APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilarang Hamil Oleh Mertua

Dilarang Hamil Oleh Mertua

Pernikahan Claudia dan Rayhan terus diuji oleh penolakan Ibu Eva. Sang mertua yang mendambakan menantu dari kelas sosial tinggi tega melarang Claudia mengandung. Begitu kehamilan Claudia benar-benar terjadi, Eva bahkan menuntutnya untuk menggugurkan kandungan tersebut. Di bawah tekanan batin dan kebencian yang mendalam dari sang mertua, sanggupkah suami istri ini mempertahankan rumah tangga sekaligus menyelamatkan calon anak mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ucapan Mamah mertua selalu terngiang di telinga Claudia, ia berpikir setelah menikah akan hidup dengan bahagia. Mempunyai anak dari seorang yang dia sayangi, tapi kenyataannya jauh berbeda. Ia tidak diperbolehkan untuk mempunyai keturunan dari suaminya sendiri, membuatnya sangat terpukul.

Claudia kemudian mengambil handuk, lalu membersihkan diri. Setelah itu ia mencari pakaian yang pantas untuk digunakan makan malam.

"Mas, tadi Mamah minta Claudia untuk dandan. Emang siapa yang datang?" tanya Claudia sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya di depan kaca.

"Sahabat Mamah sayang, tidak dandan kamu terlihat cantik kok," balas Rayhan mencolek dagu istrinya.

"Mas, jangan ganggu dong," ucap Claudia.

Rayhan lalu memeluk istrinya dari belakang, ia lalu membenamkan wajahnya dan mengecup leher istrinya yang jenjang. Claudia pun merasa geli, dan langsung membalikkan badannya.

"Mas, jangan ganggu dulu. Nanti kita terlambat lagi," ujar Claudia.

"Sayang, aku sudah tidak sabar mempunyai anak yang lucu dan mirip denganmu," ungkap Rayhan hendak meraup bibir mungil istrinya, dengan cepat Claudia menutupnya dengan tangan.

"Itu tidak mungkin, Mas," terang Claudia.

Rayhan mengerutkan dahinya, tak disangka ternyata istrinya berbicara seperti itu. Ia kemudian melepaskan pelukannya, dengan perlahan.

"Maksudnya tidak mungkin mirip aku, pasti anak pertama kita mirip kamu, Mas," jelas Claudia tersenyum.

"Kalau begitu Mas ingin mempunyai anak lebih dari satu," ujar Rayhan mencium pipi istrinya dengan lembut. Claudia mengambilkan handuk untuk Rayhan, agar suaminya itu cepat mandi.

Di ruang tamu semua anggota keluarga sudah menunggu mereka, sambil mengobrol dengan tamu Eva.

"Tania, kapan kamu pulang?" tanya Rayhan.

Gadis berambut pirang bernama Tania itu langsung menuju ke arah Rayhan, dan hendak memeluknya. Namun, Rayhan segera menghindar karena lebih menghargai istrinya.

"Rayhan, kenapa kamu menolak pelukanku? Aku belain datang ke sini, karena kangen sama kamu," ungkap Tania mengerucutkan bibirnya.

Rayhan hendak mengenalkan Claudia sebagai istrinya, tapi Eva dengan cepat menghalangi dan langsung mengajak Claudia ke ruang makan.

"Kamu, bantuin Narsih di dapur saja! Siapin makanan buat tamu kita," pinta Eva.

Claudia mengikuti apa perintah mertuanya, walaupun perlakuan Eva tidak baik ia berusaha untuk menghormati. Bagaimanapun juga Eva merupakan orang tua suaminya.

"Sabar ya, Non. Yang datang siapa sih? Bikin ribet aja," ujar Mbak Narsih.

"Sahabat Mamah, Mbak. Anaknya namanya Tania," jelas Claudia.

"Si ulat bulu itu! Pasti nempel Tuan muda," cetus Mbak Narsih. Memang kenyataannya seperti yang dikatakan Mbak Narsih, Rayhan sampai geli kalau Tania datang. Pernah juga kabur dari rumah dengan melompat jendela kamarnya.

Rayhan menyusul istrinya ke dapur, ia ikut menyiapkan makan malam untuk tamu Mamah Eva.

"Mas, kok tamunya ditinggal," ujar Claudia.

"Itu tamu Mamah, Sayang. Kamu cemburu?" tanya Rayhan menatap istrinya penuh tanya.

"Aku percaya sama, Mas," ungkap Claudia tersenyum.

Mereka semua saat ini berkumpul di ruang makan, tanpa terkecuali. Papah Andi, Mamah Eva, Aruna, dan ketiga tamunya.

"Jeng, mari kita nikmati hidangan seadanya ini," ajak Mamah Eva menuangkan air putih ke dalam gelasnya.

"Makasih banyak lho, jeng. Sudah disambut dengan baik," ungkap Mamanya Tania.

"Claudia, kenalkan ini namanya Tania. Selain dia cantik, dia juga mandiri. Sekarang dia sudah memegang perusahaan sendiri di luar negeri," terang Eva menyombongkan keberhasilan Tania, Claudia hanya bisa tersenyum.

"Ulat bulu," sahut Mbak Narsih.

"Narsih, kamu bicara apa?" tanya Eva melotot ke arah Mbak Narsih.

"Anu Nyonya, di pohon belakang rumah banyak ulat bulu. Bikin merinding," cetus Mbak Narsih membuat Rayhan menahan tawanya.

Mereka semua sampai menunda makan, karena asyik mengobrol. Rayhan juga menyela memperkenalkan Claudia sebagai istrinya, Tania lalu langsung pulang begitu saja.

Eva menjadi marah kepada Rayhan, dengan alasan tidak mengundang keluarga Tania ke pernikahannya karena keluarga Tania tidak bisa dihubungi. Padahal Eva sengaja, agar Tania mengejar Rayhan lalu menceraikan Claudia menantu miskinnya.

Claudia kemudian mengajak suaminya masuk ke dalam kamar, agar tidak berdebat dengan Mamanya. Karena saat ini Eva masih berdebat dengan suaminya, sedangkan Aruna lebih memihak Mamanya.

"Semua ini gara-gara Rayhan menikahi wanita itu, Pah. Seharusnya anak kita menikah dengan Tania, yang sudah jelas kaya," Kata Eva.

"Cukup, Mah! Anak kita sedang berbahagia, jangan merusak suasana," terang Papah Andi. Tidak mempermasalahkan status sosial menantunya, mau miskin atau kaya yang penting bisa membuat Rayhan bahagia. Beliau sadar kalau jodoh dan maut hanya Tuhan yang menentukan, bukan dirinya.

"Mah, Pah, jangan bertengkar terus dong! Semua ini salah kakak, tidak bisa memilih calon istri yang baik," sahut Aruna.

Pertengkaran akhirnya berakhir, setelah Rayhan meminta agar orang tuanya beristirahat. Masalah pernikahannya sudah menjadi keputusannya sendiri, dan Rayhan mengatakan kalau sangat bahagia.

Keesokan harinya Rayhan hendak pergi bekerja, ia diantarkan ke depan rumah oleh istrinya.

"Sayang, Mas pamit kerja dulu. Kalau ada apa-apa telpon saja," ucap Rayhan sembari mengelus pucuk kepala istrinya.

"Mas, hati-hati. Kalau boleh nanti siang Claudia antarkan makan siang," ujar Claudia.

"Tentu saja boleh, Sayang," terang Rayhan dengan lembut.

Tak lupa Rayhan menjabat tangan istrinya, dan mencium keningnya. Begitu juga sebaliknya, mereka berdua pasangan yang sangat mesra.

Kini Claudia berada di rumah bersama Mamah Eva, dan Mbak Narsih. Sebagai menantu yang baik, Claudia membantu membersihkan rumah dan memasak, walaupun Mbak Narsih melarang tetapi sudah menjadi kebiasaannya di rumah sendiri.

"Gak usah cari muka! Miskin tetap aja miskin," ketus Eva saat melihat Claudia mengepel lantai.

"Mah, Claudia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini. Kalau niat Claudia cari muka, pasti nunggu Mas Rayhan pulang," jelas Claudia.

"Mulai berani kamu! Menantu tidak tau diri," Kata Eva menendang ember yang berisi air untuk mengepel lantai, airnya sampai mengotori lantai yang sudah bersih.

Saat hendak berjalan Eva terpeleset, membuat pinggangnya sakit. Claudia lalu membantu Eva berdiri, tetapi Eva menolak dan memilih memanggil Narsih.

"Ini namanya kualat, Nyonya. Makanya jadi mertua jangan jahat-jahat," tutur Narsih membawa Eva duduk di sofa.

"Sembarangan kamu bicara! Pinggangku sakit nih," Ujar Eva.

Claudia menawarkan diri untuk memijat pinggang Eva, lagi-lagi ditolak dengan alasan takut terkena sial dan jadi miskin.

"Mertua stres ya begitu, Non. Sabar dulu semua akan indah pada waktunya," kata Mbak Narsih membantu Claudia mengeringkan lantai.

"Hust ... gak boleh bicara gitu, Mbak," ujar Claudia.

"Untung tadi tidak stroke, Non. Biar Tuan bisa nikah lagi, ya gak? He ... he ... he ... " kelakar Mbak Narsih dengan tertawa.

Eva sudah berteriak lagi, minta dipanggilkan tukang urut. Ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di pinggangnya.

Claudia menuju ke arah mertuanya, daripada memanggil tukang urut belum tentu kapan datangnya ia mencoba memijat pinggang mertuanya itu. Ia memijat dengan pelan dan hati-hati, walaupun Eva memakainya Claudia melakukan dengan ikhlas.

"Gimana, Mah? Udah enakan belum?" tanya Claudia. Eva tidak menjawab, rupanya tertidur. Ia lalu mengambil selimut, untuk menutupi tubuh mertua galaknya.

