APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diabaikan Berujung Penyesalan

Diabaikan Berujung Penyesalan

Kehamilan sang istri seharusnya menjadi kabar bahagia, namun sang suami yang merupakan anggota mafia justru memilih mengakui janin milik kekasih masa kecilnya demi perlindungan. Janji manis untuk mengakui anak kandungnya sendiri nanti tidak lagi berarti setelah penolakan dingin yang ia terima. Menyadari cinta sepuluh tahunnya telah sia-sia, ia harus menghadapi murka keluarganya sendiri yang menuntut aborsi karena mengira bayinya tak berayah. Saat suaminya sibuk menemani wanita lain di luar kota, ia memutuskan untuk melangkah pergi selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku mengetahui bahwa aku hamil pada waktu yang sama dengan Rosa, kekasih masa kecil suamiku yang seorang mafia.

Demi melindungi bayi Rosa agar tidak digugurkan oleh orang tuanya, suamiku mengakui bayi itu sebagai anaknya.

Lalu bayiku? Dia membujukku dengan janji bahwa dia akan mengakuinya setelah bayi Rosa lahir.

Aku menantangnya dan menuntut penjelasan mengapa dia tega melakukan hal itu kepadaku.

Jawabannya dingin dan tak tergoyahkan. "Mengakui bayi Rosa sebagai anakku adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka berdua. Aku nggak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dia atau anak itu."

Saat itu, ketika aku menatap pria yang telah kucintai selama sepuluh tahun, aku menyadari bahwa cintaku padanya telah mati.

Tak lama kemudian, keluargaku mengutukku dan menyebutku perempuan jalang karena mengandung anak tanpa ayah dan memaksaku untuk menggugurkannya.

Sementara itu, suamiku berada di kota lain, mendampingi kekasihnya menjalani masa kehamilan. Ketika dia kembali, aku sudah pergi.

POV Isabel:

Aku mengetahui bahwa suamiku sedang menemani kekasih masa kecilnya, Rosa, untuk pemeriksaan kehamilan di rumah sakit langgananku siang ini.

"Vincent, bayi kita kelihatan lucu banget di monitor."

Dari celah pintu, aku melihat wajah Vincent berseri-seri dengan senyuman. Rosa menunjuk ke arah monitor dan Vincent mengangguk, membalas senyumnya.

Kalau aku tidak tahu bahwa pria itu adalah suamiku, ayah dari bayiku, aku pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia dan sedang jatuh cinta.

"Isabel Chandra? Dokter sudah siap untuk pemeriksaan Ibu," panggil perawat.

Vincent menoleh, wajahnya mendadak pucat, matanya menyapu lorong. Dia pasti mendengar namaku.

Saat pandangannya bertemu denganku, mulutnya terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Aku telah menikah dengan Vincent Farhan, suamiku yang seorang mafia, selama hampir sepuluh tahun. Tahun ini, aku akhirnya hamil anaknya. Dia, lebih dari siapa pun, seharusnya tahu betapa sulitnya aku mendapatkan kehamilan ini. Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini kepadaku?

Aku melangkah perlahan ke arahnya, dengan hati yang mendidih karena amarah, kemarahan, dan kesedihan yang dalam saat menyadari betapa aku telah dibohongi.

"Jadi ini alasan kamu bilang nggak bisa datang ke pemeriksaanku hari ini?" Aku mencoba menjaga nada suaraku tetap tenang, tetapi amarahku meluap, tidak bisa kukendalikan.

Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tanganku dan menampar Vincent dengan keras.

Itu adalah pertama kalinya aku meluapkan emosi seperti ini kepadanya. Namun, bahkan setelah aku menamparnya, dia tetap berdiri di sana, diam, dan menghindari tatapanku.

"Diam aja nggak bakal membantu, Vincent. Kamu berutang penjelasan sama aku."

Vincent tidak bergerak, tetapi Rosa, yang berdiri di belakangnya, melangkah maju dan berdiri di antara kami seolah ingin melindunginya dari amarahku.

"Bu Isabel ya?" ucapnya dengan suara gemetar. "Salahkan semuanya ke aku. Vincent nggak salah apa-apa."

"Itu kesalahanku, Isabel. Aku yang hamil."

"Menyalahkan semuanya ke kamu?" ejekku, nada suaraku penuh kepahitan.

Aku perempuan yang kuat, tetapi tetap saja, air mata mengalir di wajahku.

Seakan tangisku membangkitkan sesuatu dalam dirinya, Vincent akhirnya melangkah melewati Rosa dan menarikku ke dalam pelukannya.

"Jangan nangis, Isabel. Bayinya bukan anakku," bisiknya lirih.

