawanannya, Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic. Ia hampir kehilangan nyawa saat dituduh oleh Putra Mahkota Remus Valez sebagai dalang penyerangan suku Ace. Begitu kebenaran terungkap, Ysee dipaksa bekerja sebagai pelayan pribadi di kediaman Remus. Namun, eksistensinya di sana justru membongkar rahasia-rahasia kelam yang terkubur. Mereka tidak menyadari bahwa keduanya hanyalah pion dalam rencana besar yang mengancam kehancuran.
Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun Riana bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama Reynald. Alih-alih bahagia, ia justru mengalami KDRT serta tekanan berat dari sang mertua, Mayang, yang membencinya karena belum memiliki anak. Ketika orang ketiga hadir menghancurkan rumah tangga mereka, penderitaan Riana pun memuncak. Enggan terus disakiti oleh pengkhianatan dan kekerasan fisik, Riana akhirnya membulatkan tekad untuk menyerah dan memilih pergi meninggalkan suaminya.
Sampul Novel Hati Lunara
8.4
Kisah Lunara Ustman menyoroti kehangatan kasih keluarga dan persahabatan, di tengah jerat cinta segitiga unik yang menuntut pengorbanan. Menghadapi kerinduan mendalam pada orang tuanya serta cobaan hidup yang perih, Luna memilih berserah pada takdir Tuhan. Ia terus berjuang melewati badai demi meraih kedamaian dan kebahagiaan sejati, sembari meyakini bahwa setiap rahasia di balik kepedihannya akan berakhir indah.
Sampul Novel Mantan Istri CEO Tampan
8.9
Alana terpaksa pergi menjauh selamanya demi membiayai operasi Andra. Ia rela meninggalkan suaminya itu meski dalam kondisi mengandung. Merasa dikhianati, Andra pun menyimpan dendam mendalam dan bertekad membalas sakit hatinya jika kelak bersua kembali. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka lagi. Kini Alana telah memiliki seorang anak, sedangkan kebencian di hati Andra masih membara. Akankah cinta lama mereka bisa bersemi kembali?
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?
Sampul Novel The Tears I Shed
9.4
Orlando Atmanegara, polisi senior, ditugaskan melindungi Candramaya Daniswara. Maya, mantan istri pengusaha yang dulu berwatak buruk, mengalami amnesia setelah lolos dari upaya pembunuhan. Ingatannya yang hilang mengubahnya menjadi sosok lembut bak malaikat. Perubahan drastis ini membingungkan Orlando, sekaligus memicu penyesalan sang mantan suami, Nayaka Bratadikara, yang jatuh cinta lagi. Di tengah ancaman yang mengintai, Maya kini berjuang menjaga kehormatan dirinya.