APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dunia Lain Di Balik Pintu

Dunia Lain Di Balik Pintu

Astrid Ratchett, siswi antisosial korban perundungan, sangat menyukai novel fantasi karya Richard Mcgrory. Hidupnya berubah saat ia menemukan pintu misterius di balik lemari yang membawanya ke dunia fiksi tersebut. Di sana, Astrid menjelma menjadi gadis cantik berkedudukan tinggi. Kejutan besar menantinya ketika ia bertemu mendiang sahabatnya yang telah menjadi pangeran. Kini, ia harus melawan ancaman keluarga jahat demi menyelamatkan dunia itu sekaligus menguak rahasia di baliknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Saat Astrid berumur 5 tahun, dia bertemu dengan seorang bocah lelaki manis di taman bermain. Astrid memanjat sebuah tali lalu genggamannya terlepas dan ia terjatuh. Saat itu Melinda sedang sibuk dengan teleponnya mengurusi pekerjaan yang tiada henti. Ayahnya pun sedang melakukan hal yang sama. Siku kanan Astrid terluka dan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah merintih kesakitan.

Lalu tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang bocah laki-laki berlari menghampirinya. Rambutnya pirang pucat, kulitnya putih, matanya biru, dan suaranya sangat lembut.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya bocah itu.

“Yeah, sikuku lecet. Perih sekali rasanya,” jawab Astrid menahan sakit.

“Sebentar,” ucap bocah itu.

Dia berlari pergi dan kembali lagi dengan membawa sebuah tas. Dia duduk di sebelah Astrid dan mengeluarkan sebuah kotak P3K dari tasnya.

“Ibuku selalu melengkapi tasku dengan kotak P3K. Tidak salah jika dia khawatir, aku memang hobi terluka, hahaha!” ucap bocah itu untuk menghibur Astrid.

Dia mengeluarkan selembar kapas dan meneteskan cairan alkohol untuk membersihkan luka Astrid. Dengan lembut dia mengusapnya.

“Ouch! Sakit!” rintih Astrid kesakitan.

“Tahan ya.”

Setelah membersihkannya, bocah itu menempelkan sebuah perban di atas luka Astrid.

“Nah! Selesai! Sekarang kamu hanya perlu menunggu, beberapa hari pasti akan sembuh!” ucap bocah itu.

“Terima kasih banyak,” jawab Astrid.

“Aku Cameron Smith. Siapa nama kamu?” tanya Cameron.

“Astrid Ratchett, senang berkenalan denganmu,” jawab Astrid.

Sejak saat itu mereka menjadi sahabat dekat, bahkan bisa dikatakan lebih dari sahabat namun kurang dari kekasih.

***

“Ouch! Kasihan sekali! Pasti menyedihkan ya! Hahahaha” ucap Jessica.

“Memang. Aku dengan dia selalu menangis sejak Cameron meninggal. Benarkan?” ucap Karen.

“Hentikan! Jangan sebut namanya lagi!” bentak Astrid.

“Atau apa? Kamu tidak akan melakukan apa-apa ‘kan? Hahahaha!” jawab Jessica tidak takut.

“Astrid, maukah kamu segera bertemu kembali dengan Cameron? Kami akan membantumu dengan senang hati!” ucap Janice.

“Yeah! Bukankah kami sangat dermawan?”

“Hentikan!” teriak Astrid.

“Sesungguhnya aku turut bahagia untuk Cameron, sungguh,” ucap Karen.

“Kenapa begitu?” tanya Janice.

“Dia tidak harus menjalani hidupnya lagi bersama anak aneh seperti Astrid! Hahahahaha!” jawab Karen meledek.

“Hahahaha, benar juga!” ucap Janice.

“Atau mungkin, dari awal Cameron hanya berniat baik untuk membantumu, tapi kamu malahan jadi nempel dengannya. Ahahahaha, kasihan sekali Cameron!” ucap Karen.

“Cameron Smith ya? Hmmm, sepertinya aku harus menceritakan ini padamu,” ucap Jessica yang sedari tadi diam.

“Ada apa?” tanya Karen penasaran.

