APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO

Gadis Penghibur Tuan CEO

Nasib malang menimpa Ajeng Kirei Aswari yang dijual ayahnya ke dunia malam sejak usia delapan belas tahun. Satu dekade berlalu, hidupnya bergantung pada sosok CEO sukses, Reynold Bill Timur. Hubungan mereka terhalang restu keluarga Bill yang menuntut pernikahan setara. Meski terpaksa menikahi wanita pilihan keluarga, Bill enggan melepas Ajeng dan menyeretnya ke pusaran skandal. Kini, Ajeng terjebak dalam dilema moral antara bertahan atau menyakiti istri sah Bill.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bill meninggikan bahunya, "It is okay, Sayang! Dan kamu selalu tahu ... I have no problem with all that," ujar Bill seraya tersenyum kecut.

Ajeng yang masih bersingkap selimut putih itu terdiam kaku, ia hanya bisa menggigit bibirnya tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata apa pun.

Kemudian Bill melangkah masuk ke dalam, mengedarkan bola matanya dengan cepat. Melihat betapa berantakannya keadaan di dalam kamar, sprei yang lepas, bantal yang berserakan, hingga kursi yang bukan pada tempatnya. Menandakan betapa hebatnya permainan mereka tadi.

Bill mengulum senyumnya, ia terduduk menatap nanar wanita yang selalu ia cintai. "Apakah Tuhan sedang menunjukkan, siapa yang pantas menjadi istriku?!" batin Bill bergumam. Selama ini Bill selalu menerima Ajeng apa adanya, ia tidak peduli Ajeng tidur bersama siapa pun! Asal hatinya tetap milik Bill seutuhnya! Dan Bill pun tidak pernah sedikit pun berniat meninggalkan atau menggantikan Ajeng dengan yang lain.

Namun, sekarang? Ntah mengapa dirinya teramat sakit saat mendengarkan desahan, rintihan dan teriakan kecil yang Ajeng keluarkan dari dalam kamar ini.

Di saat Bill sedang sibuk dalam fikirannya, Ajeng dengan santai melebarkan kedua kakinya dan duduk di atas tubuh Bill yang sedang terduduk di ujung ranjang.

"Jangan mendekat!" ucap Bill refleks seraya mendorong tubuh Ajeng hingga ia tersungkur ke lantai.

Ajeng mengerutkan keningnya, menatap mata Bill penuh dengan ketulusan. "Why ... Bill? Kau jijik padaku? Atau kau sama saja dengan keluargamu yang menganggap tubuhku ini adalah barang najis yang tidak sudi untuk disentuh?" tanya Ajeng yang mulai terisak.

Bill beranjak bangun menatap balik Ajeng sebentar, lalu memilih pergi meninggalkan wanita yang pernah menjadi satu-satunya di hati Bill.

Ajeng terperangah melihat langkah kaki Bill yang meninggalkannya begitu saja, "Bill!" pekik Ajeng memanggil pria harapannya dan kini harapan itu telah pergi begitu saja.

Ia beringsut ke arah cermin, menatap tubuhnya sendiri tanpa penutup apa pun. "Kau lihat? Sekarang ... pria yang selalu menerima dirimu apa pun yang terjadi, kini telah jijik menyentuhmu! Kau sadar? Sekarang siapa yang akan mencintaimu? Tidak ada Ajeng! Tidak ada! Kau hanya wanita murahan yang tidak ada harga dirinya dan akan tetap menjadi najis sampai kapan pun!" ucap Ajeng mencerca dirinya sendiri, ia menangis dengan kacau menarik rambutnya kuat seperti orang yang kehabisan akal.

***

"Selamat Malam, semuanya ...," suara Bill yang baru saja masuk membuka pintu rumahnya. Dan netranya tertuju pada satu wanita yang sedang duduk anggun bersama keluarga Bill.

"Hey! My boy kesayanganku ... kau pulang tepat pada waktunya! Perkenalkan ini Ginni Banks yang akan mama jodohkan padamu!" ucap Susan Rometty yang sangat berpenampilan sosialita itu.

Gadis bernama Ginni Banks itu berdiri membungkukkan tubuhnya ke arah Bill, dia berpenampilan sangat anggun dengan rambut terurai bergelombang, memakai dress berwarna putih, dipadukan dengan blazer bercorak kotak-kotak dan riasan yang sangat tipis membuatnya begitu natural.

"Panggil saja aku, Ginni," tuturnya sembari melemparkan senyuman mengarah pada Bill.

Bill balik membungkukkan tubuhnya, "Aku, Bill. Salam kenal ...," jawab Bill singkat.

