APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Ternoda

Gadis Ternoda

Diana dikhianati sahabatnya sendiri hingga terjebak dalam malam kelam bersama pria asing. Peristiwa itu menyisakan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan ayah kandung anaknya. Keadaan kian pelik saat Diana mengetahui bahwa pria tersebut kini menjalin kasih dengan sepupunya. Kini, Diana dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar rahasia darah daging mereka atau tetap diam demi keutuhan keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Siang yang terik ini menjadi saksi perjuangan Diana mencari pekerjaan, namun dia tak kunjung menemukannya. Diana yang hanya tamatan SMA tak bisa berharap banyak untuk mendapatkan pekerjaan enak, apalagi di zaman yang serba sulit ini. Dari satu toko ke toko lain dia menawarkan diri agar bisa diterima bekerja, tapi semua nihil.

Dengan lelah, gadis berambut panjang itu duduk di halte bus, peluh menetes di sekitar pelipis dan lehernya. Tapi dia tak boleh menyerah, dia harus mendapatkan pekerjaan agar bisa menyambung hidup dan mengobati ibunya yang sedang sakit parah.

“Aku harus mencari pekerjaan di mana lagi?” keluh Diana sembari mengusap keringat di dahinya, tenggorokannya terasa kering sebab panas dan berkeringat membuatnya sedikit dehidrasi.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan Diana, kemudian seorang wanita berpakaian seksi dengan dandanan sedikit menor keluar dari mobil tersebut.

“Hai, Diana!” sapa wanita itu.

Diana memicingkan matanya, memperhatikan wanita itu, namun kemudian membelalak kala mengingat siapa seseorang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

“Miranti?” Diana sontak beranjak dari duduknya.

Wanita bernama Miranti yang merupakan teman SMA Diana itu tersenyum lebar saat dirinya dikenali.

“Wah, kamu beda banget! Aku sampai pangling dan enggak mengenalimu!” Diana langsung memeluk temannya itu.

Miranti balas memeluk Diana, “Pantas kamu kayak orang bingung gitu waktu aku sapa.”

Keduanya mengurai pelukan dan Diana mengamati Miranti dari bawah sampai atas, “Kamu cantik banget sekarang.”

“Iya, dong. Ini semua berkat perawatan, kalau enggak perawatan, mana bisa seperti ini,” sahut Miranti sambil tertawa.

Diana hanya tersenyum kecut saat mengingat dirinya yang saat ini terlihat kumal dan kucel.

“Eh, kamu sedang apa di sini?” tanya Miranti mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang istirahat, soalnya lelah dari tadi keliling mencari pekerjaan,” jawab Diana jujur.

“Sudah dapat pekerjaannya?”

Diana menggeleng lemah, wajah cantiknya berubah sedih.

“Kamu mau aku kasih pekerjaan?” Miranti kembali bertanya.

Diana terkesiap, wajahnya berubah antusias, “Kerja apa, Mir?”

“Kerja enaklah pokoknya, dan bayarannya besar.”

“Di mana?”

“Di hotel.”

Diana mengernyit, “Di hotel?”

“Iya, nanti tugas kamu cuma melayani pengunjung dan menjamunya, pokoknya buat mereka senang,” terang Miranti.

Diana berpikir sejenak, pekerjaan apa yang Miranti maksud?

“Kamu jangan takut! Sudah kubilang, kerjanya enak dan bayarannya banyak, apalagi kalau pengunjung puas dengan kerja kamu, bisa dapat bonus.” Miranti mencoba meyakinkan Diana agar mau bekerja dengan dirinya.

Diana masih bergeming, dia sedikit ragu. Tapi dia sangat butuh pekerjaan saat ini, dan sekarang kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan ada di depan mata.

“Bagaimana, Di? Kamu mau enggak? Kalau enggak mau, aku cari orang lain saja.”

Dengan segala pertimbangan , akhirnya Diana mengangguk setuju, “Iya, aku mau. Soalnya aku lagi butuh pekerjaan banget!”

Miranti pun tersenyum senang, “Baiklah, kalau begitu nanti malam pukul tujuh datang ke hotel Grand Luxury, tapi kamu harus berdandan yang cantik dan pakai pakaian yang bagus! Soalnya kita mau bertemu seseorang yang akan memberimu pekerjaan, nanti kita bertemu di sana,” ujar Miranti.

“Kenapa bertemunya harus malam, Mir?”

“Karena dia bisanya malam, kalau siang dia ada pekerjaan lain,” dalih Miranti.

“Baiklah, aku akan datang. Kalau gitu aku minta nomor telepon kamu, ya?”

Miranti mengangguk kemudian menyebutkan satu per satu nomor dan Diana buru-buru mencatatnya.

