APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar

Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar

Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana ruang rapat masih tegang. Rayhan menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, napasnya terasa pendek, dan pikirannya kacau. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini menjadi tempatnya melarikan diri dari kesepian ternyata adalah atasan barunya-Direktur Utama yang namanya baru saja diumumkan dua hari lalu melalui surat edaran rumah sakit?

"Saya tahu ini mungkin tidak nyaman," kata Elvira, suaranya tenang namun terdengar tegas. "Tapi saya harap profesionalisme tetap dijaga, Dr. Rayhan."

Kata-katanya menusuk, seolah mengingatkan bahwa kedekatan mereka di dunia maya tak ada artinya dalam dunia nyata. Rayhan mengangguk kaku. "Tentu, Bu Direktur."

Rapat berjalan singkat. Elvira hanya memperkenalkan beberapa kebijakan baru dan restrukturisasi kecil di beberapa divisi. Tapi Rayhan tidak benar-benar menyimak. Fokusnya hanya tertuju pada wanita itu-wanita yang ia kenal sebagai El yang lembut dan hangat, kini berdiri dalam wujud Elvira Maheswari yang dingin dan dominan.

Setelah rapat usai, para dokter dan kepala divisi mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Rayhan masih duduk di tempatnya, sengaja menunggu hingga ruangan sepi. Ia tahu ia harus bicara dengan Elvira-entah untuk meminta penjelasan atau sekadar memastikan bahwa semuanya tidak akan menjadi canggung... atau lebih buruk.

Ketika hanya mereka berdua yang tersisa, Rayhan berdiri perlahan. "Elvira..."

Elvira menutup mapnya, tidak langsung menatapnya. "Jangan panggil aku begitu di sini."

Rayhan menelan ludah, merasa tersudut. "Kamu tahu siapa aku sejak awal, kan? Kenapa tidak bilang?"

Elvira mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Rayhan. Mata itu kini tak lagi menyimpan senyum hangat seperti saat mereka bertukar cerita lewat chat. "Aku tahu, sejak dua hari lalu ketika aku menerima laporan staf lengkap. Tapi sebelumnya? Tidak."

"Kamu serius?" Rayhan nyaris tidak percaya. "Kamu benar-benar tidak tahu aku kerja di sini?"

"Aplikasi itu anonim, Rayhan. Kamu hanya menyebutkan kalau kamu seorang dokter, tapi tidak pernah menyebutkan rumah sakit. Lagipula, aku juga tidak merasa perlu mengungkapkan jabatanku saat itu," jawab Elvira, nada bicaranya tetap stabil.

Rayhan mengangguk pelan. Ia tidak bisa menyalahkannya. Mereka berdua sama-sama menyembunyikan sebagian diri mereka dalam percakapan-percakapannya. Namun, tetap saja... ini terasa seperti tamparan keras.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rayhan lirih. "Kita berpura-pura tidak pernah saling kenal?"

Elvira berdiri, merapikan jasnya. "Kita profesional. Aku Direktur Utama, kamu staf medis. Hubungan personal... sebaiknya berhenti sampai di sini."

Kata-katanya begitu dingin, begitu tajam, seolah menghancurkan semua yang sudah terbangun dalam beberapa minggu terakhir. Rayhan ingin marah, tapi ia juga tahu Elvira benar. Ia atasan, dan ia tidak ingin ada skandal atau rumor di lingkungan kerja.

Tapi tetap saja... rasa sakit itu nyata.

Beberapa hari berikutnya, suasana kerja menjadi aneh bagi Rayhan. Elvira tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka pernah sedekat itu. Ia sangat profesional-terlalu profesional hingga membuat Rayhan bertanya-tanya apakah semua percakapan mereka dulu hanya permainan sesaat baginya.

Namun, apa yang membuat Rayhan semakin gelisah adalah pandangan Elvira. Meski selalu menjaga jarak, setiap kali mata mereka bertemu di lorong atau ruang rapat, ada tatapan dalam yang tidak bisa ia abaikan. Seolah Elvira menyimpan sesuatu yang tidak bisa dikatakan secara langsung.

Dan Rayhan semakin tersiksa.

Satu malam, setelah shift malam yang panjang, Rayhan duduk sendirian di taman rumah sakit. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Ia membuka ponselnya, melihat kembali percakapan terakhir mereka di aplikasi. Terakhir online-tiga hari lalu. Sejak pertemuan itu, Elvira tidak pernah membuka aplikasinya lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada penjelasan.

Namun, Rayhan tidak bisa tinggal diam. Ia mengetik satu pesan terakhir.

"Kamu bisa berpura-pura kita tidak pernah bicara, tapi aku tidak bisa. Aku hanya ingin tahu-apa semua yang kamu katakan waktu itu... jujur?"

Pesan itu tidak langsung terkirim. Ia memandangi layar, ragu. Tapi akhirnya, dengan satu sentuhan, ia mengirimkannya.

Dan menunggu.

Keesokan harinya, ketika Rayhan datang lebih awal untuk menghadiri pelatihan, seorang perawat menyapanya di koridor.

"Dr. Rayhan, Bu Elvira minta Anda datang ke ruangannya. Sekarang."

Rayhan terdiam sejenak. Ada firasat buruk menyelinap. Ia berjalan dengan hati berdebar, dan ketika sampai di depan ruangan Elvira, ia mengetuk pelan. "Silakan masuk," suara dari dalam terdengar.

Ia masuk, dan mendapati Elvira berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela.

