APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik

Dicerai kakak Dinikahi adik

Setelah rumah tangganya dengan Win kandas, Iyas mencoba menata ulang hidupnya yang hancur. Ia mendirikan sebuah toko bunga sebagai pelarian demi menghapus memori kelam masa lalu. Tak disangka, takdir mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung sang mantan suami. Walau Bhaga terikat erat dengan sumber luka lamanya, pria itu justru membawa kedamaian. Di balik rasa benci dan trauma yang mendalam, Iyas perlahan kembali merasa dihargai serta pantas dicintai oleh sosoknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Entah bagaimana, aku bisa keluar juga dari rumah mewah Aira dan sekarang duduk manis di mobilku.

Tidak putus-putus keterkejutanku, apalagi saat Bhaga bilang bahwa jalan yang aku lewati bukan jalan menuju pintu keluar. Awalnya aku menyangkal, masa rumah dengan banyak pintu ini gak ada jalan-jalan pintas menuju keluar. Pasti ada lah. Aku pun tetap berjalan dan mengabaikan omongan Bhaga.

Lalu barulah aku menyesal. Jalan yang aku lalui dari tadi ternyata menuju ke sebuah halaman seperti taman tapi gak terlalu luas. Yang lebih membuat wajahku pias, sumpah malam ini hidupku aneh sekali, di taman itu ada banyak makam kecil-kecil dengan batu nisan yang tertulis nama, tanggal lahir dan tanggal wafat.

Esmeralda, Martino, Marimar, Fernando, Jubaedah? Sutrisno?

Nama macam apa itu? dan ini kuburan sia... ah sial. Aku mengutuk diriku sendiri saat teringat bahwa Aira adalah pecinta kucing. Ini semua pasti makam kucing-kucingnya. Wajahku pucat seketika dan perutku mulai bergejolak. Meski hanya makam kucing, tapi vibe-nya kaya kuburan pada umumnya. Karena merinding parah, apalagi di taman ini situasinya sangat mencekam, hampir gak ada suara bahkan pesta di ruang tengah pun gak terdengar sampai sini. Aku membalikkan badan untuk kembali. Memang sepertinya Tuhan menakdirkan aku untuk mengikuti pesta ini sampai selesai.

Ternyata dari tadi Bhaga ada di belakangku, mengikutiku dan tersenyum jail. Mungkin dalam hatinya bilang 'Salah siapa ngeyel!'. Aku udah lama gak mengumpat, kali ini benar-benar aku ingin mengumpat sekencang-kencangnya karena malu, sok tau

dan sok berani.

Stupid Iyas!

"Can I help you? Aku tau pintu keluarnya." Bhaga menawariku untuk mengantar ke pintu keluar, aku berpikir untuk menolak, tapi kalau sampai aku tersasar lagi? mau di taruh mana mukaku? Enggak! Lebih baik aku menurunkan egoku daripada aku jadi bahan tertawaannya. So, aku menerima tawarannya.

Sampailah di pintu keluar dan aku menuju halaman luas tempat mobilku terparkir. Anehnya, Bhaga terus mengikutiku sampai di depan mobilku. Aku menatapnya bingung. Mau apa dia sampai repot-repot mengantarku begini? Enggak! Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Walaupun dia misterius, tapi dia pasti hanya ingin menunjukkan sisi maskulinitas energy-nya dengan cara memproteksi perempuan yang jalan sendirian pulang pesta malam-malam menuju parkiran yang sepi. Iya, mungkin hanya itu niatnya. Stop berpikir negatif.

"Ngomong-ngomong, terimakasih Ga, udah nganterin aku sampai parkiran. Aku pulang dulu." Pamitku seraya mengeluarkan kunci dari tas dan membuka pintu mobilnya.

"Biar aku yang nyetir." Bhaga menyaut kunci di tanganku dan masuk ke dalam kursi pengemudi.

Tunggu... tunggu, aku harus mencerna situasi macam apa ini. Yang pertama, Bhaga menawari untuk menyetir? Padahal kan ini mobilku. Yang kedua, siapa dia berani-beraninya menyahut kunci tanpa persetujuan si pemilik mobil dan masuk begitu aja dengan santainya? Yang ketiga, haruskah dia beramah-tamah begini denganku? Yang notabene-nya aku gak pernah sedekat itu dengannya dulu, kita juga jarang komunikasi, boro-boro sebagai adik ipar, sebagai saudara jauh aja kayaknya enggak. Lebih seperti hubungan mantan pacar yang putusnya gak baik-baik dan saling mendiamkan satu sama lain. Tapi jelas aku bukan mantan pacarnya, aku mantan istri kakaknya.

Harusnya aku marah kan? kok dia seenaknya seolah-olah mau merampok dengan cara yang halus. Aku masih mau berpikir positif loh tentang dia yang mengantarku sampai parkiran sini. Tapi ini? sikapnya ini membuatku terpancing untuk mikir yang aneh-aneh.

"Ayo masuk!"

