APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis (Tak) Perawan

Gadis (Tak) Perawan

Indana Maheswari, anak tunggal keluarga terpandang, menyembunyikan rahasia masa lalu yang merenggut keperawanannya. Hal ini membuatnya putus asa dalam mencari jodoh. Di tengah kegamangan, hadirlah Utsman yang tulus menerimanya apa adanya. Namun, saat Indana mulai membuka diri, sosok Saddam tiba-tiba muncul kembali. Sahabat lama Utsman tersebut datang membawa proposal pernikahan yang sulit ditolak, memicu dilema batin yang hebat bagi Indana.
Bab
Bagikan

Bab 3

Indana tersedak mendengar pertanyaan dokter muda itu. Apa dia tidak salah dengar?

"Sebaiknya Nak Dokter tanyakan sendiri dengan orangnya." Mama tersenyum menggoda, memberi isyarat agar Dokter Utsman bertanya kepada sang putri.

Loh, kok Aku? batinya bertanya.

Indana tergagap saat dr. Utsman menoleh dan kedapatan dirinya sedang mencuri pandang. Indana refleks berpura-pura mengecek selang infus. Pemuda yang berprofresi dokter itu tersenyum melihat aksi konyolnya.

"Bagaimana, Inda?" Suara lembutnya sungguh sangat mengusik naluri.

Indana menegang. Oh, Tuhan. Memangnya kamu mau apa jadi tanya-tanya begitu? Namun, itu hanya berani dia ungkapkan dalam hati saja.

"Eeemmm, saya ... masih sendiri, Dok. Belum ada yang mau," jawabnya cengengesan.

"Kalau ada cowok yang mau, kamu mau, nggak?"

"Gimana?" Indana mengerutkan kening meminta penjelasan sekali lagi. Biasa, wanita memang butuh penjelasan dan pengakuan berkali-kali.

Dokter Utsman tersenyum lebar. "Maksudnya, kalau ada yang suka sama kamu, dan serius mau menjalin hubungan, kamu mau terima tidak?"

"Memangnya siapa orangnya?"

Pura-pura belagak pilon sajalah Aku.

Lelaki bertubuh atletis itu kembali tertawa. Kali ini diiringi tawa oleh kedua orang tua Indana.

"Om, Tante, kalau diizinkan, nanti saya mau silaturrahmi ke rumah Om dan Tante."

Demi apa? Hati perempuan itu serasa meloncat dari tempatnya. Indana girang bukan main. Dokter tampan itu akan berkunjung ke rumah. Itu artinya .... Namun, dia harus menjaga imej dan tetap bersikap tenang.

"Oh. Silakan. Dengan senang hati, Nak Dokter. Selama ini ayahmu saja yang pernah datang ke rumah. Sekarang gantian, putranya pula yang datang," jawab papa bersemangat.

"Ah, iya. Baik. Nanti saya kabari waktunya."

Setelah mengecek keadaan, pemuda itu memberitahu bahwa Indana sudah bisa pulang dalam waktu beberapa menit lagi. Karena tidak ada luka serius dan kondisinya baik-baik saja. Hanya syok sementara.

Kedua orang tua Indana tampak lega. Dalam perjalanan pulang, Indana tersenyum sendiri mengingat dokter tadi. Namun, senyumnya pudar saat kembali mengingat tentang kesucian dirinya.

***

Tak lama setelah pertemuan di rumah sakit itu, Dokter Utsman benar-benar memenuhi janji. Dia datang ke rumah, sendirian.

Papa Surya pernah bercerita jika salah satu alasan dr. Utsman terkesan kepada Indana yaitu ketika pemuda itu melihat Indana yang sedang menolong pedagang kaki lima yang ditabrak oleh pengendara motor, sementara si penabrak tak mau bertanggung jawab. Ya, Indana mengingatnya. Saat itu pedagang itu dia bawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama dan pengobatan. Syukurnya tak terjadi apa-apa. Sehingga hari itu juga dia bisa pulang. Tak lupa Indana juga memberi uang pesangon sebagai ganti dagangannya yang telah tumpah ke jalanan. Rupanya ... saat itu dr. Utsman melihat.

Seperti biasa, jika ada lelaki mapan yang ingin bertemu dengan sang putri, kedua orang tua Indana selalu antusias. Dia merasa tak enak hati. Karena selalunya, semua berakhir kandas. Ya, mereka memilih untuk tidak meneruskan hubungan setelah Indana mengatakan Indana sudah tidak perawan lagi.

