APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dua Istri CEO

Dua Istri CEO

Setelah kebersamaan mereka yang intim, Brian terkejut saat Azzura mendesaknya untuk berpoligami. Sebagai pria kaya dan tampan, Brian menolak keras karena hatinya hanya milik Azzura. Sikap keras kepala istrinya yang tanpa alasan jelas ini memicu kemarahan sekaligus keraguan dalam diri Brian. Namun, di tengah konflik tersebut, Azzura memeluk erat suaminya untuk menegaskan bahwa perasaannya tidak berubah dan cintanya tetap tulus hanya untuk Brian.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah meninggalkan Azzura, Brian tak tahu harus pergi ke mana. Dia hanya masuk ke dalam mobil lantas menghidupkan mesin, keluar dari rumah besarnya itu. Sedang tujuan, Brian tak tahu akan ke mana.

Udara malam menemani perjalanan Brian malam ini. Sang Dewi Malam sedang menampakkan keindahannya. Langit yang cerah dengan ribuan bintang, menjadi saksi kegalauan hati lelaki itu. Jika bisa, dia akan mengumpat orang yang memintanya untuk menikah lagi. Tapi, sayangnya orang itu adalah Azzura, istrinya sendiri.

Tak mungkin dia melontarkan berbagai macam makian untuk wanita yang sangat dia cintai, ibu dari buah hatinya.

"Argh ...! Brengsek! Brengsek!" Brian memukul klakson mobilnya. Hingga membuat jalanan yang aslinya senyap, menjadi berisik karena bunyi yang berasal dari klakson mobilnya itu.

Jika sedang seperti ini, dia butuh sesuatu untuk menenangkannya. Segera Brian menepikan mobilnya di salah satu minimarket yang ada di pinggir jalan untuk membeli rokok. Ya, lelaki itu telah berhenti merokok sudah lama saat jatuh cinta 12 tahun yang lalu, tetapi entah dapat bisikan dari mana, dia ingin menikmatinya lagi malam ini.

"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" Itulah sapaan khas yang Brian dengar saat memasuki minimarket ber-AC itu. Pelayan tersenyum ramah sembari kedua tangan ditelangkupkan di depan dada. Brian hanya ganti tersenyum tanpa menjawab.

Antrian di meja kasir lumayan penuh. Dengan wajah datar, lelaki itu ikut mengantri di sana, karena apa yang dia cari ada di belakang meja itu.

"Ck!" Brian menghindar ketika ada seorang yang seakan akan menabraknya. Dia bergerak ke samping kanan, namun ternyata kini dia malah terjebak di antara banyak orang.

'Kenapa tumben empet-empetan gini, sih?' tanya Brian dalam hati. Suasana hati Brian yang buruk bertambah buruk kini. Pria itu sampai bingung mesti menyingkir ke mana.

PLAK!!!

Netra Brian langsung melotot ketika dia merasakan sebuah tamparan mengenai pipinya. Segera saja dia mengangkat wajahnya untuk tahu siapa yang telah berani melakukan itu padanya. Brian merasa tak ada salah dengan siapa pun yang ada di sana.

Di hadapan Brian, berdiri seorang gadis cantik, berusia sekitar dua puluh tahun yang memiliki manik mata abu-abu. Yang bisa dibilang bukan warna mata asli orang Indonesia. Hidung mancung dengan bibir yang sedikit berisi semakin meyakinkan Brian jika wanita ini mungkin seorang turis. Tetapi, dengan alasan apa turis ini menamparnya?

Mata gadis itu melotot tajam ke arahnya. Oh ... sungguh, Brian sama sekali tak tahu di mana letak kesalahannya?

"Excuse me. What's my fault? So you slapped me?" Tak ingin langsung memaki, Brian ingin tahu alasan apa yang mendasari gadis itu menamparnya?

"Excuse me, Excuse me. Aku nggak ngerti apa yang Om omongin. Tapi, yang aku tahu Om itu telah ngelecehin saya, tahu nggak?" Mata Brian membelalak. Membulat sempurna mendengar omongan gadis itu.

'Ini, aku capek-capek pake bahasa Inggris, tahunya tuh anak nggak tahu. Dan dia bilang apa tadi?'

