APKDock Logo
Sampul Novel Diamnya Istriku

Diamnya Istriku

9.8 / 10.0
Kemiskinan bukanlah akhir segalanya bagi seorang istri, tetapi ketidaksetiaan suami adalah badai yang meremukkan martabat diri. Saat biduk rumah tangganya diterpa ujian kesetiaan, Ayu tidak memilih untuk mengeluh. Ia justru bersujud, memanjatkan doa kepada Sang Pencipta demi kesadaran suaminya. Ayu meyakini kekuatan doa dapat meluluhkan hati yang beku. Sebuah kisah tentang keteguhan hati Ayu mempertahankan pernikahan melalui jalan kesabaran.

Diamnya Istriku Bab 1

“Y

u. bisa enggak sih enggak bikin malu? Kenapa kamu antar makanan segala ke kantorku?” ucapku sembari menyeretnya keluar halaman gedung.

“Maaf Bang pesanannya lumayan banyak, aku butuh buat beli diaper Randi. ” Ayu tertunduk seraya mengusap pergelangan tangan, ada jejak merah di sana. Bekas cengkeramanku yang mungkin terlalu kuat.

“Emang 50 ribu yang aku kasih tiap hari, kamu pakai apa hah?” Aku sedikit membentak. Mau ditaruh di mana wajahku. Teman sekantor harus mengetahui istri seorang Manager berjualan makanan. Ditambah lagi bisa dipesan online. Kenapa juga dia harus mengantarnya sendiri, zaman sekarang kan banyak ojek.

‘Memalukan!’

“Uangnya sudah enggak cukup lagi, Abang juga enggak mau kasih tambahan lagi.” Ayu mundur selangkah menjauh dariku.

“Ya sudah enggak usah pakai diaper segala?”

“Kemarin Abang bilang enggak suka kalau tiba-tiba Randi Buang air sembarangan, jadi Adek pakaikan diaper.”

“Ah sudah sana pulang ke rumah, kamu saja yang enggak bersyukur.” Terlanjur kesal, akhirnya Ayu mengalah, lalu memilih pergi. Dengan setengah berlari wanita itu mengambil motornya di parkiran kantor. Sedang, aku masih terpaku di depan gerbang kantor. Bukannya segera berlalu Ayu justru memarkirkan motornya tepat di hadapanku.

“Adek pamit, Bang,” ucapnya mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.

“Sudahlah sana.” Cepat-cepat kutepis. Emosi yang kian menggebu membuatku muak. Pelan-pelan wanita itu mengelus tangan kanannya. Kala itu dia hanya diam, hingga akhirnya memilih pergi dengan scooter matic pink yang kubelikan saat ulang tahun pernikahan yang pertama.

Di kantor teman-teman sudah siap dengan berbagai macam pertanyaan. Bagaimana bisa istri seorang Manager berjualan makanan bahkan sampai mau mengantarnya sendiri.

‘Sungguh memuakkan! Lihat sana nanti! Tunggu aku pulang, biar kuberi pelajaran kali ini!’

~~

Sesampainya di rumah, sengaja kubanting pintu, membukanya lalu menutupnya kembali dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi gebrakan cukup keras. Randi Si bungsu, yang sepertinya tengah tertidur akhirnya menangis, mungkin terkejut karena ulahku. Tak lama setelah itu, sosok Ayu muncul dengan Randi dalam gendongannya. Dia menuruni tangga rumah, dengan sedikit tergesa-gesa, lengkap dengan wajah bingung tanpa dosa. Jelas-jelas dia sudah membuatku malu, masih tak tahu juga salahnya apa.

“Yu sejak kapan kamu jualan makanan sampai mengantarnya sendiri, bukannya biasanya dipaketkan?”

“Semenjak Randi lahir Bang, sekarang jualan camilan di Shopee lagi sepi, makanya Adek coba bikin makanan lain, maaf enggak izin dulu, Adek takut Abang enggak mengizinkan.” Ucap Ayu lembut.

“Apa uangku enggak cukup?”

“Bang anak kita sudah tiga, saat Randi lahir cuma dua bulan Adek menyusuinya, setelah itu ASI Adek enggak keluar lagi, Adek kan sudah pernah bilang, harus beli susu formula. Benar Bang, uangnya enggak cukup lagi.” Kali ini tampak netranya mulai mengembun.

“Memang berapa harga susunya?”

“Delapan puluh lima ribu, itu pun cuma cukup untuk lima hari, Bang,” jawabnya sembari memalingkan seperti mati-matian menahan tangisnya agar tak sampai pecah di depanku.

“Kamu itu bisanya cuma nangis. Pantas saja rumah ini bau masakan tiap hari!”

