APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Muda untuk Tuan Duda

Gadis Muda untuk Tuan Duda

Rayyan, duda 32 tahun, didesak ibunya untuk menikahi Mayra, gadis 19 tahun yang bekerja sebagai guru PAUD sekaligus pengasuh. Mayra secara luar biasa mampu meluluhkan hati Asyifa, putri Rayyan yang berumur empat tahun dan dikenal selalu menolak belajar dengan siapa pun. Melihat kedekatan yang begitu erat di antara mereka, sang ibu meminta pernikahan ini demi kebaikan Asyifa. Akankah Rayyan setuju menjadikan Mayra sebagai ibu baru untuk putrinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan pagi.

“Asyifaaa ....”

Suara panggilan nenek Rumi terdengar seperti putus asa ketika memanggil bocah perempuan yang berumur 4 tahun berlari cepat menuju lantai dua karna tidak mau mandi.

“Biar saya yang naik menyusul Non Asyifa Bu, Ibu di sini saja,” ucap pengasuhnya Asyifa yang dari tadi memang sudah kejar-kejaran bersama Asyifa membujuk Asyifa untuk mandi pagi.

“Iya, naiklah ke sana, kamu lihat sendiri kan, aku sudah tua, sudah tidak kuat naik turun tangga itu,” sahutnya.

Pengasuhnya Asyifa langsung pergi menaiki tangga yang baru saja di lalui oleh Asyifa sambil berlari, sedangkan nenek Rumi memijat dahinya sambil memutar badannya hendak menuju sofa di ruang tersebut.

“Ah, kamu mengageti Ibu saja, sejak kapan kamu sudah berdiri di situ?” nenek Rumi memegang dadanya sambil bertanya pada lelaki yang berada tepat di hadapannya.

Memiliki wajah yang tampan, badan atletik yang dibalut dengan kemeja berwarna putih dan jas hitam di tangannya. Matanya menatap ke arah lantai dua yang baru saja di lewati oleh putri kecilnya.

“Apa Asyifa selalu bertingkah yang membuat Ibu kewalahan?”

Rayyan bertanya dengan tatapan nelangsa pada Ibunya.

Nenek Rumi menghela nafas sambil melanjutkan langkahnya menuju sofa, Rayyan pun mengikuti langkah kaki ibunya.

“Ibu tidak kewalahan mengurus Asyifa, ada Minah yang mengurus Asyifa, ibu hanya khawatir Asyifa tidak bisa jadi anak penurut, Ibu rasa dia bosan terus-terusan di rumah,” sahut nenek Rumi.

“Tapi Ibu bilang, kalian selalu pergi main ke taman tiap sore,” ucap Rayyan.

“Itu tidak membuatnya senang, dia selalu saja melihat ke arah anak-anak yang datang dan bermain bersama ke dua orang tuanya.”

“Rayyan akan meluangkan waktu pekan ini untuk dia.”

“Bukan itu yang Ibu maksud, Asyifa butuh sosok ibu, tidakkah kamu berpikir menikah lagi setelah hampir 4 tahun di tinggal oleh almarhumah mamanya Asyifa?”

Pertanyaan nenek Rumi membuat Rayyan langsung menoleh ke arah ibunya, lalu beberapa saat kembali menatap datar ke depan.

“Rayyan harus pergi sekarang juga, ada rapat penting hari ini, oh ya, nanti bilang sama Burhan supaya keliling kota cari PAUD yang bagus untuk Asyifa, dia sudah bisa masuk PAUD tahun ini, sekalian bawa Asyifa biar dia bisa pilih sendiri sekolah mana yang dia mau,” ucap Rayyan sambil berdiri memakai jasnya dan merapikan dasinya sendiri.

“Iya, nanti akan ibu sampaikan,” sahut Nenek Rumi.

“Kalau begitu Rayyan pergi dulu,” pamitnya.

Nenek Rumi mengangguk, melepaskan putranya untuk pergi kerja tanpa melanjutkan obrolan yang menurutnya sangat penting untuk Rayyan sendiri, juga untuk Asyifa.

“Dia masih saja menghindar kalau sudah membicarakan menikah. Padahal dia masih muda, punya banyak uang, tapi aku belum pernah melihatnya keluar dengan wanita setelah mamanya Asyifa meninggal, apa dia masih terpukul dengan kepergian mamanya Asyifa? Tapi bukankah hal itu sudah sangat lama, seharusnya dia sudah bangkit dari rasa terpuruknya,” gumam nenek Rumi sambil menyesap teh hangat di depannya.

