APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami

Dikejar Mantan Suami

Pasca-bercerai dari Haris Prayoga, Ningsih Widyastuti menutup rapat hatinya dan bekerja sebagai pelayan di rumah makan Faiz Wibisono. Walau awalnya sama-sama enggan terlibat asmara, kedekatan membuat perasaan cinta tumbuh di antara Ningsih dan Faiz. Sayang, hubungan mereka terhalang oleh obsesi Haris. Diliputi penyesalan mendalam, sang mantan suami terus mengejar Ningsih dan memicu berbagai kekacauan demi mendapatkan kembali cinta lamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ningsih baru pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dia lega karena barang-barang belanjaan yang Faiz minta sudah dibelikan semuanya. Tadi ketika sampai di ruko, Ningsih menitipkan semua belanjaannya pada Bu Narti. Faiz belum juga pulang dari klinik dokter.

"Semuanya sudah ya Bu, saya permisi pulang," tukas Ningsih pada Bu Narti.

"Iya, terima kasih Ning," kata Bu Narti seraya menatap ke arah Ningsih. Ningsih juga bersiap pulang. Motor yang tadi dipakainya untuk pergi ke mall telah ia masukkan ke samping ruko.

"Pulangnya naik apa, Ning?" tanya Bu Narti lagi.

"Ojek online saja, Bu."

"Sudah pesan? tarifnya berapa?"

"Belum Bu," ujar Ningsih seraya mengeluarkan HP-nya. Ningsih mulai mengetik titik penjemputan di aplikasi ojek online, juga mengetik tujuan pulang.

"Berapa Ning uangnya, biar ibu kasikan,"

"Nggak usah Bu, cuma tujuh ribu. Ningsih ada uangnya segitu."

"Bukan masalah uangnya Ning. Anggap saja itu upah kamu belanja tadi."

"Ah Ibu, dari dahulu kan ibu tahu Ningsih..."

"Sudah, ini uangnya." Bu Narti sudah mengangsurkan selembar uang 10 rb pada Ningsih.

"Bu,"

"Sudah, pulanglah..."

Tak lama tukang ojek pun datang di depan ruko. Ningsih lalu pamit pada ibu tua itu. Dia naik di boncengan motor dan pulang ke rumah kontrakan.

***

Ningsih menatap semua barang-barang yang ada di ruang tamu. Dari TV berukuran kecil, kursi, sampai akhirnya dia menatap poto perkawinannya yang kandas. Sekilas, Ningsih mengambil pigura itu. Menatapnya dengan dalam. Sampai akhirnya beberapa  bulir air mata akhirnya tumpah.

Ningsih teringat masa-masa pacaran dulu. Terutama apabila dia telah bepergian jalan-jalan dengan Haris, lalu diajak laki-laki itu untuk duduk di ruang tamu rumah.

Ningsih kadang ditinggal di sofa ruang tamu rumah Haris. Dan Haris kadang masuk ke dalam rumah, untuk mengambilkan makanan ataupun minuman untuknya. Namun malam itu Ningsih mendengar percakapan Haris dan ibunya. Sebenarnya bukan malam itu saja. Malam-malam sebelumnya apabila Ningsih diajak bertandang ke rumah Haris, pasti percakapan seperti itu yang didengarnya.

"Kamu masih tetap memilih perempuan itu untuk kamu nikahi nanti?" kata seorang perempuan, yang diketahui Ningsih sebagai Ibu  Yati, ibu kandung Haris.

"Bu, Haris kan sudah beberapa kali bilang sama ibu-"

"Haris, seberapa pun cantiknya perempuan pilihanmu, ibu tidak peduli. Ibu tetap tidak setuju!"

"Ibu, apa kesalahan Ningsih. Apa dia perempuan nggak bener. Apa dia?"

"Kamu nggak perlu tahu alasannya, ibu tetap tidak setuju jika kamu memilih dia!" potong ibunya cepat.

"Ibu, jangan keras-keras, Ningsih...ada di luar!"

"Ibu tidak peduli. Lebih bagus kalau dia dengar. Biar dia tahu kalau ibu-"

"Aku akan tetap menikahi Ningsih! karena aku mencintai dia! Terlebih kami berpacaran sudah lama sekali!"

"Haris!" kata ibunya. "Ibu lebih setuju kamu sama Kamila. Anak perempuan pak RT itu lebih cocok sama kamu ketimbang Ningsih!"

"Dan aku tidak menyukainya!" tukas Haris. "Sudah, Haris bosan membahas ini terus. Haris mau ke depan, menemui Ningsih."

Namun, saat Haris berjalan ke ruang tamu untuk menyajikan Ningsih panganan kecil juga minuman, perempuan itu tidak ada di ruang tamu. Dia duduk di beranda depan rumah, seraya menatap rembulan malam.

Ningsih tidak ingin mendengar suara-suara itu. Sakit rasanya. Ucapan-ucapan itu ia dengar sebelum mereka menikah. Lalu, apa nanti yang akan ia dengar lagi dari mulut ibu Haris setelah mereka resmi menikah nanti.

"Ning, kok kamu disini?"

"Di dalam panas sekali mas. Jadi Ningsih keluar."

"Ya sudah, ini minum dulu."

Haris menyuguhkan minuman itu, yang akhirnya ia letakkan di atas meja kecil. Ningsih sudah duduk di kursi depan rumah, sambil pikirannya nyalang. Dan Haris duduk di bangku satunya.

"Maafkan, jika tadi..."

"Aku sudah mendengar semuanya mas," ucap Ningsih. "Dan bukan baru kali ini rasanya aku mendengar semua itu."

"Ningsih,"

"Seharusnya kita nggak pacaran mas. Seharusnya kita juga nggak perlu meneruskan hubungan ini. Sebaiknya mas menikah dengan perempuan pilihan ibunya mas."

"Dan apa itu nanti bisa menjamin kebahagiaan mas," tukas Haris. "Menikah adalah keputusan sendiri. Karena menikah, aku yang akan jalani, bukan ibuku atau orang lain!"

"Tapi..."

"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkan itu."

"Ningsih memang kadang memikirkan semuanya mas. Dan Ningsih takut jika kita menikah, lalu ibu..."

"Ibu tak akan macam-macam padamu, sudahlah."

Tapi nyatanya, Bu Yati macam-macam  pada Ningsih. Tiap kali Haris mengajak Ningsih berkunjung ke rumah mertuanya. Ada saja nada cibiran yang keluar dari bibir perempuan tua itu untuk Ningsih. Dan hal itu membuat Ningsih trauma untuk datang ke rumah mertuanya sendiri.

Sebulan sekali Haris memang akan datang mengunjungi ibunya, karena Haris sudah mengontrak rumah sendiri bersama Ningsih setelah menikah.

Haris memperkerjakan pembantu untuk menemani ibunya di rumah besar itu. Ayah Haris memang telah lama meninggal dunia, dan Haris anak tunggal. Jadi tidak ada sesiapapun yang menemani ibunya jika Haris tidak tinggal di rumah itu. Alhasil Haris memperkerjakan pembantu yang bisa menginap, yang selain dapat mengurus rumah, juga dapat mengurus ibunya.

Lalu, suatu kali saat bertandang menemui mertuanya. Saat itu Ningsih berada di ruang tamu. Haris terlibat percakapan dengan ibunya, yang membuat Ningsih benar-benar sakit hati.

"Ceraikan perempuan itu!"

"Ibu ngomong apa? Ibu jangan melantur! Haris bahkan-"

"Haris!" hardik ibunya. "Tak ada gunanya mempertahankan istri yang tidak bisa punya anak. Kamu mau jadi orang yang sudah tua tanpa anak?"

"Ibu barangkali..."

"Barangkali apa? istrimu mandul. Dia tak bisa punya anak. Sudah setahun kamu menikah, tapi dia tak kunjung hamil juga!"

"Ibu, suaranya jangan keras-keras!"

"Biarkan saja. Biarkan Ningsih dengar! Dia mandul. Bahkan, setahun perkawinan tak ada tanda-tanda-"

"Ibu, barangkali belum waktunya. Barangkali Tuhan..." Haris dengan cepat memotong perkataan ibunya.

"Sampai kapan kamu bertahan punya istri yang seperti itu!"

Haris  diam. Haris jadi bimbang. Dia mulai memikirkan kata-kata ibunya.

"Coba! sampai kapan kamu mempertahankan istri mandul macam Ningsih!"

Bahkan Ningsih yang biasa berlari ke depan rumah, tidak kuat mendengar kata-kata itu. Bahkan, ingin sekali ia melabrak ibu Haris, kalau saja ia tidak memikirkan, bahwa itu adalah hal kurang ajar yang ia lakukan sebagai menantu. Sampai akhirnya Ningsih hanya bertahan di beranda rumah dengan air mata yang berlinang.

Ningsih hanya diam sepanjang perjalanan dari rumah mertuanya. Lalu, ketika baru sampai rumah dan berada di  kamar mereka, Ningsih mengatakan semuanya pada Haris.

"Aku memang bukan ditakdirkan untuk jadi istrimu mas."

