APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar Isteriku

Gairah Liar Isteriku

Pernikahan Nara dan Rama tampak sempurna di mata publik, padahal Nara memendam kesepian yang luar biasa. Demi mengisi kekosongan hati, ia nekat menjalin perselingkuhan dengan Arka. Namun, kedamaian semu itu hancur ketika Arka mengirim ancaman untuk membeberkan hubungan rahasia mereka. Kini, Nara terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan rasa sakit yang hebat. Di tengah kemelut asmara yang penuh misteri ini, ia harus berjuang keras demi menemukan kembali jati dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ternyata yang muncul bukan Rama. Di depan pintu telah  berdiri Dita, sahabatnya yang beberapa hari ini baru pulang dari luar negeri. Sahabat sedari masa SMA dulu. Nara memandang sosok itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa lega karena ternyata yang mengetuk pintu bukanlah Rama, Meski perasaan yang gak keruan bercampur dengan kegelisahan masih menguasai hatinya. Dita tersenyum tipis, membawa aura tenang yang anehnya menenangkan sekaligus mengintimidasi. Ia tampak seperti seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.

"Dita? Malam-malam begini, ada apa?" tanya Nara, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik nada terkejut.

"Maaf jika aku membuatmu terkejut, Nara. Aku tahu ini mendadak," jawab Dita lembut, matanya tajam menatap Nara, "Tapi aku harus membicarakan semua ini ke kamu. Ada hal penting yang perlu kamu tahu."

Nara terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, memberi isyarat agar Dita masuk ke kamarnya. Ia melirik ponsel yang masih tergeletak di lantai dengan layar pecah, berusaha memastikan sahabatnya untuk tidak memperhatikan buah dari kemarahan Rama tadi. Kehadiran Dita membawa suasana baru di dalam kamar yang sebelumnya penuh dengan ketegangan, meskipun pikiran sedang kacau dan perasaan tidak nyaman di hati Nara masih belum sepenuhnya reda.

"Saat kamu bertengkar dengan Rama tadi, aku sudah di ruang tamu bersama pembantumu. Jadi, aku mendengar semuanya, Oops gak semua sih" ujar Dita mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur, matanya menjelajahi ruangan dengan tenang, "Aku nggak sengaja lewat dan dengar suara kalian. Ada apa, Na? Apa yang sebenarnya tengah terjadi?"

Pertanyaan itu membuat Nara terpaku. Pandangannya teralihkan lagi pada ponsel di lantai, seperti berharap benda itu bisa memberinya jawaban. Setelah menarik napas panjang, ia berkata dengan suara bergetar, "Aku ketahuan, Dit. Rama tahu soal Arka."

Ekspresi Dita tetap tenang, hampir tanpa perubahan. Ia hanya mengangkat alis tipisnya sedikit, seolah berita itu bukanlah sesuatu yang mengejutan, "Ketahuan? Hm, aku nggak bilang aku senang mendengarnya, tapi ... aku sudah menduga. Cepat atau lambat, pasti terbongkar juga."

"Kamu malah terlihat santai," ujar Nara, menatap Dita dengan bingung sekaligus sedikit kesal,  "Aku hampir kehilangan segalanya, Dit. Pernikahan ini, semuanya ..."

Dita tersenyum kecil, tetapi ada ketegasan di balik senyumnya, "Nara, dengarkan aku. Kamu tahu kan, aku pernah berada di posisi yang lebih buruk dari posisimu saat ini? Dan aku belajar satu hal; selama kita belum benar-benar jatuh, pasti selalu ada cara untuk kita bisa bangkit kembali"

"Apa maksudmu?" Nara bertanya dengan agak ragu. Ia tahu Dita selalu memiliki jawaban yang tak terduga, tetapi di saat seperti ini, ia tidak yakin apakah jawaban Dita akan cukup membantu.

Dita mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya kini lebih dekat dengan wajah Nara. Ia berbicara dengan nada rendah seolah membisikkan sebuah rahasia besar. "Selama Rama belum punya bukti konkret atas perselingkuhanmu, kamu masih bisa membalikkan keadaan. Kamu hanya perlu memainkan peranmu dengan cerdik."

Nara mengerutkan kening, "Memainkan peran ... maksudmu bagaimana?"

"Begini. Pertama, buat Rama merasa bersalah," kata Dita tanpa ragu,"Jika dia merasa kamu adalah korban dari rasa curiganya, dia akan lebih mudah memaafkanmu. Pria cenderung ingin melindungi, bahkan ketika mereka marah. Kamu harus manfaatkan kemarahannya itu."

Nara masih bingung, tetapi ia membiarkan Dita melanjutkan.

"Kedua, kamu harus punya 'kartu As'-sesuatu yang bisa mengimbangi kesalahanmu atau bahkan mengalihkan perhatian Rama."

"Kartu As? Kamu menyuruhku mencari kesalahan Rama?" Nara bertanya dengan nada skeptis.

Dita tersenyum lebih lebar, kali ini hampir terlihat licik, "Kalau nggak ada, ciptakan. Percayalah, setiap orang punya sisi gelap. Kamu hanya perlu menemukannya."

Kata-kata itu membuat Nara terdiam. Ia tahu Dita bukan orang yang sembarangan memberikan nasihat, tetapi rencana itu terdengar berisiko dan bertentangan dengan apa yang ia yakini. "Tapi aku nggak tahu kalau Rama punya rahasia. Dia terlalu sibuk untuk itu."

"Itulah kelemahan pria sibuk," jawab Dita cepat, seolah-olah sudah menyiapkan jawaban itu sebelumnya. "Mereka mudah dibohongi. Kita hanya perlu trik kecil untuk menemukan celahnya. Percayalah, Na, aku tahu apa yang aku bicarakan."