Mungkin, jika hal ini disampaikan dengan orang lain, bahkan Mahiya dulu sempat beranggapan dirinya wanita bodoh karena mau dirayu dengan iming-iming cinta. Namun ketika Indana menceritakan kejadian yang sebenarnya Mahiya justru menjadi satu-satunya orang mensupport. Indana terlalu takut bercerita kepada kedua orang tuanya hingga menjadikan Mahiya satu-satunya tempat bersandar. Wajar jika Indana dan Mahiya sangat dekat, bahkan Indana sudah menganggap Mahiya sebagai saudara. Biar sajalah orang tidak tahu mahkota Indana sudah terenggut. Toh, mereka tidak bertanya.

Namun, baginya, kehidupan rumah tangga itu harus dimulai dengan kejujuran. Sehingga kelak kita menjalani dengan nyaman. Jika rumah tangga dimulai dengan kebohongan dan tipu muslihat, maka dalam menjalaninya nanti pun akan muncul kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya.

Sering dia merasa kasihan terhadap mama dan papa. Kedua orang yang dia cintai itu selalu berharap ada lelaki yang benar-benar mempersunting Indana. Mereka tidak tahu, jika semua lelaki yang dekat dengan perempuan itu menjauh karena dia beritahu satu hal.

Indana juga tak mengerti, mengapa peristiwa laknat itu bisa menghampiri dirinya. Padahal, dia adalah wanita yang selalu menjaga diri dengan menutup aurat. Peristiwa pahit beberapa tahun silam itu sungguh menjadi titik balik kehidupannya. Indana sempat trauma dan membenci pelaku yang sampai saat ini tak berani lagi menampakkan batang hidung di depannya.

Indana menyeka air mata yang jatuh. Dengan mengucap basmalah, dia meyakinkan diri untuk bertemu Dokter Ustman. Indana melihat diri di pantulan kaca rias sekali lagi. Setelah yakin tidak ada sisa air mata, dia keluar kamar dengan membawa sejuta harap.

Di ruang tamu, didapati sosok dokter tampan itu tengah duduk dan asyik berbincang dengan mama dan papa. Lelaki berkemeja hitam itu meliriknya dengan tatapan penuh pesona saat menyadari kedatangan perempuan itu. Indana meremas tepi gamis yang membalut tubuh untuk sedikit menyalurkan rasa gugup.

"Nah, yang ditunggu akhirnya datang juga," seru Mama Cahaya bersemangat.

Dapat dia lihat meja ruang tamu. Penuh dengan kue-kue enak dan mahal. Seperti biasa, sang mama yang memesan. Tapi kali ini dia tak mengetahui terlebih dulu karena dipesan khusus untuk surprise. Itu kata mama sesaat sebelum kedatangan dr. Utsman.

"Maaf, Nak Dokter, jadi menunggu lama," sahut Papa Surya.

"Nggak apa-apa, Om. Wanita biasanya kan, suka dandan. Mungkin itu yang dilakukan Indana sebelum bertemu dengan saya." Dokter Utsman terlihat mencairkan suasana. Indana jadi tersipu-sipu.

"Biar lebih cantik, ya," celetuk Papa Surya tak kalah heboh. Akhirnya ruang tamu ini penuh dengan suara gelak tawa mereka bertiga.

Indana duduk tepat di hadapan dr. Utsman. Tatapan mata keduanya saling memerangkap satu sama lain. Dirasakan dadanya berdegup lebih kencang. Dia rasa, ini normal karena lelaki di hadapannya ini memiliki paras yang paripurna.

"Mungkin, langsung saja, ya. Sebelum ke mari, saya sudah berdiskusi dengan kedua orang tua. Bahwa, niat saya bersilaturahmi ini adalah insya Allah ingin menjalin hubungan serius dengan putri dari Bapak Surya Bramasta. Karena tidak ingin berlama-lama menggantung hubungan, setelah ini saya akan datang secara resmi dengan membawa kedua orang tua. Semoga Bapak, Ibu, dan Indana berkenan."

Kalimat padat dan jelas itu meluncur dari mulut dr. Utsman Al-Habsyi. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter umum itu dengan mantap mengucapkan maksud dan tujuannya untuk menjalin hubungan yang serius dengannya. Indana kembali dilanda rasa haru. Baginya, ini adalah oase di tengah penantiannya beserta kedua orang tua menunggu sosok lelaki yang bersedia melamar.

Mama terlihat berkaca-kaca. Indana akhirnya mengusap kedua matanya karena tak sanggup menahan tangis haru.

Sejak pertemuan mereka di rumah sakit tempo hari, kedua orang tua Indana kompak menyukai dokter tampan itu. Apalagi dr. Utsman adalah anak dari rekan sang ayah yang sudah jelas asal dan nasabnya. Hal itu semakin menambah keyakinan kedua orang tuanya untuk menerima dr. Utsman menjadi bagian dari keluarga mereka.

