APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku

Gairah Liar Istri Kecilku

Nasib buruk menimpa Maia Vandini saat kencan butanya berubah menjadi jebakan berbahaya. Lulusan SMA ini diberi obat bius oleh teman kencannya, namun ia berhasil kabur demi menyelamatkan diri. Di tengah kondisi kritis dan kesadaran yang kian menipis, Maia bertemu seorang CEO asing. Demi bertahan, ia memohon pertolongan hingga memicu malam yang penuh gairah. Sang pria pun menegaskan bahwa Maia yang harus bertanggung jawab atas awal pertemuan tak terduga ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Maia menatap Tian dengan mata membulat. Jantungnya berdebar keras ketika pria itu tiba-tiba mendekat, mengangkat dagunya dengan jemarinya yang kokoh.

"Syarat apa, Om?" Maia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena bibir Tian sudah menempel di bibirnya.

Ciuman itu begitu dalam, panas, dan menuntut. Bukan sekadar sentuhan biasa, melainkan seperti sebuah klaim.

Maia membeku sesaat, tetapi perlahan-lahan tubuhnya melemas. Ia seharusnya menolak, seharusnya mendorong pria ini menjauh, tetapi mengapa justru tubuhnya bergerak mengikuti ritme Tian?

Desahan kecil keluar dari bibirnya, membuat Tian semakin memperdalam ciumannya. Tangannya kini bertumpu di pinggang Maia, menariknya lebih dekat.

Tian menarik diri sejenak, menatap Maia dengan sorot mata penuh arti. "Jadilah istriku," katanya tiba-tiba.

"Hah?" Maia tersentak, matanya membesar. "Apa maksudmu?"

"Kita menikah," Tian mengulang dengan tenang, seperti baru saja membicarakan hal sepele.

Maia mengerjap, mencoba memahami situasi. "Tunggu... kita bahkan baru saja bertemu!"

Tian menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Maia dengan ekspresi datar. "Dan tadi kau yang duluan menciumku, ingat?"

Wajah Maia langsung merona. Ia membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Tian tersenyum miring, menikmati reaksi gadis di depannya. "Aku butuh istri. Kau butuh tempat tinggal dan perlindungan. Kita bisa saling menguntungkan."

Maia masih tidak percaya. "Om bercanda, kan?"

"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Tian menaikkan alisnya.

Maia menelan ludah. Pria ini memang tidak terlihat sedang bercanda.

"Lalu... kenapa aku?" Maia bertanya ragu.

Tian mengangkat bahu. "Kau menarik, dan aku tidak suka membuang waktu mencari wanita lain. Selain itu, kau juga dalam masalah. Kalau aku tidak membawamu tadi, sekarang kau mungkin sudah ada di tangan pria brengsek itu."

Maia menggigit bibirnya, mempertimbangkan.

"Aku akan membayar lima miliar," lanjut Tian santai. "Tapi pernikahan ini hanya status. Tidak boleh ada perasaan. Kita menikah karena saling membutuhkan, bukan karena cinta."

Lima miliar? Mata Maia membesar. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding mahar pria yang disiapkan oleh Bibi Nana.

Ia berpikir cepat. Jika menikah dengan Tian, setidaknya ia bisa bebas dari cengkeraman keluarga angkatnya dan dari pria menjijikkan yang nyaris mencelakainya.

"Bagaimana?" Tian menatapnya lekat-lekat.

Maia menarik napas panjang, menatap mata pria itu dalam-dalam. "Baiklah," katanya akhirnya.

Tian tersenyum kecil. "Pintar."

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Tian menarik Maia ke dalam ciuman lain. Kali ini lebih lembut, tetapi tetap mendominasi.

Maia tidak melawan. Ia tahu ia baru saja masuk ke dalam sebuah perjanjian yang akan mengubah hidupnya.

Dan ia tidak bisa mundur lagi.

"Akhh.... " Maia mendesah pelan saat bibir Tian menyusuri lehernya, bahkan sampai membuat tanda merah.

