APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Calon Kakak Ipar

Dinikahi Calon Kakak Ipar

Hari pernikahan Elvira berubah menjadi duka saat calon suaminya tewas dalam kecelakaan. Ia pun terpaksa menikahi kakak mendiang kekasihnya yang berwatak kaku, Arsen. Di tengah peliknya pernikahan baru mereka, Elvira menyadari bahwa Arsen adalah alasan sesungguhnya ia jatuh cinta dahulu. Kini, ia bertekad mengajari suaminya cara mencintai. Kisah ini juga mengiringi romansa beda kasta antara sang asisten, Tio, dan sekretaris bernama Mona. Akankah cinta mereka berakhir bahagia?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas, boleh gak aku ke makam mas Riko," aku bertanya usai kami menghabiskan sarapan.

"Tidak, tidak sekarang," jawab pria itu datar.

"Kenapa mas, aku ingin melihat makam mas Riko sekali saja mas." aku mencoba memaksakan kehendak.

"Sekarang ini kamu istriku, kalau aku bilang tidak maka kamu tidak boleh pergi kemanapun," mas Arsen berkata setengah berteriak dan pergi meninggalkanku sendirian di meja makan.

Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung, aku harus bagaimana menghadapi semua ini. Aku binggung dengan keadaan ini, aku berharap setidaknya dia mengijinkan ku untuk pergi ke makam mas Riko setelah itu akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya.

"Sabar yaa non, tiba-tiba bik Sumi sudah ada di belakangku. " Ayo ikut bibi aja lihat tanaman bunga di samping rumah, siapa tahu bisa menghilangkan sedih di hati non Vira."

Tanpa banyak berpikir akhirnya aku mengikuti bik Sumi, setidaknya disini ada yang peduli dengan diriku saat ini. Benar, lebih baik aku pergi ke kebun bunga daripada aku harus pergi ke kamar pria galak itu.

Kebun di samping rumah ini banyak bunga-bunga yang indah, ada mawar, melati sedap malam dan bunga-bunga yang mengeluarkan aroma wangi lainnya. Bi Sumi terlihat sibuk hendak menyiram bunga.

"Sini bi, biar Vira saja yang menyiram,"

"Gak usah non, non Vira duduk saja di situ biar bibi yang menyiramnya."

"Trus ngapain bibi ajak aku kesini jika tidak boleh ngapa-ngapain?" aku pura-pura ngambek. Akhir bi Sumi mengalah.

"BI, kenapa suasana rumah sepi sekali? Alana juga tidak ada?" aku bertanya sambil menunggu bi Sumi menyiapkan selang untuk menyimpan.

"Setelah acara pemakaman den Riko, nyonya ngamuk non. Semua orang diusir dari rumah, bahkan non Alana juga diusir dan tidak di ijinkan masuk kerumah karena non Alana juga mendukung pernikahan mas Riko. Karangan bunga ucapan belasungkawa juga di obark-abrik sama nyonya, beliau seperti jadi orang lain non," bi Sumi terdiam sesaat.

"Akhirnya upacara kirim doapun tuan minta dipindahkan ke masjid yang terletak di ujung kompleks sini non. Itupun bibi yang mengurus semuanya, karena tuan sibuk menenangkan nyonya yang kalap. Makanya semalam saat non Vira dan den Arsen sampai suasananya sudah sepi dan tidak ada siapapun," bi Sumi mengakhiri ceritanya dan memberikan selang air padaku.

"Hatiku makin sedih mendengar cerita bi Sumi, apa benar semua ini terjadi karena aku?" bisikku dalam hati.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kembali, segera ku alihkan perhatianku pada bunga-bunga di depanku.

"Hai bunga, selamat pagi cepatlah berbunga aku ingin melihat kalian mengeluarkan kelopak bunga yang indah," aku berkata sambil menyirami bunga tersebut.

Setelah selesai menyimpan bunga-bunga itu aku membereskan selang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Rumah ini cukup mewah dan besar, dikelilingi oleh tembok dan gerbang yang tinggi. Halaman depan rumah dibiarkan tanpa ada apapun untuk memudahkan mobil masuk, dan di samping rumah tempatku berdiri saat ini ditumbuhi berbagai bunga yang menyejukkan pandangan.

Pandanganku berpindah ke lantai dua, diatas sana ada balkon yang terhubung dengan kamar kami, saat aku menatap ke balkon terlihat sosok laki-laki yang dingin itu sedang berdiri menatap ke arahku. Apa dia sedang memperhatikan ku? Ah! mana mungkin. Segera aku pergi masuk kerumah tanpa memperhatikan dia lagi.

Aku masuk kedalam dan pergi ke dapur untuk minum, kemana bi Sumi, aku tidak menemukan dia didapur.

"Non, disuruh mas Arsen ke kamar," ucap bi Sumi yang tau-tau sudah ada di belakangku.

