APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan

Dosa yang Tak Termaafkan

Bukti perselingkuhan berupa tiket bioskop dan bon belanja barang wanita akhirnya ditemukan oleh Dewi. Dengan nada lirih namun sarat kemarahan, ia langsung melabrak suaminya atas pengkhianatan yang kembali berulang. Peringatan masa lalu yang diabaikan membuat kesabaran Dewi kini benar-benar habis. Ia menegaskan tidak ada lagi kesempatan kedua bagi sang suami. Pernikahan yang mereka bangun kini berada di ujung tanduk dan bersiap menghadapi kehancuran total.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ayo minum teh dulu semuanya, Pade Bude sudah sarapan belum? Kita sarapan dulu sini!” tawar Dewi, dengan 2 cangkir Teh hangat.

Akhirnya aku ikut sarapan dengan Pade dan Bude. Mereka cukup hangat padaku, lagi-lagi aku ditawari beberapa kue yang mereka bawa dari kampung. Saat aku ingin memakannya entah kenapa aku jadi penasaran dengan ekspresi Dewi, tepat saat itu mata kita bertemu, rupanya ia juga tengah memperhatikanku. Menyadari kami telah saling menatap, dengan cepat dia berpaling.

“Cie, sudah bukan pengantin baru kok masih tatap-tatapan saja.” Bude meledekku.

“Jadi ingat zaman kita pas masih muda ya Bu,” timpal Pakde, diiringi tawa renyahnya. Dan itu tentu menular padaku, tapi tidak untuk Dewi, yang hanya menampilkan senyum paksa.

“Aku mau pergi belanja dulu, aku titip anak-anak enggak apa-apa ya?”

“Kamu ini, kayak sama siapa saja, Bude sama Pade datang ke sini kan, karena kangen sama cucu Bude ganteng dan cantik ini.”

“Terima kasih ya Bude.”

Bude hanya mengangguk.

“Kamu enggak diantar Dani?”

“Enggak usah Bude, lagian dekat kok.”

Dewi terlihat cukup gugup karenanya, dan entah kenapa dia terlihat berbeda, saat seperti itu.

“Tuh kan, cie, masih aja tatap-tatapan begitu, sudah sana antar, kalian pasti enggak punya momen berdua, karena sibuk urus anak-anak, sekarang ayo temani istrimu.”

“Enggak usah Bude, malah jadi lama kan, lagian belum tentu juga Mas Dani mau.” Dewi tertunduk, dan entah kenapa dua terlihat menggemaskan. Sepertinya aku sudah gila kali ini. Apa memang benar kami tak pernah menghabiskan waktu berdua, karena terlalu sibuk mengurus anak-anak? Ah sudahlah setidaknya dengan begini, aku punya waktu bicara berdua dengan Dewi.

“Aku enggak keberatan sama sekali kok, ayo kita pergi sekarang.”

“Tuh Nduk, ayo buruan pergi, orang suamimu saja mau kok, ya kan Dan?”

“Enggak usah!” tegasnya dengan nada cukup tinggi.

Bude sepertinya terkejut dengan apa yang baru saja Dewi ucapkan. Tetapi saat itu juga Dewi langsung tersenyum menenangkan keterkejutan mereka.

“Biar Mas Dani temani Bude di sini saja.”

“Ya sudah kalau kamu maunya pergi sendiri.”

Dewi bergegas pergi, dia bahkan sengaja mempercepat jalannya. Bude tersenyum padaku, lalu menyuruh agar aku duduk di sampingnya.

“Wajar kalau suami istri ada masalah, Bude enggak mau ikut campur, tapi Bude minta kamu jangan pernah sakiti ponakan Bude, kalau kamu sudah bosan, kembalikan! Kasihan dia sudah enggak punya siapa-siapa, ini sekedar cerita saja ya, jangan tegang!” Bude tersenyum ramah, tetapi justru membuatku semakin kikuk dibuatnya. Bagaimana aku tak tegang, kenyataannya aku telah menyakiti Dewi.

“Ada apa toh Bu, kok tegang banget, lagi bahas apa?”

Sekarang Pakde ikut bergabung bersama kami, satu saja aku kebingungan menghadapinya. Lengkap sudah penderitaanku, aku semakin gugup saja.

“Ini biasa, cuma mengingatkan saja, kalau sekiranya sudah bosan sama Dewi, ya kembalikan ke kita secara baik-baik, pintu rumah kita juga terbuka lebar, jangan sampai disakiti.”

“Ya ampun Bude, masa iya Dani sakiti Dewi, orang tadi saja tatap-tatapan, mesra begitu kok.”

“Ya kan Ibu cuma mengingatkan Pak.”