"Tapi ..." Nara masih ragu. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak ide itu, tetapi ada juga bagian yang merasa tidak punya pilihan lain.

"Tidak ada tapi, Na," potong Dita dengan nada tegas. "Kalau kamu ingin menyelamatkan hidupmu, kamu harus bertindak sekarang. Dunia ini bukan untuk orang yang ragu-ragu."

Perkataan itu membuat Nara terdiam lebih lama. Ia merenung, mencoba menimbang-nimbang apakah saran Dita adalah jalan keluar atau justru jalan menuju kehancuran yang lebih besar.

Melihat keraguan di wajah Nara, Dita berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan menuju pintu. "Kita bicarakan detail rencana ini besok. Malam ini, tenangkan dirimu dulu. Jangan biarkan emosi menguasai pikiranmu."

"Terima kasih, Dit. Aku nggak tahu apa jadinya tanpa kamu," ujar Nara akhirnya, suaranya hampir seperti bisikan.

Dita hanya tersenyum samar, sebuah senyuman yang sulit ditebak artinya. "Santai saja. Kita baru akan memulainya."

Setelah Dita pergi, Nara terduduk di tempat tidur. Kata-kata sahabatnya terus terngiang-ngiang di pikirannya, membentuk pusaran kebingungan dan ketakutan yang tak berujung.

Di luar sana, di lorong yang sepi, Dita berjalan dengan senyum misterius di wajahnya. Dalam pikirannya, permainan baru saja dimulai, dan Nara adalah bidak yang sempurna dalam rencana yang lebih besar. Ia merogoh ponsel di dalam tasnya, mengirimkan pesan singkat kepada seseorang dengan nama yang disembunyikan di kontak.

"Langkah pertama selesai. Dia akan mengikuti skenario kita."

Pesan terkirim. Dita menatap layar ponselnya sejenak sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia melangkah dengan percaya diri, seolah-olah dunia ini adalah panggungnya, dan setiap orang di sekitarnya hanyalah para Viguran.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti di ujung lorong. Ponselnya kembali bergetar, sebuah notifikasi baru muncul. Kali ini, pesan yang masuk membuat senyumnya memudar. Matanya menyipit, tak habis pikir. Ia pun membaca deretan kata-kata yang singkat tapi penuh ancaman:

"Hi Cantik, Kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu rencanakan hmm? Hati-hati, Dita. Aku lebih dekat daripada urat lehermu"

Dita mendongak, menoleh ke belakang, curiga jika ada yang sedang mengikutinya, sepasang bola matamya memindai  seantero Lorong yang minim penerangan itu. Hatinya berdesir, perasaan takut seperti mulai memenuhi rongga dadanya. Udara terasa menjadi lebih berat, dan untuk pertama kalinya, aura percaya dirinya sedikit terguncang hebat, "siapa orang ini, seakan akan dia sudah tahu seluruh rencanaku. Tidak mungkin yang mengirimkan pesan barusan itu Arka, lantas siapa ..."

Permainan baru saja dimulai, tapi siapa sebenarnya yang mengendalikan papan catur ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda berdarah iblis, dijatuhi hukuman menjalani sepuluh kehidupan fana untuk melompati bencana cinta. Walau dibesarkan di alam langit, ia selalu diasingkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudara perempuannya. Di balik hukuman ini, Kaisar Langit menyimpan taktik rahasia. Sang Kaisar berniat melenyapkan emosi Aranjo demi menjadikannya Dewi Agung berkekuatan mutlak. Akankah takdir tunduk pada ambisi sang penguasa langit, atau malah berbalik?
Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson telah memberikan segalanya untuk Daniel Carter. Namun di akhir hayatnya, ia justru menerima kenyataan pahit. Daniel mengaku menyesal telah menikahinya dan merindukan Lily Harvey, wanita dari masa lalunya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih hidup mewah bersamanya, di saat-saat terakhir ia mengungkapkan bahwa kesetiaan pada Sophie hanyalah beban yang melelahkan.
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA
9.2
Kehidupan Yumna runtuh setelah Ilham membatalkan lamaran mereka secara sepihak tanpa alasan pasti. Akibat keputusan itu, ia harus menahan perih akibat cemoohan dan fitnah keji dari tetangga sekitar. Namun, di tengah penderitaan tersebut, sebuah kebenaran besar mulai terkuak. Alasan sebenarnya di balik tindakan Ilham ternyata berhubungan erat dengan sebuah peristiwa misterius delapan tahun lalu. Kini, Yumna dipaksa menghadapi kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Sampul Novel LOVE AFFAIR
8.8
Bhaga kembali ke rumah orang tua dan terpikat oleh Atma, gadis yatim piatu sederhana yang tulus merawat ayahnya. Meski terhalang status sosial, perasaan cinta tak terbendung tumbuh di antara mereka. Konflik rumit pun muncul karena Bhaga telah bertunangan, sedangkan Atma dijodohkan oleh ibu Bhaga. Terjebak hubungan terlarang, keduanya didera rasa bersalah dan tekanan norma sosial. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan melewati segala rintangan dan stigma?
Sampul Novel Rara Series - Intimate Partner
9.1
Kehidupan Rara berubah drastis setelah bertemu Jo. Kasih sayang Jo membuatnya merasa sangat berharga, hingga ia patuh pada setiap keinginan pria itu. Namun, situasi menjadi rumit ketika Jo mengaku ingin mendekati Chatrin, sahabat dekat Rara. Bukannya merasa cemburu, kesetiaan Rara yang luar biasa justru mendorongnya untuk membantu Jo. Kini, Rara harus berjuang menghadapi batas kepercayaan dan jati dirinya di tengah hubungan mereka yang makin pelik.