"Ga! Aku berterimakasih udah diaterin, tapi ini maksudnya apa? Kamu gak lagi minta balas jasa dengan cara ngrampok mobilku kan?"

Bhaga menggeleng sekali dan tegas. "Aku cuma mau nebeng, rumah kita searah kayaknya."

Rumah kita searah? Kayaknya? Dia saja gak yakin begitu. Lagipula sejak kapan rumah ku dengan rumah keluarganya searah? Kayaknya pula. Setelah bercerai, aku pindah ke rumah warisan kedua orangtuaku di Jogja utara, sementara rumah keluarga Bhaga di Kota Gede. Kayaknya searah? Jelas tidak ferguso!

Aku udah mau mencacatnya soal rumah yang searah, belum sampai satu kata yang keluar, dia malah turun dari mobil dan menggiringku untuk masuk ke kursi penumpang, bahkan dia sendiri yang membukakannya untukku dan aku nurut-nurut aja.

Hah?!

Beberapa detik duduk dan menjernihkan pikiran. Oke! Aku ikuti permainannya tanpa mengurangi kewaspadaan. Aku udah pernah di ajari self defense basic sama Sapta waktu masih SMA karena sering pulang sendiri naik angkot. Jadi kalau praktek sekarang, dikit-dikit aku masih ingat gerakan-gerakan melumpuhkan lawan.

Aku harus tenang, sebisa mungkin bersikap kalem-kalem aja, jangan terlalu panik dan kelihatan khawatir. Lawan akan lebih mudah beraksi kalau aku ketakutan dan lemah. Tetap biasa aja, stay cool Iyas!

"Boleh kan aku nebeng?"

TELAT!

"Emang kalau aku gak bolehin, kamu bakal keluar dari mobilku?"

"Enggak"

"Terus ngapain ijin sekarang?" tanyaku sinis.

Gak ada jawaban. Mobil udah dia nyalakan tapi gak segera melaju. Aku dan dia hanya duduk terdiam menatap depan yang gelap. Misiku untuk kabur lebih awal memang udah berhasil, tapi sekarang malah ketemu Bhaga dan berakhir satu mobil dengan auranya yang aneh. Ku lirik Bhaga yang masih memegang stir dengan tatapan kedepan. Dia kenapa sih?

Sejurus kemudian, Bhaga menolehkan kepalanya dan tepat menatap mataku. Agak ngeri sih tatapannya, apalagi di dalam mobil yang penerangannya minim ini "Kamu mau kabur kan dari pesta? Kalau gitu kita sama."

Aku mengernyit? Masih belum mengerti apa yang mau dia sampaikan. Dia ngajak untuk kabur bersama gitu? Atau kebetulan aku mau pulang duluan terus dia senang karena ada barengan untuk kabur?

"Aku gak kabur, aku emang buru-buru harus pulang. Jadi ayo cepat kalau emang kamu mau nebeng."

"Oke."

Dia tertawa. Ya emang agak sumbang tapi baru kali ini aku lihat dan mendengar tawanya seumur aku mengenal dia. Walaupun sikap misteriusnya masih sama, tapi sekarang gak kaku-kaku amat.

Dulu, biasanya aku yang ngajakin dia ngomong duluan, baru dia akan ngomong. Dia sependiam itu dan gak mau diusik saat melakukan hal-hal tertentu. Suka menyendiri kalau acara keluarga dan jarang ikut makan bersama. Dia seperti punya dunianya sendiri, atau aku sering menyebutnya Bhagaverse.

Mungkin kalau aku masuk ke dunianya, bakal banyak konspirasi-konspirasi dan hal-hal misterius yang harus aku pecahkan. Tapi aku gak berniat juga mengusik atau bahkan masuk ke dunianya. Terlalu mengerikan dan bukan aku banget.

"Kamu... cukup berubah." Katanya sambil melajukan mobil keluar dari parkiran menuju jalan besar.

"Kamu orang kesekian yang bilang gitu. Tapi iya, aku berubah. Everything has changed."

"Good."

Aku menoleh, satu kata yang membuatku agak kaget sih. Soalnya belum ada yang bilang perubahanku ini cukup bagus, karena terlalu drastis. Kebanyakan menganggap aku gak seasyik dulu, yang bisa diajakin ini itu lagi atau lebih simpelnya sekarang aku terlalu introvert. Jadi introvert ternyata gak seburuk itu kok, gak tiba-tiba juga aku jadi begini. Proses kehidupan, masalah-masalah yang bertubi-tubi merayap di hidupku, itulah yang pelan-pelan memicu aku untuk merubah sedikit tatanan yang ada di diriku. Barangkali masalah itu datang karena sikapku di masa lalu yang kurang bener atau sebenernya masalah itu di datangkan oleh Tuhan supaya aku berubah jadi Iyas yang sekarang.

Seseorang gak pernah tahu seberapa kuatnya mereka, hingga keadaan gak memberi pilihan selain harus survive dan menjadi kuat.

Tapi tunggu... "Ga, ini bukan jalan mau ke rumah kamu kan?"