“Sudah-sudah kita ke sini kan buat tengok cucu, jangan bahas yang berat-berat, itu Rafa sama Adit sudah menunggu di atas, ambilkan coklat yang kamu beli itu loh Bu, Bapak cari kok enggak ketemu.”

“Iya nanti Ibu carikan, Bapak ini cari barang apa saja pasti enggak ketemu.”

“Hehe Ibu ish.”

“Ingat ya Dan, jangan sakiti Dewi.”

“I iya Bu.”

“Sudah toh Bu, kasihan itu Dani sampai keringat dingin.”

“Ibu kan cuma mengingatkan Pak.”

“Iya sudah sana cari coklatnya, enggak usah dimasukkan ke hati Dan, biasalah perempuan suka cerewet."

“Hmm iya Pak.”

Ibu ini seperti tahu saja apa yang tengah terjadi. Kenapa dia terus menyudutkanku.

Tak lama, Dewi datang dengan plastik belanjaan yang berisi sayuran tetapi kali ini, wajahnya sembab, lengkap dengan mata yang memerah. Jelas kami semua merasa heran sayang Dewi tak mau menjelaskan apa pun dia lebih memilih pergi ke dapur, mengolah sayuran, bahkan kalau biasanya dia akan memasak dengan Budenya kali ini, dia justru menyuruh Bude untuk pergi dari dapur. Aku bisa melihatnya dari sini. Karena memang dapur kami terhubung langsung dengan ruang keluarga.

“Ada apa sih?” tanya Pakde.

Aku menggeleng, tak biasanya Dewi menunjukkan kesedihannya di depan orang banyak. Ya Tuhan jangan-jangan di sepanjang jalan tadi dia sudah menangis. Apa yang sudah terjadi padanya. Aneh.

“Pak, sini!”

Sekarang pasangan suami istri itu saling mendekat, entah tengah membicarakan apa yang jelas sesekali dia melirik ke arahku lalu bergantian pada Dewi.

Kacau! Memang aku menginginkan supaya kami tetap tinggal seatap tetapi tidak dengan cara seperti ini, sekarang aku seperti terjebak.

Setelah mereka pergi ke lantai atas, aku mendekati Dewi ke dapur.

“Kamu kenapa?”

“Pergi!”

“Wi aku cuma khawatir, kamu enggak kenapa-kenapa kan? Kamu jatuh di jalan, ada yang sakit? Coba aku lihat?”

“Apa sih?”

“Bagaimana aku enggak khawatir, kamu datang-datang menangis begitu, mana ada Pakde dan Budemu, mereka juga pasti bingung.”

“Kamu itu bukan khawatir, tapi takut disalahkan!”

“Apa pun itu terserah kamu, yang penting kasih tahu dulu kamu kenapa, ada yang sakit?”

“Aku malu! Malu sama kamu! Pergi aja deh, aku enggak mau lihat muka kamu lagi Mas! Pergi!” Dia kembali mendorongku, aku harus bagaimana kalau tak segera pergi, mungkin pertengkaran kami kali ini bisa memancing perhatian mereka.

Kenapa sih? Kenapa begini!

Sampai malam hati Dewi hanya berdiam diri di kamarnya, bahkan Bude dan Pakde saja dia abaikan, Dewi beralasan kalau dia sedang tak enak badan. Memang saat kulihat wajahnya pucat, tetapi tentu saja kalau hanya deman biasa, seharusnya dia masih bisa beraktivitas seperti biasa.

“Kamu yakin enggak mau ke dokter?”

Dia tak menjawab hanya menatap sekilas, lalu kembali memunggungiku.

“Kasihan anak-anak bingung, Bude sama Pade juga khawatir.”

Aku mencoba meraih keningnya, panas sekali.

“Kita periksa ya, kamu sakit loh, ayolah aku memang salah tap enggak baik menyiksa diri kamu seperti ini, aku antar ke dokter sekarang, mau ya?”

Dewi tak merespons, alu yang gemas dengan tingkahnya, dengan cepat membaringkan tubuh di sampingnya, kini jarak kami hanya sejengkal. Sekuat tenaga aku menahannya agar tak berpaling.

“Aku salah Wi, aku minta maaf tapi jangan begini, ada anak-anak yang butuh kamu, mereka terus menanyakan Mamahnya, kamu enggak kasihan sama mereka? Sekarang kamu mau aku bagaimana?”

“Enggak ada jalan lagi buat kuta selain pisah.”

“Kalau kita pisah bagaimana nasib anak-anak, mereka masih kecil, kamu tega?”

