APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diary Istri CEO

Diary Istri CEO

Aisyah, lulusan Manajemen Pendidikan Islam, merantau ke Jakarta untuk berdakwah. Namun, ia justru dihina saat melamar di perusahaan milik Rahman. Rahman, sang CEO sukses, berubah menjadi nakal sejak batal menikah dengan Cindy akibat masalah kesuburan. Suatu hari, takdir membuat Aisyah mengetahui rahasia Rahman. Demi menjaga kehormatan, ia bersedia dinikahi. Walau sempat ragu dengan kondisinya, Rahman akhirnya menerima syarat Aisyah untuk berikhtiar bersama demi masa depan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Niken mengetuk pintu. Rahman masih termenung dengan ucapan Pak Darto. Kehadiran Niken pun tak kalah dilewatkan oleh mata Rahman. Niken yang memakai rok di atas lutut dan baju hem yang ketat berbalut blazer.

“Maaf Pak… meeting sebentar lagi.”

“Bukankah siang ini?”

“Jadwalnya diajukan Pak, sudah saya beritahu Pak Rahman kemarin.”

“Oh yah.”

Rahman mengangguk dan tidak begitu pusing memikirkannya. Niken memberikan berkas-berkas yang harus disiapkan untuk presentasi. Niken menjelaskan kalau Rahman tidak bertindak tegas dan cepat, bisa saja proyek cabang baru bisa jatuh ke tangan lawan.

“Niken, coba hubungi bagian HRD dan mintakan data diri pelamar atas nama Nur Aisyah.”

“Baik, Pak. Permisi.”

Rahman tidak begitu tertarik dengan berkas yang ada di mejanya. Pikirannya saat ini ingin mencari tahu tentang Aisyah. Menyembunyikan Aisyah di rumahnya, timbul rasa khawatirnya. Rahman masih berpikir tentang adiknya yang sedang kuliah di Singapura, bagaimana jika adiknya juga diperlakukan seperti Aisyah. Pasti orangtuanya akan khawatir.

Tok tok!

Niken masuk ke ruangan Rahamn dan memberikan salinan data pelamar kemarin. Rahman membuka CV Nur Aisyah dengan saksama. Bahkan di profile, Aisyah tetap memaki niqam. Seketika, Rahman langsung mengenali mata Aisyah yang hitam namun mudah dikenali meski wajahnya ditutupi.

Di ruang meeting Rahman tidak konsentrasi sehingga membuat lawannya tertawa. Melihat Rahman yang sudah mengepalkan tangan, Niken berdiri dan menggantikan presentasi Rahman. Usaha Niken tidak maksimal, Rahman langsung keluar dari ruangan meeting begitu saja.

“Kamu lihat bossmu itu. Sudah tidak bisa diandalkan.”

Niken menarik napas dan merapikan berkas, dia mencoba untuk mengejar Rahman namun sudah tidak kelihatan. Niken mencoba menghubungi handphone Rahman namun tidak aktif.

“Kamu kenapa sih, Rahman.”

“Sayang…” Tiba-tiba ada yang merangkul pundak Niken dari belakang dan mencium pipinya.

“Kamu, bikin kaget saja.”

“Kamu sudah lihat sendiri sikap Rahman? Sebentar lagi, anak cabang akan pindah ke tanganku dan kamu juga.”

“Aku bukan barang, Robi.”

“Sampai ketemu nanti malam, aku jemput.”

Robi mengaitkan tangannya ke pinggang Niken, dan bibirnya mengulum pelan bibir Niken sampai lipstiknya berantakan.

“Emmm, sweet…” Ucap Robi sambil mengelap bibirnya.

Rahman hanya bisa memandang kelakuan mereka dari balik pilar. Rahman sudah menduga pasti hal itu akan terjadi. Rahman merapikan jasnya dan menuju ke mobilnya.

***

Rahman menyelesaikan membaca berkas lamaran Aisyah. Gadis berumur dua puluh dua tahun, lulusan STAIA jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Pantas saja penampilan Aisyah berbeda dengan pelamar lainnya.

Niken masuk ke ruangan Rahman dengan tatapan yang sangat kecewa. Meski dia kekasih Robi tapi Niken tidak ingin jika Rahman harus kehilangan kesempatan memegang saham utama. Biar bagaimanapun Rahman pernah menolong keluarganya yang kesusahan.

“Pak…”

“Sudahlah Niken. Saya tidak ingin diganggu. Oh, ya, siapkan mobil.”

“Pak Rahman mau ke mana?”

“Jam siang, aku mau pulang. Mungkin tidak akan kembali ke kantor.”

Rahman mengambil tasnya dan meninggalkan ruangannya. Niken menelepon Pak Darto untuk bersiap-siap di depan kantor.

Jalanan yang berdebu, roda mobil melaju dengan kencang melewati pohon-pohon di pinggir jalan. Rahman tidak sabar untuk sampai ke rumah dan melihat Aisyah memohon untuk diberikan makan.

Mobil warna hitam masuk di halaman rumah. Mbok Darsih menghidangkan makanan yang masih hangat. Rahman melihat menu di atas meja sangat menggoda lidah. “Panggil dia untuk turun, Mbok.”

“Baik, Tuan.”

Mbok Darsih mengambil kunci kamar Tuannya dan membuka pintu. Aisyah malah tertidur pulas di atas kasur. Mbok Darsih melihat jelas wajah Aisyah yang tidak memakai niqam. Ternyata cantik sekali dalam penglihatannya. Mbok Darsih sampai tidak tega untuk membangunkan Aisyah.

“Disuruh memanggil Aisyah saja lama sekali…”

Rahman beranjak dari kursinya dan naik ke atas. Mbok Darsih yang mendengar langkah Rahman langsung bersuara keras sehingga membangunkan Aisyah.

“Tuan…”

Aisyah yang langsung terbangun segera memakai niqamnya. Dia masih kaget dan menyadari sudah ada Mbok Darsih dan Rahman yang berjalan menghampirinya.

“Temani aku makan.”

“Aku tidak mau.”

“Jangan buat aku marah.”

Aisyah mendorong dada Rahman yang berusaha mendekatinya. Rahman tertawa geli, tidak disangka, perempuan itu berani mendorongnya sampai mau terjatuh. Punya nyali dan kekuatan juga rupanya. Mbok Darsih mendekati Aisyah dan membujuknya.

“Jadi kamu tidak mau pulang?” ucap Rahman ngasal.

Aisyah langsung bersemangat dan setuju untuk menemani Rahman makan dan setelah itu dia bisa pulang ke kontrakkannya. Daripada menjadi tahanan di rumah ini.

“Baik, aku setuju.”

Rahman merasa kesal. Betapa bodohnya dia, jika Aisyah menemaninya makan, dia pun harus menepati ucapannya tadi. Sejenak Rahman memutarkan otaknya untuk mencari alasan agar Aisyah tidak langsung pulang.

Aisyah sudah duduk di kursi menunggu Rahman turun. Hatinya sudah bahagia, setelah ini bisa pulang. Namun Rahman tidak turun-turun juga membuat Aisyah merasa ragu. Hatinya mulai menggerutu.

“Kenapa Tuan lama sekali turunnya?” ucap Mbok Darsih pelan.

“Jangan-jangan dia menipuku, Mbok.” Jawab Aisyah.

“Tidak Non, Tuan Rahman selalu menepati ucapannya.” Bela Mbok Darsih.

Aisyah akhirnya merasa penasaran dan menuju ke kamarnya. Pintu yang masih terbuka, perlahan Aisyah melongok ke dalam. Terlihat kaki Rahman yang masih memakai sepatu.

“Hei…”

Aisyah tercengang. Dia tidak melanjutkan ocehannya. Melihat Rahman terbaring tidak sadarkan diri.

“Mbok…” Aisyah menjerit.

“Bangun, kamu kenapa?”

Aisyah mengguncang-ngguncang pundak Rahman. Pak Darto dan Mbok Darsih bergegas untuk melihat Tuannya. Melihat Aisyah khawatir seperti itu membuat Mbok Darsih kasihan juga. Pak Darto pura-pura menelepon dokter, sementara Rahman tersenyum merasa berhasil membohongi Aisyah.

Dokter memberikan resep untuk ditebus ke apotek. Aisyah tidak berprasangka buruk, mungkin benar apa yang dikatakan oleh dokter, jika Rahman memang beneran sakit. Apalagi tadi pagi dia tidak sarapan. Andaikan saja Aisyah mau menemaninya sarapan mungkin magh Rahman tidak kambuh.

“Mbok Darsih membawakan segelas air putih dan bubur.” Mbok Darsih memainkan perannya tanpa arahan dari Rahman.

“Non, maafkan Tuan Rahman yah. Non tidak jadi pulang.” Ucap Mbok Darsih.

“Nggak apa-apa Mbok, mungkin sudah takdir saya begini.” Aisyah membuang pandangannya melihat gorden warna putih.

Rahman membuka matanya dan menangkap mata Aisyah yang berkaca. Pasti hatinya sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi, Rahman tidak ingin Aisyah pergi dari sini. Meski dia juga tidak tahu, apa maksudnya menahan Aisyah.

“Tuan, sudah bangun. Ayok makan dulu, supaya bisa makan obatnya.”

Aisyah menghapus airmatanya dan menoleh melihat Rahman yang perlahan terbangun dibantu Mbok Darsih. Aisyah melihat Rahman, tumbuh rasa kasihan. Potret keluarga Rahman di samping meja, kelihatan bahagia membuat Aisyah teringat bagaimana dulu dimasukkan ke penjara suci karena orangtuanya berpisah.

“Jika kamu mau pulang, biar Pak Darto yang mengantarkanmu.” Ucap Rahman berpura-pura.

“Kamu memang tidak bertanggung jawab. Kamu yang membawaku ke sini tapi meminta Pak Darto untuk mengantarkanku pulang.” Aisyah menghapus airmatanya.

“Jangan menangis. Hapus airmatamu. Aku antarkan kamu pulang sekarang juga.” Rahman mencoba berdiri namun dia terjatuh. Kali ini Mbok Darsih tidak bisa menebak apakah Tuannya hanya acting atau jatuh sungguhan. Aisyah merasa tidak tega melihat Rahman, akhirnya menurunkan egonya.

“Kalau kamu sudah sembuh saja, baru antarkan aku pulang.”

“Berhentilah menangis…”

Mbok Darsih mengambilkan tisu untuk Aisyah, niqamnya sudah basah oleh airmatanya. Sebenarnya Aisyah menangis bukan karena tidak jadi pulang, tapi dia rindu dengan orangtuanya yang kini entah dimana.

“Yang sabar ya, Non…”

Mbok Darsih mendekap Aisyah untuk menenangkannya. Sungguh, Rahman merasa sangat iri sekali. Ingin juga dia memeluk Aisyah.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari fokus mengasuh kedua keponakannya tanpa memikirkan asmara. Namun, hidupnya berubah sejak Bastian Navarell, seorang miliarder, menyelamatkannya dari ancaman bahaya. Benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Begitu tahu Bastian telah memiliki istri, Almira memilih pergi demi menghindari posisi sebagai orang ketiga. Bastian yang terobsesi tak mengetahui rahasia kesucian Almira. Akankah takdir menyatukan mereka kembali dalam kisah cinta yang mengharukan?
Sampul Novel BIDADARI
8.1
Sebagai penyintas kanker, Aida Tazkia didera rasa minder akan kondisi fisiknya. Namun, Reiko Byakta Adiwijaya, seorang pewaris takhta konglomerat, justru memilih untuk mempersuntingnya walau kerap melontarkan kalimat merendahkan. Pernikahan dingin tanpa kasih sayang ini rupanya menyimpan misteri besar yang dirahasiakan oleh Reiko. Kini Aida terperangkap dalam tekanan batin keluarga Adiwijaya. Akankah ia berhasil meraih kebahagiaan dan cinta sejati di tengah keraguan atas dirinya?
Sampul Novel Bukan Aku Yang Menjebakmu
8.8
Nadira Almeira, sekretaris bersahaja di Mahardika Corp, dituduh menjebak CEO Elvano Mahardika demi kekuasaan. Tanpa bukti, Elvano memecat dan mempermalukannya di depan publik dengan lemparan uang yang menghina harga dirinya. Padahal, Nadira hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa. Situasi kian rumit saat ia menyadari dirinya tengah mengandung anak Elvano. Kini, ia harus memilih antara pergi selamanya atau kembali menghadapi pria yang telah menghancurkannya.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha kerap dikhianati akibat genophobia yang dideritanya. Sang sahabat yang ingin ia sembuh akhirnya mendaftarkan Zeline ke situs kencan global. Lewat platform itu, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang jenuh dengan wanita materialistis. Walau terpisah jarak Indonesia-New York, keunikan Zeline sukses memikat Ricardo. Kini, keduanya harus menghadapi trauma masa lalu dan bentangan jarak demi membuktikan kekuatan takdir cinta mereka.
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, gadis berusia 25 tahun, dijebak oleh Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Rencana jahat itu membawanya masuk ke kamar Raka Mirza Bramantyo, seorang CEO tampan berumur 27 tahun yang terkenal playboy. Kejadian tak terduga di malam itu memaksa Raisa menghadapi konsekuensi pahit dari perbuatan mereka. Apakah peristiwa memalukan ini akan menghancurkan hidup Raisa, atau justru menjadi babak baru dalam hubungannya dengan Raka?
Sampul Novel Kado Dari Masa Lalu
8.5
Di hari ulang tahunnya yang ke-35, kehidupan Declan Montereau yang mapan mendadak gempar. Pebisnis sukses yang selalu skeptis pada komitmen ini dikejutkan oleh kedatangan Elio, balita empat tahun bermata abu-abu yang mengaku sebagai anaknya. Menghadapi kemiripan fisik yang mustahil dibantah, Declan terpaksa menelusuri kembali masa lalunya demi mengungkap identitas wanita yang tega menyembunyikan rahasia besar ini lalu pergi begitu saja.