"Aku suka suara desahmu, Baby! Ayo, keluarkan lagi," bisik Tian.

Bisikan Tian membuat tubuh Maia bergetar hebat. Maia memejamkan mata dan kembali mendesah.

***

Pukul lima pagi, Maia terbangun dengan kepala sedikit pusing. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sunyi.

Pria itu tidak ada?

Ia duduk di atas ranjang, menarik napas dalam. Pikirannya masih kacau setelah apa yang terjadi semalam. Tangannya meraba tempat di sampingnya, masih terasa hangat. Tapi pria itu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Di atas meja kecil di dekat tempat tidur, Maia melihat sebuah kartu nama. Ia mengambilnya, membacanya pelan.

"Tian Jovanda Anderson."

Mata Maia membesar saat membaca tulisan di bawah nama itu.

"Miliarder terkaya di ibu kota, pria paling berkuasa di negeri ini."

Tangannya sedikit gemetar. "Jadi dia bukan pria biasa?"

Maia menggelengkan kepala. Ia mengingat betapa santainya Tian tadi malam, seolah-olah menikahi seseorang hanyalah sebuah bisnis kecil baginya.

"Om itu pasti cuma bercanda," gumamnya pelan.

Ia tidak mungkin benar-benar menikahinya, kan? Buktinya, Tian pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Maia memutuskan pulang. Ia pikir semuanya sudah selesai. Tian hanya memberinya tempat berteduh semalam dan kini segalanya kembali seperti semula.

Namun, begitu ia sampai di rumah, sesuatu yang mengerikan menunggunya.

Begitu pintu terbuka, tangan Bibi Nana langsung melayang ke pipinya.

PLAK!

Maia terhuyung ke belakang, terkejut dengan tamparan keras itu.

"Kau pikir bisa lari dariku, hah?!" suara Bibi Nana penuh kemarahan.

Maia memegang pipinya yang panas. "Bi... bibi, aku bisa jelaskan-"

"Jelaskan? Kau membuat Tuan Alex marah besar!" Bibi Nana menjerit. "Kau tahu berapa banyak uang yang hampir kudapatkan darimu?! Kau kabur di saat yang seharusnya kau berada di ranjangnya!"

Maia menegang. "Aku bukan barang dagangan, Bibi!"

PLAK!

Tamparan kedua lebih keras. Kali ini Maia jatuh ke lantai.

"Kau ini anak tidak tahu diuntung! Aku sudah membesarkanmu sepuluh tahun, dan kau berani membangkang?!"

Maia menangis, merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Namun, ia tidak ingin menyerah begitu saja.

"Aku akan membayar semua uang yang bibi keluarkan untukku! Aku akan bekerja!" Maia berusaha bangkit.

Bibi Nana mencengkeram rambutnya, menariknya kasar.

"Kau pikir uang itu bisa kau dapat dengan kerja rendahan?! Kau hanya perempuan biasa, Maia! Satu-satunya nilai yang kau punya adalah tubuhmu! Itu yang bisa kau jual!"

Maia terisak. Air matanya bercucuran.

Paman Rudi yang berdiri di sudut ruangan hanya diam, seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi.

"Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar rumah!" bentak Bibi Nana. "Dan kau harus minta maaf pada Tuan Alex! Kau harus jadi istrinya, entah kau mau atau tidak!"

Maia menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan menikah dengan pria menjijikkan itu!"

Bibi Nana semakin murka. Ia menarik Maia ke dapur, lalu mencelupkan tangannya ke dalam air panas yang masih mengepul.

"Aaakhh!" Maia menjerit kesakitan.

Air matanya semakin deras, tetapi Bibi Nana tidak peduli.

"Kau akan belajar untuk tidak melawan!" suara wanita itu dingin.

Pintu rumah tiba-tiba terbuka lebar.

"LEPASKAN DIA."

Suara berat itu menggema di ruangan.

Bibi Nana menoleh dengan geram. Namun, saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, wajahnya langsung pucat pasi.