“Aku atau kamu yang tega, aku ini manusia biasa, sekali kamu bilang khilaf aku bisa terima, tapi ini dua kali, masih dengan perempuan yang sama, jadi selama ini yang kamu bilang putus, itu cuma kebohongan? Harus bagaimana lagi sih aku sama kamu, kurangnya aku apa? Kamu bisa bilang, enggak harus main belakang kayak begini, itu sama saja kamu menginjak-injak harga diri aku.”

“Wi, kamu enggak salah, sama sekali enggak salah, aku saja yang enggak bisa menahan diri.”

“Bohong!”

“Sumpah Wi, aku sebenarnya ingin berhenti, tapi enggak bisa Wi?”

“Ya apa alasannya aku perempuan dia juga perempuan, apa yang dia punya sampai-sampai kamu enggak bisa melepaskan dia, atau jangan-jangan kalian memang sudah menikah?”

PRAYY!!!

Suara piring jatuh, mengejutkan kami, begitu berpaling, ternyata orang yang menjatuhkan piring itu Bude.

Jadi dia telah mendengar semuanya.

Seketika hening tercipta, kami hanya saling memandang satu sama lain.

“Bapak! Pak! Cepat ke sini!” Sekarang Bude malah berteriak memanggil suaminya.

Sial! Habislah aku!

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ashes Of Love (Abu Cinta)
8.3
Tumbuh di panti asuhan, Arkan dan Dinar berjanji untuk menikah. Namun, nasib buruk menjebloskan Arkan ke penjara. Begitu bebas, ia terpukul mendapati Dinar telah menjadi istri orang lain. Pengkhianatan ini mengubah cinta tulus Arkan menjadi kebencian mendalam. Takdir lalu mempertemukan Arkan dengan Kirana, anak tiri Dinar. Pertemuan tersebut membangkitkan dendam lama dan memicu konflik baru yang tak terduga di antara mereka.
Sampul Novel Bukan Calon Kakak Ipar
8.2
Nasha mendambakan cinta seperti hubungan kakaknya, Nisha, dengan Rayyan. Demi menirunya, ia memacari Feri yang dinilai sempurna. Namun, duka runtuh saat Nisha wafat sebelum menikah. Kehancuran Nasha kian mendalam ketika Feri berkhianat dan menghamili sahabatnya sendiri karena nafsu. Trauma berat ini membuat Nasha menutup diri dari laki-laki, hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Rayyan, pria yang dahulu hampir menjadi kakak iparnya.
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Demi memenuhi syarat dari sang ayah, Amanda yang manja dan kaya raya justru terdampar di pulau asing. Sosialita sombong ini harus berbagi atap dengan Senja, pria dingin yang baru dikenalnya. Mereka terpaksa tinggal bersama untuk sebuah misi acara televisi dengan motif masing-masing. Sikap egois Amanda kerap merepotkan Senja, sementara sikap ketus pria itu terus menguji kesabaran Amanda. Mampukah dua kepribadian yang bertolak belakang ini bertahan hidup di sana?
Sampul Novel Kita Tidak Akan Pernah Berpisah Lagi
9.6
Setelah tewas secara tragis akibat cinta buta, Maeve terlahir kembali dengan tekad menjalani hidup baru yang bebas. Ia pun menghancurkan ambisi rival lamanya di dunia musik melalui bakat yang tak tertandingi. Sambil meniti puncak karier, Maeve tetap menunjukkan sisi lembut pada pria yang dicintainya. Di balik ketegasannya, ia tak ragu menggoda sang kekasih hingga pria itu membalasnya dengan bisikan penuh gairah yang menjanjikan malam tak terlupakan.
Sampul Novel Tiga Gadis Bar-Bar ( Jatuh cinta)
8.3
Tiga bersaudara, Ara, Kinan, dan Yasmin, menolak keras perjodohan dari orang tua mereka. Demi kemandirian, mereka nekat melarikan diri dan menyamar untuk memulai lembaran baru. Namun, takdir mempertemukan ketiganya dengan para pria yang sebenarnya merupakan calon suami pilihan keluarga mereka. Tanpa menyadari situasi ini, hubungan mereka mulai tumbuh. Akankah rahasia mereka terbongkar, dan bagaimana kelanjutan kisah cinta ini saat kebenaran terungkap?
Sampul Novel Wanita Berselimut Dendam
9.8
Karir Alenta Serafine hancur saat hamil karena Rafael enggan bertanggung jawab. Berharap pada bantuan Richard, ayah Rafael, ia justru dikhianati, dipaksa aborsi, dan dibuang ke laut hingga nyaris tewas. Beruntung, Alden Sanders menyelamatkannya. Kini, Alenta bangkit memakai identitas baru, Kimmy Ara. Didorong kemarahan besar, ia memulai misi membalas dendam demi menghancurkan dinasti keluarga Herenson yang kejam. Mampukah ia meruntuhkan kekuasaan mereka?