Gadis itu kembali duduk ke tempat semula, semuanya terlihat begitu senang. Termasuk gadis bernama Ginni itu nampak tidak pernah sekali pun ia lupa untuk tersenyum, dirinya selalu melempar senyuman ketika menatap seseorang di hadapannya.

"Come here, Bill ...," ajak Susan menepuk sofa di sampingnya.

Billy membelalakkan matanya, seraya tersenyum paksa mengarah pada mereka. "Maaf semuanya ... Bill ke atas dulu."

Ia melangkah naik dengan tergesa-gesa.

Kemudian masuk ke dalam kamar untuk menenangkan hatinya kembali.

Prak!!

Suara pintu ditutup keras oleh Bill, ia tidak peduli mereka mendengarnya atau tidak yang jelas saat ini tidak ada yang bisa mengerti dirinya selain dirinya sendiri.

Bill membanting tubuhnya keranjang, memejamkan matanya berharap rasa sakit di hatinya akan membaik.

Saat mata Bill masih tertutup, suara putaran pedal pintu terdengar. "Jangan bilang pada mama kau masih bertemu dengan perempuan murahan itu, Bill?!" teriak Susan yang baru saja menyusul Bill ke atas karena mendengar gebrakan pintu yang kencang. "Sudah berapa kali mama bilang, jangan pernah bertemu dengan wanita sampah itu lagi! Mama mohon, Bill ... dia itu bukan gadis yang baik untukmu! Dia hanya bisa merusak nama baik keluarga besar kita! Percaya pada mama! Bahkan seorang binatang pun jauh lebih mulia dibanding dirinya!" ujar Susan dengan rentetan hina yang dilayangkan untuk Ajeng.

Bill membuka matanya dengan malas, menatap wajah wanita yang selama ini selalu ia percayakan. Tetapi mengapa harus perkataan yang begitu menyakitkan yang keluar dari dalam mulutnya.

Bill tahu ... tuduhan yang dilayangkan untuk Ajeng ada alasannya, tetapi ... apakah segitu hinanya Ajeng di mata keluarganya.

"M-mama ...,"

"Mama sudah berbaik hati selama ini, memberikan kesempatan untukmu berpacaran dengannya! Yang mama harapkan adalah kalian berpisah tanpa adanya sangkut paut dari mama ... tapi, sepertinya ... kalian sudah melebihi batas sangat jauh! Inilah waktu yang tepat mama menjodohkanmu, di saat karirmu sedang di atas awan!" ucap Susan menyela perkataan Bill, seraya menepuk bahunya pelan.

Bill hanya mengangguk pasrah, "Lakukan apa yang menurut mama itu yang terbaik untuk, Bill." Bill menidurkan kembalik matanya, ia sudah tidak ingin lagi beradu argumen pada Susan saat ini.

Susan tersenyum lega, melihat Bill jauh lebih baik dari hari sebelumnya yang selalu menentang keras perjodohan ini. Ia menyingkapkan selimut di tubuh Bill, lalu melangkah pelan keluar kamar.

***

Waktu begitu cepat berlalu, hari ini semuanya telah berkumpul untuk menunaikan pernikahan Bill dan Ginni.

Termasuk Ajeng yang baru saja datang memakai dress hitam sangat cantik dengan mata yang sembab. Sepanjang malam Ajeng selalu memikirkan tentang Bill, tentang hidupnya yang mungkin ntah akan menjadi seperti apa tanpa hadirnya Bill.

Ajeng melangkah pelan untuk masuk ke dalam, hatinya teramat hancur ... kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.

Sesaat ia akan melangkah masuk, tiba-tiba lengannya tertarik oleh seseorang dari belakang.

Drep!!

Ajeng menoleh seketika, ternyata yang menarik dirinya adalah Susan dengan kebaya khasnya pernikahan.

"Hey! Wanita pelacur! Mau apa kau kemari? Ingin kau rusak semuanya? Seperti kau yang hampir saja merusak masa depan, Anakku?!" ucap Susan yang meraih dagu Ajeng dan mencengkramnya, hingga meninggalkan jejak goresan disana.

Ajeng hanya bisa menangis dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Susan, "Aku hanya ingin melihat, Bill! Untuk terakhir kalinya ... itu saja tante!" ucap Ajeng tersengal-sengal.

"Cih! Tante? Kau panggil aku dengan sebutan tante? Ingat ... Ajeng! Kau tidak akan pernah bertemu, Bill! Meski hanya melihatnya dari jauh!" raut wajah Susan begitu kejam, mendekat pada wajah Ajeng ... yang jaraknya hanya satu jari jika diukur.

Perlahan Ajeng memanggil nama Biil, saat ia melihat Bill yang baru saja datang berdiri di belakang Susan.