"Oh iya bi, terima kasih ya," bergegas aku ke kamar memenuhi panggilan mas Arsen. Ku ketuk pintu sebelum masuk kedalam, aku tidak mau terjadi adegan masuk kamar dalam keadaan dia bertelanjang dada. Bagus jika seperti dalam adegan novel yang biasa aku baca, masuk kamar suaminya bertelanjang dada trus terjadi adegan romantis. Tapi yang aku bayangkan jika itu terjadi padaku, suamiku ini akan marah dan berteriak padaku seperti tadi.

Setelah aku mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, aku segera membukanya. Terlihat mas Arsen sedang memindahkan pakaiannya ke sisi lemari sebelah kanan.

"Masukkan pakaianmu kesini," dia menunjukkan sisi lemari sebelah kiri. "Papa tidak mau kita tidur terpisah, jadi malam ini aku akan tidur di sini," dia melanjutkan ucapannya

"Kita akan tidur satu ranjang, tidak ada drama yang satu tidur di atas yang lainnya tidur di lantai atau sofa," mas Arsen berkata lagi.

Aku hanya diam menatapnya, "kenapa laki-laki satu ini demen memerintahkan dan berbicara tegas sih, apa dia tidak bisa berkata lembut pada perempuan?" batinku.

"Kenapa tidak menjawab, setidaknya bilang tidak atau iya jangan diam saja," mas Arsen berkata sambil menatapku tajam.

Air mataku lolos satu persatu, aku sudah tidak tahan lagi.

"Apa mas Arsen tidak bisa bersikap ramah padaku?" aku berkata dengan bibir bergetar. "Mama sekarang membenciku, mas Arsen tidak pernah ramah denganku. Bukan hanya kalian yang kehilangan, aku juga kehilangan orang yang aku sayangi. Aku juga butuh dihibur untuk mengurangi kesedihanku," aku berkata sambil menangis terisak-isak.

"Tidak ada yang menyayangiku disini, lebih baik aku pergi," aku berkata sambil membalikkan badan menuju ke pintu.

Saat tanganku hendak meraih handle pintu tiba-tiba mas Arsen memelukku dari belakang. "Maaf," sebuah kata terucap dari mulutnya.

Aku diam terpaku, tidak menduga reaksinya akan seperti ini. Ada kehangatan dalam pelukannya.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
8.7
Tujuh tahun menikah, kehamilan Riana Handoko seharusnya menjadi berkah. Namun, pemeriksaan medis justru mengungkap kenyataan pahit: kolom ayah bayinya kosong, sementara nama suaminya, Bimo Ganendra, tercatat sebagai ayah dari anak Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat yang dahulu mengusir Riana demi merebut kembali kehidupan yang dianggap telah dicuri. Di tengah rumor bahwa Bimo telah melakukan vasektomi demi dirinya, Riana kini harus menghadapi pengkhianatan besar ini.
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar
8.5
Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Sampul Novel Cinta Berbalas Dusta
9.0
Angel Mudryy, model 19 tahun asal Rusia, berjuang merintis karier di Paris demi menjadi tulang punggung keluarga. Di balik kepolosan dan kecantikannya yang memicu rasa iri, ia terjebak dilema rumit. Hidup Angel kini diincar dua pria yang terobsesi padanya: seorang bujang hipersex dan seorang duda playboy. Akankah ia mampu menolak keduanya, atau justru terpaksa memilih? Simak kisah perjuangan Angel menghadapi pengkhianatan dan kepalsuan cinta.
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Karier Aitana sebagai manikuris andalan di Spa Luna hancur seketika akibat tuduhan palsu merebut kekasih kliennya. Fitnah ini ternyata menyeret Iker, pemilik Glow Agency yang licik. Saat berjuang membersihkan namanya, Aitana justru mengungkap skandal besar: banyak kliennya yang berselingkuh dengan Iker. Di tengah ancaman kerja dan persaingan agensi, ia terjebak dilema cinta segitiga yang rumit. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Sampul Novel Nafsu Besar Sang Dokter
8.9
Di balik jubah putihnya, seorang dokter tetaplah manusia biasa dengan emosi mendalam. Kesehariannya tidak melulu soal medis, melainkan juga dipenuhi gejolak perasaan, empati, dan hasrat alami yang manusiawi. Kisah ini mengungkap sisi lain dunia kedokteran, tempat di mana insting dasar dan perasaan sering kali berbenturan dengan dedikasi profesi. Sebuah pembuktian bahwa di balik ketenangan medis, ada hati yang juga bisa cinta.
Sampul Novel Perjalananan Yang Penuh Cobaan
7.9
Perjalanan darat menuju Baloi yang dilakukan oleh sepasang suami istri menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupan pernikahan mereka. Di sana, takdir mempertemukan mereka dengan pasangan kekasih yang masih muda. Dalam kondisi setengah mabuk, sang istri yang menawan melewati batas yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya melalui hubungan intim bersama tiga orang lainnya. Kejadian itu rupanya membuka gerbang hasrat baru, menjebaknya dalam pusaran kenikmatan yang kini mustahil ia hindari.