“Sampai bertemu nanti malam, ya. Aku masih ada urusan lagi,” ucap Miranti.

“Iya, Mir. Terima kasih, ya!”

Miranti tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobilnya, kemudian melesat pergi.

“Akhirnya aku akan mendapatkan pekerjaan!” Diana tertawa senang.

Malam harinya, Diana sudah tiba di hotel yang Miranti maksud, dia berdandan cantik dan mengenakan stelan kemeja putih lengan pendek serta rok hitam sebatas lutut. Diana merasa penampilannya ini sudah cukup bagus dan rapi.

Dari kejauhan Miranti berjalan menghampiri Diana, “Hai, Di. Kamu kok pakai baju gini?”

“Kan mau interview, jadi aku pakai pakaian yang rapi seperti ini,” jawab Diana polos.

“Enggak usah! Pakai baju biasa aja, ini bukan interview kerja yang formal, kok. Kamu jadi seperti anak magang kalau gini.”

Diana mengernyit heran,”Aku kirain ini interview kerja seperti biasanya. Jadi gimana, dong!”

“Kebetulan aku ada bawa baju ganti di mobil, kamu pakai itu aja. Kayaknya ukuran tubuh kita enggak jauh beda.”

Diana mengangguk pasrah, “Ya sudah, deh!”

“Tunggu sebentar!” Miranti kembali ke mobilnya dan mengambil pakaian yang akan dia pinjamkan ke Diana.

Keduanya pun lantas masuk ke dalam hotel berbintang itu dan menuju kamar mandi.

Setengah jam kemudian, Diana sudah berdiri di depan cermin wastafel dengan wajah masam. Dia sudah mengenakan pakaian yang Miranti pinjamkan, namun dia merasa tak nyaman. Bagaimana tidak, pakaian itu sangat terbuka, dia merasa risih sendiri.

“Apa enggak ada baju lain, Mir? Ini terlalu seksi, aku enggak pede!”

“Enggak ada, Di. Tapi kamu cocok pakai ini, kamu jadi cantik banget,” puji Miranti.

Diana mengamati pantulan dirinya di cermin, dress dengan kerah Sabrina yang memamerkan pundak serta sebagian dadanya memang sangat cantik, tapi dia tak terbiasa memakai pakaian seperti ini.

“Sudah, jangan banyak mikir! Kita harus cepat menemui orang itu, nanti kamu bisa kehilangan pekerjaan kalau kelamaan,” desak Miranti.

“Iya-iya, deh!” Diana pasrah.

“Eh, tunggu! Biar enggak gugup, kamu minum dulu!” Miranti mengeluarkan sebotol minuman rasa stroberi dan memberikannya pada Diana.

“Apa ini, Mir?” selidik Diana.

“Cuma minuman soda, sudah cepat minum!”desak Miranti.

Diana pun menenggak minuman itu, Miranti menyeringai licik.

“Sekarang kita pergi! Yuk!” ajak Miranti.

Keduanya meninggalkan toilet dan buru-buru naik lift menuju lantai atas.

Diana dan Miranti tiba di depan pintu salah satu kamar hotel, tak lama kemudian pintu itu terbuka setelah Miranti mengetuknya beberapa kali.

Seorang pria berwajah cukup ganteng yang mengenakan kemeja hitam menatap mereka dari balik pintu.

“Hem, Tuan. Ini Diana, yang tadi saya ceritakan,” ujar Miranti.

“Silakan masuk!” pinta pria itu.

“Kamu masuk sana! Ingat ya, lakukan apa yang dia suruh, jangan melawan. Nanti kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia,” bisik Miranti.

“Maksudnya aku langsung kerja?” tanya Diana bingung.

“Iyalah, sudah cepat masuk!” Miranti mendorong pundak Diana.

“Tapi, Mir. Aku ....” Diana mulai bimbang.

“Mari masuk!” Pria itu kembali bersuara.

Dengan ragu Diana melangkah masuk, dia masih berusaha berpikir positif meskipun perasaannya mulai tidak enak. Entah mengapa dia merasa gelisah, jantungnya berdebar kencang seperti ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

“Nama kamu siapa?” tanya pria itu seraya mengunci pintu kamar.

“Diana, Pak.”

“Jangan panggil bapak, aku rasa kita seumuran. Panggil Revan aja,” pinta pria bernama Revan itu sembari berjalan mendekati Diana.

“I-iya.” Diana mundur, perasaannya semakin tak enak, dia kian merasa tak nyaman dan gelisah.

“Malam ini kita akan bersenang-senang, cantik.” Revan hendak meraih tangan Diana, tapi dengan cepat gadis itu mengelak dan menghindar.

