APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia

Gadis Milik Tuan Mafia

Akiko didera penderitaan ganda: berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut sekaligus trauma kekerasan fisik dari orang tuanya sejak kecil. Kemalangannya memuncak ketika ia ditawan oleh Glen Xander Mckenzie. Sebagai bos mafia kejam, Glen berambisi menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, seiring waktu, hubungan tawanan dan penculik ini bergeser. Glen yang awalnya dingin justru mulai jatuh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Akiko Eloise!" bentak seorang wanita pada Akiko yang masih berusia 9 tahun. Gadis itu langsung terbangun dari tidurnya, padahal baru selesai belajar seharian ini dan ingin tidur sebentar karena kelelahan. 

"Lihat, berapa nilai yang baru kau dapat," Akiko segera mengambil kertas yang Mamanya tunjukkan. 

"Mama, ini hanya–" tamparan kencang mendarat di pipi Akiko, bahkan sampai memerah panas. 

"Menjijikkan! bagaimana aku menghadapi Papamu nanti, hah?! dia akan menganggap bahwa aku tidak becus mengurus dirimu!" ia mencengkram pundak Akiko kasar. 

"Tapi, guru bilang, itu hanya kesalahan teknis," Akiko berusaha membela dirinya. 

"Kesalahan teknis dari mana? Kalau memang dapat nilai kecil, kau tidak bisa membohongi Mama," desisnya. 

"Aku tidak berbohong, Mama. Sakit!" teriak Akiko saat rambutnya dijambak kasar. Bahkan, beberapa helai rambut sampai tercabut begitu saja. 

"Sakit? Kau pikir, aku tidak merasa sakit dipukul oleh papamu setiap hari?" lirih sang mama.

"Sorry…," isak Akiko. 

"Menyusahkan! Aku menyesal punya anak sepertimu! Kau benar-benar tidak berguna," Akiko terdiam mendengar ucapan itu. Rasanya sakit, bahkan dadanya sampai sesak. 

"Lalu, kenapa Mama tidak membunuhku saja? memangnya, Mama pikir, aku mau dilahirkan di keluarga ini? aku sangat tersiksa, Papa ataupun Mama tidak pernah sayang padaku. Kalian memukulmu terus tanpa alasan yang jelas," tangis Akiko pecah. Tubuh mungil itu terduduk di lantai dingin, dengan gemetaran. 

"Padahal, aku tidak minta dilahirkan. Tapi, kenapa Mama selalu bilang menyesal punya anak seperti aku? apa kurangnya aku, Ma? apa aku pernah melawan? apa aku pernah nakal? tidak … aku memberikan yang terbaik untuk Mama dan Papa," lanjut Akiko. 

"Kenapa Mama tidak membunuhku saja, sebelum aku mengenal dunia?" desis Akiko. 

"Kurang ajar!" Mamanya kembali memberikan pukulan, bahkan lebih parah. Dan itu adalah terakhir kalinya Akiko membela diri. Padahal, nilai yang dia dapat aslinya memang 100. Tapi karena kesalahan teknis, satu jawaban tidak terdeteksi benar oleh sistem. Nilai 95, membuat Akiko kembali mendapatkan luka di tubuhnya. Hanya karena satu kekurangan, Akiko nampak seperti anak paling menjijikkan di dunia ini. 

Beberapa bulan setelah itu, Mamanya meninggal karena penyakit. Namun, dia tidak boleh datang ke rumah sakit atau pemakaman karena kehidupannya sudah diatur oleh papanya. Parahnya, papanya mengatakan kalau mama Akiko mendapat penyakit karena sudah menjadi istri yang buruk. 

Memang, Akiko sadar bahwa mamanya adalah wanita pembangkang. Dia tidak mau diatur, kasar dan tidak mau bertanggung jawab sebagai istri atau sosok mama. Dia suka bersenang-senang sendiri, tanpa peduli keluarga. Tapi tidak bisa dipungkiri, Akiko sangat sayang dan membutuhkan sosok mama dalam hidupnya sampai kapan pun. 

Saat menemui sang Papa karena berharap bisa mendapat kasih sayang, Akiko justru mendapat luka lagi. Entah karena apa, tapi yang jelas Akiko tau bahwa papanya tidak suka melihat wajahnya. Bahkan, tak segan-segan memukul Akiko hanya karena tidak sengaja berpapasan. 

"Tolong lihat aku sebentar, Papa…," ingin sekali Akiko memintanya. Tapi dia tau, pasti hanya akan ada luka baru di tubuhnya jika berani bicara. Akhirnya, Akiko tidak pernah mau berharap lagi pada manusia mana pun. Karena hal itu hanya akan menyakiti perasaannya. 