"Melecehkan?" Brian ingin tertawa mendengar tuduhan itu, "siapa yang melecehkan siapa di sini? Bahkan saya sama sekali tak menyentuh Anda!" bentak lelaki 35 tahun itu. Dia malu, karena sadar jika mereka kini telah menjadi tontonan pengunjung minimerket.

"Anda yang telah melecehkan saya. Saya tahu, saya memang cantik. Tapi, bukan berarti orang setampan Anda bisa seenaknya meremas bokong saya." Gadis itu tak kalah galak dari Brian. Tak peduli dengan pandangan aneh orang-orang, dia hanya tak ingin harga dirinya diinjak seperti ini.

"Jadi intinya Anda mengakui jika saya tampan?" Jujur, perasaan Brian saat ini antara ingin marah tetapi juga ingin ketawa.

"Eh!" Gadis itu menutup mulutnya menggunakan tangan. Dia tak menyangka jika dia keceplosan telah mengakui jika pria itu memang tampan, meski dia tahu usianya tak muda. "Intinya bukan itu. Intinya Om telah meremas bokong saya tanpa ijin!"

"Jadi kalau ijin, boleh nih?" Brian tidak tahu kenapa timbul perasaan ingin menggoda gadis itu. Dia sangat lucu dan juga cantik.

'Berhenti, Brian! Sejak kapan kamu peduli dengan wanita lain selain Azzura?' Brian segera saja mengenyahkan pikiran buruknya saat itu juga. Baru saja dia marah pada istrinya karena memaksa dia untuk menikah lagi, kenapa saat ini dia malah kagum pada wanita lain? Hal yang belum pernah terjadi sepanjang pernikahannya dengan Azzura.

"Ya, nggak gitu konsepnya, Bambang!" Sang gadis merasa geram karena orang tua yang ada di depannya ini malah ingin bermain-main dengannya. Ingin sekali gadis itu mencakar dan juga menendang Brian saat ini juga. Kenapa ada model lelaki model mesum dan juga gila seperti dia?

"Nama saya bukan Bambang--"

"Pak ... Bu .... Mohon maaf sekali, jangan membuat keributan di sini." Salah seorang pelayan menghampiri keduanya. Brian baru menyadari jika dirinya telah mempermalukan dirinya sendiri. Untuk apa juga dia meladeni bocah itu?

"Ini, Mas. Ada om-om mesum yang seenaknya saja meremas bokong saya." Dengan wajah kesal, sang gadis menunjuk ke arah Brian, membuat Brian langsung melotot.

"Maaf, Mas. Saya tidak melakukan itu," bantah Brian. Sungguh hari ini terasa begitu sial untuknya.

"Bohong! Mana ada maling ngaku!" Sang gadis tetap pada pendiriannya. Dia sangat yakin jika Brianlah yang telah meremas bokong nya tadi.

"Saya bukan maling dan saya tidak melakukan hal yang Anda tuduh!"

"Tapi---"

"Cukup!" Baik Brian maupun gadis itu melihat ke arah orang yang tengah berteriak itu. Seorang pria botak berusia sekitar 50 tahun dengan perut buncit menghampiri mereka.

"Malam, Pak," sapa pelayan yang menghampiri mereka tadi. Sepertinya pria itu manager atau mungkin malah pemilik Minimarket itu.

"Hm ... ada apa ini?" tanya pria botak itu dengan wajah garang. Dia melihat ke arah kedua orang pembuat onar bergantian.

"Ini, Pak Gibran, tadi mereka bertengkar karena Mbak ini telah menuduh Bapak ini melakukan pelecehan terhadap Mbak-nya," jelas pelayan itu sedikit takut. Sang pegawai menunggu reaksi yang akan ditunjukkan bos-nya.

"Pelecehan? Pelecehan seperti apa?" tanya Pak Gibran, dia ingin tahu lebih lanjut.

"Dia meremas bokong saya, Pak!" ujar si gadis. Dia harus mempertahankan harga dirinya.

"Bukan saya!" bantah Brian.

"Masih nggak mau ngaku, Om?" Si gadis melotot ke arah Brian.

Brian melihat ke arah Gibran, "Begini saja, Pak. Bapak Gibran ini pemilik Minimarket ini, bukan?" tanya Brian.

