APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku

Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku

Niat Laras menyelamatkan diri dari rumah justru berujung petaka ketika ia dan ketiga anaknya diculik sopir travel. Di tempat penyekapan yang kejam, ia harus kehilangan salah satu buah hatinya. Tragedi memilukan ini menyalut dendam mendalam, memicu tekadnya membongkar dalang serta motif di balik aksi keji ini. Kini, Laras harus berjuang demi menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa sekaligus meloloskan diri dari ancaman maut yang mengintai.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Ma... Ma... Bangun, Ma...”

Kurasakan guncangan kecil di pundak kiriku. Aku membuka mata. Sepertinya tadi aku sempat tertidur selama perjalanan. Dengan pandangan mata yang masih mengabur, kupastikan kalau ketiga anakku masih ada di sampingku. Aku merasa lega saat kulihat Nurul, Andra dan Melina baik-baik saja. Mereka tidak ada yang rewel ataupun mabuk kendaraan meski kami sekarang sedang menempuh perjalanan jauh.

“Kenapa Rul?”

“Apa kita udah sampai Ma?”

Aku celingak-celinguk, berusaha melihat keadaan di luar dari dalam mobil. Tapi kanan kiri terlihat gelap. Kulihat ke arah depan, sepertinya mobil yang membawa kami memasuki halaman sebuah rumah. Tak bisa kupastikan keadaan rumahnya secara detail, karena hanya terlihat satu lampu penerangan di bagian teras rumah itu.

“Ini di mana Bang? Apa kita udah sampai?” tanyaku memberanikan diri pada sopir mobil travel yang membawa kami.

Tidak ada jawaban. Lelaki itu terlihat sibuk memutar-mutar setir mobil, seperti memantapkan tempat parkirnya. Aku pikir ia tak mendengar.

Mesin mobil dimatikan. Dan sopirnya turun, membuka pintu dari sebelah tempatku duduk.

“Keluar!!”

Aneh, kenapa nadanya kasar sekali? Berbeda saat tadi dia datang menjemput kami. Apa dia capek karena perjalanan jauh sehingga menjadi sensitif?

Aku membangunkan Melina dan menggendongnya. Ia masih tertidur. Sementara Andra sudah dibangunkan Nurul dan mereka sudah keluar dari pintu sebelah.

“Masuk!!”

Lagi-lagi nada perintah yang kasar keluar dari mulutnya. Aku terlongong bengong. Rumah ini bukanlah tempat tujuanku. Bahkan aku sama sekali tak tahu ini ada di daerah mana.

Lelaki itu berdecak kesal. Tanpa kuduga dia sudah meraih lengan Andra dan menariknya dengan kasar menuju depan rumah.

Aku dan Nurul yang tadi tak sempat mengantisipasi gerakannya hanya bisa berteriak sambil mengejar mereka yang kini sudah masuk ke dalam rumah.

Rumah ini cukup besar. Terlihat terbengkalai tapi sepertinya ada orang yang menempati. Bisa kulihat puntung rokok dan bungkusan snack yang berserakan di ruang tamu dan ruang tengah saat tadi kulewati.

“Apa-apaan kamu? Kenapa memaksa kami untuk masuk ke rumah ini? Jangan sampai aku teriak ya!!” kataku dengan nada mengancam. Berharap dia melepaskan pegangannya dari tangan Andra. Anakku itu terlihat kesakitan.

Tadi aku sempat meraih tangan kiri Andra. Tapi dia makin kuat mencengkeram dan membuat Andra menjerit kesakitan. Aku jadi tak tega dan memilih melepaskan tanganku.

“Silakan teriak! Nggak akan ada yang bisa dengar teriakan kalian,” katanya tersenyum jahat. Sungguh terlihat sangat mengerikan.

Ya Allah, aku jadi benar-benar menyesal karena telah kabur dari rumah malam ini. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku dan anak-anakku, aku akan menyalahkan diriku seumur hidup.

Ia kembali menyeret Andra. Tubuh kecil anak lelakiku yang baru berumur 8 tahun itu tak bisa menahan hentakan kasar tangan pria dewasa yang menariknya. Lelaki berambut agak panjang itu tak peduli meski aku dan Nurul sejak tadi memukulnya dengan pukulan tangan kosong. Entah tenaga kami sebagai perempuan yang lemah atau memang dia yang kuat. Sepertinya pukulan kami tak berarti apa-apa baginya.