Baru menyesap tehnya sedikit, Burhan yang bekerja sebagai sopirnya masuk ke dalam.

“Ada apa?” tanya Nek Rumi padanya.

“Tadi Pak Rayyan bilang saya akan mengantar ibu untuk mencari PAUD, saya ingin bertanya jam berapa kita berangkat, karna ini sudah hampir jam delapan,” jawab dia.

Nenek Rumi menarik nafas, tadi Rayyan memintanya untuk menyampaikannya pada Burhan, tapi ternyata dia sudah berbicara sendiri dengan sopir mereka.

“Sebentar lagi kita pergi, tunggu Asyifa selesai bersiap-siap,” sahut nek Rumi.

“Baik Bu, kalau begitu saya tunggu di luar,” ucapnya.

Nenek Rumi mengangguk dan Burhan segera pergi keluar dari dalam rumah menuju pos satpam depan pintu gerbang. Biasanya dia pagi-pagi akan mengantar Rayyan ke kantor, tapi akhir-akhir ini Rayyan lebih memilih menyetir sendiri untuk pergi ke kantor.

Asyifa sudah berhasil di bujuk oleh Bi Minah supaya dia mau pakai baju, dia ikut turun ke lantai bawah bersama Bi Minah.

“Asyifa, kita hari ini cari sekolah buat kamu ya,” ucap Nek Rumi pada cucu semata wayangnya.

“Ekolah? api A..i..fa endak mau ekolah,” sahut gadis kecil tersebut yang masih agak cadel saat berbicara.

“Asyifa, di sekolah banyak teman, ada guru-guru cantik juga yang mau bermain sama kamu, kita pergi sekarang ya, nenek yakin kalau kamu sudah lihat sekolah nanti kamu juga akan betah di sekolah kamu,” ucap Nek Rumi yang kekeh sama ucapannya, mereka tetap harus pergi meski Asyifa menolak

Sedikit memaksakan kehendak demi kebaikan Asyifa menurutnya tidaklah salah.

Asyifa akhirnya ikut bersama nek Rumi untuk mencari PAUD terbaik untuk cucu semata wayangnya.

...

Di tempat lain. Mayra baru saja bangun tidur dengan rasa malas, dia pergi menuju dapur untuk memasak mie instan untuk dirinya, dia terbiasa makan mie saat pagi hari.

“Sampai kapan kamu malas-malasan begini? Apa kamu tidak malu sama diri kamu sendiri?!”

Ucapan bernada tinggi terdengar oleh Mayra, suara Bibinya yang berdiri tidak jauh dengannya.

Mayra menoleh dengan tatapan seperti sedang bertanya pada bibinya, ada apa?

“Sudah saatnya kamu balas budi! Bukankah sudah sangat lama kamu tinggal di rumah ini, kamu bisa makan makanan enak, tidur nyenyak, dan pergi sekolah dengan bahagia! Sekarang kamu sudah tamat SMA, tidak aneh kalau kamu sudah bisa pergi cari pekerjaan dan bawa pulang uang sebanyak-banyaknya ke rumah ini! Itung-itung membayar uang yang sudah kami habiskan untuk kamu dengan cara mencicil sedikit demi sedikit!”

Glek!

Mayra menelan saliva mendengar ucapan bibinya, perempuan yang sudah memberi tumpangan untuknya selama 6 tahun ini, kini berkata dengan kalimat ingin di balas budi.

Mayra bukan tidak tahu balas budi, tapi apa yang harus di balaskan? Selama ini dia jajan dari hasil usahanya sendiri, hanya makan nasi sehari 2 kali dan tidur malam, yang dia nikmati di rumah tersebut.

‘Mungkin maksudnya aku harus membayar beras yang selama ini ku makan, dan air putih yang sudah ku telan,’ batin Mayra sambil menggenggam gelas kaca di tangannya dengan kuat.

Kruk! Suara gelas yang retak dalam genggamannya.

“Aku akan bekerja hari ini,” sahut Mayra dengan linangan air mata.

Dia bangkit berjalan sambil terus menggenggam gelas tersebut, Lalu membuangnya ke tong sampah karna sudah tidak bisa dipakai lagi.

Mayra masuk ke dalam kamar dan menatap wajahnya di cermin.