"Iya. Saya pemiliknya," jawab Gibran sambil membusungkan dadanya, seolah merasa bangga ada orang yang langsung tahu kedudukannya di sana dalam sekali lihat.

"Begini, Pak Gibran. Minimarket ini apakah memiliki CCTV?" Brian merutuki dirinya sendiri, kenapa baru kepikiran sekarang? Kenapa nggak sedari tadi?

"Tentu saja ada," jawab Pak Gibran segera.

"Boleh tidak Pak, kami mengeceknya untuk membuktikan siapa yang bersalah di sini? Saya nggak mau, ya, nama baik saya buruk gara-gara urusan dengan gadis ini." Brian menunjuk ke arah gadis yang masih menatapnya dengan tatapan bencinya. Benci terhadap orang yang telah melecehkannya. Seumur-umur, tak ada yang pernah menyentuh tubuhnya. Lha ini, orang asing dengan tidak sopannya melakukan itu.

Pak Gibran berpikir sejenak, dia melihat kedua orang itu bergantian. Lantas melihat ke arah pegawainya yang hanya masih menunduk.

"Wildan! Antar mereka ke ruang CCTV!" Pak Gibran memberi perintah pada karyawannya yang ternyata bernama Wildan itu.

"Baik, Pak!" Wildan mengangguk patuh. "Mari ikut saya!"

"Terima kasih banyak, Pak Gibran," ucap Brian.

Brian dan gadis itu mengikuti Wildan ke bagian dalam Minimarket itu.

"Ehm ... ehm ...!" Pak Gibran berdehem melihat ke arah pengunjung yang menonton drama gratis barusan, dan membuat mereka salah tingkah. Dia lalu kembali masuk ke ruangannya. Tak mau ikutan pusing dengan urusan mereka berdua.

Kini mereka bertiga telah berada di sebuah ruangan yang ada televisi yang menampilkan beberapa blok potongan gambar. Wildan duduk di kursi sedang kedua orang yang saling menatap sebal itu berdiri di belakangnya.

"Di mana tadi kejadiannya, Mbak?" tanya Widan pada si gadis.

"Di sini, Mas." Tunjuk si gadis pada salah satu rekaman yang menunjukkan TKP. Wildan langsung melihat rekaman tempat itu beberapa waktu yang lalu. Dari saat si gadis masuk ke Minimarket.

Kedua orang itu menyaksikan dengan seksama untuk membuktikan siapa yang bersalah dalam hal ini. Brian tak ingin namanya muncul di berita, 'Seorang pengusaha kaya terlibat skandal dengan bokong seorang gadis'. Mau ditaruh di mana mukanya jika menghadapi para investor?

"Nah! Dari sini, Mas. Si om-om mesum ini baru saja masuk. Pasti kali ini bakalan kebukti siapa yang salah di sini."

"Jangan panggil saya om-om mesum, dong. Belum juga terbukti kok udah yakin banget?" sewot Brian.

"Udah! Pokoknya saya yakin 200 persen jika Om yang telah melakukan tindakan tidak senonoh pada saya," ucap sang gadis dengan penuh percaya diri. Perasaannya sebagai seorang wanita tak usah diragukan lagi. Bahkan saat kucingnya di rumah hamil, dia bisa menebak dengan benar berapa jumlah anak yang dilahirkannya.

"Ck! Ya kali 200 persen," cibir Brian.

"Biarin! Mulut-mulut saya kenapa Om yang repot?"

"Ehm .. ehm ...! Bisa nggak, sih, kalian ini diam dulu? Nanti gambarnya kelewat, saya nggak mau, ya, disuruh muterin lagi." Widan merasa geram karena mereka berdua tak berhenti bertengkar, sudah seperti kucing dan tikus saja.

"Lihat, tuh!" seru Brian sambil melotot ke arah si gadis. Tak mau kalah, si gadis mencebik, balas melotot ke arah Brian.

"Tuh! Dari sini mulai pake matanya, Om. Siapa yang salah di sini!" tegas si gadis. Brian yang merasa tak bersalah bersikap biasa saja. Dia benar-benar membuka matanya lebar-lebar untuk membuktikan jika bukan dia yang melakukan itu.