"Kamu ngomong apa?" tukas Haris.

"Lihatlah apa yang kutakutkan telah terjadi. Ibumu terus merongrongku."

"Ningsih, aku hidup denganmu. Aku yang merasakan semuanya."

"Namun kau mulai memikirkan ucapan ibumu, kan? Sepertinya aku memang mandul. Sudah setahun kita berumah tangga, namun..."

"Sudahlah, mungkin Tuhan belum mengijinkan kita punya anak. Bukankah kau sudah beberapa kali periksa ke dokter, dan tak ada masalah dengan semuanya. Bukankah dokter mengatakan dirimu subur."

Dan Ningsih hanya diam, memikirkan ucapan suaminya, yang begitu sangat sayang padanya.

Malam itu Ningsih tidur dengan pikiran carut-marut. Bahkan sampai Haris jatuh tertidur, Ningsih belum juga dapat memejamkan matanya. Hingga akhirnya beberapa hari setelahnya Ningsih pergi ke dokter lagi. Memeriksakan kesuburannya.

Dokter Ina, dokter kandungan yang biasa menangani Ningsih jika dia ke rumah sakit ini menyambut Ningsih dengan baik. Dokter itu sangat antusias mendengarkan keluhan Ningsih. Hingga Ningsih diperiksa lebih lanjut. Ia berbaring di brankar yang ada di ruangan dokter Ina, dan ia menuruti instruksi dokter Ina, hingga pemeriksaan pun selesai.

"Semuanya baik. Mungkin jangan sampai kecapaian saja." tukas dokter Ina. "Ibu nggak kerja kan?"

"Hanya di rumah saja dokter, ngurus suami yang pekerja swasta. Dulu sebelum menikah hanya bekerja di toko."

"Ya baguslah, jangan terlalu kecapaian,"

"Lalu, langkah apa dokter yang sebaiknya saya lakukan, supaya saya dapat memiliki anak. Karena mertua saya..."

"Lagi-lagi kebanyakan masalah mertua. Saya...memahami itu, karena nggak cuma kamu yang mengeluh bilang seperti ini. Setidaknya kamu melakukan hubungan intim dengan suamimu pada saat masa subur kan?"

"Ya dokter, saya selalu mendengarkan nasihat dokter Ina."

"Mungkin masalahnya ada pada suami. Sudahkah suami juga memeriksakan diri?"

Ningsih diam. Dan baru menyadari. Dia seharusnya sudah lama menanyakan hal ini. Namun, pernah suatu kali ia bertanya pada Haris. Tapi katanya ia baik-baik saja, dalam artian tidak ada masalah dalam organ reproduksi.

"Suatu kali ia pernah bilang dokter. Bahwa tidak ada masalah pada organ reproduksinya."

"Nah baguslah, hanya tinggal menunggu dan berdoa. Mungkin hanya Yang Kuasa belum ingin menitipkan."

"Ya dokter,"

Dan tak lama kemudian, Ningsih keluar dari ruangan dokter Ina dengan berbagai pertanyaan. Terutama pertanyaan sensitif tentang suaminya yang telah memeriksakan diri atau belum. Namun pikiran semacam itu cepat ditepis oleh Ningsih. Mungkin memang belum waktunya Tuhan memberinya anak.

Namun, 2 tahun berlalu. Tetap tak ada tanda-tanda kehamilan. Ibu Haris sewot dan terus saja menyalahkan Ningsih. Dan Haris juga lebih banyak bertengkar dengan Ningsih lantaran perkara soal anak yang terus dibahas ibunya.

"Sudah ibu bilang, ceraikan Ningsih, dan kamu menikah lagi. Pak RT menyetujui jika kamu melamar anaknya, Kamila Dewi. Dan ibu rasa kamu akan cocok dengan dia, dan mungkin bisa punya anak darinya."

"Ibu, tidak bisa begitu. Bagaimanapun..."

"Kalau kamu tidak enak hati sama Ningsih, biar ibu yang bicara dengannya."

Dan malam itu juga ibu Yati langsung menemui Ningsih yang diam di ruang tamu rumah mertuanya.

"Ibu meminta Haris untuk cepat menceraikanmu! Jadi kalau kau yang menggugat cerai Haris, itu lebih baik bagimu!"

"Apa salah saya, sampai ibu harus berkata seperti ini," Ningsih mencoba membela dirinya.

"Ningsih! Apa kamu tak menyadari kamu mandul. Kini, apakah kamu bisa memberi Haris anak. Memberi saya cucu. Dari dulu saya tidak pernah setuju dengan perempuan pilihan Haris, hingga akhirnya jadi begini!"

"Ibu!" Haris sudah memekik pada ibunya. "Ibu benar-benar tidak memikirkan perasaan Ningsih!"

"Biar saja. Ibu sudah tidak tahan lagi punya menantu sepertinya. Jadi sebaiknya kalian bercerai. Dan kamu Haris, tidak ada gunanya mempertahankan istri seperti dia!" Ibu Haris sudah menunjuk-nunjuk ke arah Ningsih. Ningsih merasa batinnya terluka. Sampai akhirnya dua Minggu setelah perdebatan malam itu di rumah mertuanya, Ningsih langsung menggugat cerai Haris. Haris tak mampu melakukan apapun.

Perceraian tak mampu terelakkan. Setelah persidangan akhir, mereka resmi bercerai. Ningsih langsung keluar dari rumah kontrakan dan bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya. Dan setahun setelah itu, dia mendengar Haris menikah lagi dengan perempuan pilihan ibunya. Hingga dua tahun berlalu, terdengar kabar kalau mereka belum juga dikaruniai anak.

Kini, Ningsih mulai ragu bahwa Haris apakah sudah pernah memeriksakan dirinya ke dokter sebagaimana yang ia katakan. Namun Ningsih tidak ingin memikirkan hal itu. Karena bagaimanapun hidup harus terus berjalan. Entah, sudah beberapa laki-laki yang ingin mengenalnya lebih dalam. Terutama duda. Namun ia masih memilih sendiri. Ia masih trauma untuk kembali menjalin hubungan, lalu menikah. Dan ia pun bekerja sebaik-baiknya di warung makan milik Faiz tanpa memikirkan pernikahan.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan
8.6
Akibat kelalaian Emily saat transaksi, keluarga mafia kami kehilangan obat-obatan berharga. Demi melunasi utang, pihak saingan menuntut sandera. Ironisnya, ayah dan tunanganku sepakat mengirimku demi melindungi adik tiriku yang terluka. Mengabaikan pengkhianatan mereka, aku bersedia pergi dalam lima hari. Sebelum pergi selamanya, aku membagikan kasino kepada adik angkatku, uang kepada ayahku, dan mengembalikan cincin tunanganku. Mereka tersenyum tanpa sadar bahwa ini adalah perpisahan abadi yang membawa kehancuran.
Sampul Novel Aku Jatuh Sakit, Dia Menemani Wanita Lain
9.1
Tepat di Hari Valentine, Betsy menerima vonis kanker lambung yang menyisakan sebulan hidupnya. Kepedihan ini kian mendalam saat Sebastian Nash, suaminya, mengaku mencintai perempuan lain walau berjanji tetap setia. Enggan menghabiskan sisa usianya dalam konflik, Betsy memilih pergi dengan tenang. Meski Sebastian memohon agar dirinya bertahan, Betsy yang kian sekarat hanya tersenyum getir, menyadari air mata tak lagi mampu menghapus pengkhianatan sang suami.
Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Delapan tahun Amelia berjuang demi memiliki anak, tetapi Aditya, suaminya, malah berselingkuh dengan Nasywa yang hamil. Akibat dorongan kasar Aditya, Amelia keguguran dan kehilangan seluruh hidupnya. Lima tahun berselang, Amelia kembali sebagai wanita sukses yang sangat berkuasa. Saat Aditya yang kini hancur datang bersimpuh memohon maaf, Amelia menyambutnya dengan dingin. Sosok istri lemah yang dulu sangat mencintai Aditya kini telah tiada.
Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel Berharap Dicintai
9.5
Diana terpaksa menikahi Dariel demi menjamin masa depan sang calon bayi. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan saat ia mengetahui bahwa istri pertama Dariel adalah Merly, sahabat lamanya sendiri. Merly merasa sangat dikhianati dan menaruh dendam kesumat. Walau Diana sudah bersujud meminta maaf demi anaknya, amarah Merly tetap tak mereda. Kini, Diana harus bertahan di tengah tekanan batin dan ancaman di dalam rumah tangganya.
Sampul Novel December to January
7.9
Kepergian seseorang di bulan Desember menyisakan luka mendalam yang tak kunjung sembuh. Begitu lembaran kalender berganti ke Januari, memori masa lalu tersebut tetap membayangi dan menjungkirbalikkan seluruh kehidupan yang dijalani. Cerita ini mengikuti perjalanan emosional yang penuh dilema, memperlihatkan bagaimana kepedihan di akhir tahun terus mengikuti langkah demi langkah di lembaran baru, hingga sangat sulit untuk dilepaskan.