Dia mengangguk "Aku tinggal sendiri sekarang, rumahku di dekat kampus UII. Searah kan sama rumahmu?"

"Sejak kapan?" Tanyaku ragu.

"Udah tiga tahunan."

Aku ingin tanya kenapa tapi aku urungkan, aku gak mau tahu terlalu jauh. Takutnya malah berujung ngomongin yang ada sangkut pautnya dengan mas Win dan keluarganya. Aku udah gak peduli. Jadi yang kulakukan hanya diam kembali dan cukup tahu sampai sini aja.

Kami berhenti di sebuah rumah di deretan perumahan elit yang aku asumsikan, ini rumah Bhaga. Rumah yang minimalis tapi terkesan mewah. Desainnya berbeda sendiri dari rumah-rumah sebelahnya. Padahal perumahan biasanya punya desain yang hampir sama. Kalau memang gak benar-benar kaya dan bisa sewa arsitek sendiri.

Bhaga melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar. "Makasih tebengannya. Mobilmu cukup nyaman." katanya. "Oh mobilku sekarang di bengkel, tadi aku beragkat bareng sepupu yang lain." Jelasnya.

Mungkin dia sadar aku gak tanya apapun dari tadi dan gak mau aku berpikir aneh-aneh.

Aku menjawabnya hanya dengan anggukan datar. Kami pun keluar dari mobil. Bhaga berjalan menuju gerbang rumahnya, dan aku membuka pintu mobil bagian kemudi.

"Yas." Panggilnya sebelum aku berhasil masuk. Aku mendongak melihatnya "I'm sorry for Win and... my family."

Deg!!!

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Hati Rania hancur ketika sang suami tega menyuruhnya mengaku sebagai janda hanya demi uang. Di balik penampilan anggunnya, ia harus memendam kepedihan mendalam sekaligus berjuang menghadapi kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Di tengah kondisi fisik yang terus melemah, Rania pantang menyerah demi kedua buah hatinya. Kisah pilu ini menggambarkan perjuangan seorang ibu untuk bangkit dari pengkhianatan, mengumpulkan sisa kekuatan agar bisa bertahan hidup demi anak-anaknya.
Sampul Novel CRAZY FOR LOVE
9.3
Pertemuan kembali dengan Panji, pria temperamental namun lembut dari masa lalunya, mengacaukan hati Kirana yang unik dan galak. Meski kini sudah memiliki kekasih baru, Kirana tidak bisa mengabaikan kehadiran sosok yang dulu sempat hilang tanpa jejak tersebut. Demi menjerat Panji yang sangat menghindari komitmen, Kirana nekat mengajukan rencana tinggal bersama hingga ingin mengandung anaknya. Akankah taktik berani ini berhasil mengikat Panji, atau justru membuatnya patah hati lagi?
Sampul Novel Disusui Madu
8.7
Wafa harus tinggal di rumah Cindy karena keputusan suaminya, Dika. Alih-alih bertamu, ia justru diperlakukan layaknya pembantu. Situasi kian pelik saat ibu mertua membela Cindy, ditambah kepedihan mendalam Wafa karena kehilangan putra pertamanya, Delon. Kehamilan mendadak Cindy yang penuh teka-teki semakin memperkeruh suasana. Di tengah himpitan utang pengobatan dan dikhianati orang terdekat, sanggupkah Wafa bertahan atau justru memilih pergi?
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
Arsitek ternama berusia 37 tahun, William Samsons MacRay, tidak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan di bandara saat situasi kacau. Siapa sangka, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta itu ternyata bekerja di perusahaan miliknya. Terpikat oleh Emmy, William kerap mengajaknya dalam perjalanan bisnis global hingga hubungan mereka berlanjut sebagai sugar daddy dan baby. Sayangnya, rencana perjodohan dari orang tua William kini mengancam kelangsungan kisah cinta beda usia ini.
Sampul Novel Nick
8.0
Nick Gustron, raksasa industri teknologi informasi yang tegas, kini menghadapi rivalitas sengit dari klien bisnisnya asal Venezuela, Salas Cano. Pertarungan mereka melampaui batas bisnis dan kekuasaan, meluas menjadi persaingan ketat untuk merebut hati seorang gadis desa yang sederhana. Dua pria tampan, cerdas, dan bergelimang harta ini saling beradu demi cinta sejati. Siapakah yang akan dipilih sang gadis? Mengandung konten dewasa, harap bijak dalam membaca.
Sampul Novel Suami Magnetis
8.5
Menjadi sekretaris untuk bos besar rasanya seperti pekerja serabutan. Dari pagi sampai malam, aku harus mengurus semua kebutuhan pribadinya, mulai dari pakaian, sarapan, hingga makan malam. Walau melelahkan, gaji yang sangat besar membuatku bertahan. Namun, situasi mendadak berubah rumit ketika atasan yang penuh daya pikat itu tiba-tiba memintaku untuk mengatur kencan buta bagi dirinya.