APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia

Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia

Tiga tahun mendampingi Lewis dan kini mengandung lima bulan, Merry telah melewati enam belas kegagalan pernikahan akibat ulah Agnes, adik angkat suaminya. Menjelang janji suci yang ke-17, Lewis bersumpah tidak akan pergi lagi. Namun, Merry memegang rahasia: sebuah undangan pulang dari ayahnya, sang kepala Keluarga Damian. Jika sang suami kembali ingkar janji demi Agnes, Merry memutuskan untuk pergi selamanya dan kembali ke pelukan keluarga mafianya di Vireka Utara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suatu malam, tepat saat aku hampir tertidur, aku mendengar kunci pintu diputar pelan.

Lewis pulang?

Aku berdiri di depan pintu kamar, mendengarkan suara samar dari dapur.

Belakangan, dia kadang seperti ini. Tiba-tiba pulang, asyik sibuk di dapur, lalu buru-buru pergi lagi sambil membawa sesuatu yang dibuatnya.

Pernah sekali, aku mencium aroma manis menguar dari oven, mengira itu kejutan untukku.

"Kamu sedang buat apa?" tanyaku sambil mendekat dengan penasaran.

Dia bahkan tidak menoleh, buru-buru mengemas kue lemon yang baru keluar dari oven. "Agnes bilang dia ingin makan ini."

Dia membungkusnya dengan hati-hati, bahkan menambahkan pita yang cantik.

"Aku lapar," kataku sambil menatap kue tar keemasan itu, menelan air liur.

Gerakannya sempat terhenti, lalu baru ingat kalau aku juga suka kue lemon. "Mau kusuruh Ami masak sesuatu? Atau pesan saja?"

Setelah dia pergi hari itu, Ami membuatkanku semangkuk mi yang saking asinnya sampai terasa pahit.

Sekarang, aku tak lagi peduli dia sedang membuat apa, atau untuk siapa.

Tenggorokanku agak kering, jadi aku berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

Dapur dipenuhi aroma manis yang kaya, campuran kopi, bubuk kakao, dan keju mascarpone.

Dia sedang membuat tiramisu.

Selapis kue kering, selapis pasta keju yang dicampur minuman kopi, dan taburan bubuk kakao yang tebal. Dia begitu fokus sampai-sampai tidak menyadari kalau aku berdiri di ambang pintu, hingga aku meraih gelas untuk mengambil air.

"Merry?" Dia mendadak menoleh, refleks menutupi meja dengan tubuhnya. "Kamu belum tidur?"

"Haus," jawabku singkat.

"Ini..." Melihatku melirik tiramisu, dia langsung berbicara, seolah takut tiba-tiba aku menyambarnya. "Kamu nggak boleh makan ini! Ada kopi dan kuning telur mentah di dalamnya. Nggak baik buat ibu hamil."

Melihat kepanikannya, aku merasa ironis. Tiga bulan lalu, saat aku mual parah karena hamil, dia bahkan tak menuangkan segelas air hangat untukku. Sekarang, demi hidangan penutup untuk Agnes, dia begitu hati-hati.

"Tenang saja." Aku menyeka air dari tanganku. "Aku nggak tertarik sama sekali dengan hidangan penutup kalian."

Dia ingin menjelaskan, tetapi ponselnya berbunyi. Nama Agnes muncul di layar.

"Kak Lewis." Suara lemah terdengar dari seberang telepon. "Sepertinya aku demam."

Ekspresi Lewis langsung berubah rumit. Dahinya berkerut, tampak jengkel, tetapi sorot matanya lembut. "Kamu minum obat sembarangan lagi? Tunggu, aku akan ke sana."

Setelah menutup telepon, dia dengan cekatan mengemas tiramisu itu, bahkan membetulkan pita simpulnya agar lebih rapi.

"Apa kamu masih ingat, seharusnya malam ini adalah malam pertama kita?" tanyaku tiba-tiba, dengan secuil harapan tersisa.

"Jangan mulai lagi," katanya tanpa menoleh. "Agnes ulang tahun, dia butuh ditemani."

"Ini sudah yang ketujuh belas kalinya." Aku merasakan suaraku agak bergetar.

Akhirnya, dia menatapku. Ada pergulatan batin yang tak asing di matanya. "Merry, jangan begitu dong. Kamu tahu, Paman Martin..."

