
Dua Pria, Satu Permaisuri
Bab 2
Aku menundukkan wajahku ke dadanya. Kedua telingaku mendengar suara debaran jantung yang amat kencang, entah itu debaran jantungnya atau jantungku sendiri.
Sebagai seorang terapis pijat, aku sangat familier dengan bentuk tubuh manusia.
Tapi, sekarang aku bingung apakah harus melepaskan tanganku, atau lanjut ....
Lalu tiba-tiba saja terdengar suara tawa pelan dari atas kepalaku.
"Sudah puas memegangnya?"
Aku didorong menjauh hingga tubuhku terhuyung beberapa langkah.
Pria itu lalu mendengus, dan memandangiku dari atas hingga bawah dengan tatapan dingin.
"Nggak kusangka, Wulan yang terkenal di Panti Pijat Intano ternyata perempuan yang ... nakal."
Suara pria ini terdengar sangat merdu. Setiap katanya membuat jantungku berdebar-debar.
Bahkan ujung jariku masih bisa merasakan sisa-sisa panas tubuhnya ....
Aku menggenggam tanganku erat-erat dan menyembunyikannya di belakang punggung, wajahku juga tampak memerah.
Keindahan memang bisa menyesatkan!
Ibu Hera sudah mengingatkanku untuk berhati-hati, mana mungkin aku berani menggoda pria ini!
"A-aku ...."
"Hm? Ternyata memang buta."
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, pria itu sudah menyentuh mataku.
Dia berdiri sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan napas hangatnya saat bicara.
Kedua pipiku sudah merah padam saat berada di suasana menegangkan begini. Aku meraba tas kecilku, mencoba mengambil sebotol minyak pijat.
"Tuan, perkenalkan, namaku Wulan."
"Aku sudah buta sejak kecil. Hari ini aku datang untuk menggantikan Ibu Hera memijat ...."
Pria itu tetap diam, tapi helaan napas hangatnya masih terasa.
Dia mencubit daguku dan memaksaku mendongak menatapnya. Tatapan tajamnya seolah membakar kedua pipiku.
Aku meremas botol minyak pijat di tanganku saking gugupnya.
Aku tidak akan diusir karena buta, 'kan?
Ibu Hera cuma bilang kalau hanya aku yang bisa memuaskan pelanggan ini ....
Aku menggigit bibir, lalu berkata pelan.
"Aku memang buta, tapi aku terapis andalan di Panti Pijat Intani."
"Kalau soal profesionalisme, bisa kupastikan kalau aku nggak kalah dengan kakak-kakak yang lain."
Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah pria itu, dan hanya mendengar tawa pelannya.
"Lidah memang nggak bertulang. Beberapa orang yang masuk tadi juga bilang kalau mereka jago memijat, tapi menurutku biasa saja!"
"Kalau memang tidak percaya ... bagaimana kalau kutunjukkan saja?"
Segera setelah aku berkata demikian, aku merasakan pinggangku ditarik maju.
Pria itu duduk di ranjang pijat empuk yang ada di samping, lalu berbaring di atasnya.
"Cepat, aku nggak punya stok sabar untuk main-main denganmu."
"Kalau kemampuan pijatmu biasa saja, cepat keluar dari sini!"
Nada bicaranya meninggi, aku pun bergegas memijatnya. Aku membuka botol minyak pijat, lalu menuangkannya ke tanganku. Kemudian memijat beberapa titik akupuntur di tubuhnya.
Tanganku dapat bergerak lebih lembut dengan tambahan minyak pijat.
Otot-ototnya terasa menonjol, membuat punggungnya benar-benar kekar sempurna.
Punggung indahnya ini ... jauh lebih keren daripada punggung para pria paruh baya itu!
Saat sedang memijatnya begini, aku jadi teringat ucapan Kak Saras tadi.
Kalau tubuh pria ini saja sekekar ini, bagian pentingnya pasti ....
"Kekuatan pijatanmu ini ... lumayan ...."
Pria di bawahku ini bergumam pelan. Aku yang tadinya gugup ketakutan, akhirnya merasa lega setelah mendengar ucapannya barusan.
"Kalau Tuan suka, aku akan lanjut memijat."
Ketika aku mau mengeluarkan alat dari tasku, pria ini berkata lagi.
"Sebagai seorang pelanggan penting, aku tentu harus merasakan pengalaman yang beda dari yang lain."
Detik berikutnya, dia langsung menarikku mendekat ....
Anda Mungkin Juga Suka