***

Akiko tersenyum kecut, mengingat bagaimana masa kecil dia lalui begitu berat. Bahkan, dia harus mengonsumsi obat-obatan dokter agar bisa mengendalikan traumanya. Dan obat itu sangat tidak baik bagi kesehatan Akiko, karena menyebabkan tubuhnya melemah. Kejadian itu sudah berlalu 10 tahun, tapi rasanya masih sakit jika teringat. 

Akiko Eloise, gadis berumur sembilan belas tahun, kini sedang menatap ruang kelas. Bagi Mahasiswa baru, dia harus berkumpul untuk acara yang sudah dijadwalkan nanti. Ia memakai blouse dan celana panjang, lebih nyaman memakai pakaian tertutup karena hangat di musim dingin ini. Dengan rambut pendek hitam dan mata sayu, membuat Akiko nampak seperti gadis lucu nan polos di mata orang lain. 

Akiko menghela nafas panjang, bersiap melihat apa saja yang menunggu di dalam kelas. Berharap bahwa masa kuliah ini akan jauh lebih baik, dari pada masa sekolah sebelumnya. Karena pribadi yang pendiam dan murung, Akiko jadi sering mendapat bully. Jadi dia sengaja masuk ke universitas yang jauh, berharap tidak bertemu dengan orang yang dia kenal

Perlahan, pintu mulai terbuka. Menunjukkan keadaan kelas yang normal dan ramai seperti dugaan. Akhirnya, ia berjalan ke bangku kosong untuk duduk. Menunggu instruksi dari pembina nanti. 

"Hai, boleh duduk di sini?" seorang gadis menghampiri Akiko sambil tersenyum manis. 

"Aku Lani, siapa namamu?" tanya gadis berambut pirang itu. 

"Akiko Eloise," jawabnya singkat sembari berjabat tangan. 

"Kau bukan asli sini, ya? Wajahmu nampak asing," Lani duduk di sampling Akiko, ingin mengenal lebih tentang teman barunya. Saat pertama kali melihat Akiko, dia langsung beranggapan kalau Akiko ini orang yang sangat feminim. Terlihat dari cara berjalan dan bersikap. 

"Iya, papaku berasal dari Jepang," jawab Akiko seadanya. 

Sedangkan Lani hanya mengangguk paham, tidak tau lagi apa yang akan dia tanyakan pada Akiko. Sebab, gadis itu hanya menjawab singkat seolah tidak mau mengenal Lani balik. Padahal, Akiko adalah orang pertama yang diajak bicara, jadi dia berharap bisa berteman baik dengan Akiko. 

"Kau … cukup pendiam, ya?" bisik Lani setelah mengamati gerak-gerik Akiko. Kalau bukan dia yang memulai pembicaraan, maka mereka tidak akan mengobrol. Bahkan hampir satu jam dalam kelas, Akiko masih duduk diam di posisi yang sama sambil bermain ponsel atau membaca buku. 

"Aku masih menyesuaikan diri," jawab Akiko. 

"Aku pikir, kau sombong," celetuk Lani sambil tertawa pelan. Ia menganggap Akiko seperti bunglon, yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan alam sekitar. 

Sebenarnya, Akiko juga merasa tidak enak juga terus mendiamkan teman barunya. Tapi dengan kepribadiannya yang memang seperti itu, dia juga butuh waktu untuk menyesuaikan energi besar dari Leni yang sangat aktif. 

"Jangan malah melamun," Leni menepuk pundak Akiko untuk menyadarkan lamunan. Tapi, melihat reaksi kesakitan dari Akiko membuat Leni segera menjauh. Dia pikir, mungkin ada luka di pundak Akiko yang tidak sengaja dia sentuh. Tapi, pikiran itu segera teralihkan saat dering telepon masuk ke ponsel Akiko. 

"Excuse me," ucap Akiko agar Leni memberinya ruang untuk mengangkat telepon. Setelah Leni menggeser bangkunya, barulah Akiko berterimakasih. 

"Halo," sapa Akiko. 

"Datanglah ke rumah malam ini," kata papanya di seberang telepon sana. 

"Malam ini?" tanya Akiko memastikan. 

"Iya, Papa ingin membicarakan hal penting." Mendengar ucapan itu, Akiko terdiam sejenak. Merasa, kalau panggilan dari papanya ini pasti bukan tentang hal baik. Dari nada bicaranya saja sudah jelas, bahwa ada yang tidak beres. 

"Tidak bisa?" tanya sang papa kembali karena belum mendapat jawaban. 

"Aku akan datang," sahut Akiko pasrah. Lalu telepon terputus secara sepihak. 