"Pesan terakhirnya." Aku menyelesaikan kalimatnya sendiri, lalu tersenyum getir. "Pergilah, jangan biarkan Agnes menunggu lama."

Setelah suara deru mesin mobil menjauh, aku menyalakan ponselku. Lima menit lalu, Agnes baru saja memperbarui statusnya.

[Demam sampai 39 derajat. Tapi, Kak Lewis bilang dia mau kasih aku kejutan.]

Foto yang Agnes unggah adalah foto termometernya yang menunjukkan 36,7 derajat.

Aku meletakkan ponsel dan tiba-tiba teringat pertama kali bertemu Lewis tiga tahun lalu.

Saat itu, mafia Vireka Selatan dan Vireka Utara sedang bernegosiasi di Milaya. Aku hadir sebagai penasihat keuangan Vireka Utara. Ketika Lewis menerobos ruang rapat bersama orang-orang Vireka Selatan, semua pengawal langsung mengeluarkan senjata.

Akan tetapi, dia malah berjalan langsung ke arahku, berlutut, dan menaruh revolver emas di tanganku.

"Merry Damian." Dia mendongak menatapku, mata hijau zamrudnya berkilau penuh pesona cinta pertama. "Di sini ada sebutir peluru. Kalau aku mengkhianatimu, kamu bisa menembakku kapan saja."

Ruangan langsung riuh. Ayahku membanting gelas dengan marah. Para tetua Vireka Selatan mencaci maki atas tindakan tidak masuk akalnya.

Namun, aku tahu betapa besar arti tindakan ini. Nyawa Bos Vireka Selatan kini berada di tangan musuh.

Setelah itu, dia cerita kalau Paman Martin marah setengah mati karena Lewis menyerahkan lambang kekuasaan Vireka Selatan pada musuh bebuyutan mereka, pewaris Vireka Utara.

Akan tetapi, Lewis hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Toh, cepat atau lambat kita akan jadi satu keluarga."

Saat itu, Agnes benar-benar membuatnya muak. Tiap kali menyinggungnya, Lewis selalu mendengus.

"Putri Paman Martin itu seperti beban yang susah dilepaskan."

Aku pertama kali melihat Agnes di pesta pertunangan kami. Dia memakai gaun sifon putih, berdiri di pojok, tampak pucat dan diam.

"Itu Agnes?" tanyaku sambil menyenggol siku Lewis.

Dia bahkan tidak meliriknya. "Ya. Sudah sakit-sakitan, tetap maksa datang. Sungguh menyebalkan."

Namun, begitu dia selesai bicara, dia malah memanggil seorang pelayan. "Ambilkan selimut untuk wanita di pojok itu dan ganti minumannya dengan susu hangat."

Sejak saat itu aku sadar bahwa hubungan mereka selalu penuh kontradiksi.

"Agnes itu terlalu manja." Sambil mengeluh, dia tetap mengingat semua alergi Agnes.

"Gadis itu menyebalkan sekali." Namun, ketika Agnes dirawat di rumah sakit, dia selalu menjadi orang pertama yang datang.

"Bisakah kamu lebih mandiri? Pikirkan orang lain juga." Kalimat ini biasanya diucapkan sebelum dia meninggalkan pernikahan kami untuk menemuinya.

Dering ponsel yang nyaring membuyarkan ingatanku.

Itu adalah Olivia, salah satu sahabatku yang paling mengenalku, putri dari salah satu keluarga di Vireka Utara.

"Merry! Apa kamu lihat postingan Agnes si jalang itu?" Suara Olivia terdengar cepat dan terburu-buru. "Kenapa Lewis ada di sana? Bukannya hari ini dia nikah sama kamu? Malam pertama, dia malah merayakan ulang tahun si sakit-sakitan itu? Sampai buat tiramisu pula. Pernahkah dia membuatkannya untukmu?"

Aku terdiam, ujung jariku terasa dingin.

"Merry? Katakan sesuatu!" Olivia jadi panik. "Jangan bilang kamu akan menoleransi ini lagi?"

"Nggak ada malam pertama, Olivia," jawabku dengan suara datar. "Pernikahannya dibatalkan."

Di seberang telepon sempat hening sejenak. Olivia yang biasanya meledak-ledak mendadak terdiam, lalu terdengar dia menarik napas terkejut. "Dia melakukannya lagi hari ini... saat pengambilan sumpah?"

"Ya."