Tian Jovanda Anderson berdiri di sana, mengenakan setelan hitam yang mahal. Di belakangnya, dua pria berjas dengan wajah dingin siap bertindak kapan saja.

Maia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Om Tian..." suaranya lemah.

Tian menatap Maia dengan rahang mengeras. Matanya gelap, penuh amarah.

Ia melangkah masuk dengan aura yang begitu menekan. "Apa yang kau lakukan pada wanitaku?"

Bibi Nana mencoba tertawa kecil, meskipun jelas suaranya bergetar. "Tuan... Anderson? Ini hanya... hukuman kecil. Anak ini perlu diajari disiplin."

Tian tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Maia, melihat luka di wajah dan tangannya yang memerah akibat air panas.

Kemarahannya semakin memuncak.

Tanpa peringatan, Tian melangkah cepat, meraih tangan Maia dan menariknya ke dalam pelukannya.

"Aku sudah memutuskan," ucapnya dingin, matanya masih menatap tajam ke arah Bibi Nana. "Mulai hari ini, dia adalah istriku."

Maia tersentak. "Hah?"

Bibi Nana terbelalak. "T-tapi-"

"Berani menyentuhnya lagi, dan aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari esok hari," suara Tian tajam seperti pisau.

Bibi Nana terdiam, tubuhnya gemetar.

Tian merangkul Maia lebih erat. "Kau ikut aku."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Dendam dan Hasrat Liar
9.5
Alyssa Hartanto menyamar sebagai asisten pribadi demi menghancurkan Damian Valente, miliarder yang telah meruntuhkan bisnis dan keluarga orang tuanya. Namun, misi balas dendam tersebut terancam gagal saat kebencian di hati Alyssa perlahan terkikis oleh gairah yang tak terduga. Kini, ia didera dilema besar: tetap menuntaskan dendam masa lalunya atau justru menyerah pada perasaan cinta yang mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Demi membiayai neneknya yang sakit, Alya, seorang yatim piatu tamatan SMP, mengadu nasib di kota. Keberuntungan sempat berpihak saat ia bekerja pada Ibu Ratna yang berhati mulia. Namun, kembalinya putra majikannya bernama Arka menjadi mimpi buruk. Kehormatan Alya direnggut paksa oleh pria itu. Alih-alih bertanggung jawab, Arka justru mencaci dan mengusirnya dengan kejam. Kini, dengan batin yang terluka parah, Alya harus berjuang keras demi bertahan hidup.
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!
8.1
Tiga tahun mengabdi sebagai istri, Cindy justru diceraikan demi perempuan lain dan menjadi bahan cemoohan sekota. Namun, ia bangkit membuktikan bakat terpendamnya hingga mencapai kesuksesan luar biasa. Saat sang mantan menyesal dan memohon untuk rujuk, Cindy menolaknya dengan dingin. Di saat bersamaan, suami barunya yang tampan datang melindungi Cindy dan memperingatkan sang mantan agar tidak berani mengusik kehidupan mereka lagi.
Sampul Novel Dituduh Sebagai Simpanan Setelah Membeli Guci Abu Seharga 16 Miliar
9.1
Saat pemakaman, sekelompok orang asing mengacau. Wanita yang memimpin mengaku sebagai kekasih suamiku dan menuduhku sebagai simpanan. Kerabat hanya menonton saat dia menyuruh orang merobek pakaianku. Demi menghormati suasana, aku memintanya menunggu, namun dia justru menghancurkan guci abu seharga miliaran yang dibeli pacarnya. Dia mengira itu abu ibuku, tanpa tahu bahwa guci itu berisi abu ibu mertuaku—yang merupakan ibu kandung dari kekasihnya sendiri.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang untuk Rania, tunangannya. Hubungan masa kecil kami berubah jadi kebencian akibat fitnah video asusila dari Rania. Baskara pun menyiksaku dan menculik orang tuaku hingga mereka tewas terjatuh dari gedung di depan mataku. Saat aku menyembunyikan penyakit parahku, Baskara malah memintaku mati. Tanpa ragu, kupenuhi permintaannya lalu melompat ke jurang maut.