Ini bulan pertama Akiko tinggal sendiri di apartemen, dia sengaja ingin mencari ketenangan dengan hidup sendiri. Tapi, sepertinya rencana itu tidak akan berjalan lancar. 

Selesai kelas, dia langsung pulang ke apartemen untuk beberes. Gadis itu pergi ke kamar, ingin berganti pakaian yang lebih kasual karena dia tau papanya sangat memperdulikan soal penampilan. Tapi, Akiko terdiam cukup lama saat menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan sayu. 

"Belum hilang juga," gumamnya. Lalu, beralih mengambil obat dan mengoleskannya ke beberapa bagian tubuh. 

"Semoga aku beruntung, Kouma," pamit Akiko pada anjing kesayangannya yang sudah menemani selama bertahun-tahun. Dia rasa, Kouma adalah pendamping yang sangat berharga baginya. Setelah dipastikan semuanya siap, Akiko melesat menggunakan taksi menuju rumah mewah yang terletak di tengah perkotaan. 

Dan di sinilah dia, duduk di depan Mr. Eloise dengan canggung. Matanya menatap nanar, tak percaya dengan keinginan dari papanya itu. 

"Papa … menjualku?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANITA ( Pernikahan atas penukaran jaminan)
9.4
Demi melunasi kerugian akibat ulah sang saudara, Anita Azaelia terpaksa menjalani pernikahan kilat tanpa landasan cinta. Beban hidupnya kian menumpuk saat mengetahui sang suami sama sekali tidak mencintainya. Setelah sebelumnya terluka oleh pengkhianatan masa lalu, kini Anita harus bertahan melewati kepedihan nasib yang menguji batas kemampuannya. Akankah ia berhasil meraih kebahagiaan sejati di tengah badai rumah tangga yang menempatkannya tak lebih dari sekadar jaminan utang?
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Alvira terpukul oleh kecelakaan tragis yang menewaskan orang tuanya dan membuat sang kakak koma. Terdesak biaya medis yang besar, ia terpaksa menawarkan dirinya di klub malam. Di sana, ia bertemu miliarder dingin bernama Damian Verrell. Damian menawari Avi kesepakatan menjadi wanita simpanannya dengan imbalan fantastis. Demi kesembuhan kakaknya, Avi rela menyerahkan harga dirinya dan masuk ke kehidupan Damian yang berkuasa namun berhati beku.
Sampul Novel Keunikan Panti Pijat
9.1
Pernikahan yang hampa tanpa kehadiran buah hati membuat sepasang suami istri frustrasi setelah berbagai usaha kehamilan menemui kegagalan. Atas saran seseorang, sang suami membawa istrinya ke sebuah panti pijat tidak biasa yang dikenal memiliki keajaiban. Namun, ketika sang istri mulai berbaring untuk menjalani terapi, situasi berubah drastis saat terapis pria di sana justru melakukan tindakan nekat dan menerkamnya. Keunikan Panti Pijat menyajikan kisah misteri modern yang penuh ketegangan.
Sampul Novel Merindu Suamimu
9.1
Pertemuan kembali Fino dan Melisa setelah lama terpisah membangkitkan lagi perasaan cinta yang pernah ada. Namun, situasi kini tak lagi sama dan jauh lebih rumit. Status Nadia sebagai istri sah Fino menjadi tembok besar yang menghalangi bersatunya cinta lama mereka. Melisa kini dihadapkan pada pilihan untuk kembali terluka, sementara Fino dituntut berani mengambil risiko besar demi membayar penyesalan masa lalunya.
Sampul Novel Rahasia Tersembunyi Dalam Pernikahan
8.3
Pertemuan pertama yang sunyi langsung menyulut hasrat membara bagai pedang tajam yang melukai mereka. Sebagai pria yang akrab dengan risiko maut dan kenikmatan duniawi, ia tak pernah menyangka ada wanita yang sanggup meruntuhkan pertahanannya hingga ia lengah. Di balik ikatan pernikahan mereka, tersimpan sebuah rahasia besar yang kini menguji batas kekuatan serta perasaan terdalam keduanya.
Sampul Novel Tak Ada yang Kedua
8.3
Pernikahan lima tahun dengan Anto hancur setelah perselingkuhannya dengan Vior terungkap. Di kehidupan lalu, penolakanku untuk bercerai berujung depresi berat, fitnah perselingkuhan yang dirancang Anto, hingga aku mengakhiri hidup. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Saat Anto kembali menyodorkan surat cerai demi melindungi Vior dengan dalih membalas budi mendiang profesornya, aku tidak lagi menangis atau memohon. Tanpa ragu, aku langsung menandatangani kesepakatan cerai tersebut.