“Nih, besok enggak usah jualan lagi, bikin malu!” Kuserahkan uang 100 ribuan, saat uang itu telah berpindah ke tangannya raut wajahnya seketika berubah, ada semburat bahagia yang tampak di sana.

“Sekalian buat jatah besok, sisanya kamu masih ada untung jualan tadi pagi ‘kan?”

“Terima kasih.” Secepat kilat binar bahagia itu menghilang berganti dengan raut wajah yang ditekuk, lalu kembali meneruskan langkahnya menuju dapur. Sepertinya hendak mengambilkan segelas air putih hangat, untukku. Bisa kulihat dari sini, gerakkannya yang lambat. Sudah diberi uang masih saja begitu, tak pandai bersyukur.

“Apa kopi saja sampai tak terbeli, Yu?”

“Maaf Bang, mmm kalau Adek enggak jualan lagi. Abang tambahi ya uang belanjanya!”

“Kamu ini uang terus, aku capek pulang kerja. Kopi saja enggak ada.” Kembali kubanting tas kerja itu ke atas meja, hingga menimbulkan bunyi cukup keras.

“Dasar kamu saja yang boros,” bentakku sembari berlalu. Ayu selalu diam saat aku marah, kemudian dia akan menangis di ruang salat setelah anak-anak tidur. Tak pernah sekali pun memarahiku balik, mengakuinya atau tidak dia memang perempuan soleha yang lembut.

Keesokan harinya, tepat hari minggu aku memilih untuk lari pagi berkeliling kompleks perumahan.

“Pak Andi!” teriak seorang perempuan.

“Eh Tiara, kamu lari juga?” tanyaku, Tiara adalah staf di kantor dia masih gadis usianya masih 20 tahun.

“Bareng yuk Pak!”

“Oke, Ayo!” ajakku kemudian, kenapa rasanya hatiku berdebar-debar tak karuan saat di samping Tiara?

Mungkinkah menyukainya? Dia memang cantik modis dan wangi, berbeda dengan Ayu yang setiap hari nyaman dengan daster kumalnya dan aroma masakkan yang tak enak di cium. Terlalu sibuk memikirkan Ayu, bisa-bisanya aku sampai tak menyadari ada polisi tidur di depan, hingga aku tersungkur mencium aspal.

“Kenapa, Pak?” Tiara terlihat sedikit khawatir.

“Enggak apa-apa kok, Ra.” Aku langsung berdiri, menggaruk kepala yang sejujurnya yang tidak gatal, sekadar menghilangkan malu. Baru jalan sekali, sudah terjatuh dengan konyol. Setelah berlari cukup lama, lelah juga ternyata akhirnya kami pergi mencari sarapan di sebuah kedai makan. Aku tahu ini salah, tetapi salahmu sendiri tak pandai merawat diri. Setelah selesai sarapan aku pulang ke rumah, terlihat Ayu tengah menyuapi anak-anak yang berlarian ke sana kemari.

“ Sarapan dulu, Bang.”

“Aku sudah sarapan di luar.” Aku pun berlalu meninggalkannya begitu saja.

~~

“Mau ke mana, Bang?” tanya Ayu saat aku sudah bersiap lagi untuk pergi keluar.

“Kamu cerewet banget sih Yu, malas aku lihat kamu. Apa enggak bisa kamu pakai baju bagusan dikit biar enak dilihat?”

“Maaf, Bang,” ucapnya sambil tertunduk.

Aku benci sekali saat dia tertunduk dan meminta maaf. Kutinggalkan dia sendir. Tak lagi memedulikannya yang kini tengah sibuk dengan anak-anak, apalagi kudengar Randi menangis. Hari ini aku ada janji dengan Tiara. Bukankah tak apa kalau sesekali keluar. Sekedar menghilangkan kepenatan.

Seiring waktu berlalu, intensitas kedekatan kami semakin bertambah. Saat pulang ke rumah rasa bersalah kadang datang saat kudapati hingga larut malam Ayu masih berkutat dengan pekerjaan rumah. Ayu memang cantik, rambutnya hitam panjang dan lurus hanya saja dia tak pandai menjaga penampilan. Rambutnya yang indah hanya diikat dan digulung ke atas. Kulitnya pun terlihat kusam. Laki-laki mana yang betah dengan istri berpenampilan kumal seperti itu? Hasratku sebagai laki-laki luruh saat aroma tubuhnya yang bau dapur itu menyeruak. Sungguh mengganggu. Itu salahnya bukan? Aku hanya laki-laki normal.

Sejak Ayu berhenti berjualan. Ketika pulang kerja kerap kali rumah dalam keadaan gelap gulita. Apa lagi kalau bukan karena kehabisan token listrik. Hal itu membuatku kesal dan akhirnya melampiaskan emosi pada Ayu. Entah ke mana larinya uang yang kuberikan padahal sudah kutambahi jatah susu Randi, tetapi bukannya membaik, yang terjadi justru rumah seringnya dibiarkan kehabisan token.

