
Dicambuk atau Diceraikan?
Bab 3
Kalau tidak, kami akan dituntut dan bahkan dijatuhi hukuman.
Aku dan suamiku benar-benar panik.
Manajer itu tampak tidak sabar, dia kembali berkata, "Kalau tidak ada bukti kuat, kami tidak akan menangkap orang sesuka hati! Menurut laporan dari orang asing tadi, kamu bahkan tidak mengenakan pakaian dalam apa pun di balik rokmu. Kamu bahkan sengaja mengangkat rokmu untuk merayunya."
"Beranikah kau membiarkan orang-orang kami melepas rokmu dan memeriksanya?" lanjut manajer itu.
Aku begitu marah sampai hampir menangis. Aku dengan kesal memukul suamiku beberapa kali dengan tinjuku.
"Ini semua salahmu. Kalau bukan karenamu …."
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan tidak bisa membuktikan kalau aku sama sekali tidak bersalah!
Suamiku juga menjadi cemas dan menggertakkan giginya, lalu dia mengeluarkan berbagai dokumen dari ranselnya.
"Kami adalah pasangan suami istri, kami hanya bersenang-senang dan mengambil beberapa foto …."
Sambil berbicara, dia menunjukkan foto-foto dari kameranya.
Di dalam foto-foto itu, aku berpose dengan beraneka macam gaya menggoda, yang membuat beberapa orang termasuk manajer itu menatapku dengan takjub.
Beberapa pasang mata yang nakal itu mulai mengamati ke arahku.
Aku menundukkan kepala karena malu, tidak berani membalas tatapan mereka. Setelah suamiku berulang kali menjelaskan dan memohon, pihak manajemen akhirnya mengalah. Mereka tidak lagi mengirim kami ke kantor polisi dan tidak lagi mengajukan gugatan hukum.
Namun, menurut hukum dan peraturan setempat, kami harus menanggung tiga kali cambukan!
Aku dan suamiku saling memandang, kami terpaksa mengangguk setuju.
Namun, ketika aku melihat cambuk yang direndam dalam air, bulu kudukku lekas berdiri!
"Ini … ini tidak akan membunuhku, 'kan? Sayang, aku takut!"
Ryan menarik napas dalam-dalam. Dia diam-diam mengeluarkan segulungan uang, lalu menarik pemimpin mereka ke sudut ruangan untuk mengobrol sebentar. Saat dia kembali, dia tampak jauh lebih santai.
"Jangan khawatir, itu hanya formalitas saja!"
Dengan suasana hati yang gugup, aku dibawa ke meja oleh dua orang pria kekar. Aku mengikuti instruksi mereka dan membungkuk serta bertumpu ke atas meja.
Tak lama kemudian, tangan dan kakiku tiba-tiba diikat.
"Ini adalah prosedur normal untuk mencegah tahanan melarikan diri atau melukai orang lain dengan kekerasan!"
Kemudian, aku merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
Aku menggeliat dan meronta dengan tidak nyaman, tetapi mereka malah mengangkat rokku!
"Tidak, tidak, lepaskan aku …."
Sayangnya, sudah terlambat untuk mengatakan apa pun sekarang. "Piak!"
Cambuk yang dibasahi air itu menghantamku dan membuat seluruh tubuhku gemetar. Meskipun mereka tidak mencambukku sekuat tenaga, bokongku masih terasa panas. Aku tidak bisa menahan diri dan mendesah dengan pelan. Hatiku terasa sedikit aneh. Aku mengerutkan bibirku dan menatap suamiku dengan berlinang air mata.
Aku terkejut saat melihat matanya memerah. Seluruh tubuhnya gemetar, matanya dipenuhi kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan tubuh suamiku pun mulai bereaksi ….
Apakah ini … sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka?
Lalu, suara berbincang orang-orang sekitar yang bercampur tawa jahat pun terdengar di telingaku.
Seluruh tubuhku langsung menegang dan aku merasakan firasat buruk.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Aku merasa sangat malu ketika tubuhku disentuh oleh pria asing.
Yang lebih memalukan lagi, tindakan kasar pria lain itu justru menyebabkan tubuhku bereaksi.
Mungkinkah … mungkinkah aku memang seorang wanita murahan?
Saat ini pikiranku sedang kacau.
Suamiku seharusnya menyadari reaksi tubuhku, 'kan?
Apa yang akan dia pikirkan?
Tunggu, kenapa dia belum datang menyelamatkanku?
Aku tidak percaya kalau suamiku yang begitu mencintaiku, akan menyerah di saat seperti ini. Begitu merasakan adanya tangan besar yang hendak menyentuh bagian tubuhku yang sensitif, aku meronta mati-matian dan berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong pada suamiku.
"Suamiku, selamatkan aku …."
Namun, sesaat kemudian, mataku tiba-tiba ditutup.
Tak lama kemudian, sepasang tangan besar dan kasar menyentuh pinggang rampingku dan meraba ke arah bawah ….
Anda Mungkin Juga Suka