Siang hari Claudia berangkat ke kantor Rayhan, ia membawakan bekal makan siang seperti yang tadi pagi ucapkan. Dengan senyum diwajahnya, membuat wanita itu terlihat begitu cantik. Ia berjalan menyusuri trotoar, walaupun terik matahari begitu panas ia tetap berjalan tanpa pelindung apapun. Pakaian yang digunakan saat ini, dress dengan panjang selutut berlengan pendek.

"Pasti Mas Rayhan menyukai makan ini," ucapnya dalam hati.

Saat hendak menyebrang jalan, ada motor yang melaju kencang. Claudia menjerit dan memeluk bekal makanan yang dia bawa, seharusnya ia berlari menjauh.

"Untung saja bisa diselamatkan," kata Claudia.

Pemotor itu ternyata menghentikan motornya di pinggir jalan, ia marah dengan Claudia yang sudah membuatnya hampir celaka.

"Nona, kalau menyebrang jalan hati-hati! Saya hampir menabrak anda, gimana kalau saya celaka?" tanya orang itu.

"Maaf Tuan, saya tidak sengaja. Tadi buru-buru mau mengantarkan makanan untuk suami saya," jelas Claudia.

Orang itu langsung merebut bekal yang dibawa Claudia, dan membawanya pergi naik motor. Claudia hanya bisa menangis, takut Rayhan kecewa karena Claudia tidak menepati ucapannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aktor Idola Dan Author Barbar
8.4
Erick Adrian, aktor terkenal bergelimang harta dengan pacar seorang model, selalu resah akibat citranya di film dewasa. Nasibnya berubah total setelah berseteru dengan penulis bernama Kaemila. Akibat kecelakaan tragis yang membuat Kaemila lumpuh serta amnesia, Erick terpaksa menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab. Akankah ingatan Kaemila kembali dan ia sanggup menerima sang aktor menjadi suaminya?
Sampul Novel Benci Membawa Cinta
8.2
Eleonore Duvall, pewaris angkuh Duvall Enterprises, menjalani pernikahan dua tahun dengan Kaelan Ravenswood, pria yang dicurigai sebagai pembunuh keluarganya. Walau dipandang sebelah mata, Kaelan menyimpan obsesi mendalam sejak malam rahasia masa lalu mereka. Ia pun bertekad mempertahankan pernikahan demi melindungi rahasia besarnya. Saat Eleonore menyelidiki kematian tragis keluarganya, kebenciannya goyah oleh cinta tak terduga dan identitas asli sang suami.
Sampul Novel Gairah Liar sang keponakan
8.4
Kehidupan seorang pria jungkir balik setelah keponakan titipan kakaknya mulai bertingkah liar. Di balik kepolosan gadis itu, tersimpan obsesi cinta mendalam yang menjebak sang paman dalam satu malam penuh gairah. Kini, ia terjebak di antara hasrat terlarang dan restu kakak yang sulit didapat. Namun, sebuah rahasia besar masa lalu perlahan terkuak, mengungkap status hubungan mereka yang sebenarnya.
Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Zakia ‘Kia’ Ananta Arman, remaja polos yang belum pernah merasakan cinta, terpesona pada Gus Beren, putra kyai pesantren. Demi mendapatkan perhatiannya, ia nekat mencampur obat perangsang dan alkohol ke dalam teh Gus Beren. Malam itu, nafsu yang ia picu justru menjadi bencana—ia mengandung anak pria yang sama sekali tak mau bertanggung jawab, bahkan saat tahu Gus Beren telah beristri siri. Kia mulai melihat karma di balik perbuatan papanya yang menyelingkuhi ibu dan kakaknya. Ketakutan masa lalu Arman pun kembali menghantui. Di tengah kehancurannya, ia harus memilih: memperjuangkan keadilan atau tenggelam dalam karma keluarganya.
Sampul Novel Hasrat liar ayah tiri
8.1
Seorang gadis remaja mengira ayah tirinya adalah pelindung. Namun, sebuah tragedi berdarah memaksa mereka tinggal berdua. Di balik topeng kebaikannya, pria itu perlahan memikat sang putri tiri yang masih polos dengan rayuan dan sentuhan. Masa SMA gadis itu pun terenggut demi memuaskan obsesi sang ayah. Hubungan keluarga yang semula normal kini berubah menjadi skandal terlarang yang disimpan rapat-rapat dari dunia luar.
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti
9.5
Kabar kehamilan yang harusnya membawa kebahagiaan bagi Kiran justru berubah menjadi mimpi buruk. Ia mendapati kenyataan bahwa Arka, suaminya, telah berselingkuh hingga memiliki anak dari perempuan lain. Di tengah hancurnya pernikahan yang ia pertahankan, Kiran harus menanggung kepedihan mendalam akibat dikhianati. Kini, ia dihadapkan pada perjuangan sulit untuk memulihkan diri. Akankah Kiran sanggup bangkit, ataukah rasa cintanya pada Arka sudah sirna tanpa sisa?