‘Bikin malu suami.’

Hari ini aku pulang tepat pukul sebelas malam. Ayu menyambut hangat, tak lupa lengkap dengan segelas susu Jahe kesukaanku. Dia memang istri yang pandai menyenangkan perut. Ayu juga tak pernah menolak saat aku mengajaknya memuaskan hasrat. Hanya saja semenjak ada Tiara, rasanya dia tak lagi menggairahkan. Sejak itu juga kadang aku lebih sering tidur di depan televisi karna tak ingin ketahuan saat berbalas pesan dengan Tiara. Ayu begitu naif. Tidak pernah menaruh curiga. Mungkin dia berpikir aku benar-benar terganggu karena Randi kerap menangis pada tengah malam, padahal itu hanya alasan. Bagaimana mungkin bisa terganggu? Bahkan jika dia meletakkan alarm yang bising, di samping telinga pun belum tentu sanggup membangunkan tidurku.

“Sayang sebal banget sama Si kumal! Rumah sudah kaya gua setiap pulang sering banget gelap-gelapan padahal dikasih uang tapi token aja enggak kebeli, dasteran mulu, mana bau bawang bikin mual. Sekalinya harum malah bau minyak telon, beda banget sama kamu yang cantik dan wangi. Ih jadi kangen deh.” Kukirim pesan itu ke Tiara.

“Hahaha istri kayak gitu kok masih betah sih sayang, si kumal itu memang belum tidur? Kangen nih mau video call, tadi sih Mas enggak ajak aku meeting sama klien seharian, jadi kesepian.” Aku menyebut Ayu si kumal, aku yang mengawalinya tapi kenapa rasanya tak terima saat orang lain merendahkan istriku seperti itu.

“Sabar ya sayang, dia masih mondar-mandir, bikin pusing, sudah kayak kereta.”

“Hahaha, oh ya Mas kita sudah lama dekat, kapan Mas mau nikahi aku? Meski pun jadi yang kedua aku rela sayang asalkan bisa sama mas terus.” Pesan dari Tiara sontak membuatku tersedak susu jahe. Aku masih terbatuk karenanya. Hingga tiba-tiba terdengar suara benda kaca yang jatuh di belakangku. Aku yang tengah tiduran di sofa refleks membalikkan badan sejurus kemudian tampak di lantai piring berserakan. Ada sepasang kaki tepat berdiri di sana. Itu milik Ayu. Sejak kapan dia berdiri? Seketika jantungku berpacu sangat cepat, seperti pencuri yang tertangkap Tuan Rumah.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Diamnya Istriku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam bagi sang wanita. Apakah pernikahan ini berjalan atas dasar cinta lama yang tersisa, ataukah sang suami tengah menyusun rencana balas dendam demi membalas luka masa lalunya? Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, pasangan suami istri ini harus berkomitmen di tengah bayang-bayang masa lalu. Kini, rahasia serta konflik mulai menguji kesetiaan dan keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, Gadis rela menjadi pengantin pengganti. Namun, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan buruk. Tidak tinggal diam, Gadis berani melawan kekejaman tersebut sambil terus menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan luapan emosi mereka selengkapnya di Bakisah.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Demi menguji perasaanku, Bramantyo dan Bima tega menyiksaku lewat kehadiran Sandra. Puncaknya, mereka membiarkan tanganku hancur dalam sebuah kecelakaan demi menolong Sandra, hingga karier musikku hancur total. Mereka menanti kemarahanku, tetapi aku hanya diam, bahkan saat Sandra merusak liontin peninggalan ibuku. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku sirna. Ini bukan cinta, melainkan siksaan kejam. Kini, aku bersiap melarikan diri dan membalas semua kehancuran ini.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit demi menjalani takdir kelam yang tak terhindarkan. Tanpa ada pilihan lain, ia harus bersedia menjadi istri dari seorang gembong narkoba yang sangat ditakuti. Kini, kehidupannya sepenuhnya terperangkap dalam pusaran dunia hitam mafia yang sarat akan intrik berbahaya serta ancaman maut yang terus mengintai.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
9.2
Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Kehidupan pernikahan Dewi yang semula harmonis seketika hancur setelah ia menemukan barang milik wanita lain di koper suaminya. Kejadian itu menyingkap berbagai rahasia kelam serta tabiat buruk sang suami yang selama ini tertutup rapat. Dirundung rasa sakit hati yang luar biasa, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang sangat sulit. Apakah ia akan memilih bertahan dalam kepedihan, atau justru mengumpulkan kekuatan untuk membalas pengkhianatan menyakitkan tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan