APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Duda Pilihan Papa

Duda Pilihan Papa

Anwar Mahendra terhimpit utang besar hingga nyaris kehilangan putri tunggalnya, Ashiqa, yang diincar rentenir. Demi menyelamatkan sang anak, Anwar meminta Rama, seorang duda kaya yang berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Ashiqa terpaksa menerima pernikahan mendadak ini. Di sisi lain, Rama kini terjebak dalam dilema besar: mencoba mencintai istri mudanya atau justru merelakan Ashiqa pergi demi mengejar kebahagiaan sejati wanita itu sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiga bulan berlalu setelah kejadian di kolam renang itu. Rama sudah kembali beraktivitas seperti semula, bekerja dengan giat bahkan dengan keras. Laki-laki itu pun masih sabar menerima sikap tertutup istrinya namun ia yakin jika suatu saat nanti kesabarannya akan membuahkan hasil. Cinta dan kasih sayangnya akan membuat pintu hati Ashiqa terbuka lebar untuknya.

Sore itu Ashiqa sedang belajar memasak dengan bi Sri, beliau asisten rumah tangga yang terlama di rumah itu sejak ibu Rama baru saja meninggal di usia Rama yang kesepuluh. Jadi bi Sri bisa dikata pengasuh juga buat Rama dan Rama sangat menghormati perempuan paruh baya itu.

“Tuan muda itu sangat suka makan dengan menu yang di panggang atau di bakar, seperti ayam bakar madu ini Nyoya muda.” Bi Sri dengan sabar mengajarkan bagaimana mengolah makanan lezat sesuai selera Rama. Ashiqa sendiri yang minta untuk diajarkan memasak.

“Nyonya muda, Bibi tahu jika posisi Bibi tidak pantas untuk membicarakan ini tapi Bibi Cuma mau kasih tahu Nak, Tuan muda Rama itu orangnya sangat baik. Ia dewasa, mandiri dan penuh kasih sayang. orangnya tidak pernah kasar sama siapa pun juga, tapi sangat tegas dengan kebenaran. Beruntung  Nyonya muda punya suami seperti dia.”

“Dulu dia punya pacar Bi?”

Bi Sri menghentikan memotong sayuran, ia mencoba mengingat-ingat.

“Setahu Bibi gak ada , bahkan saat kuliah di luar negeri pun tuan muda gak punya kekasih, sibuk katanya gak sempat cari pacar.” Bi Sri terkekeh di akhir kata itu dan membuat Ashiqa sadar jika ucapan Rama di malam pertama mereka itu jujur adanya. 

"Pernikahan pertama Tuan juga hanya sebentar saja karena istri Tuan meninggal." Bi Sri menatap Ashiqa dengan tatapan berkaca-kaca.

“Bibi minta tolong sama Nak Ashiqa, jadi istri yang baik untuk tuan muda, kasihan ibunya sudah lama meninggal, ayahnya menikah lagi dan ibu tiri serta saudarinya tidak tulus menyayangi tuan Rama. Sampai ayahnya juga meninggal dunia tuan muda sangat kesepian. Lama dia gak punya siapa-siapa. Makanya Bibi senang sekali ketika tuan muda bilang kan menikah dengan Nyonya muda. Tuan muda sangat bahagia.” Bi Sri menyeka air matanya yang jatuh tanda jika orang tua ini benar-benar sangat menyayangi majikannya.

Ashiqa menatap wajahnya di cermin, sudah tiga bulan ia menjadi istri Rama, ia mulai menyukai sikap Rama yang selalu manis dan sopan. Leluconnya yang lucu namun Ashiqa menahan tawanya untuk Rama. Ashiqa merasa sudah cukup membangun tembok tebal di hatinya, ia memang beruntung memiliki suami yang baik hati seperti Rama. Ashiqa lalu berdiri membuka lemari dan mengambil sepotong lingerie berwarna merah muda. Meski Ashiqa malu tapi ia harus menyerahkan hak Rama yang sudah lama ia tunda.

Rama baru saja mandi dan berganti pakaian, matanya melirik ke arah Ashiqa yang terlihat sangat cantik malam ini. parfum istrinya menguar di udara dan membuat Rama mabuk kepayang. Ia mengelus dada ia harus bersabar, ia tidak akan meminta kepada Ashiqa jika istrinya itu tidak datang sendiri kepadanya.

“Ashiqa … apa kau ingin berbuat ulah lagi pada jantungku?” tanya Rama pada Ashiqa yang sedang menata bantal di tempat tidur mereka. Baju kimono yang agak transparan bisa memberitahukan kepada Rama jika tubuh di dalamnya itu sedang terbalut lingerie yang seksi.

“Maksudmu?” tanya Ashiqa yang tidak mengerti pertanyaan Rama barusan.

“Apa kau sedang ingin mengujiku lagi Ashiqa ? dengan ini…” Rama menyentuh ujung kimono Ashiqa. Yang ditanya hanya tertunduk dan terdiam, wajahnya sudah bersemu dadu.