Dengan cepat Susan melepaskan cengkramannya dan Ajeng berlari memeluk Bill, lalu Bill menarik Ajeng menjauh dari tempat itu.

Bill menyenderkan Ajeng di sudut pilar, dengan mata yang berlinang. "Terima Kasih, telah menemuiku ... setidaknya kau masih peduli dengan hubungan kita," ucap Bill dengan tatapan nanar.

Hargh ....

Ajeng mengatur napasnya, ia memejamkan matanya perlahan ... lalu membuka dengan menatap balik Bill. "Peduli? Apa yang bisa diselamatkan dari hubungan kita, Bill? Tidak ada! Kau telah memilih dia sebagai istrimu ... dan yang harus kau tahu, betapa inginnya aku hidup bersamamu, menjadi istrimu dan mencintaimu selamanya! Ouhhh ... tapi sepertinya tidak ada yang menentukan pilihan disini, memang ... memang dia yang harus menjadi istrimu, bukan aku!" ucap Ajeng menangis setengah berteriak.

Melihat Ajeng yang begitu terpukul, Bill memeluk wanita di hadapannya ini erat. Melumat bibirnya hingga ia tenang.

Jemari Bill menyentuh wajah Ajeng, menyusuri setiap wajahnya dengan lembut. "Benar katamu ... aku memang tidak akan pernah menentukan pilihan, karena tidak ada yang harus aku pilih disini! Hanya tetap dirimulah satu-satunya wanita dihidupku ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel An Affair
9.2
Demi membalas dendam atas kematian orang tuanya, Winter Samantha menyamar untuk menghancurkan keluarga Smith. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan sang putra, David, dalam pusaran skandal perselingkuhan yang rumit. Namun, rencana ini terganggu oleh kehadiran Sean William, sahabat kecil yang tulus mencintainya. Kini, Winter dihadapkan pada pilihan sulit: menuntaskan dendamnya pada musuh atau menerima lamaran Sean untuk hidup bahagia bersama.
Sampul Novel Anak Angkatku Tak Tahan
8.4
Kehidupan bergelimang harta sebagai istri dari keluarga miliarder tidak menjamin ketenangan bagi wanita ini. Di balik paras cantik dan kemewahannya, sebuah ancaman terselubung muncul dari sosok anak angkat yang selama ini dikenal sangat perhatian. Tatapan penuh kepemilikan yang ganjil mulai membayangi kesehariannya. Batas hubungan ibu dan anak terkikis saat pemuda itu berani menyentuhnya di tengah sesi yoga, hingga puncaknya, sebuah gelas berisi air yang telah dicampur obat disodorkan demi melampiaskan obsesi yang tak lagi terbendung.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Demi membiayai pengobatan sang adik, Aluna rela membanting tulang di Hotel Aurelia. Malang, nasib buruk menimpanya ketika ia dituduh menyebarkan video rahasia milik Davin Elvard Renata, seorang miliarder yang menginap di Presidential Suite. Walau sebenarnya dijebak oleh rekan kerjanya sendiri, Davin yang telanjur murka tidak mau tahu. Aluna pun dipaksa menjadi tawanan pribadinya. Kini, ia terjebak dalam pusaran konspirasi besar dan ancaman Davin yang mengerikan.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella berada dalam posisi terdesak saat berjuang menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Walau Bella terus menentang takdir paksaan tersebut, pria berkuasa itu tetap menegaskan bahwa Bella telah menjadi miliknya secara mutlak. Xavier menutup rapat segala celah bagi Bella untuk kabur ataupun membantah keputusannya. Kini, Bella tidak punya pilihan selain menghadapi jeratan obsesi liar sang tuan yang tidak pernah menerima penolakan.
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle dilingkupi kemarahan besar akibat ulah Lawrence Brickman yang membawa lari uang proyek penting mereka. Begitu Chantal Brickman, anak perempuan Lawrence yang menawan, tiba di kediaman ayahnya di Malibu, Jordan segera menjadikannya sasaran balas dendam. Pengusaha angkuh ini menuntut Chantal melayani segala nafsunya demi membayar kerugian sang ayah. Tanpa jalan keluar, Chantal terpaksa tunduk di bawah kendali Jordan demi melunasi utang tersebut.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone kekasihnya, seorang pemuda miskin rela bekerja keras setengah mati. Sialnya, ia justru dikhianati dan memergoki pacarnya bermesraan dengan pria lain. Tak cukup diselingkuhi, ia juga dihina dan dipukuli hingga sangat terpuruk. Namun, roda nasib berputar saat sang ayah menelepon dan mengungkap rahasia besar bahwa ia sebenarnya adalah putra kandung seorang miliarder yang sangat kaya raya.