"Ulangi, Mas! Itu sudah sampai saya ditampar. Putar adegan sebelumnya! Coba lihat siapa yang melakukan itu!"

Wildan menghela napas panjang. Dia harus sabar menghadapi kedua manusia absurd ini. Bagaimana bisa dia seapes ini, berurusan dengan dua orang yang sama-sama nggak mau ngalah.

Dengan amat sangat terpaksa, Wildan menuruti perintah Brian. Dia hanya ingin segera menyelesaikan ini semua dan kembali bekerja, melihat para pelanggan wanita yang cantik-cantik.

'Ah! Sudahlah, Wildan. Selesaikan ini dulu,' ucap Wildan dalam hati.

"Nah! Nah 'kan, lihat itu! Sudah kebukti sekarang, siapa yang salah?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama menjalani pernikahan dingin bersama Raihan Wijaya. Bagi Raihan, Alana hanyalah alat untuk memicu kecemburuan mantan kekasihnya. Saat sang cinta pertama kembali hadir, Alana diabaikan sepenuhnya dalam kehampaan. Di masa sulit ini, muncullah Daniel Sanjaya, seorang CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan tersadar sebelum istrinya berpaling, ataukah obsesi masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
8.1
Lima tahun pernikahan Zara dan Harry yang semula tenang hancur seketika. Demi melunasi utang raksasanya, Harry tega menjual Zara kepada seorang pria kejam sebagai jaminan. Di tengah penderitaan akibat dijadikan pemuas nafsu, Zara tidak tinggal diam. Ia mulai menyelidiki alasan di balik utang besar suaminya hingga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kisah rumah tangga yang penuh pengkhianatan dan konspirasi ini mengandung konten dewasa khusus pembaca cukup umur.
Sampul Novel Jerat CEO: Jodoh Salah Tarik
7.9
Setelah menuntaskan aksi balas dendam terhadap mantan kekasih dan sahabat yang mengkhianatinya, Diva Gantari justru terjebak dalam situasi rumit. Akibat salah masuk toilet pria, ia bertemu dengan Elvan Sabil, seorang CEO berkuasa dari perusahaan multinasional raksasa. Meski Elvan menyelamatkan Diva dari kekacauan tersebut, bantuan itu tidaklah gratis. Sang konglomerat menuntut Diva membayar jasanya dengan cara yang tidak terduga, yaitu bersedia menjadi tunangannya.
Sampul Novel Kei's Three Children
8.8
Keina diusir akibat tuduhan palsu mengkhianati kekasih saudara tirinya. Di tengah kemalangan, ia hamil dan harus membesarkan tiga anak jenius—Anna, Alice, dan Andre—dalam keterbatasan ekonomi. Nasibnya berubah saat Andre mulai berakting. Keina dipertemukan dengan Jeremy, seorang CEO industri perfilman yang ternyata adalah ayah kandung anak-anaknya. Pertemuan tak terduga ini membalikkan jalan hidup Keina sepenuhnya.
Sampul Novel On CEO's Bed
8.6
Alyssa nekat mendatangi kediaman Assa Zachary demi menghindari kejaran penagih utang sang ayah. Ia membawa surat wasiat, berharap sang miliarder mau membereskan masalah keuangan keluarganya. Namun, harapannya hancur saat ia justru dikurung di dalam rumah megah tersebut. Kini, Alyssa harus bertahan di tengah ketidakpastian janji Assa. Mampukah ia lolos, atau justru akan terseret semakin dalam ke dalam kehidupan penuh rahasia gelap milik pria itu?
Sampul Novel Oriaga Niel, Cintailah Aku
8.5
Satu bulan membina rumah tangga dengan Oriaga Niel, CEO brand Gregorious, Amanda merasa hidupnya bagai di neraka. Pernikahan tanpa cinta ini hanya menjadi sarana pelampiasan nafsu dan dendam masa lalu sang suami kepada keluarganya. Amanda begitu terhina karena diperlakukan layaknya alat pemuas belaka. Terjebak dalam kebencian mendalam, ia merasa seperti tawanan yang telah dibeli selamanya oleh Oriaga, pria dingin yang berambisi kuat untuk menghancurkannya.