Dia membuka pintu kamar di bagian paling ujung rumah. Dengan kasar melepaskan tangan Andra dan mendorongnya sehingga anakku itu terjatuh dengan punggung menghantam dinding.

Aku dan Nurul menjerit. Nurul membantu adiknya berdiri. Sementara aku hanya bisa melihat, karena sedang menggendong Melina yang kini sudah terbangun karena keributan tadi.

Kami semua sudah berada dalam ruangan yang kosong melompong. Tidak ada apa pun di dalam sini. Tidak ada tempat tidur ataupun lemari.

Ia menutup pintu dan memandang kami dengan tatapan menakutkan.

“Apa mau kamu? Tolong lepaskan kami!” pintaku memohon.

“Aku cuma mau menyelesaikan pekerjaanku. Jangan terlalu ribut. Tugasku untuk malam ini sudah selesai, jadi aku mau istirahat. Dan maaf, aku nggak bisa melepaskan kalian sebelum aku mendapatkan bayaran.” Katanya dengan seringai menakutkan.

“Biarkan kami pergi! Aku akan membayarmu asal kau lepaskan kami,” pintaku.

“Kau nggak akan bisa membayarku. Lebih baik sekarang kalian tidur.”

“Bagaimana kami bisa tidur dalam keadaan seperti ini? Kami tak punya salah padamu. Tolong lepaskan kami!”

“Nanti kulepaskan, kalau udah jadi mayat! Ha..ha..ha..”

Aku semakin bertambah takut mendengar kalimatnya. Nurul dan Andra bahkan sudah menangis.

Laki-laki itu berbalik hendak keluar. Cepat kuserahkan Melina pada Nurul. Kutarik bajunya dan berteriak pada Nurul,” Rul, cepat bawa adik-adikmu keluar dari sini!”

Sekuat tenaga aku berusaha menahan tubuh sopir sewaan yang tak kukenal ini. Tapi tenaganya jelas jauh lebih kuat. Aku tak sanggup menahannya terlalu lama. Ia lepas dari cengkeraman tanganku.

Belum sempat Nurul meraih gagang pintu, ia sudah lebih dulu menarik rambut Nurul. Nurul menjerit. Aku memukul kepalanya dengan tas selempang yang kubawa. Tapi lagi-lagi tak ada pengaruhnya sama sekali.

PLAKK!!

Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiriku. Pedih dan panas sekali rasanya. Aku sampai jatuh terduduk saking kerasnya tamparan itu.

“Mama!!!”

Nurul mengejar memburuku. Tangisnya dan Andra semakin kuat. Kali ini Melina pun ikut menangis.

“Jangan coba melawanku. Kalian nggak akan sanggup. Kalian bukan lawanku!”

“Tolong lepaskan kami, aku akan memberikan uang yang aku punya asalkan kau biarkan kami pergi,” tangisku mengiba.

Tapi lelaki itu seolah tak peduli dengan kami semua yang kini menangis. Dengan angkuhnya dia berjalan menuju pintu. Saat akan menutup pintu, tiba-tiba ia urung menutupnya. Ia kembali masuk ke kamar. Berjalan ke arah kami, dan dengan sedikit berjongkok ia mengambil HP milikku yang tadi terjatuh.

Aku baru hendak berdiri merebutnya. Tapi dengan cepat tangan lelaki itu sudah mendorong tubuhku dengan kasar. Membuat aku kembali terjatuh.

“Ini aku sita,” katanya, “ biar kalian betah lama-lama di sini,” lanjutnya dengan nada mengejek.

Oh tidak!!! Bagaimana aku bisa mencari pertolongan kalau HP pun dia ambil?

***

“Maafkan Mama ya Nak...”

Aku terisak. Benar-benar takut tidak bisa keluar dari sini. Kalau aku sendiri tidak apa. Tapi aku mengkhawatirkan anak-anakku. Terutama Melina. Dia masih terlalu kecil.

“Udahlah Ma, jangan nangis lagi. Jangan sedih. Kami nggak nyalahin Mama. Bukan Mama yang jahat, tapi Om itu.” Nurul berusaha menghiburku.

“Tapi Mama yang membuat ini semua terjadi. Mama yang mengajak kalian untuk lari dari rumah tanpa bertanya atau berpikir panjang. Mama yang salah, maafkan Mama.”

Tangisku semakin menjadi. Aku menyesali keputusanku untuk kabur dari rumah. Semua ini karena pertengkaran antara aku dan suamiku, yang terjadi seminggu yang lalu. Mas Edar ketahuan selingkuh setelah seseorang tak dikenal mengirimkan foto mesra suamiku itu dengan wanita lain.