“A-aku tidak mengujimu lagi Rama, ku rasa… engh… a-aku… malam ini waktunya untuk…” Ashiqa tidak melanjutkan kata-katanya ia kehabisan stok kata untuk suaminya.

Rama tersenyum, ia paham sikap Ashiqa yang malu-malu tapi mau.

“Alhamdulillaaaaaah… akhirnya aku saaaaahhhh jadi suamiiii…!” pekik Rama girang, Ashiqa spontan menutup mulut Rama.

“Berisik banget sih!” mata Ashiqa melotot melihat tingkah Rama yang norak menurutnya.

“Duhai pencipta maskara yang melentikkan bulu mata istriku, terima kasih karena semakin mempercantik istriku  bahkan disaat melotot seperti ini pun ia masih terlihat cantik dan menggemaskan.” Rama menurunkan tangan Ashiqa dan menatapnya dengan dalam.

Sebelum Ashiqa membuka mulutnya lagi segera Rama membungkamnya dengan ciuman mesra. Tembok pertahanan Ashiqa sudah runtuh dan saatnya ia masuk ke dalam kehidupan Ashiqa lebih jauh lagi walaupun malam ini Rama gemas sekali dengan malu-malu tapi mau istrinya itu.

Ashiqa mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, rambutnya yang tebal dan panjang di bawah bahunya kadang menyulitkannya untuk segera mengeringkannya. 

Rama yang baru saja selesai berpakaian usai mandi mendekati Ashiqa dan mengambil alih pengering rambut itu. Ashiqa menatap suaminya lewat pantulan cermin dan menahan senyumnya yang terkulum.

 “Kamu baru sadar yaa kalau suami kamu ini memang mirip Evan Sanders?” tanpa melihat ke arah cermin Rama tahu kalau Ashiqa sedang meliriknya. Mata Ashiqa mendelik lalu membuang mukanya, ada semburat memerah di pipinya.

 “Issshh … narsis amat siih jadi orang, Evan Sanders itu lebih manis tau.”

Rama tersenyum kecil, meski dia sudah merobohkan dinding kegadisan eeh dinding hati istrinya ternyata Ashiqa menyimpan jauh hatinya lebih dalam  yang harus dijangkau lebih keras lagi oleh Rama. 

Hairdryer itu bergerak kesana-kemari dan Rama melakukan itu dengan telaten dan hati-hati. Hampir semua hal dari istrinya dia kagumi. Rambut indahnya, kulit yang putih dan keceriaanya  meski Ashiqa lebih mungil namun hal itu yang membuat Ashiqa menjadi imut dan menggemaskan.

“Sayang, aku ingin memberimu sesuatu.” Ucap Rama serius selang beberapa menit dia mengeringkan rambut istrinya. 

Dia mematikan pengering rambut itu dan meletakkannya di meja. Ashiqa menatap suaminya yang berjalan menuju lemari besar dan mengambil sesuatu dari sana. Tampak sebuah kotak beludru berwarna biru malam di pegang hati-hati oleh Rama.

“Ini milik mendiang ibuku, sangat istimewa dan aku ingin memberikan ini kepadamu, wanita istimewaku.” Dengan hati-hati Rama membuka kotak itu dan terlihat seuntai kalung berlian yang senada dengan warna kotaknya. Rama mengalungkan itu dan Ashiqa memandanginya di cermin dengan sorot kagum.

 “Cantik sekali pasti ibumu sangat cantik memakai ini.” jemari Ashiqa mengelus kalung yang menghiasi lehernya itu, sangat mewah dan tidak bisa dipakai di sembarang waktu.

“Cantik, membuat istriku semakin cantik.” Rama menunduk hingga dagunya menyentuh bahu Ashiqa, tanpa sadar Ashiqa menoleh dan hidung mereka nyaris bertabrakan. Rama melihat ke arah bibir Ashiqa, mata Ashiqa tahu kemana tatapan Rama, jantungnya berlomba.

Kali ini pasti jantung Ashiqa yang bermasalah. Spontan Ashiqa menutup matanya rapat-rapat, percintaannya semalam masih membekas kuat dan dia ingat bagaimana Rama menciumnya.  Rama tersenyum ekspresi Ashiqa yang takut dicium mendadak membuatnya merasa geli.

“Kamu berharap aku cium Sayang?” tanya Rama jahil pada istrinya. Wajah Ashiqa kembali merona merah, dia membuka mata kirinya lalu diikuti mata kanannya. Kemudian berpaling dan menjauh dari suaminya yang membuatnya malu.

“Iiihhh  … siapa juga yang mau dicium, kamu aja tuh yang suka nyosor duluan.”

“Jadi aku harus bilang dulu kalau mau cium kamu?” tanya Rama masih dengan kejahilannya.

“Iya … eeh… gak… duuuh … apa siih? … udah aah, nanti kamu terlambat ke kantor. Aku sudah siapkan pakaian kamu, aku mau turun siapkan sarapan.”

