APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fragile Heart (Hati yang Rapuh)

Fragile Heart (Hati yang Rapuh)

Kehidupan Jasmine runtuh ketika sang kekasih pergi tanpa penjelasan. Setelah bertahun-tahun berupaya menyembuhkan luka dan melupakan masa lalu, takdir mempertemukannya kembali dengan Xavier, pria yang mencampakkannya. Rasa sakit Jasmine kian mendalam saat menyadari Xavier kini menjadi calon suami kakak kandungnya sendiri. Ia pun terjebak dilema besar antara memendam perasaannya atau merusak kebahagiaan sang kakak demi cinta masa lalunya yang kelam.
Bab
Bagikan

Bab 2

~Empat tahun kemudian~

Seorang wanita cantik melangkah dengan anggun kala turun dari podium. Suara tepuk tangan memenuhi ballroom hotel yang megah itu. Dia Jasmine Stevanie Welsh—seorang wanita sukses yang berhasil menjadi Direktur Pemasaran & Penjualan di sebuah perusahaan kosmetik terbesar di Inggris.

Dalam empat tahun terakhir Jasmine sukses membawa laba perusahaan yang besar. Cantik, pintar, dan karir yang cemerlang. Akibat tingkat penjulan yang tinggi, Jasmine langsung mendapatkan posisi penting di perusahaan. Tidak tanggung-tanggung, dalam waktu hanya empat tahun, Jasmine nyatanya mampu menjadikan dirinya berada di posisi top management.

“Jasmine! Selamat kau sekarang sudah menjabat sebagai Direktur Pemasaran & Penjualan. Aku benar-benar bangga padamu,” ucap Ivy—teman dekat Jasmine di kantor. Tatapannya menatap kagum Jasmine yang sejak tadi terus berjabat tangan dengan banyak staff.

“Selamat juga untukmu. Sekarang kau sudah menjadi Manager Pemasaran & Penjualan. Aku bangga padamu,” balas Jasmine hangat. Ivy adalah teman dekat Jasmine di kantor. Mereka sama-sama menjabat di sales and marketing division. Selain menjadi teman dekat, Jasmine pun menjadi rekan kerja yang baik bagi Jasmine.

Ivy tersenyum lembut dan hangat. “Apa rencanamu hari ini? Apa kau akan langsung pulang ke rumah?”

“Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu keluar malam ini merayakan kenaikan jabatan kita berdua. Tapi hari ini kakakku yang tinggal di New York pulang ke London. Jadi mau tidak mau aku harus menyambut kedatangannya,” ujar Jasmine seraya menyesap orange juice yang baru saja diantarkan oleh pelayan hotel.

Ivy menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau begitu, besok siang saja kita merayakannya. Bagaimana?”

“Alright. Aku setuju,” jawab Jasmine dengan senyuman di wajahnya.

Suara dering ponsel terdengar, membuat percakapan Jasmine dan Ivy terhenti. Jasmine mengalihkan pandangannya, melihat ponsel miliknya yang tak henti berdering itu.

Jasmine mengambil ponselnya dan melihat ke layar—wanita itu langsung mendecakkan lidahnya kesal melihat nomor Mila—ibunya yang menghubunginya. Padahal satu jam lalu ibunya itu sudah menghubungi dirinya agar pulang lebih awal, tapi tetap saja sekarang ibunya kembali menghubunginya lagi.

“Ivy, sorry. Aku harus menjawab telepon. Ibuku menghubungiku,” ucap Jasmine dengan nada sedikit tidak enak pada Ivy.

“It’s okay, Jas. Take your time. Aku juga ingin ke toilet sebentar,” balas Ivy.

Kemudian ketika Ivy sudah pergi, Jasmine segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan itu. Sebelum akhirnya menempelkan ke telinganya.

“Iya, Mom?” jawab Jasmine saat panggilan terhubung.

“Sayang, kau di mana? Apa kau masih lama pulang ke rumah? Kakakmu sudah tiba di bandara. Dia datang ke sini dengan kekasihnya. Kau juga bawa Bernard, ya, jangan lupa,” ujar Mila dari seberang sana.

Jasmine mendesah pelan. “Tidak bisa, Mom. Bernard terbang ke Dubai. Tadi pagi baru aja dia berangkat.”

“Yah, kenapa kau tidak bilang pada Mommy kalau Bernard tidak ada di London?”

“Aku juga baru tahu tadi pagi. Dia pergi mendadak. Ada pekerjaan yang tidak bisa tertunda.”

“Kalian berdua terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai kalian lupa dengan kehidupan kalian berdua. Kalian sudah menjalin hubungan hampir satu tahun, tapi kenapa belum juga memutuskan menikah?”