“Aku harus cari uang dengan sungguh-sungguh!” ucapnya dengan tegas.

“Kerja mengantar kerupuk untuk pelanggan hanya bergaji sedikit, aku tidak bisa membayar hutang beras Bibi yang sudah ku makan,” lanjutnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.

Dia tidak menyangka, orang yang sudah di anggap sebagai orang tuanya dulu ternyata meminta bayaran atas apa yang sudah dia habiskan.

Mayra selama kelas 1 SMP sudah mulai mengantarkan kerupuk untuk pelanggan, dia akan di bayar sesuai dengan kemampuan dia, dan uang tersebut biasanya digunakan untuk keperluan sekolahnya, terutama untuk membayar uang bulanan.

Dia mulai banting tulang setelah orang tuanya meninggal karna kecelakaan mobil yang mereka tumpangi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Kehidupan Mutia hancur setelah suaminya tewas dalam kecelakaan. Alih-alih mendapat simpati, ia malah difitnah menggoda pria beristri oleh keluarga mendiang suaminya, lalu diusir hingga mengalami insiden tragis yang merusak wajahnya. Lewat operasi rekonstruksi wajah, Mutia terlahir kembali dengan identitas baru. Kini, ia siap menuntut keadilan dan membalaskan dendamnya kepada setiap orang yang telah merusak hidupnya. Simak aksi berani Mutia dalam membalas rasa sakitnya.
Sampul Novel Gigolo
8.2
Demi menghidupi kedua adiknya setelah kematian orang tua, Frans, seorang mahasiswa kedokteran yang pintar, terpaksa putus kuliah. Ia sempat menjadi penyanyi sebelum akhirnya Mamih Mega merekrutnya sebagai pria penghibur. Kehidupan barunya yang penuh petualangan bersama banyak wanita mempertemukannya dengan Fira, gadis yang menyewa jasanya demi melepas kesucian. Hubungan mereka menumbuhkan cinta, namun takdir menjadi rumit saat Frans justru menikahi wanita lain bernama Anjani.
Sampul Novel Jodoh Titipan Mama
9.0
Pertemuan pertama perjodohan Leon dan Celine diawali keraguan Leon akan paras Celine. Tak mau kalah, Celine membalas ejekan tersebut lewat ancaman yang menggelitik. Walau terbentang jarak geografis yang jauh dari Papua hingga Sumatra, orang tua mereka tidak menyerah untuk menjodohkan dua insan yang sangat berbeda sifat ini. Di balik perselisihan yang tiada habisnya serta kedekatan mereka yang tidak biasa, akankah perasaan cinta mulai bersemi di dalam hubungan tak terduga ini?
Sampul Novel Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua
8.1
Keputusan menampung ipar dan mertua tiri yang baru kembali dari luar negeri membawa petaka besar bagi rumah tanggaku. Alih-alih sekadar menambah beban finansial, kehadiran mereka justru memicu konflik baru saat mereka menuntut jatah yang seharusnya menjadi hak mutlak istriku. Di tengah kekacauan itu, batasan antara kepercayaan dan kecurigaan kian buram ketika sebuah pesan misterius masuk ke ponselku, menampilkan foto sosok mirip istriku yang sedang bersama pria lain.
Sampul Novel Pacar Online-ku Adalah Bosku
8.5
Menjalani hubungan virtual tanpa mengetahui identitas asli satu sama lain membawa kejutan besar bagi seorang karyawan saat menyadari pacar online-nya adalah bosnya sendiri. Karena terus menolak ajakan bertemu, ia akhirnya memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Keputusan ini membuat sang bos patah hati hingga meluapkan kekesalannya dengan memaksa seluruh staf lembur. Demi menyelamatkan kesehatan fisik dan mentalnya dari siksaan pekerjaan, ia kini berpikir untuk balikan dengan sang atasan.
Sampul Novel Wanita Penggoda
8.2
Demi mengangkat derajat keluarganya dari jerat kemiskinan, Wulandari nekat merantau ke Jakarta. Ia tak tahan lagi melihat orang tuanya terus dihina dan dicaci maki oleh warga desa. Dengan tekad baja, gadis desa ini siap bekerja keras mengubah nasib ekonomi mereka di ibu kota. Namun, perjuangan tidaklah mudah. Sanggupkah ia bertahan menghadapi kerasnya kehidupan kota metropolitan demi membungkam kesombongan orang-orang yang selalu meremehkan keluarganya?