“Saat SMP, Cameron Smith pernah menghampiriku dan menyatakan perasaannya padaku! Dia juga bilang, kalau dia tidak ingin aku salah tangkap bahwa dia menyukaimu, Astrid, karena kedekatan kalian berdua. Yang sesungguhnya adalah, dia menyukaiku, bukan kamu! Namun sayang sekali aku harus menolak pria manis itu karena saat itu aku sedang berpacaran dengan Joshua Gilbert!” jelas Jessica.

“Tidak, itu tidak mungkin! Kamu hanya mengada-ada!” ucap Astrid.

“Oh ayolah, Astrid. Buka matamu dan belajar menerima realita! Jangan selalu kabur ke dunia mimpimu!” jawab Jessica ketus.

Astrid tidak dapat menerima apa yang baru saja Jessica katakan, dia tidak percaya jika Cameron pernah menyatakan perasaan pada perempuan yang dia benci selama bertahun-tahun. Cameron sendiri juga membenci Jessica.

Jessica mendekati Astrid dan mengangkat dagu Astrid.

“Camkan kata-kataku, jika kamu terus begini, kamu tidak akan pernah mengenal arti bahagia!” ucap Jessica.

Jessica, Janice, dan Karen pergi meninggalkan Astrid di toilet sendirian. Sementara itu, Astrid hanya bisa berdiri membeku di toilet. Dingin karena siraman air, kotor karena sapu, dan lengket karena air mata yang terus mengalir.

KRING

Bel berbunyi, menandakan bahwa pelajaran sudah dimulai. Namun Astrid tidak berniat untuk kembali ke kelas. Dia tidak bisa berhenti menangis, tubuhnya pun masih basah dan kotor. Segera dia berlari keluar dari toilet dan menuju gerbang sekolah. Dia tidak berhenti berlari dan melanjutkan langkah kakinya ke rumah. Dia membawa tasnya saat makan siang, jadi mudah untuk membawanya pulang tanpa harus kembali ke kelas.

Dia berhenti di halte dan menunggu untuk sebuah bus. Dia menaikinya dan duduk sendirian di pojokan. Saat dia menengok ke sebelah kirinya, dia tidak sengaja melihat sebuah tulisan dari pulpen yang sudah lumayan memudar. Tulisan itu bertuliskan ‘Camcam & Ace’.

Dahulu, Astrid dan Cameron pernah menulisnya di sebuah bus, dan sekarang Astrid duduk di tempat yang sama lagi, sendirian. Camcam adalah panggilan khusus yang Astrid berikan untuk Cameron, sedangkan Ace adalah panggilan khusus yang Cameron berikan untuk Astrid.

Astrid mengusap tulisan tersebut, air mata mengalir semakin deras membasahi pipinya. Dia semakin tidak percaya akan apa yang Jessica katakan. Dengan dirinya membolos kelas dan pulang tidak akan mengubah segalanya menjadi lebih baik, bahkan mungkin lebih buruk. Rumah bukanlah surga yang menyambutnya setelah pulang sekolah, namun neraka yang lebih panas. Betapa dia berharap bisa menyusul Cameron, entah dimana dia sekarang. Baginya, dia akan lebih bahagia dimanapun tempatnya asal bersama Cameron, di neraka sekalipun.

Beberapa menit kemudian dia sampai di rumahnya. Astrid mendapati ayah dan ibunya sudah berada di sana.

“Apa yang kau pikirkan?! Ibu mendapat telepon dari gurumu, dia mengatakan bahwa kamu tidak masuk kelas setelah jam makan siang! Tidak tahukah kamu betapa malunya ibu?!” bentak Melinda langsung tanpa basa-basi.

James tetap diam sambil menyeruput kopinya. Ekspresi marah terpampang di wajahnya.

“Dan ada apa dengan bajumu?! Basah dan kotor! Apa-apaan ini?!” lanjut Melinda.

Astrid berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas jus.

“Ibu tidak akan percaya walaupun aku ceritakan. Jadi lebih baik aku diam menghemat energiku,” ucap Astrid.

“Kamu pikir ibu se-dingin itu?! Kamu anggap ibu tidak sayang padamu?! Lalu untuk apa ibu banting tulang kerja tiada henti demi menghidupimu?!” bentak Melinda.