“Mom, aku menjalin hubungan dengan Bernard baru enam bulan. Kenapa kau bilang sudah hampir satu tahun.”

Jasmine mendengkus kesal dengan raut wajah sangat sangat jengkel. Bernard Green—pria keturunan Inggris-Amerika itu adalah pria yang menjalin hubungan dengan Jasmine enam bulan terakhir.

Sebelumnya Jasmine tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Namun, karena paksaan keluarga dan dia pun mengingat sudah lama dirinya tak membuka hati untuk seorang pria, akhirnya Jasmine memutuskan untuk menerima Bernard—pria yang Jasmine anggap sangat cocok dengannya.

Tentu sangat cocok. Bernard Green adalah direktur utama di salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Dubai. Mapan, tampan, baik, dan mengerti akan kesibukan Jasmine membuat Jasmine akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Bernard.

Hanya saja, sang ibu selalu saja memaksa Jasmine untuk menikah. Padahal usianya masih baru memasuki 24 tahun. Bagi Jasmine masih sangat muda untuk menikah. Wanita itu lebih tertarik menikah di usia 30 tahun. Lain halnya dengan sang ibu yang menginginkan dirinya menikah sebelum memasuki usia 30 tahun.

“Mommy tidak peduli. Mommy ingin segera mendengar kau akan menikah.”

“Nanti, Mom. Biar saja Jelena dulu yang menikah. Sudah, ya, Mom. Aku mau tutup dulu. Aku akan pulang sebentar lagi. Bye, Mom.”

Tanpa menunggu balasan, Jasmine langsung menutup panggilan itu sepihak. Telinganya panas jika mendengar ibunya itu terus-terusan memaksanya menikah. Padahal, kakaknya sendiri sudah memasuki usia 26 tahun. Harusnya ibunya itu mengejar kakaknya saja. Tidak perlu dirinya yang ikut diburu-buru dalam menikah.

Jasmine menghela napas dalam. Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul dalam benaknya. Ingatan dirinya tentang satu orang yang tak pernah pergi dari hatinya. Hanya saja, Jasmine memilih berdamai dengan kenyataan. Dia pun terus belajar mengubur perasaannya dalam-dalam. Karena mencintainya hanya akan membuat luka yang selama ini membaik kembali merasakan perih.

“Lebih baik aku pulang.” Jasmine melangkah meninggalkan ballroom hotel. Sebelum beranjak pergi, dia pun berpamitan dengan para staff dan juga atasannya.

***

Siang itu panas begitu terik. Jasmine yang baru saja turun dari mobil langsung menyipitkan matanya. Cuasa sedang tak bersahabat. Tampak para pelayan yang menyapa Jasmine yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

“Selamat siang, Nona Jasmine,” sapa sang pelayan dengan sopan.

“Siang. Apa kakakku sudah datang?” tanya Jasmine.

“Sudah, Nona. Nona Jelena bersama kekasihnya sudah datang. Sekarang mereka ada di ruang keluarga bersama dengan kedua orang tua Nona,” ujar sang pelayan memberitahu.

Jasmine menganggukan kepalanya. “Aku akan ke sana dulu. Terima kasih.”

Sang pelayan menundukkan kepalanya kala Jasmine melangkah masuk ke dalam rumah. Tampak wajah Jasmine yang terlihat bahagia mendengar Jelena sudah tiba.

“Mom? Dad? Jelena?” Jasmine melangkah masuk ke dalam ruang keluarga. Senyuman hangat terlukis melihat kedua orang tuanya dan juga kakaknya tengah berkumpul.

“Jasmine. Kau sudah pulang?” Jelena langsung memeluk erat Jasmine, bergantian dengan ayah dan ibu mereka.

“Selamat atas jabatan barumu, Nak. Daddy bangga padamu.” Johan—sang ayah—menepuk pelan bahu Jasmine. Tatapannya menatap bangga putri bungsunya itu.

“Mommy juga bangga padamu. Di usia yang muda, kau berhasil menduduki jabatan direktur.” Mila mengelus pipi Jasmine.

“Jasmine, aku tidak mampu berkata-kata lagi. Kau memang luar biasa. Aku saja yakin, tidak mungkin mampu berada di posisimu,” kata Jelena dengan hangat.

Jasmine tersenyum. “Terima kasih. Ya sudah, ayo kita duduk. Kakiku lelah terlau lama berdiri.”

Semua orang mengangguk. Kemudian, mereka duduk di sofa empuk yang ada di sana. Para pelayan pun sudah menyajikan makanan di meja tepat di hadapan mereka.

“Jasmine, kakakmu akan segera bertunangan dengan kekasihnya,” ujar Mila dengan riang.

“Really?” Jasmine menoleh pada Jelena.

Jelena menganggukan kepalanya. “Iya, Jasmine. Aku dan kekasihku memutuskan untuk bertunangan tahun ini.”

Jasmine tersenyum. “Great. Aku senang mendengarnya. Sekarang di mana pacarmu? Kenapa aku tidak melihatnya?”

“Tadi dia sedang menerima telepon. Harusnya dia—”

“Maaf aku lama.”

Suara bariton memasuki ruang keluarga dan langsung memotong ucapan Jelena. Kini semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.

Seketika senyuman di wajah Jasmine memudar. Tatapannya menatap terkejut sosok pria yang melangkah mendekat. Dunia Jasmine seolah akan runtuh. Tubuhnya lemah. Dia menatap tak percaya dengan sosok pria yang di hadapannya.

Dalam diam, pria itu pun terkejut melihat Jasmine. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Sebuah tatapan yang bagaikan tersesat di dalam hutan dan tak bisa untuk kembali. Keduanya hanyut dalam tatapan itu. Suasana ruang keluarga menjadi hening. Seolah hanya ada kedua insan yang saling bertatap dalam.

“Xavier.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD160
8.1
Trauma penculikan merenggut suara Nina, menyisakan Julian sebagai pelindung tunggal yang sangat ia percayai. Namun, janji suci pernikahan ditunda Julian hingga sembilan kali. Luka Nina kian mendalam saat memergoki rencana pernikahan rahasia Julian dengan perempuan lain. Kecewa dikhianati, Nina membalas dendam dengan membumihanguskan perkebunan mereka lalu lenyap tanpa jejak. Kini, Julian yang didera penyesalan mendalam hanya bisa bersujud memohon pengampunan darinya.
Sampul Novel Gairah Sang Dosen
8.8
Kehidupan pernikahan Ryan, seorang dosen muda kaya, dan Tania mulai diguncang prahara. Kehadiran Maya, rekan kerja Ryan yang tidak bahagia bersama suaminya, Joko, serta intrik Rani, mahasiswi yang memanipulasi kebaikan Ryan, menjadi ujian berat. Masalah kian rumit saat Tania bertemu kembali dengan Robi, mantan kekasihnya yang kini memimpin bisnis pinjol ilegal. Di tengah pusaran pengkhianatan dan konspirasi ini, Ryan dan Tania harus berjuang keras demi menyelamatkan rumah tangga mereka.
Sampul Novel I'm Baby Doll
8.1
Model seksi Gea Mexalla terjebak dalam sisi gelap dunia hiburan, dipaksa melayani para sponsor demi ketenaran. Saat berniat keluar demi kariernya, ia malah diperkosa oleh manajer dan sponsornya sendiri. Di tengah keputusasaan, sosok Cale Vertoghen hadir menyelamatkannya. Namun, penyelamat tersebut adalah seorang CEO kejam yang sangat terobsesi pada Gea. Sanggupkah ia membebaskan diri dari jeratan para pria yang terus memangsanya?
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana harus merelakan impian indahnya hancur ketika Veen mengusirnya secara paksa. Butuh perjuangan keras baginya untuk menyembuhkan luka dan melupakan masa lalu. Namun, saat ia mulai bangkit, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Apakah Sallyana akan kembali terpikat pada Veen, ataukah ia akan melabuhkan hatinya pada sosok baru yang menemaninya di masa-masa sulit? Keputusan takdir akan menentukan akhir perjalanan cintanya.
Sampul Novel Menantu Miskin Itu Ternyata Sultan
9.3
Gara menyembunyikan identitas aslinya sebagai orang kaya raya di balik penampilan lusuh saat menikahi Mia. Ia tidak pernah peduli saat dirinya dihina, namun kemarahannya meledak ketika sang istri yang direndahkan. Bertekad melindungi Mia, Gara membawa istrinya keluar dari rumah itu dan membongkar rahasianya kepada semua orang. Pada akhirnya, adik ipar yang sempat meremehkannya berlutut memohon ampun, sementara ibu mertuanya menangis menyesali segala kesalahan masa lalu mereka.
Sampul Novel Miliarder Misterius dan Pengantin Penggantinya
8.6
Demi membiayai pengobatan pelayan tercinta, Julita terpaksa menggantikan saudara angkatnya untuk menikah dengan Erwin, pria yang dicap tidak berguna. Erwin sendiri setuju menikahi Julita hanya demi memenuhi wasiat ibunya. Namun, di balik penindasan yang dialami Julita, Erwin ternyata menyimpan rahasia besar tentang kemiripan dirinya dengan miliarder terkaya di kota. Akankah pernikahan penuh kebohongan identitas ini bertahan, atau justru berujung pada bencana?