Indana tak menyangsikan hal ihwal mengenai dr. Utsman. Dia dokter yang baik, tampan, mapan, punya posisi yang prestisius, anak dari seorang dokter pula, berasal dari keluarga baik-baik. Ah, siapa wanita yang tak menerima pinangannya? Namun, perempuan itu tak pernah lupa tentang satu hal yang harus disampaikan dengan calon suaminya kelak. Meskipun, dia harus mempersiapkan diri jika hatinya kembali patah untuk kesekian kali.

Setelah memakan jamuan, dr. Utsman meminta izin untuk berbicara berdua dengannya. Indana menyambut baik niat tersebut. Indana mengajak pemuda itu ke taman depan yang di sana terdapat kolam besar berisi ikan koi peliharaan Papa Surya. Indana mengajak dr. Utsman duduk di saung yang berdiri di tengah kolam.

"Saya boleh mengatakan sesuatu?" Indana memulai obrolan.

"Ya. Tentu saja. Tentang apa?" jawab pemuda itu lembut.

Indana menghirup udara. "Saya sudah tidak perawan lagi. Apakah ... dokter tetap bersedia menikahi saya?"

Sesaat, lelaki itu kaget.

"Saya juga punya masa lalu yang kelam."

"Apa?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Demi Damian, Aveline rela memendam bakat arsitekturnya selama tiga tahun pernikahan yang dingin. Namun, pengkhianatan sang suami di depan umum menjadi titik balik hidupnya. Aveline memutuskan bercerai lalu bangkit mendirikan firma de la Fontaine. Kini, ia terlahir kembali sebagai arsitek elite dunia yang sukses meruntuhkan dominasi bisnis Blackwood. Di tengah kesuksesan besar ini, mampukah ia membuka kembali pintu hatinya untuk cinta yang baru?
Sampul Novel Cacat Sebagai Penebus Jasa
8.5
Seorang anak memandang kelahirannya bagai utang besar yang wajib dilunasi kepada sang ibu. Demi membalas seluruh jasa tersebut, ia rela mengorbankan tubuhnya sendiri hingga menderita cacat fisik permanen. Tindakan tragis ini ia tempuh demi mengetuk hati nurani ibunya agar bersedia memberikan maaf yang tulus. Kisah pilu tentang bakti ekstrem ini menguji batas akhir antara pengabdian tulus dan penderitaan mendalam di tengah hubungan keluarga.
Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis sederhana dari panti asuhan, harus menjalani pernikahan tanpa cinta bersama Antonio, seorang CEO tampan yang dingin. Sikap suaminya yang acuh tak acuh membuat Amanda sangat menderita hingga hampir menyerah pada rumah tangga mereka. Namun, di tengah keputusasaan Amanda, Antonio perlahan menyadari bahwa sang istri telah mengubah dirinya menjadi sosok yang lebih baik. Ia pun mulai berbalik mengejar cinta Amanda. Bisakah Amanda membuka hatinya kembali?
Sampul Novel Goyangan Panas Ibu Mertua
9.6
Suatu malam, Rudi dikejutkan oleh sentuhan provokatif dari Nina, ibu mertuanya sendiri. Meski Nina beralasan hanya ingin minum, tindakan itu membuat Rudi tidak nyaman. Dengan tegas, ia mengingatkan Nina akan statusnya sebagai suami dari putri kandungnya. Namun, peringatan itu diabaikan. Nina yang sangat mendambakan perhatian justru semakin berambisi. Ia pun mulai merancang siasat licik demi memikat sang menantu malam ini, tanpa memedulikan segala risiko.
Sampul Novel HASRAT ISTRIKU
8.5
Menyajikan kisah tentang pasang surut pernikahan, pembaca diajak merasakan pergolakan emosi yang melanda sepasang suami istri. Berbagai rintangan yang hadir perlahan menjadi ujian berat bagi komitmen dan kesetiaan mereka. Konflik yang terus menumpuk mengubah ikatan yang awalnya hangat menjadi penuh kerumitan. Ini adalah sebuah perjalanan emosional tentang upaya keras menjaga keutuhan rumah tangga di kala badai masalah datang menerpa.
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat
8.3
Tujuh tahun Cinta terjebak friendzone demi menjaga hatinya untuk Raka. Namun, impian itu runtuh saat Raka memilih perempuan lain. Di tengah rasa patah hati, ia terpaksa menggantikan temannya pergi kencan buta. Sialnya, Cinta salah menemui orang dan malah berhadapan dengan calon bos barunya sendiri. Pertemuan yang salah alamat dan memalukan ini justru menjadi awal dari takdir baru yang menuntun Cinta pada belahan jiwa yang sesungguhnya.