“Mungkin, karena itulah yang ibu tunjukan padaku!” jawab Astrid ketus.

Tiba-tiba kedua adik Astrid pulang.

“Apa yang terjadi? Aku dengar kamu membolos, ini sama sekali tidak seperti dirimu,” ucap Jannet.

“Oh diamlah! Tidak usah ikut campur kamu!” bentak Astrid.

BRAK

James menghantam tangannya ke meja.

“Kami tidak mendidikmu untuk menjadi seperti ini! Menjadi ketus, dingin, dan kurang ajar! Siapakah dirimu ini?! Kamu seharusnya menjadi anak yang baik! Yang kamu cerminkan sangat berbanding terbalik!” bentak James murka.

“Ohya? Lalu kapan ayah dan ibu bercermin?! Lancang sekali kalian menuntutku menjadi anak yang baik saat kalian sendiri bukanlah orangtua yang baik!” jawab Astrid.

“Kami adalah orangtua yang baik! Lihatlah ibu! Ibu bekerja pagi siang sore malam tanpa henti demi anak-anak ibu, demi kamu! Agar semua kebutuhanmu bisa terpenuhi, agar kamu dapat hidup enak! Apakah itu sesuatu yang orangtua buruk lakukan?!” tanya Melinda.

“Ibu pikir orangtua yang baik adalah mereka yang bekerja terus menerus tanpa memperhatikan anaknya?! Ibu pikir menjadi orangtua hanyalah mencari uang untuk menghidupi anaknya?! Aku tidak butuh uang ibu! Yang aku butuhkan hanyalah waktu dan perhatian ibu! Aku sungguh berharap aku bisa menyusul Cameron! Di neraka akan lebih baik daripada di sini!”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel Danny Hatta
9.2
Misi perburuan di Swiss membawa Danny Hatta pada titik terang misteri kematian ayahnya yang merupakan hakim tinggi. Namun, pencarian keadilan ini malah menjeratnya dalam tuduhan palsu atas pembunuhan polisi dan eks sekretaris sang ayah. Sebagai buronan, ia terpaksa melarikan diri bersama jurnalis bernama Sarah Hartono. Di tengah ancaman bahaya, keduanya harus bekerja sama mengungkap konspirasi besar demi membersihkan nama Danny.
Sampul Novel Gairah Ana Dalam Perjalanan Waktu
9.3
Usai bersusah payah merampungkan skripsinya, Nuna justru terlempar ke masa lampau dan terlahir kembali sebagai bayi di dimensi gaib yang misterius. Di dunia baru ini, ia tidak hanya harus berhadapan dengan sosok raja iblis yang menakutkan, tetapi juga dikelilingi deretan pria rupawan yang memikat. Nuna kini dihadapkan pada pilihan sulit: menjalani takdir penuh cinta dan petualangan mendebarkan, atau mencari cara kembali ke tempat asalnya.
Sampul Novel Jodoh Raja Alpha yang Terhapus
9.1
Alpha Bima menyebut cinta kami berkat Dewi Bulan, tapi itu bohong. Dia mengkhianatiku demi perempuan hamil yang kini jadi ratunya. Bahkan, selingkuhannya memakai Kalung Ikatan Suci milikku saat kawanan bersiap menyingkirkanku demi sang pewaris baru. Di hari jadi kami, aku memberi kejutan terakhir berupa surat cerai dan penolakan resmi. Aku memilih pergi dan lenyap selamanya, memutuskan ikatan yang telah dia hancurkan.
Sampul Novel Kita Tidak Akan Pernah Berpisah Lagi
9.6
Setelah tewas secara tragis akibat cinta buta, Maeve terlahir kembali dengan tekad menjalani hidup baru yang bebas. Ia pun menghancurkan ambisi rival lamanya di dunia musik melalui bakat yang tak tertandingi. Sambil meniti puncak karier, Maeve tetap menunjukkan sisi lembut pada pria yang dicintainya. Di balik ketegasannya, ia tak ragu menggoda sang kekasih hingga pria itu membalasnya dengan bisikan penuh gairah yang menjanjikan malam tak terlupakan.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?