Nada suara Olivia tiba-tiba meninggi, dipenuhi kemarahan yang tak terbendung. "Tujuh belas kali! Ini sudah ke tujuh belas kalinya, Merry! Bahkan saat kamu sedang hamil! Lewis ini maunya apa sih? Memangnya Agnes itu adik kandungnya?"

"Bukan." Aku mengoreksinya dengan nada datar. "Dia putri Martin Greg."

"Martin Greg sialan!" umpat Olivia. "Apa utang budi ayahnya harus dibayar dengan penderitaan seumur hidupmu? Merry, kamu ini pewaris Keluarga Damian! Sejak kapan kamu jadi setoleran ini?"

"Nggak akan lagi." Aku menatap wajahku yang pucat, tetapi tenang di cermin. "Olivia, tolong bantu aku."

"Bantu apa?"

"Carikan dan hubungi rumah sakit kandungan," ucapku teguh tanpa keraguan. "Setelah aborsi, aku akan kembali ke Milaya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Mendambakan hidup tenang hanyalah mimpi setelah ibu menikahi seorang mantan bos mafia. Kini, Kaelion Verez Montefalco, sang pewaris takhta kejam asal Italia Selatan, resmi menjadi saudara tiriku. Sosoknya yang obsesif mulai mengendalikan setiap embusan napas dan gerak-gerikku tanpa celah. Di tengah perjuangan kerasku demi mempertahankan kebebasan yang tersisa, Kaelion justru memakai seluruh kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi dingin yang mustahil kuhindari.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
8.1
Impian Belleza tentang cinta sejati sirna setelah ia dipaksa menikahi Rafaele demi aliansi bisnis mafia. Di tengah jeratan dunia hitam dan dominasi sang suami, ia bertahan hanya untuk melindungi keluarganya. Namun, situasi memanas saat ayahnya tewas di wilayah Jefferie, memicu dendam membara dalam diri Belleza. Sembari mengandung dan menghadapi intrik pengkhianatan yang perlahan terungkap, ia berjuang mencari kebenaran. Akankah dendam ini menghancurkan mereka, atau justru menumbuhkan cinta?
Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Lepas dari jerat nafsu bejat sang mertua, Ayu kini merajut asa baru bersama Alfons, kekasih sejatinya. Namun, jalan mereka terjal akibat dendam membara dari Maharani. Di tengah kejamnya dunia mafia berseragam yang sarat intrik, kekuatan cinta mereka diuji. Demi melindungi ketulusan rasa yang dimiliki, keduanya harus bertualang ke berbagai penjuru dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh yang tak kenal ampun.
Sampul Novel CINTA SANG MAFIA : Kembali Mencinta
9.5
Pengkhianatan masa lalu mengubah William Ferdinand menjadi bos mafia berhati dingin yang menutup diri dari cinta. Namun, kehadiran kembali Shirley Smith, istri sah yang dinikahinya secara hukum saja, mulai meruntuhkan dinding pertahanannya. Kini, William berubah menjadi sosok yang sangat posesif dan protektif, melarang Shirley mendekati pria lain. Di sisi lain, Shirley yang tidak menyadari status pernikahan mereka merasa sangat kebingungan menghadapi perubahan sikap suaminya yang mendominasi.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Dunia kelam mafia mengubah total hidup seorang wanita biasa. Terjerat pesona sang bos kriminal yang kejam, ia kini terjebak di tengah gairah berbahaya dan aksi balas dendam yang brutal. Konflik berdarah tersebut memaksanya menghadapi dilema batin yang sangat berat. Pada akhirnya, ia harus menentukan pilihan sulit: tetap mengikuti kata hatinya untuk mencintai sang mafia, atau mempertahankan prinsip moralitas yang selama ini ia pegang teguh.
Sampul Novel Dimanjakankan oleh Bos Mafia Kejam
9.0
Khloe hancur setelah dikhianati saudari dan tunangannya sendiri di hari pernikahan hingga ia dipenjara tiga tahun. Usai bebas, penderitaannya belum usai karena ia dipaksa melayani pria tua demi menyelamatkan ibunya. Di masa sulit ini, takdir mempertemukannya dengan Henrik, seorang bos mafia kejam. Di balik reputasi dinginnya, Henrik justru melindungi Khloe dengan penuh kasih sayang. Bersama Henrik, Khloe siap membalas dendam pada semua orang yang telah mengkhianatinya.