"Kamu kirim pesan semalam," katanya tanpa menoleh.

Rayhan mengangguk, meskipun Elvira tidak melihat. "Aku tidak tahu harus bicara ke siapa lagi. Aku hanya ingin tahu kebenarannya."

Elvira berbalik perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di ruang rapat, wajahnya tidak terlihat dingin. Ia tampak... lelah.

"Aku tidak pura-pura, Rayhan. Aku tidak bermain-main." Suaranya melembut. "Apa yang kita bicarakan, aku menikmatinya. Tapi... aku juga tahu batasannya."

Rayhan menatapnya, mencari kebohongan dalam matanya. Tapi yang ia temukan hanyalah keraguan dan rasa bersalah.

"Lalu kenapa kamu menarik diri begitu saja?" suaranya nyaris berbisik.

"Karena aku harus memilih," jawab Elvira pelan. "Dan aku memilih menjaga wibawaku, menjaga karierku. Aku tidak bisa mempertaruhkan reputasi-dan kamu tahu dunia medis ini seperti apa, Rayhan. Semua mata menilai dari kejauhan."

Hening.

Rayhan ingin marah. Ingin membantah bahwa harga diri dan reputasi bukan alasan untuk menghancurkan perasaan seseorang. Tapi ia juga tahu Elvira tidak salah sepenuhnya. Ia hidup dalam dunia yang keras. Seorang wanita dalam posisi puncak, yang setiap langkahnya dinilai dengan kacamata curiga.

Tapi itu tak mengurangi luka yang ia rasakan.

"Aku mengerti," katanya akhirnya. "Tapi aku harap kamu tahu... kamu kehilangan seseorang yang benar-benar tulus melihatmu, bukan jabatannya."

Dan dengan itu, Rayhan melangkah keluar. Menutup pintu.

Meninggalkan Elvira yang tetap berdiri di dekat jendela... dengan sorot mata yang tak mampu lagi menyembunyikan pergolakan hatinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhir Cinta yang Getir
9.7
Menunggu selama tiga jam sia-sia, Arissa harus menghadapi kenyataan pahit tentang kekasihnya, Eldino Marven. Pria miliarder itu rupanya berpura-pura lumpuh demi menghindari pernikahan dengan Arissa, yang hanya dianggapnya sebagai pengasuh gratis. Kebohongan Eldino terbongkar lewat video mesra bersama Adena Horian, yang bahkan memakai gaun pengantin rancangan Arissa. Merasa dikhianati setelah melihat kemesraan mereka, Arissa membuang kuenya dan memutuskan menyerah. Ia langsung menghubungi ibunya untuk menerima tawaran kencan buta.
Sampul Novel Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
9.6
Setelah kembali ke keluarga konglomeratnya, sang putri kandung mendedikasikan lima tahun hidupnya untuk mengejar Julian Jetarsa, pria yang pernah membelanya. Meski berhasil menjadi tunangannya, ia justru terus direndahkan karena dianggap tidak memiliki tata krama kelas atas. Puncaknya, saat kakek yang membesarkannya sekarat, Julian menolak membantu demi memberinya pelajaran agar bersikap lebih baik. Kematian tragis sang kakek dalam kondisi tak berdaya akhirnya memadamkan seluruh rasa cintanya.
Sampul Novel AZAB SUAMI YANG DZOLIM
9.7
Kalina, seorang pengusaha wanita yang sangat sukses, membangun rumah tangga bersama Adit yang hanya bekerja sebagai pegawai bank biasa. Di balik pernikahan mereka, Adit ternyata hanya memanfaatkan kekayaan istrinya. Pengkhianatan itu terasa kian menyakitkan saat Kalina mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi secara diam-diam. Tidak tinggal diam begitu saja, Kalina pun menyusun sebuah rencana elegan untuk membalas semua perbuatan dzolim suaminya tersebut.
Sampul Novel En-PD161
9.1
Dua tahun membina rumah tangga, seorang pria harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya berubah menjadi gemar bermain wanita. Segala upaya mempertahankan pernikahan, bahkan hingga melibatkan polisi, hanya dibalas dengan sikap dingin. Kebenaran menyakitkan pun terungkap bahwa pernikahan mereka cuma kedok balas dendam atas kematian cinta pertama sang suami. Lelah dikhianati, pria tersebut akhirnya memutuskan bangkit dan menyetujui perceraian.
Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila
8.8
Paras menawan tidak menjamin kebahagiaan Arleta. Demi menghindari obsesi keji sang paman, Joshua, ia terpaksa hidup dalam kepedihan dan membangun benteng pertahanan diri yang kokoh. Trauma masa lalu membuatnya yakin bahwa cinta hanya kelemahan yang sia-sia. Kini, seorang fotografer bernama Arkana Sadewa harus berjuang ekstra keras demi meruntuhkan tembok perlindungan tersebut dan menyembuhkan luka di hati Arleta.
Sampul Novel Kecanduan Istriku yang Bermuka Dua
9.7
Julien mengira Kelsey adalah perempuan lemah yang harus selalu ia lindungi. Namun, sang istri ternyata sangat tangguh dan gemar terlibat perkelahian, hingga Julien kewalahan mengurus berbagai laporan kekerasan akibat ulahnya. Walau lelah, Julien justru terobsesi dan tak bisa melepaskan perempuan itu. Konflik memuncak ketika Kelsey nekat melarikan diri bersama anak mereka. Mampukah obsesi Julien pada istrinya yang bermuka dua ini berujung pada akhir bahagia?