APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO

DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO

Dituduh mandul dan dikhianati suaminya hingga bercerai, dokter kesuburan Felicia Hera nekat menghabiskan satu malam bersama pasiennya demi membuktikan dirinya subur. Ia lalu menghilang dan baru kembali lima tahun kemudian bersama putrinya. Namun, Felicia syok saat tahu direktur baru di rumah sakitnya adalah ayah dari anaknya. Kini, ia harus terus bersembunyi dari kejaran pria dingin yang telah mencarinya selama bertahun-tahun.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Sayang, ayo kita lanjutkan sebentar lagi,” ujar Audrey dengan lirih seraya menggerakkan tubuh polosnya yang hanya tertutupi jas putih itu.

“Sebentar lagi akan ada pergantian shift. Orang-orang akan melihat kita," jawab Robby dengan setengah berbisik, kemudian mencumbu leher Audrey sekali lagi.

Keduanya tengah berjebak di sebuah ruangan sempit yang lama tidak terpakai. Robby, pria itu, masih mengenakan pakaian, hanya celananya yang sedikit ia turunkan, berbeda dengan Audrey yang nyaris membiarkan tubuh polosnya terekspos. Hanya ada jas putih yang menutupinya.

Mereka melakukan itu di sela-sela kesibukan rumah sakit.

“Tapi, aku masih ingin dijajah olehmu,” ujar Audrey, kemudian menggelantung pada leher pria itu dengan manja.

Cup.

Robby melabuhkan satu kecupan pada kening wanita itu. “Kan, kita sudah memesan satu kamar hotel untuk besok. Aku harus segera pulang,” bujuknya dengan lembut.

Robby memang sangat menjaga perasaan gadis itu. Ia tidak mau membiarkan Audrey merasa kecewa ataupun sedih.

“Dan menemui istri mandulmu itu?” Audrey mencebik dengan tidak senang. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya dari pria itu.

Dengan cepat, Robby menahan tangan Audrey dan menarik Audrey mendekatinya.

“Jangan salah paham,” tuturnya, “Walaupun dia adalah istriku dan kami sudah menikah, tapi seluruh cinta dan perhatianku hanya untukmu. Buktinya, aku menghabiskan seluruh waktu liburku bersamamu,” bujuk Robby dengan buaian tutur kata manisnya.

Pada akhirnya, Audrey menurut juga. Dia melabuhkan satu kecupan di pipi Robby sembari diam-diam, menaruh lipsticknya di saku jas pria itu.

“Sampai bertemu besok,” bisiknya.

***

“Apa yang kau buat itu?”

Pergerakkan Felicia terhenti saat tiba-tiba mertuanya datang. Gadis itu hanya tersenyum getir. Ini sudah kesekian kalinya wanita itu datang tanpa pemberitahuan apa pun.

“Aku membuat jus untuk Mas Robby," jawab Feli, "Dia bekerja lembur lagi hari ini. Jadi, pasti kelelahan. Jus ini bisa membuat tubuhnya terasa lebih fit," tutur gadis itu seraya meramu buah-buahan di depannya.

“Rajin sekali kamu membuat jus semacam itu. Robby tidak butuh jus apa pun. Justru kamu yang butuh jus agar subur dan segera memiliki anak," komentar Maura.

Selalu seperti ini.

Tidak hanya datang tanpa pemberitahuan, mertuanya itu pun akan mulai mengomentari apa pun yang Felicia lakukan. Feli selalu salah di mata Maura.

“Sudah hampir lima tahun kalian menikah, tapi kamu belum memberi satu cucu pun kepadaku. Katanya, seorang dokter yang ahli di bidang kesuburan, bahkan untuk punya anak sendiri saja kamu kesusahan!” Maura terus berkata-kata.

Ia seperti tidak memiliki filter apa pun. Semua kata-kata lolos dari bibirnya, tidak peduli apakah itu akan menyakiti perasaan Felicia.

Pada saat seperti ini, Felicia hanya tersenyum getir. “Kami juga sedang berusaha, Bu,” jawabnya lembut, “Feli dan Mas Robby sedang mencoba program hamil.”

“Program hamil program hamil, program terus! Program apa lagi yang kalian ikuti hari ini? Seharusnya, kamu lebih berusaha! Tidak ada yang salah dengan Robby. Kamu saja yang tidak subur,” ujar Maura dengan enteng.

Pegangan Felicia pada pisaunya mengencang, berusaha meredam emosi dan rasa sakit hati yang diterima. Namun, gadis itu hanya bisa terdiam dan berusaha menghibur diri dengan tersenyum.

Ting

Suara pintu apartemen terbuka itu seketika membuat wajah Felicia kembali berseri. Dengan cepat, dia mengalihkan diri dari mertuanya dan menghampiri sang suami.

"Hari ini lembur lagi?" tanya Felicia seraya mengambil alih tas suaminya.

Robby mengangguk dan langsung merebahkan diri pada sofa di ruang tamu apartemen itu.

"Aku sudah membuatkan jus untukmu. Kamu akan merasa segar lagi setelah meminumnya," ujar Felicia seraya mengantarkan jus itu kepada suaminya.

Namun, pria itu tidak terlihat tertarik. Dia bahkan tidak membuka matanya. Hanya mengangguk samar.

"Taruh saja di sana," ucapnya.

Felicia melakukan sesuai yang diperintahkan meski merasa sedikit kecewa.

"Tampaknya kamu sangat kelelahan karena sering bekerja lembur belakangan ini," ujarnya, "Apakah rumah sakitmu kekurangan dokter hingga membuatmu terus lembur?" Dia bertanya.

Felicia juga pernah menjadi dokter sebelum ia menikah. Dia adalah seorang dokter spesialis yang menangani pasangan yang berusaha memiliki anak. Namun, setelah menikah dengan Robby, dia berhenti dan fokus mengabdikan diri kepada suaminya. Semua itu dia lakukan agar menjadi istri yang baik.

"Dulu dan sekarang beda," Robby menjawab, "Sekarang, dokter harus sering lembur karena banyak pasien. Berbeda dengan zaman saat kamu masih bekerja dulu." Dia menjelaskan dengan nada setengah hati.

"Ah, begitu," jawab Felicia dengan rendah diri, "Tapi, besok kamu libur, kan, Mas? Salah satu temanku mengajak kita untuk berlibur bersama--"

"Tidak." Robby menjawab dengan cepat. "Besok Mas juga harus masuk."

Felicia berkedip dua kali. Aneh. Sudah hampir tiga minggu Robby tidak mendapat libur sama sekali. Bahkan, pria itu hampir setiap hari bekerja lembur.

Apakah memang aturan rumah sakit menjadi seketat ini?

"Ba--baiklah. Kalau begitu, kita bisa pergi lain kali," jawab Felicia, menurut.

Dia menoleh ke sekitar untuk memastikan mertuanya tidak memperhatikan mereka dan beringsut mendekati Robby.

Namun, pada saat yang sama, Robby pun bergerak menjauh seakan tidak ingin didekati Felicia.

"Mas...." Feli memanggil. Dia tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah memikirkannya. Bagaimana jika aku... kembali bekerja menjadi seorang dokter?" tanyanya.

Kedua mata Robby langsung membelalak terbuka. Dia menoleh ke arah sang istri dan mengernyitkan alis dengan tidak setuju.

"Apa katamu?" tanyanya.

Felicia tampak gugup dengan pertanyaan itu, tetapi dia bersikeras melanjutkan. "Lima tahun yang lalu, aku berhenti menjadi dokter dan fokus menjadi istrimu. Sekarang, aku merindukan kesibukanku dan ingin kembali menjadi dokter. Lagi pula, mumpung kita belum memiliki anak. Pasti masih ada kesempatan bagiku," tutur Felicia dengan serius.

Sesaat, Robby tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandang ke arah sang istri, kemudian tergelak. Dia tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendengar hal yang lucu.

"Apakah kau bercanda?" kekehnya, "Ingin kembali bekerja? Jangan bermimpi," ucap Robby.

"Dunia kedokteran sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Lihat, aku saja sampai tidak memiliki hari libur selama tiga minggu. Kamu tidak akan kuat. Lagi pula, mana ada rumah sakit yang mau menerima dokter yang sudah tidak bekerja selama lima tahun? Jangan bermimpi. Daripada berkhayal, lebih baik kamu mencari cara agar kita bisa segera memberikan cucu untuk ibuku. Apakah kamu mengerti?" tanya Robby.

Tatapan dan seringainya terlihat merendahkan, dan hati Felicia berdenyut nyeri mendengarnya.

Namun, meski demikian, wanita itu hanya tersenyum sabar.

"Benar juga," katanya, "Sepertinya memang tidak bisa, ya," tuturnya dengan kecewa.

"Tentu saja tidak bisa!" Satu suara menginterupsi pembicaraan mereka. Felicia langsung merasa lemas saat menyadari mertuanya telah berada di dekat mereka. Tidak diragukan lagi, dia pasti mendengar semuanya.

"Apa katamu? Kembali bekerja? Jangan aneh-aneh! Fokus menjadi ibu rumah tangga saja kamu tidak bisa memiliki anak, apalagi sambil bekerja?!" sergah Maura.

Tangan Felicia mulai bertautan dengan gugup di atas pahanya. Mertuanya itu tidak segan-segan mengejek Felicia di depan suaminya. Yang lebih menyakitkan, tidak sekali pun Robby berusaha membelanya.

Robby justru mengangguk. "Tidak akan bisa," ucapnya, kemudian beranjak berdiri. "Sudahlah, lebih baik aku mandi dan tidur," katanya sembari melenggang pergi.

"Jusmu--" Felicia berusaha mengingatkan, tetapi Robby sudah telanjur beranjak menuju kamar mandi.

"Minum saja untuk dirimu sendiri!" sahut Maura, kemudian melenggang pergi ke ruangan lain.

Hanya ada Felicia sendiri di ruang tengah apartemen itu. Selalu seperti ini. Sepanjang hari, Felicia hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah Robby pulang pun, pria itu langsung tertidur atau sibuk memainkan ponsel. Hidup Felicia terasa kosong.

Meski demikian, dia selalu menguatkan diri. Wanita itu berusaha mengukir senyum di wajahnya, kemudian mengambil jaket milik Robby.

Sudah hampir empat hari jaket itu belum dicuci. Dia harus mencucinya.

Begitu pikir Felicia sembari merogoh saku jaket tersebut, berjaga-jaga seandainya ada tisu ada barang di dalamnya. Alih-alih, dia menemukan sebuah kertas.

Reservasi hotel?

Felicia mengernyitkan alis. Dia membaca lebih lanjut.

Robby memesan satu kamar suite VIP untuk besok.

Deg

Bukankah Robby berkata besok dia harus lembur? Mengapa dia memesan sebuah kamar hotel?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Brave Heart
8.7
Kecelakaan tragis membuat fisik Seruni Arkadewi cacat. Kemalangan tak berhenti di situ; sang kekasih berkhianat dengan sahabatnya, dan ayah tirinya tega menjualnya kepada pria tua kaya. Menolak menyerah pada nasib, Seruni memilih melarikan diri demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri. Langkahnya ini dinilai konyol oleh Antonio Brata Kesuma, konglomerat yang sangat antipati pada kelemahan fisik. Namun, kegigihan Seruni yang menolak belas kasihan perlahan menantang pandangan Antonio.
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Mantan Suami Ingin Aku Kembali
8.6
Tiga tahun Kirana bertahan dalam pernikahan penuh hinaan bersama Reza. Begitu cinta lama sang suami datang lagi, ia memilih mundur demi mencari kebahagiaan baru. Reza yang angkuh yakin mantan istrinya akan berlutut memohon rujuk. Dugaan itu meleset saat ia melihat Kirana justru asyik merayakan kebebasan dan dikelilingi banyak pria di bar. Sadar Kirana telah berpaling, kepanikan mulai melanda Reza. Kini giliran dirinya yang harus berjuang keras merebut kembali hati Kirana.
Sampul Novel Crazy Marriage (Pernikahan Paksaan)
9.2
Di usia 19 tahun, Vintari terpaksa mengubur mimpinya demi pernikahan kontrak akibat perjodohan orang tua. Bersanding dengan Zeus Ducan yang jauh lebih dewasa terasa bagai siksaan, sementara Zeus hanya menganggapnya gadis ceroboh yang merepotkan. Namun, ketika rasa nyaman mulai hadir, sebuah kenyataan pahit terbongkar. Zayn, lelaki yang selama ini dicintai Vintari, rupanya adik tiri dari suaminya sendiri. Kini, ia terjebak dilema rumit antara Zeus dan cinta masa lalunya.
Sampul Novel Mas Brewok
8.8
Menyamar demi menjadi sosok impian Yusuf Muhammad justru merenggut kesucian Nur akibat ketidaksengajaan. Di balik pesona Yusuf yang memikat, Nur didera penyesalan mendalam lantaran kepalsuan yang ia bangun. Hatinya kian tersiksa menyadari dirinya hanyalah pengganti sementara. Saat rahasia ini terbongkar, akankah Yusuf tulus menerima cintanya, atau malah membalas dendam atas dusta tersebut? Simak kisah asmara penuh risiko dalam drama dewasa ini.
Sampul Novel Satu Laki-Laki Empat Istri
9.5
Kehidupan pernikahan Rendra tidaklah sederhana. Kresna, Tessa, Kanti, dan Wanda dituntut memiliki keikhlasan luar biasa untuk bersanding sebagai para istri yang berbagi satu suami. Di balik keharmonisan yang tampak di luar, benarkah tidak ada kecemburuan yang membara di antara mereka? Ketenangan rumah tangga ini sebenarnya menyimpan rahasia besar yang belum terungkap. Sebuah drama romansa dewasa yang mengupas tuntas pengabdian, cinta, dan misteri hati.
Sampul Novel Suamiku Menuduhku Selingkuh
9.1
Pertemuan santai dengan sahabat mendadak berubah menjadi kekacauan brutal saat meja mereka dihantam hingga terbalik. Sekelompok orang asing tiba-tiba mengepung dan melontarkan tuduhan perselingkuhan keji sambil merekam kejadian tersebut. Ketika situasi memanas hingga temannya terluka akibat hantaman kursi, sang istri bertindak cepat untuk melindunginya. Ia segera menghubungi polisi serta pengacara guna memproses perceraian dengan suaminya, Ben, tanpa memberinya sepeser pun harta.