Ashiqa salah tingkah dibuat Rama, sungguh dia ingin segera menghilang dari kamar ini segera, cliiinng … hilang begitu saja tanpa buka pintu dulu.  

Ashiqa bergegas menuju pintu namun tiba-tiba langkahnya tertahan, Rama memegang lengannya dan membuatnya berbalik lalu sekejap ia tenggelam di pelukan Rama.

“Tahu tidak kalau hari ini hari Minggu ?  kantorku libur Sayang. kita jalan-jalan yuk.”

“Ha-hari Minggu yaa … maaf aku lupa.” Sempurna sudah rasa malu Ashiqa saat ini, tapi dia suka berada di dalam pelukan Rama hingga membuatnya nyaman.

“Shiqa, kamu sudah percaya kan kalo aku itu bukan Datuk Maringgih yang menawan Siti Nurbaya ? Kamu salah paham Sayang. Aku hanya seorang pria yang jatuh cinta pada seorang gadis dan aku beruntung bisa memiliki gadis itu.”

Ashiqa terdiam, raut wajahnya berubah jadi mendung ada kesedihan yang sedang dia sembunyikan sekuat tenaga. 

Entah siapa yang punya keberuntungan itu, suaminya atau dirinya yang dipersunting seorang pria baik hati. Rama mengecup puncak kepala Ashiqa sebelum istrinya melepaskan dirinya dari pelukannya dan meninggalkan kamar. Ada rasa aneh samar yang dirasakan oleh Rama, ada kabut di mata Ashiqa yang terbaca olehnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, bos INANTA Group, dikenal sebagai sosok religius yang taat beribadah di tengah kesuksesan bisnisnya. Kehidupannya berubah drastis setelah putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang berwajah sangat mirip dengan mendiang sang ibu. Kedekatan erat di antara mereka berdua mulai mengancam rencana pertunangan Hanif dengan Soraya. Terjebak antara kewajiban dan kebahagiaan sang anak, ke manakah takdir akan membawa pelabuhan hati Hanif berikutnya?
Sampul Novel Bayiku dibunuh Pelakor, Suamiku Tak Peduli
8.9
Setelah didorong dari tangga oleh Mariana, cinta pertama suaminya, sang istri kehilangan bayinya dan sekarat di rumah sakit Grup Dariawan. Putranya yang masih kecil memohon pertolongan pada ayahnya, Ridwan. Namun, sang suami justru menuduh istrinya berpura-pura demi mencari perhatian. Ridwan bahkan melarang dokter memberikan perawatan medis dan mengusir anaknya sendiri demi melindungi Mariana. Akhir tragis menjemput ibu dan anak ini, meninggalkan jasad dingin yang takkan pernah kembali.
Sampul Novel Brave Heart
8.7
Kecelakaan tragis membuat fisik Seruni Arkadewi cacat. Kemalangan tak berhenti di situ; sang kekasih berkhianat dengan sahabatnya, dan ayah tirinya tega menjualnya kepada pria tua kaya. Menolak menyerah pada nasib, Seruni memilih melarikan diri demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri. Langkahnya ini dinilai konyol oleh Antonio Brata Kesuma, konglomerat yang sangat antipati pada kelemahan fisik. Namun, kegigihan Seruni yang menolak belas kasihan perlahan menantang pandangan Antonio.
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Setelah berselingkuh, Vivienne mencoba menghabisi Soren Blackwood. Namun, anak buah sang miliarder justru salah menculik Kira, kembaran identik Vivienne. Kira terpaksa berpura-pura menjadi istri dari CEO kejam yang kini lumpuh tersebut. Di tengah dendam membara, Soren perlahan jatuh cinta pada Kira yang bersikap sangat berbeda. Bisakah rahasia ini terus tersimpan rapat? Bahaya mengintai saat Vivienne yang asli bersiap kembali merebut posisinya.
Sampul Novel Kenikmatan Di Kelas Bisnis
9.3
Setiap bulan, sahabatku selalu bepergian ke berbagai kota dengan penerbangan kelas bisnis dan kembali dengan wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan. Rasa penasaran membuatku bertanya-tanya tentang keistimewaan yang tersembunyi di balik tirai mewah pesawat tersebut. Sambil tersenyum penuh arti, ia pun membocorkan rahasianya. Mulai dari mahasiswa lugu, bos besar yang dingin dan berkuasa, hingga pria asing yang menawan, semua pengalaman romantis yang tak terbayangkan telah ia rasakan di sana.
Sampul Novel My Prince Fauzan
8.2
Fauzan Arsyad, putra mahkota Kerajaan Arab yang rupawan dan pebisnis sukses di usia muda, terikat aturan ketat istana. Sebagai calon raja, ia dilarang mencintai gadis biasa demi jodoh pilihan kerajaan. Sikap lembutnya menyembunyikan sisi dingin untuk menjauhkan diri dari para wanita pemuja. Kini, publik menanti siapakah yang akan melamar sang pangeran. Akankah takdir membawanya bersanding dengan seorang putri bangsawan, atau justru gadis dari kalangan biasa?