Aku terdiam. Apa?

Kemudian, Rosa bicara. Dia berkedip manja ke arah Vincent dengan mata bulat polosnya. "Vincent, bukannya kamu janji bakal lindungi bayiku dengan ngakuin itu anak kamu? Kenapa kamu bilang ke dia sekarang?"

Melindungi bayinya? Apa-apaan ini?

Aku melepaskan diri dari pelukan Vincent dan menatapnya. "Apa-apaan ini, Vincent? Maksudnya apa sih dia ngomong kayak gitu?"

"Vincent!" Rosa ikut memanggil, jelas berusaha menghentikannya bicara lebih jauh.

Namun, Vincent tidak ragu. "Isabel itu istriku. Dia pantas tahu."

"Baiklah," kata Rosa sambil menatapku, matanya berlinang air mata. "Kalau kamu memang perlu tahu, Isabel .... Vincent memutuskan untuk mengakui bayiku sebagai anaknya, jadi mungkin dia nggak bisa ngakuin anakmu."

Wajah Vincent kembali pucat, tetapi dia tetap diam, tidak membantah.

"Tapi tenang saja," lanjut Rosa, nada suaranya mendadak manis saat dia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuhku. "Vincent bilang dia bakal adopsi anakmu setelah kamu melahirkan."

"Anak kita bakal pakai nama Keluarga Farhan," tambahnya, suaranya seolah-olah tulus, meski terdengar palsu.

Aku bersumpah melihat senyum sinis sekilas di bibirnya, tetapi menghilang sebelum aku memastikannya.

Aku menatap Vincent. Dia masih diam, menunduk seolah tidak sanggup menatap mataku.

"Ini benar, Vincent?" Suaraku bergetar saat memaksakan diri untuk bertanya. "Kamu rela ninggalin anak kita demi selamatin anak dia?"

"Aku minta maaf, Isabel," bisiknya, suaranya serak nyaris tak terdengar.

Air mata kembali menggenang. "Anaknya sebegitu penting buat kamu sampai kamu tega ninggalin anak kita?"

Vincent ragu sejenak dan keheningan itu terasa seperti pisau yang melukai dadaku.

"Kamu nggak ngerti soal keluarganya Rosa," ucapnya pelan dan hati-hati. "Orang tuanya Rosa nggak bakal berani menentangku. Tapi mereka sudah bilang, mereka cuma mau terima anak itu sebagai cucu kalau aku nggak punya pewaris lain."

"Jadi aku nggak bisa mengakui anak kita sekarang, setidaknya sampai bayi Rosa lahir." Dia menatapku seolah dia sedang memperjuangkan sesuatu yang mulia, seakan setiap kata yang dia ucapkan bisa dibenarkan.

Namun, logikanya nyaris terdengar seperti lelucon.

Satu hal yang benar dari Vincent adalah tidak ada yang berani menantangnya, setidaknya di wilayah selatan. Dia adalah bos mafia, terlibat dalam perdagangan senjata dan narkoba.

Meskipun keluargaku juga terlibat dengan dunia mafia, mereka hanya sebatas pemilik beberapa kasino. Kami tidak sebanding dengannya.

Itulah sebabnya, saat orang tuaku tahu bahwa aku adalah kekasihnya, mereka langsung menyeretku ke altar untuk menikah dengannya.

Vincent, yang biasanya dingin dan berwibawa, hanya menunjukkan sisi lembutnya kepadaku. Namun, hari ini, aku melihat dia melakukan hal yang sama untuk Rosa.

Dia kembali mencoba meraihku, kedua lengannya terentang, mencoba memelukku. "Jangan khawatir. Aku nggak bakal biarin anak kita tumbuh tanpa seorang ayah. Percaya sama aku ya? Begitu bayi Rosa lahir, aku bakal bersihkan namamu."

....

Setelah pemeriksaan selesai, Vincent bersikeras mengajakku makan malam. Rosa dengan senang hati ikut. Dia bilang senang karena sekarang dia tidak jadi satu-satunya yang sedang hamil, tetapi aku bisa melihat betapa palsunya sikap itu.

Dia terlalu berusaha tampil sebagai sahabat yang perhatian dan peduli.

"Gimana kalau ke tempat biasa? Aku sudah ngidam makanan di sana dari kemarin," usul Rosa, bahkan sebelum aku duduk dengan nyaman.

Vincent terdengar terlalu bersemangat. "Kedengarannya enak. Ayo ke tempat di Jalan Avenue itu."

Aku menjaga wajahku tetap tenang, meski perutku terasa mual karena gelisah. Rosa menyembunyikan sesuatu dari senyum yang terlalu cerah itu.

Rosa duduk di kursi belakang, tangannya refleks meraih tangan Vincent. "Aku pikir ... gimana kalau setelah makan kita mampir beli baju bayi? Aku belum ketemu yang pas banget."

"Kamu nggak keberatan, 'kan, Isabel?" Dia menoleh ke arahku dengan tatapan menantang. "Sekarang aku sendirian. Vincent satu-satunya yang bisa kuandalkan."

Konyol sekali. Suamiku lebih terlihat seperti pasangan Rosa daripada pasanganku.

"Kamu marah, ya, Isabel?" Rosa berkedip ke arahku, matanya lebar dan polos, tetapi sinarnya menyimpan sesuatu yang jauh dari kepolosan. "Kalau kamu mau ikut juga nggak apa-apa kok."

"Ngapain? Aku sudah siapin baju bayi di rumah." Aku sudah muak meladeni permainan ini.

Saat mobil akhirnya berhenti, aku keluar dan mendapati diriku berdiri di depan restoran Jepang yang terkenal dengan sashimi dan sushi.

Apa Vincent lupa kalau aku tidak pernah makan seafood mentah? Lupa bahwa sejak aku hamil, baunya saja bisa membuatku ingin muntah?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Sang Mafia
9.3
Satu malam bersama Wilson Zavierson, bos mafia Dragon, mengubah hidup Viyone Florencia hingga ia hamil. Namun, Viyone justru menikah dengan Jeff. Nasib malang menimpa putra mereka, Chris, yang kerap disiksa Jeff sampai nyaris tewas. Di tengah kehancuran Viyone akibat dikhianati Jeff, Wilson hadir menyelamatkannya dari jeruji besi. Viyone pun syok saat tahu siapa penolongnya. Mampukah Wilson melindungi mereka dan menyatukan kembali putra kembar mereka yang terpisah?
Sampul Novel Bercinta dengan werewolf
8.3
Kecewa karena patah hati, Alexa meluapkan kesedihannya dengan minum hingga mabuk di sebuah bar. Di sana, ia bertemu Michael, seorang pemimpin mafia sekaligus werewolf yang menguasai tempat tersebut. Di bawah pengaruh alkohol, Alexa merayu Michael karena mengiranya seorang gigolo. Malam panas itu pun menjadi awal hubungan kasual yang terus terulang setiap kali mereka berjumpa. Akankah jalinan penuh gairah ini berkembang menjadi cinta yang sesungguhnya?
Sampul Novel Ditinggal 17 Kali, Kini Aku Pemimpin Mafia
8.7
Tiga tahun mendampingi Lewis dan kini mengandung lima bulan, Merry telah melewati enam belas kegagalan pernikahan akibat ulah Agnes, adik angkat suaminya. Menjelang janji suci yang ke-17, Lewis bersumpah tidak akan pergi lagi. Namun, Merry memegang rahasia: sebuah undangan pulang dari ayahnya, sang kepala Keluarga Damian. Jika sang suami kembali ingkar janji demi Agnes, Merry memutuskan untuk pergi selamanya dan kembali ke pelukan keluarga mafianya di Vireka Utara.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Demi membiayai ayah dan adiknya, Iris Barcova terpaksa menempuh jalan kelam sebagai PSK. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius dari kalangan mafia menawarkan pernikahan kontrak demi pengobatan ayahnya. Di sisi lain, ada seorang dokter tulus yang mencintainya, membuat Iris terjebak dilema. Namun, kenyataan pahit perlahan terungkap bahwa pria penyelamatnya itu diduga merupakan dalang utama di balik segala tragedi yang menimpa hidupnya.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Demi bertahan hidup, seorang pemuda desa memutuskan merantau ke kota besar dengan impian sederhana menjadi pengawal profesional. Namun, takdir berkata lain saat ia justru terseret ke dalam gelapnya dunia kriminal. Tanpa diduga, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang mengubahnya menjadi seorang gangster. Kini, ia harus terjebak di tengah pusaran konflik dunia bawah tanah yang menguji seluruh prinsip hidup serta keberaniannya.
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi harus menanggung utang peninggalan sang kakek kepada bos Kartel La Sanguina yang kejam, Riccardo Valentini. Saat bekerja di kedai pizza kedok mafia, Evelyn justru memicu obsesi gelap Riccardo. Ia sempat melarikan diri dan dilindungi oleh kepala mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun. Namun, Riccardo berhasil menculiknya kembali. Kini, Evelyn terjebak di tengah perseteruan maut antara obsesi posesif Riccardo dan ketulusan cinta Nikolai.