Aku tak tahu siapa pengirimnya, yang jelas foto-foto itu sukses membuatku marah besar. Pertengkaran kami berakhir dengan Mas Edar yang pergi dari rumah selama beberapa hari. Aku yang tak bisa menguasai diri akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah dengan membawa ketiga anakku. Tujuanku adalah kota tempat di mana orang tuaku tinggal.

Seorang teman membantuku untuk mencari mobil travel yang bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Perjalanan jauh yang memakan waktu hingga belasan jam membuat aku memutuskan untuk pergi di malam hari. Tujuanku agar sampai di sana saat hari sudah siang. Selain itu, berangkat di malam hari kulakukan untuk menghindari pertanyaan dari para tetangga. Aku tak mau ada siapa pun yang tahu aku lari dari rumah.

Namun kini, aku dan anak-anakku disekap dan dikurung sejak semalam. Sopir yang membawa kami ternyata adalah orang yang punya niat jahat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
8.9
Setelah tewas mengenaskan akibat persalinan macet di kehidupan lalu, aku menyadari pengkhianatan kejam Fred. Anak yang kukandung rupanya hasil hubungan Fred dengan mahasiswi simpanannya yang dikandung berkat obat ciptaanku. Kini, setelah terlahir kembali, aku menolak menikahi Fred dan memilih kakak tirinya, Zico. Aku membiarkan Fred bersanding dengan kekasihnya tanpa bantuanku demi melihat kehancuran mereka. Namun, Fred justru menjadi gila saat melihat cincin Zico melingkar di jariku.
Sampul Novel Going Crazy
9.6
Mikaela diceraikan Marcel setelah tes membuktikan anak kembar mereka bukan darah dagingnya. Demi menyelamatkan pernikahan, ia membebaskan Ares dari penjara demi hak asuh anak-anak. Namun, duka menerpa saat ayah Mikaela mendadak wafat. Kini, ia berjuang keras agar sang suami mau menerimanya lagi, meski Marcel terus membandingkannya dengan Michelle, mantan istri yang juga iparnya. Akankah perjuangan Mikaela ini berhasil atau justru berujung kehancuran?
Sampul Novel I Love You Pak Tua
8.7
Viona jatuh cinta pada bosnya, Raka, pria berumur 47 tahun. Benih asmara itu tumbuh saat ia menyamar sebagai kekasih sewaan demi membahagiakan ayah Raka yang sedang sakit. Walau cintanya tak berbalas, ia tidak menyerah. Kendala besar muncul saat orang tua Viona menolak keras hubungan beda usia ini karena cemas akan masa depannya. Mereka lalu menjodohkannya dengan Revan, sahabat dekatnya. Kini, Viona harus memilih: terus mengejar Raka atau pasrah pada perjodohan.
Sampul Novel Jangan Rubah Takdirku
9.4
Pernikahan muda Azalea dan Erik hancur saat Erik bertugas ke perbatasan. Delapan tahun menghilang, Azalea berjuang bangkit dari keterpurukan sebagai yatim piatu. Berkat sang paman, ia sukses menjadi dokter. Takdir lalu mempertemukannya lagi dengan Erik yang kini bersikap dingin, meski tatapannya tetap penuh cinta. Di tengah luka lama dan rintangan keluarga, mereka berjuang menyatukan kembali asmara yang sempat padam demi kebahagiaan sejati.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo lelah menghadapi Richard, mantan kekasihnya yang sangat obsesif. Demi melarikan diri dari kejaran itu, ia tidak sengaja terlibat cinta satu malam dengan pria asing, Adrianus James Verona, akibat insiden mabuk di kelab malam. Siapa sangka, sebulan kemudian mereka dipertemukan kembali dalam sebuah perjodohan oleh orang tua mereka. Kini, Aleina harus menjalani takdir baru bersama Adrianus lewat pernikahan kontrak yang penuh misteri dan benih cinta.
Sampul Novel Rahasia Mamiku
8.3
Jamy sangat protektif pada putrinya yang manja dan masih harus disusui saat tidur. Sikap manja sang anak memicu rasa iri di antara teman-temannya. Namun, pesona Jamy yang menawan justru memikat hati salah satu teman putrinya tersebut. Di balik hubungan yang terlihat harmonis ini, Jamy ternyata menyembunyikan sebuah rahasia besar mengenai identitas sang anak. Misteri apakah yang sebenarnya ia simpan rapat-rapat?