“Maaf, saya .... ah ....” Diana ingin pergi dari kamar itu, tapi langkahnya terhenti karena mendadak kepalanya terasa pusing dan pandangannya mengabur.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Revan, dia memeluk Diana dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak gadis itu.

Diana merasa sesuatu mulai terpancing, dia merinding tapi masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Revan. Namun tentu Revan tak ingin melepaskannya begitu saja, dia semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi leher Diana, sehingga membuat gadis itu mendesah sambil memejamkan matanya.

Diana heran kenapa tubuhnya bereaksi aneh saat mendapatkan sentuhan dari Revan, dia seolah ingin meminta lebih padahal hati kecilnya menolak.

Revan semakin melancarkan aksinya, dia mencumbui Diana sampai gadis itu tak bisa menahan diri lagi.

Akhirnya malam itu mereka mengarungi surga dunia dalam kenikmatan, Revan merenggut kehormatan Diana tanpa ada perlawanan yang berarti dari gadis malang itu, karena dia juga sedang dikendalikan oleh hasrat yang memuncak.

Sementara itu, di dalam mobilnya, Miranti tersenyum senang melihat jumlah uang yang tadi siang Revan transfer ke rekeningnya.

“Maafkan aku, Diana! Kamu butuh uang, aku juga,” gumam Miranti sinis, Diana tak tahu jika tadi dia sudah mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman yang gadis itu minum.

***

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah kabur dari rumah akibat perlakuan tidak adil orang tuanya. Nasibnya berubah total setelah kecelakaan mobil membawanya diadopsi dan berganti identitas menjadi Rully. Ia yang dahulu buta huruf kini berhasil bangkit menjadi dokter sukses. Masalah besar datang saat seorang pria meminangnya tanpa tahu bahwa Rully berasal dari keluarga miskin. Kini ia bimbang antara berterus terang atau tetap menyembunyikan rahasia masa lalunya demi mempertahankan cinta serta status sosialnya.
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Saat sedang hamil, aku harus menghadapi kenyataan mengerikan. Selama tiga tahun ini, Liam Barnes yang merupakan kekasihku sendiri, membiarkan kembarannya, Lucas, meniduriku. Pengkhianatan kejam ini dilakukan Liam sebagai bentuk balas dendam demi cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, reaksi berbeda ditunjukkan Lucas saat aku mengonfrontasinya. Di hadapanku, ia justru berlutut khidmat, mencium kakiku, dan bersumpah bahwa kesetiaannya kini sepenuhnya hanya milikku.
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Pasca diusir oleh sang ayah, Emma Karina terpaksa menyepakati pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino, seorang CEO yang menguasai bisnis di Bali. Hidup Emma pun berubah di bawah pengawasan ketat sang suami yang sangat protektif. Namun, pernikahan mereka yang penuh batasan mulai goyah ketika Emma tanpa sengaja membongkar rahasia besar yang selama ini disimpan rapat oleh Ethan. Kini, kelangsungan hubungan mereka berada di ujung tanduk setelah kebenaran terungkap.
Sampul Novel menikah lagi
9.1
Kini aku tinggal di sebuah rumah besar milikku sendiri bersama lima orang penyewa. Walau bangunan ini sudah lama kubeli dan kuperbaiki untuk dijadikan kos, aku selalu menjauhinya selama bertahun-tahun. Masa lalu kelam di sana menyisakan luka mendalam yang memicu amarah dan kesedihan setiap kali teringat. Namun sekarang, aku terpaksa menempati kamar utama di lantai bawah dan harus kembali menghadapi kenangan buruk yang tersimpan rapat di rumah ini.
Sampul Novel Reinkarnasi Menjadi Istri Presdir Dingin
9.6
Setelah tewas mengenaskan akibat pengkhianatan keji mantan suami dan selingkuhannya, Lara Anggraini mendapatkan kesempatan kedua. Ia bereinkarnasi ke dalam raga seorang wanita yang merupakan istri dari mantan bosnya, seorang Presdir dingin yang kaku. Di balik kemewahan hidup barunya ini, Lara tidak tinggal diam. Ia mulai menyusun siasat matang demi menuntut balas pada orang-orang yang telah menghancurkan masa lalunya. Akankah dendam membara Lara terbalaskan?
Sampul Novel Skandal Pengasuh Tua dan Putraku
8.4
Setelah memergoki Bi Tati membawa keluarganya makan kerang dan lobster secara diam-diam, sang majikan luluh oleh permohonan ampun serta bujukan kakak iparnya. Demi kekerabatan, ia hanya memberi sanksi potong gaji. Namun, keputusan itu berujung petaka. Baru dua hari ia pergi ke luar negeri, putranya yang baru lulus kuliah menelepon sambil menangis di tengah pesta perayaan rumahnya, mengaku telah tidur dengan pengasuh tua tersebut.